10 Tahun Rock in Solo Bersama “Decade of Rebellion”

 

 IMG_4982

Rock in Solo: Decade of Rebellion sebuah perayaan yang menandai periode satu dekade yang sudah dijalani oleh Rock in Solo pada hari Sabtu (11/10) lalu di Benteng Vastenburg, Solo. Rock in Solo pertama kali di helat pada tahun 2004 silam, dan kali ini memasuki edisi kedelapan di tahun kesepuluhnya. Headliner untuk Rock in Solo pada tahun ini akan diwakili oleh raksasa death/grind asal Liverpool, Carcass. Sementara untuk local lineups  diisi oleh Edane, Death Vomit, Siksakubur, Downforlife, Revenge dan masih banyak lagi. Total ada 17 band yang turut memeriahkan perayaan satu dekade Rock in Solo pada Sabtu lalu.

Decade of Rebellion, adalah sebuah bentuk dari perjalanan pembangkangan dari dari Rock in Solo yang memutuskan untuk tidak patuh selama satu dekade. Rock in Solo berawal dari kegelisahan penggemar musik rock/metal di kota Solo akan adanya sebuah pertunjukan musik yang bisa mengakomodir kegemaran musik mereka. Sebuah perjalanan yang cukup panjang untuk bisa bertahan selama satu dekade, oleh karenanya tema Rock in Solo kali ini adalah Decade of Rebellion.

Acara yang dimulai pukul 10.00 sampai pukul 24.00 ini menyedot cukup banyak perhatian penggemar musik rock/metal kota Solo maupun luar kota Solo, hal itu terbukti dengan banyaknya bus – bus yang berasal dari luar kota, sebut saja Jawa Timur, Magelang, Jogja, dan ada beberapa penonton yang datang dari Jakarta, Bandung hanya untuk mengikuti perayaan satu dekade Rock in Solo. Namun, berbeda dengan Rock in Solo sebelumnya, pada pagelaran kali ini bisa dibilang lebih sepi. Nampaknya faktor Headliner untuk Rock in Solo kali ini menjadi faktor utamanya. Seperti yang kita tahu, Rock in Solo selalu berhasil menyedot perhatian para penggemar musik metal/rock karena Headliner mereka yang selalu mendatangkan lebih dari satu, meskipun pada pagelaran kali ini Carcass jauh – jauh didatangkan dari Liverpool, namun nampaknya masih dianggap kurang untuk sebagian orang, begitu pula mungkin dengan local line up.

Dampaknya cukup terlihat jelas bagaimana antusias para penonton yang hadir, kalau biasanya sebuah pertunjukan metal identik dengan mosh pit yang “panas”, wall of death yang beringas dan circle pit yang “gila” namun itu tidak terjadi di Rock in Solo kali ini, wall of death tidak begitu beringas, begitu pula dengan circle pit nya. Dan berdasarkan pengamatan, hanya band – band besar saja yang riuh oleh para penonton, bahkan band sekelas Revenge pun sepi oleh para penonton yang hadir, tidak ada moshpit yang riuh yang diharapkan dari sebuah pertunjukan rock/metal, meskipun Revenge personilnya masih muda, namun mereka sudah melakukan tour ke luar negeri sebut saja Bangkok Death Fest pada 7 Juni 2014 silam, namun mosh pit pun tidak ada sampai mereka turun panggung. Hal berbeda ketika Siksakubur, Death Vomit, Downforlife, yang ramai akan moshpit, selain karena meraka adalah band besar di Indonesia, dan khusus nama terakhir adalah band tuan rumah.

Bahkan ketika Headliner tampil, Carcass, band yang jauh – jauh didatangkan dari Liverpool dengan harapan moshpit di Indonesia akan tampil “gila” karena diceritakan oleh teman mereka Napalm Death, dibuat berkali – kali berteriak “Are you sleeping?” di atas panggung. Antusias penonton untuk melihat penampilan Carcass memang tinggi, dengan padatnya penonton di depan panggung, tapi moshpit yang riuh dan “gila” tidak seperti yang diharapkan oleh Carcass, karena kebanyakan penonton memilih untuk diam dan moshpit pun hanya terlihat liar disebagian penonton saja.

Namun terlepas dari semua itu, Rock in Solo ada sebuah sejarah bagaimana perjuangan dari para penggemar musik rock/metal di Solo yang memilih untuk patuh selama satu dekade. Dan selamat atas perayaan satu dekade Rock in Solo, keep Rock Solo!(Bdp)

(Visited 165 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment