Aliansi Musik Bulan Mei Resmi Dirilis

10385007_10204038318142025_417938968_n

Pertama-tama, kami ucapkan terimakasih atas besarnya apresiasi terhadap rilisan kompilasi perdana Aliansi Musik yang bisa diterima khalayak luas diluar sana. Semaksimal mungkin kami tetap menyajikan band/musisi yang sering kalian dengar ataupun sebaliknya per tiap bulan. Segala unsur yang mendukung melalui sarana internet—dari mencari talent berbakat di berbagai platformmusik—sudah menjadi senjata utama.

Di bulan Mei daftarnya pun sudah rampung, merupakan hasil observasi ketat dari tim penyeleksi yang terbagi di berapa tempat, seperti, Bali, Semarang, Surabaya, Malang, Yogyakarta, Jakarta dan untuk kesempatan kali ini, Bandung harus absen serta ada kita mendapat perwakilan dari Solo. Mungkin kita pun masih membuka lebar pintu bagi siapapun yang ingin berkontribusi di kompilasi Aliansi Musik. Dan semua lagu bisa kalian unduh sesukanya di kanal soundcloud Deathrockstar Webzine.

01. Dopest Dope – The Luck Song (Surabaya)

“Single “The Luck Song” ini baru saja dirilis 21 April 2014 kemarin, single ini merupakan single ketiga yang telah dikeluarkan Dopest Dope sejak mereka terbentuk pada 2012 silam. Liriknya bercerita tentang seseorang yang disangka selalu mendapat keberuntungan, padahal orang tersebut tidak pernah merasa beruntung, ia cuma menikmati hidupnya, fokus pada dirinya. Di sisi lain orang-orang yang menyangka tentang keberuntungannya terlalu sibuk pada urusan diluar dirinya dan kurang menikmati hidup.” — Emirul Fahmi Fanshuri 

02. Christabel Annora – If This Walls Could Talk (Malang)

“Christabel Annora Paramita Parung atau Ista adalah seorang pianist perempuan berasal dari kota Malang. Belajar bermain piano sejak usia 5 tahun, Ista ini juga seorang pengajar di kelas piano di salah satu sekolah musik di malang, sekaligus juga seorang mahasiswa arsitektur di salah satu perguruan tinggi negeri di malang. Saat ini ista sudah merilis lagu original yang tergabung di kompilasi sepi dari Barongsai Records Malang”—Akhmad Alfan Rahadi

03. Rabu – Semayam (Yogyakarta)

“Suasana kelam dan gelap langsung terasa saat mendengarkan single perdana dari album Renjana milik Rabu berikut ini. Suara vokal dari anak kuliahan yang terlihat berpenampilan biasa saja, sebut saja dia Wednes Mandra sangat berkarakter dalam duo Rabu – ini, jika kamu pernah mendengarkan Ebiet G. Ade, mungkin sekilas akan teringat pada sosok penyanyi yang dikenal dengan musik-musik balada nya ini. Menarik jika kita lihat bagaimana Rabu menyematkan citraan mistik Jawa dalam lirik lagu puitis bergaya noir yang sederhana.”—Komang Adhyatma

04. Black Coffee Monologue – Two Years (Semarang)

“Black Coffee Monologue adalah sebuah proyekan pribadi dari Adit Kempoel. Black CoffeMonologue sendiri pernah masuk dalam kompilasi Atlas City Movement. Ada keputusasaan dan ketakutan akan kehilangan dalam tiap lirik yang dia nyanyikan dalam “Two Years” yang konon dia dedikasikan untuk orang yang amat spesial dalam hidupnya. Buat kalian yang menyukai balada-balada patah hati ala Secondhand Serenande bisa jadi “Two Years” menemani kamu ditiap malamnya.”—Andi Fitriono

05. Future Collective – A Distant Beach (Jakarta)

“Suatu pertemuan yang magis untuk saya pribadi saat menemukan kaset grup ensemble-instrumental asal Jakarta yang menamai diri mereka Future Collective terselip antara kaset dagangan lainnya. Rilis saat dihelatnya Record Store Day 2014 di Kemang, Jakarta Selatan. Saya pun enggan untuk memutar kembali di tape deck, takut mengurangi cita rasa yang disuguhkan. Memang terlalu berlebihan, tapi nyatanya mereka menghadirkan musik jazz ensembles berkelas secara minimalis. Lahir dari ide kolektif, saling bertukar materi antara Sawi Lieu dan Tida Wilson selaku dua pilar di Future Collective—katanya kemungkinan akan menambah personil lagi, mengingat grup ini berformat live.

“A Distant Beach” adalah track favorit saya diantara keseluruhan album #1 milik mereka, kerharmonisan desiran ombak dengan tropical music yang menyajikan nuansa synth-pop futuristik.”—Robby Wahyudi Onggo

06. Parau – Darah Menoreh Sejarah (Bali)

“Gue pribadi suka dengan band ini karna racikan musik yang mereka suguhkan bisa dikategorikan cukup spesifik : penulisan lirik yang peka dan cerdas, berpondasi pada “Tri Hita Karana” ( hubungan horizontal antar sesama manusia, manusia dengan alam ; serta vertikal antara manusia dengan Sang Pencipta ). Dalam penciptaan lagu dan aksinya diatas panggung Parau banyak menyuarakan pesan – pesan moral, kepedulian terhadap kehidupan sosial manusia dan lingkungan hidup. Peka terhadap realita situasi dan kondisi roda kehidupan manusia di dunia merupakan bahan utama bagi band metal asal bali ini dalam penciptaan lagu sebagai respon kepedulian terhadap jalannya kehidupan.

Salah satu lagu yang gue suka “Darah Menoreh Sejarah” dari album terbaru mereka yang baru saja di rilis “RAGENAISSANCE” lagu ini menceritakan perjalanan hidup manusia dalam berjuang melewati berbagai masalah & masa kritis untuk bertahan hidup.”—Teddy Drew

07. The Working Class Symphony – Broken Heart (Solo)

“Kalau di Solo terkenal dengan musik metal dan hardcore yang cukup kencang, disela-sela itu semua The Working Class Shyphony berjalan di jalur dengan band yang pada umumnya di Kota Solo. Bermula pada 2010 disebuah warnet, unit yang bergenre Celtic Punk ini mulai menghentak Solo. Tahun 2012, mereka merilis CD EP “Satu Jiwa” yang dengan perlahan sukses di scene underground Solo. Terdapat tujuh simfoni yang sangat mengundang untuk berdansa dan tertawa bersama teman-teman, namun single Broken Heart yang dipilih. Lagunya yang sangat cukup easy listening, nuansa Celtic Punk yang sangat terasa, dan kapan lagi mendengarkan anak punk galau?”—Ekawan Raharja 

(Visited 67 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment