Ade Putri: BEERGEMBIRA Sebagai Media Community

11215774_10152988205911330_2670578307210061733_n

Beberapa tahun terakhir kebelakang ini cukup ramai menjadi perbincangan dimana pemerintah mulai menerapkan undang-undang yang membatasi peredaran minol (minuman beralkohol) secara bebas, termasuk bir. Di luar kebijakan pemerintah tersebut, ternyata ada sekelompok orang-orang kreatif yang membuat media community  bernama Beergembira, dimana mereka mengajak masyarakat untuk tahu lebih banyak mengenai bir, meskipun di Indonesia saat ini masih banyak stigma negatif  mengenai peminum dan minuman beralkohol.

Dalam suatu kesempatan, Ade Putri yang menjadi salah satu founder dari Beergembira dan juga road manager dari band cadas Seringai ini turut berbagi cerita mengenai Beergembira kepada kami. Simak obrolan kami bersama Ade berikut ini.

Siapa saja sih orang-orang dibalik Beergembira?

Orang-orang yang terlibat di Beergembira adalah saya sendiri sebagai “Mommy Beer”, Adita Bramantyo “Mama Beer”, Indra7 “Beer Daddy” dan Rudolf Dethu “Beer Dawg”. Dari setiap orangnya memiliki tanggung jawab masing-masing. Most likely, Indra7 menulis. Gue sesekali menulis, tapi lebih banyak bertanggungjawab di urusan publikasi ke media dan workshop, Adita mengurus business development-nya. Sedangkan Dethu (beliau tinggal di Jakarta, walaupun masih sering bolak balik ke Bali dan Australia) sebagai propagandist.

Kalian lebih suka disebut sebagai apa? Komunitas, blog, portal online atau bagaimana?

Media community. Karena awalnya, Beergembira sebenarnya kami buat sebagai media. Tapi ternyata akhirnya, secara organik, Beergembira telah berkembang menjadi komunitas. Untuk tahu lebih jauh, kamu bisa kunjungi website kami di beergembira.com.

Bisa diceritakan awal mula terbentuknya Beergembira?

Pertemanan saya dan Adita sudah lama, dan salah satu kegiatan rekreasional yang sering kami lakukan bersama adalah minum bir. Makan siang bareng, atau hang out sepulang dari kantor, atau liburan bareng, pasti selalu ada bir. Lantas pada suatu saat, saya dan Indra7, yang juga sudah saling kenal sejak lama, bertemu di sebuah acara workshop beer tapping yang diselenggarakan oleh sebuah merek bir. Dari workshop itulah, saya baru tahu kalau busa pada bir itu sebenarnya penting. Wah, menarik nih, pikir saya. Ternyata selama ini saya cuma menikmati bir tanpa tahu fakta-fakta dan cerita tentang bir itu sendiri. Akhirnya, dalam sebuah obrolan iseng, saya dan Adita memutuskan untuk membuat Beergembira ini. Harus ada yang berbagi fakta tentang bir sekaligus mengedukasi. Kami mengajak Indra7 dan Rudolf Dethu juga – sesama penikmat bir yang juga memiliki visi dan misi yang sama dengan kami.

Kenapa memilih nama ‘Beergembira’?

Gimmick aja sih. Karena di kata Beergembira terdapat dua kata yang artinya sebenarnya satu: beer atau bir. Dan konsepnya memang berbagi #FaktaBir dengan santai, fun. Hence the name; Beergembira.

Tujuan dibentuknya Beergembira itu sebenarnya apa sih?

Membuat media di mana orang dapat mencari tahu bebagai hal tentang  bir, juga berbagi cerita. Anggaplah Google-nya bir di Indonesia.

Di Indonesia sebenarnya belum ada portal yang spesifik membahas soal bir, apa itu menjadi alasan terbesar kalian membentuk Beergembira ini?

Salah satunya, iya.

Kenapa harus soal bir?

Sesederhana karena kami suka bir. Kami penikmat bir. Akan lebih mudah berbagi tentang sesuatu yang memang kita suka kan?

Menurut kalian, setuju tidak dengan aturan baru mengenai pelarangan penjualan minol termasuk bir di swalayan atau minimarket seperti sekarang ini?

Eits, di Jakarta sudah kembali diizinkan lho! Haha. Waktu awal ada Permendag tentang pelarangan penjualan minol di minimarket ini, kami jelas kecewa sih. Di satu sisi, kami paham bahwa memang banyak penjual yang tidak pernah peduli dengan usia konsumen yang membeli minol, tidak ada pengecekan identitas dan sebagainya. Kok bukannya ditegaskan aturannya, tapi malah diratakan saja: nggak boleh jualan. Kan itu bukan solusi. Nah, baru baru ini Ahok (Gubernur Jakarta) menegaskan bahwa minol bisa kembali dijual di minimarket. Tapi kalau sampai ada yang ketahuan menjual ke konsumen di bawah usia 21 tahun, maka tokonya akan disegel. Nah, gitu kan baik: ada konsekuensi yang ditegaskan sejak awal.

Gimana pendapat kalian mengenai stigma seorang peminum adalah kriminal? Dimana hal sejenis pernah terjadi pada era 90-an dimana orang yang bertato identik sebagai seorang kriminal?

Itu tolol dan menyebalkan sih. Bagaimana bisa seseorang menjadi kriminal karena sesuatu yang dikonsumsinya atau justru karena tidak mengonsumsi sesuatu? Kalau memang peminum itu adalah kriminal, kenapa kantor polisi nggak pindah aja sekalian ke bar; kan banyak peminum di situ? Aneh.

Punya pandangan tersendiri enggak buat merubah pola pikir peminum bukanlah seorang kriminal?

Mengubahnya nggak mudah. Tapi tahun lalu, Beergembira sempat membuat kampanye #PenikmatBirBukanKriminal. Kami mewawancarai sejumlah orang tentang stigma bodoh tersebut. Di situ juga kami mencoba memperlihatkan bahwa banyak penikmat bir yang memiliki karir bagus, berprestasi, dan sama sekali jauh dari tindakan kriminal. Jangan deh memukul rata orang dari apa yang mereka konsumsi.

Kegiatan apa saja yang selama ini pernah kalian lalukan?

Kami sudah mengadakan acara (termasuk launching) sebanyak 6 kali. Selalu ada workshop-nya, dengan tema yang berbeda-beda. Ada beer tasting, beer & food pairing, beer cocktail sampai beer tapping. Pernah juga beberapa kali sharing di kampus-kampus tentang kampanye #DrinkResponsibly.

Bagaimana cara untuk bisa berpartisipasi dan berkegiatan bareng Beergembira?

Setiap acara, kami selalu promosikan lewat website dan semua digital assets kami; Instagram, Twitter & Facebook page. Jadi siapa pun bisa ikut, termasuk juga kamu!

Bagaimana cara kalian agar bisa sustain, apakah ada pihak-pihak tertentu yang mendukung secara finansial?

Dari acara-acara yang kami selenggarakan, juga dari merchandise Beergembira, kami mendapatkan penghasilan yang mencukupi buat terus menjalankan apa yang selama ini sudah kami lakukan, dan tetap bisa minum bir secara rutin! Hahaha…

Apa rencana kedepan kalian, atau dalam waktu dekat?

Kami mulai mengkampanyekan #TahuBatasnya, yang intinya mengajak orang untuk paham batasnya, dan selalu tahu batasnya. Dalam hal apapun! Terutama dalam urusan menikmati bir, tentu saja.

Pertanyaan terakhir, ada pesan yang bisa disampaikan untuk pembaca kami yang mayoritas anak muda kreatif Indonesia?

Everything has got to be started by now. Like, right now.

beergembira

(Visited 368 times, 1 visits today)

Author: Komang Adhyatma

Share This Post On

Submit a Comment