2017: Berakhirnya Industri Media Cetak di Indonesia?

Industri nampaknya saat ini sedang tidak berpihak kepada media cetak, khususnya di Indonesia. Hal ini terlihat dimana sepanjang tahun 2017 yang lalu, cukup banyak grup media cetak di Indonesia yang gulung tikar, sebut saja MRA grup atau Kompas Gramedia dengan sederet majalahnya seperti HAI, Esquire, FHM Indonesia, Cosmo Girl! Indonesia, MAXIM Indonesia, dan yang paling hangat diperbincangkan; raksasa seperti Rollingstone Indonesia turut gulung tikar.

Jika melihat trend saat ini, tidak bisa dipungkiri bahwa jaman sudah berubah ke ranah digital, begitu pula dalam hal media. Karena sudah massivenya media sosial, informasi yang ada berkembang dengan sangat cepat, dan media online manjadi pemenang dalam hal akses informasi dalam patokan ‘waktu’ yang bisa lebih real time dan dapat diakses dimana saja dan kapan saja.

Dengan tumbangnya Rollingstone Indonesia, tentu ranah dunia kreatif terutama musik di Indonesia cukup kebakaran jenggot, karena kita tahu situs dan majalah Rollingstone sudah menjadi acuan utama baik menikmat maupun pelaku musik yang ada di Indonesia pada khususnya untuk menyebarkan dan mendapatkan informasi mengenai hal tersebut.

Yang kemudian menjadi pertanyaan: kemanakah para musisi saat ini akan menyebarkan informasi mengenai karya musiknya untuk bisa mendapat eksposure yang lebih luas? Saya mungkin bisa menjawab dengan 1 hal saja: internet.

2 tahun belakangan ini musisi sudah mulai banyak memanfaatkan sistem self promote dengan lebih baik lagi, baik melalui kanal-kanal digital streaming seperti soundcloud, reverbnation bahkan mulai banyak membuat konten vlog yang lebih komunikatif di situs Youtube. Hal ini efisien untuk meningkatkan engagement dengan fans, namun untuk mendapatkan eksposure lebih luas lagi, tak bisa dipungkiri media tetap memegang peranan yang penting.

Dengan tumbangnya raksasa-raksasa media dengan konten alternatif di Indonesia, seharusnya hal ini bisa menjadi titik awal dari kebangkitan webzine-webzine lokal yang sudah mulai tumbuh subur sejak 8 tahun terakhir; karena pilihan media konvensional untuk menjadi sasaran promosi kini tinggal 2 saja; televisi dan juga radio.  Minusnya: media komunitas atau webzine ini tidak di maintenance dengan baik, sehingga banyak juga yang berguguran satu demi satu.

Ditengah kondisi seperti saat ini, persaingan media alternatif tentu akan menjadi semakin seksi karena bisa dibilang kompetitor utama di ranah”mainstream” sudah tumbang satu demi satu, dan sebagai media komunitas tentu sudah memiliki modal awal berupa semangat kolektif dan kebersamaan dari suatu lingkup komunitas itu sendiri, sehinggal webzine sebenarnya bisa menjadi lebih sustain dibanding media konvensional karena kebanyakan tidak terlalu menggantungkan nasibnya pada sisi bisnis, meskipun tidak bisa dipungkiri hal itu juga menjadi suatu sisi yang harus diperhatikan seiring berjalannya waktu.

Tulisan panjang saya ini kemudian menyisakan sebuah pertanyaan penutup: mau dibawa kemana media komunitas dan alternatif yang sudah ada saat ini?

 

 

(Visited 37 times, 1 visits today)

Author: Komang Adhyatma

Share This Post On

Submit a Comment