10 Terbaik Dari 7 Nada Sheila

s07

Beberapa waktu lalu seorang teman memposting tulisannya tentang lagu-lagu terbaik dari Sheila On 7 menurut versi dia, sebagai hadiah ulang tahun untuk Sheila On 7 yang ke 18. Sebuah tulisan yang pada akhirnya menggoda saya untuk menuliskan juga lagu-lagu terbaik Sheila On 7 selama kurang lebih 18 tahun mereka berkarya.

Sulit memang untuk memilih mana yang terbaik dari yang terbaik yang pernah S07 buat selama mereka berkarir di industri musik Indonesia sampai saat ini. Terbaik dalam artian secara musikalitas berkarakter, dengan padanan lirik yang bagus dan punya makna dalam atau “lagunya (let say, istilah anak sekarang) jleb banget”. Walaupun mungkin akan berbeda dalam hal memilih mana yang terbaik dari setiap orang yang menggemari musik Sheila On 7 selama ini.

Namun bukan lantas menjadikan ini jadi bahan perdebatan yang tidak perlu, apalagi sampai menjadikannya sebuah polemik. Agak berlebihan jika saja itu sampai terjadi, karena intinya adalah bagaimana pada akhirnya musik Sheila On 7 ini bisa diapresiasi lewat apa yang bisa ditangkap dari esensi setiap lagu yang mereka buat, untuk kemudian diintrepetasikan jadi sebuah tulisan yang merangkumnya jadi sepuluh terbaik dari tujuh nada yang dihasilkan Sheila On 7.

Maka inilah daftarnya

 

BOBROK (Sheila On 7, 1999)

Jika saja orang mengenal dan jatuh cinta dengan lagu Sheila On 7 lewat lagu ‘Dan’ atau ‘Kita’, maka hampir bisa dipastikan akan kecewa dengan lagu ini. Lagu yang dinilai sangat jauh jika harus dibandingkan dengan lagu ‘Kita’ atau ‘Dan’ itu.

Lalu kenapa pada akhirnya lagu ini bisa dianggap salah satu yang terbaik? adalah karena di lagu ini kita bisa mendengar aransemen musik dengan balutan distorsi garang dan riff gitar liar, yang dimainkan Eross dan Sakti secara bergantian dengan begitu ‘membabi buta’.

Namun tidak sampai musiknya saja, kekecewan para pengemar lagu ‘Kita’ atau ‘Dan’ akan bertambah lagi dengan tema lirik yang terbilang asing bagi mereka yang terbiasa dengan tema cinta ala remaja, seperti yang biasa dibuat Sheila On 7 pada beberapa lagunya.

Lagu ini salah satu yang terbaik dari Sheila On 7 karena sampai saat ini (sepengetahuan saya) tidak ada lagi lagu yang bisa dibuat oleh SO7 seperti lagu ini, baik dari segi lirik maupun aransemen musiknya. Apalagi sampai Duta berani bilang “You better go to hell”. Cukup berani untuk ukuran band pop seperti Sheila On 7.

 

SELAMAT TIDUR (Kisah Klasik Untuk Masa Depan, 2000)

Ini adalah lagu dengan durasi paling pendek yang pernah Sheila On 7 buat, yakni kurang lebih dua menit saja. Dua menit yang bisa menggambarkan secara sempurna keadaan selepas bekerja yang melelahkan dan butuh istirahat dengan lelap tertidur.

Lagu ini diawali dengan suara batuk Duta, sebelum pada akhirnya dia menyanyikan lirik “waktunya padamkan bara setelah lelah bekerja”, sampai kemudian ditutup dengan lirik “waktunya pejamkan mata dan tiada lagi berkata. Selamat tidur”.

Lagu dengan durasi kurang dari dua menit yang begitu jenius (jika harus dikatakan seperti itu) mereka terjemahkan lewat aransemen musik yang minimalis, dengan hanya satu gitar dan ambience rasa lelah yang seperti berkata “cukup untuk hari ini, aku hanya ingin lelap tertidur”.

Perasaan seperti itu tergambar sempurna lewat musiknya, tarikan nafas Duta yang menggambarkan kelelahannya, dan ditimpali sayup suara latar di lagu ini. Lagu penutup yang manis untuk sebuah album pembuktian Sheila On 7 pasca sukses luar biasa mereka lewat album perdananya.

 

TUNJUKAN PADAKU (07 Des, 2002)

Sebuah istilah dibalik setiap lelaki hebat ada perempuan hebat dibelakangnya, agaknya berlaku untuk lagu ini. Lagu ini bercerita tentang betapa lelaki pun bisa merasa begitu rapuh jika tanpa ada perempuan yang bisa menopangnya berdiri kembali menghadapi harinya.

Lagu ini membuang jauh citra lelaki yang biasa mendominasi dengan pakaian yang sulit sekali untuk para lelaki tanggalkan, yakni ego nya. Lagu ini telanjang saja mengakui jika lelaki butuh perempuan disampingnya untuk bisa membuat hidupnya terasa lebih baik dengan mempunyai ‘partner in life’. Ditambah dengan lirik yang berbunyi “bangunkan tidurku bila kau terjaga lebih dulu” menambah kesan manis lagu ini, yang segera setelahnya ditimpali dengan lirik “bergegaslah sayang, kita isi makna indahnya hari ini”.

 

RADIO (507, 2006)

Aransemen musik yang dibuat Sheila On 7 di lagu ini cukup berbeda dengan aransemen musik yang biasa mereka buat. Sedikit ruang saja (bahkan hampir tidak ada) bagi Eross memainkan riff gitar berdistorsi yang biasanya dia pamerkan lewat lick gitar blues mautnya itu. Ditingkahi permainan drum yang merujuk kepada gaya musik disko yang tentunya ala Sheila On 7, ditimpali bass line dari Adam yang seakan kawin dengan permainan drum dari Brian.

Selain itu jangan pernah bicara enak untuk lagu-lagu Sheila on 7. Karena jika berbicara enak saja, semua lagu Sheila on 7 akan terdengar enak (setidaknya untuk saya). Tepatnya enak yang diamini anggukan kepala yang setuju dengan apa yang Sheila On 7 mainkan, jika lagu ini asik buat joged-joged riang dalam kecemasan menuju galau yang menggelitik (Maafkan saya atas istilah yang aneh ini).

Maksudnya adalah dibalik aransemen musiknya yang enak buat goyang, ada semacam kecemasan di lagu ini lewat lirik “dia segalanya bagiku, apa yang terjadi jika kugagal menemukannya”. Namun untungnya itu tak lama, karena setelahnya Duta berujar jika “lewat radio aku sampaikan kerinduan yang lama terpendam”. Syukurlah setidaknya dia punya solusi 🙂

 

PEMUJA RAHASIA (Pejantan Tangguh, 2004)

Lagi-lagi Sheila datang dengan aransemen musiknya yang baru lagi. Kali ini Duta didaulat sebagai raper dadakan yang bersenandung manis “mungkin kau takan pernah tahu betapa mudahnya kau untuk dikagumi”.

Untuk typcal pemuda kikuk seperti saya, dan mungkin banyak diantaranya diluar sana yang mengalamai hal yang serupa : mengagumi tapi tak berani mengatakannya langsung, lagu ini mewakilinya dengan sangat baik dihampir semua lirik yang dinyanyikan Duta lewat lagu ini. Simak saja lirik pembuka di lagu ini yang berbunyi “kuawali hariku dengan mendoakanmu agar kau selau sehat dan bahagia disana”, satu ungkapan yang sederhana namun sangat terasa tulus dalam penyampaiannya dalam bentuk lirik lagu.

Hal yang mungkin serupa ada dalam lagu berjudul Sewindu milik Tulus, ketika di salah satu lirik lagunya yang selama sewindu dia menjadi pengagum wanita yang dicintainya, sampai pada akhirnya dia menyerah dan tidak akan lagi menunggu di depan pintu disetiap pagi sang pujaan hati.

Namun tidak dengan cerita di lagu ini. Diakhir lagu inipun si pemuja rahasia masih setia mengagumi sang pujaan hati dengan berujar “maka dengan jejak-jejak hatimu, ada arti kutelusuri hidup ini”. Apalagi sebelumnya Duta menambahkan lirik “tenanglah pujaan hatiku aku takan sampai hati bila menyentuhmu, dan menikmati indahmu dari sisi gelapku”.

 

JUST FOR MY MOM (Kisah Klasik Untuk Masa Depan, 2000)

Tidak banyak band/musisi yang menciptakan lagu dengan mengangkat tema tentang orang tua, atau dalam hal ini lebih spesifik tentang ibu. Selain Potret lewat karya masterpiece nya Melly Goeslaw yang berjudul Bunda, agaknya tidak ada musisi/band lain yang sanggup bersanding dengan lagu Bunda itu. Lagu Bunda pun pada akhirnya seperti sendirian dan merasa nyaman dipuncak tangga kepopuleran lagu dengan tema seperti itu.

Tapi pernyataan itu agaknya tidak sepenuhnya benar. Karena lewat lagunya yang berjudul ‘Just For My mom’, Sheila On 7 punya bobot yang sama bagusnya dengan lagu Bunda ciptaan Melly tersebut. Dengan aransemen musik yang terbilang catchy, ditambah dengan pilihan lirik berbahasa inggris yang sebenarnya tak banyak dibuat Sheila On 7 disetiap lagunya, lagu ini menjadi pilihan tersendiri semisal dihadapkan pada satu pilihan lagu-lagu dengan tema serupa.

‘Just for my mom’ adalah lagu persembahan manis untuk seseorang yang hanya satu level saja dibawah Tuhan, yang biasa kita sebut Ibu.

 

SAHABAT SEJATI (Kisah Klasik Untuk Masa Depan, 2000)

Kiranya bang Rhoma benar dengan ungkapannya ketika dia berujar “masa muda, masa yang berapi-api”. Hal yang diamini pula oleh S07 lewat lagunya yang berjudul ‘Sahabat Sejati’, dengan liriknya yang berbunyi “ kita selalu berpendapat kita ini yang terhebat, kesombongan dimasa muda yang indah”.

Ada dalam artian dunia hanya milik kita, yang dalam hal ini mengambil dari sudut pandang sebuah persahabatan erat yang terjalin ketika salah satu dari mereka bernyanyi “aku raja kaupun raja, aku hitam kaupun hitam, dan demi bermain bersama kita duakan segalanya”. Sebuah ungkapan yang menguatkan sebuah pembuktian –istilahnya- You and me versus the world, yang pada akhirnya lagu ini jadi semacam anthem bagi banyak orang akan persahabatan yang mereka jalani.

Menggeber lagu ini dari awal sampai akhir lagu dengan distorsi kencang dan ketukan drumnya yang tanpa ampun, tidak memberikan sedikitpun ruang untuk kita sedikit menghela nafas dalam tasbih dan teriakan persahabatan di lagu ini. Seakan lirik dan musiknya bergandeng beriringan menyuarakan kebebasan dengan sebuah kalimat penutup dalam lagu ini yang berbunyi “tak usah kita pikirkan ujung perjalanan ini”.

 

SEBERAPA PANTAS (07 Des, 2002)

Hanya perlu satu alasan untuk bisa menempatkan lagu ini dalam jajaran lagu terbaik Sheila On 7, yakni interlude gitar Eross di lagu ini yang dia mainkan seperti sedang ‘kesetanan’, dan tanpa ampun menyuguhkan permainan gitarnya, yang pada akhirnya cukup pantas jika julukan gitaris terbaik di negeri ini -salah satunya- disematkan kepadanya. Ditimpali string section atau let say ornamen musik orkestra (dalam artian karakter sound yang dipilih) yang saling sahut menyahut dengan permainan gitar Eross dengan lick yang ciamik, membuat lagu ini jadi lebih berisi dan kaya akan aransemen musik yang baik.

Sedikit cerita menarik di lagu ini adalah ketika pengunaan kata ‘celakanya’ diganti dengan kata ‘sayangnya’ di Malaysia, ketika waktu itu pihak Malaysia keberatan dengan penggunaan kata ‘celakanya’ yang dianggap mempunyai konotasi yang kurang baik menurut pembendaharaan tata bahasa disana. Namun hal itu tidak sedikitpun mengurangi esensi di lagu ini. Toh nyatanya S07 masih digemari juga disana, karena musiknya memang ear catchy, gampang diingat tapi tidak gampangan juga.

 

LIHAT, DENGAR, RASAKAN (Kisah Klasik Untuk Masa Depan, 2000)

Penghargaan tertinggi saya untuk bassis S07 Adam Subarkah lewat lagu ini. Tidak seperti kebanyakan lagu lainnya dari S07 yang banyak diciptakan oleh Eross, lagu ini dibuat oleh sang bassis mereka Adam Subarkah. Lewat lagu ini, S07 membuktikan jika band ini berisikan pencipta lagu handal lainnya selain Eross.

Lagu dengan komposisi musik yang baik, pilihan tema lagu yang bagus, dan tentunya pemilihan frase kalimat yang sangat bagus. Bagaimana tidak, diawal lagu saja Adam berani menggunakan frase kalimat “kilau hari-hari dan birunya langit, terhapus rasa indah terpejam oleh lelah”. Dengan tema yang jauh lebih dewasa dibanding dengan lagu-lagu S07 lainnya semisal ‘J.A.P’ atau ‘Kita’ yang masih seputaran kisah cinta remaja dengan semua hal indah yang dibawanya.

Lagu ini adalah refleksi perenungan diri lewat apa yang kita dengar, lihat, dan rasakan setiap harinya. Ini ditegaskan dengan lirik yang berbunyi “dalam lelahnya mata nikmat dunia menjelma, sejenak dia berharap malam tanpa batas”.

Hal yang mungkin dirasakan oleh banyak diantara kita ketika bagian terbaik dari setiap hari yang kita jalani adalah ketika terbaring hendak tertidur, setelah seharian kita melewati banyak hal, dan itu terangkum oleh pikiran kita yang pada akhirnya menyisakan lelah yang ingin segera disudahi dengan berada di tempat yang nyaman untuk berbaring. Namun ketika disekitar kita ada orang lain yang tidak bisa merasakan hal yang sama dengan kenyamanan yang kita rasakan, maka itu akan jadi bahan perenungan untuk kita. Dan lewat lagunya S07 menangkap hal itu.

Ini ditegaskan dengan lirik “mudahkan hidupnya hiasi dengan belaiMu, terangi harinya dengan lembut mentariMU”. Yang segera setelahnya ditimpali permainan solo bass dari Adam yang sangat bagus dengan kemampuan bermain bassnya yang mumpuni. Apalagi ditambah dengan isi lagu ini yang membuat permainan bassnya terasa emosionil sekali. Maka dengan segala kerendahan hati saya angkat topi untuk Adam di lagu ini.

 

Dan (Sheila On 7, 1999)

‘Dan’ adalah masterpiece dari Sheila On 7. Lagu yang mengantarkan mereka lebih dikenal luas oleh banyak pecinta musik di tanah air kala itu. Oleh karenanya akan menjadi satu kesalahan jika tidak memasukan lagu ini dalam urutan lagu terbaik dari Sheila On 7.

Namun apakah karena faktor itu saja? Seolah lagu ‘Dan’ ini terpilih karena lagu inilah yang pada akhirnya membuat S07 menjadi sangat populer seperti sekarang?

‘Dan’ dengan segala hal yang dibawanya lewat ‘aura’ lagunya adalah magnet tersendiri, yang hampir bisa dipastikan bagi banyak orang yang menggemari S07 akan enggan beranjak untuk memijit tombol next ketika mendengarkan lagu ini. Ketika kenyataan sekarang mendengarkan musik secara digital dengan pilihan klik next ke lagu berikutnya menjadi sedikit meaningless, maka lagu ‘Dan’ ini punya magnet yang membuatnya enggan dilewatkan sebelum coda lagu ini selesai.

Sejatinya lagu ini berkisah tentang ‘kegalauan’ kisah cinta pada umumnya hubungan sepasang kekasih yang ‘dikisahkan’ sedang tidak baik ini. Lewat penggunaan lirik “caci maki saja diriku bila itu bisa membuatmu kembali bersinar dan berpijar” adalah anomali tersendiri untuk lagu-lagu semacam ini.

Maka sekali lagi jika Sheila On 7 adalah salah satu band pop yang menempatkan levelnya sendiri lewat penggunaan frase kalimat di lagunya yang menarik untuk dibedah satu persatu. Tidak seperti misalnya beberapa musisi lainnya yang berprosa lewat metafora perumpamaan yang tidak banyak bersentuhan dengan pendengarnya, cara Sheila On 7 membawakan liriknya terbilang sederhana dalam mengemasnya menjadi sebuah lagu dengan isi yang gampang dicerna, namun tetap punya nilai lebih. Ditambah kemampuan bermusik dari tiap personil yang mumpuni, menjadikan band ini pada akhirnya bisa sampai di usianya yang hampir dua dekade ini.

Selamat berulang tahun yang ke 18 Sheila On 7, jalan terus dan tetap berlayar.(AWP) 

 

 

(Visited 14,590 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment