Agresifitas Melodi dan Ritmis di Konser The Trees and The Wild ‘I’ll Believe In Anything Tour’

img-20161203-wa0010

Foto : Hani Latifah

Minggu, 3 Desember 2016. Tiga tanggal awal diakhir bulan tahun 2016, pelataran gedung IFI (Institut Francais d’Indonesie) Bandung mulai ramai dipenuhi muda-mudi kota Bandung, yang memilih menghabiskan malam minggu mereka, untuk menyaksikan sebuah pertunjukan musik bertajuk I’ll Believe In Anything Tour , dari unit kreatif musik The Trees And the Wild. Sebuah rangkaian tour dalam rangka promo album terbarunya ‘Zaman Zaman’.

Sekitar pukul tujuh malam pintu masuk ke area pertunjukan mulai dibuka. Sampai sekitar 23 menit lebih 13 detik, dari sejak dibukanya pintu di area konser, munculah lima orang personil The Trees And The Wild, yang tanpa tedeng aling-aling langsung menggebrak panggung dengan musik mereka. Latar panggung dengan pecahayaan lampu yang minim, membuat kelima orang personil The Trees And The Wild itu nampak seperti siluet dengan agresifitas melodi dan ritmis, yang bersahutan dengan humming dari vocalis Charita Utami, disambut dengan koor penonton, yang nampaknya terbagi dua kelompok, antara kelompok yang memang telah siap menyambut agresifitas melodi dan ritmis dari The Trees And The Wild tadi, dengan kelompok penonton yang kaget oleh intro lagu pembukanya, yang diakui atau tidak pada titik tertentu bermain sampai titik akselerasi maksimum, dengan bebunyian distorsi gitar, synth, dan ketukan drum yang prima mengawali pertunjukan malam itu.

Selanjutnya, seakan enggan menurunkan atmosfir konser ditingkat agresif tadi, The Trees And The Wild, nyaris tanpa jeda mengantarkan lagu demi lagu mereka dengan vibe yang sama. Jika saja menyempatkan untuk memejamkan mata, bebunyian distorsi gitar, synth, dan ketukan drum yang prima di pertunjukan malam itu, sangat provokatif bagi penontonnya berada di sebuah suasana konser, yang memancing alam bawah sadar untuk berfantasi ke sebuah tempat utopis, merayakan kebisingan demi kebisingan dalam balutan synth dan distorsi. Mau tidak mau, siap tidak siap, bunyi-bunyian dari musik mereka seolah gerbang masuk ke tempat utopis tadi.

Tidak ada kata pengantar untuk setiap lagu yang dibawakan. Mereka sepertinya tidak ingin merusak mood konser yang membuat penonton “melayang”, dengan basa basi yang tidak perlu. Maka dari itu mereka cukup bertindak sebagai fasilitator dengan musiknya, kemudian penonton dipersilakan menikmati sajian musik yang provokatif memancing alam bawah sadar itu tadi. Sampai sekitar 8 atau 9 lagu (lupa tepatnya) mereka berhenti, dan gimmick “pamit” pun dimulai. Namun tak lama karena penonton meminta encore.

Disesi kedua The Trees And The Wild mengajak penontonya kembali ke area konser, setelah “melayang” ke tempat utopis tadi. Pemilihan lagunya pun lebih song-able, sehingga koor penonton pun mulai riuh memadati area dalam gedung IFI Bandung malam itu, bernyanyi bersama di lagu-lagu hits mereka seperti Empat Tamako, lalu mengalun bersama nada-nada pentatonis di lagu  Saija, maupun berjingkrak menikmati ketukan ritmis dilagu Derau Dan Kesalahan. Latar panggung dengan pencahayaan yang minim pun perlahan berganti dengan warna-warni terang, menandakan konser disesi kedua ini The Trees And The Wild mau memainkan vibe musiknya lebih kalem. Setelahnya mereka kembali pamit, namun lagi-lagi penonton meminta encore, sampai akhirnya mereka menutup dengan lagu Our Roots.

p_20161203_195047_hdr

Penampilan yang prima dengan dua kali encore dari penonton, menandakan konser mereka di IFI Bandung malam itu sukses. Mereka membawa penonton untuk hanyut dalam sajian musik yang mereka bawakan. Memang ada beberapa catatan perihal teknis diatas panggung, seperti misalnya suara mic yang kadang terdengar samar saat dilantunkan dilagu-lagu mereka. Namun jika melihat dari segi vibe dan mood konser, penampilan mereka malam itu cukup membuktikan jika mereka adalah penampil yang baik. Tidak banyak basa-basi ditiap jeda lagu, dan straight to the point “menghajar” telinga penonton yang datang ke IFI malam itu. The Trees And The Wild adalah kolektif kreatif dengan komposisi musiknya, mempertegas jika musik pada penerapannya bisa juga menjadi sebuah alat yang memancing alam bawah sadar, yang ketika dimainkan bisa sangat provokatif memancing untuk pendengarnya “bertamasya” dengan utopianya masing-masing.

 

 

 

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *