Another Trip To The Moon: Tersesat-sesat di Hutan, Menuju Rembulan Kemudian

05

Foto: Bosan Berisik Lab

Di Indonesia memang sedikit film yang bisa menceritakan batin wanita oleh seorang pria dengan hasil yang bukan sekedar feminist namun juga puitis. Ismael Basbeth lewat Another Trip To The Moon akhirnya datang tidak cuma untuk memperjuangkan gender namun tiap inti manusianya yang dipandang sama di mata Tuhan. Begitu kira-kira.

Ditulis oleh Ismael Basbeth dan co-writer BW. Purba Negara (Popoh), Another Trip To The Moon mendokumentasikan perasaannya soal manusia di antara dunia kontemporer. Dunia yang terlihat pun begitu absurd. Sejanggal perjalanan seorang wanita bernama Asa (Tara Basro) dan Laras (Ratu Anindita) yang diboneka-santetkan oleh ibu Asa sendiri (Endang Sukeksi). Asa kemudian dinikahkan dengan seorang anjing hitam (Mt Von Lawu/Cornelio Sunny).

Pada awalnya, film ini mengurai keindahan natural pun kultural. Lambat laun sisipan janggal bermunculan. Misalnya penonton diderap untuk mengikuti ritual magis di mana bando kuping kelinci jadi salah satu sajennya. Kadang dengan penempatan kamera yang diam dan dingin, keindahan itu menjadi kompleks dan Ismael seolah mengucapkan selamat datang dan silakan tersesat di hutan selama 80 menit tanpa bisa bertanya sesiapa.

Tanpa dialog, Another Trip To The Moon nyatanya memilih asyik bercakap-cakap lewat representasi teks visceral. Karena faktanya, bukan cuma visual yang menuntun penonton, ilustrasi suara serta efek suara pun berperan penting jadi kanvas seni di sini. Jika visual, Ismael sudah sering lakukan itu di film-film pendeknya. Misalnya Shelter tentang seorang wanita SPG ber-rok pendek yang digerayangi oleh kekasihnya adalah tabrakan perjalanan eksistensial manusia. Lebih puitis lagi, itu direkam dalam one shot one take, menyiratkan bukankah hidup hanya satu kali saja. Namun untuk visi suara, baru di Another Trip To The Moon rasanya ekperimentasi itu berlaku. Sequence, ketukan meditatif plus kamera bergoyang kaku dengan poros angle point of view menuju liang kubur sangatlah bermakna. Belum lagi film ini menghadirkan kidung-kidung yang tidak dimengerti namun sangat mengoyak perasaan. Terima kasih Satria Kurnianto sebagai DOP dan Charlie Meliala yang menjadi komposer.

Beberapa ketokohan film sendiri ini adalah jahitan karakter dongeng Indonesia semisal Srikandi, Dayang Sumbi dan Tumang yang dikontruksi ulang oleh Ismael Basbeth. Hasilnya, wanita Asia berkostum primitif ala Eropa, para hewan penunggu hutan yang diperagakan manusia, televisi, zombie dan ufo, apa artinya?

Rasanya film tersebut memuat percakapan kemungkinan kombinasi ataupun kontradiksi hegemoni Barat dan Timur yang diikuti isu kaburnya tatanan rasional dan tahayul, liar dan beradab, liberal dan konservatif, artifisial dan natural. Lihat bagaimana sang ibu dukun merapal mantra dengan citra tradisional dilatarbelakangi oleh sebuah televisi jumbo yang buram. Atau anjing hitam yang dinikahi Asa ternyata punya paras Eropa namun ia mengadopsi budaya Timur.

Mengalami Kebebasan Alam Perempuan dan Pria

Woman experience cukup bisa menjadi benang merah dari kenyataan dialog kekuasaan. Pengalaman perempuan memiliki jarak yang dipatok dekat dengan keseharian kita. Perkenalan penonton dengan karakter utama Asa serta pasangannya Laras ialah sebuah kelahiran dari rahim alam.

Bagian yang cukup menarik adalah ketika Asa menemukan kelinci dan ikan plastik di hutan. Tak ayal, sangat terasa kritik ecofeminism dari Ismael Basbeth, apabila salah satu elemen dari hubungan perempuan dan alam luruh maka dipastikan berpengaruh pada keseimbangan bentuk hidup yang lain.

Apa yang bisa terlihat, bahwa perempuan memang memiliki keterikatan kuat dengan alam. Kacamata Ecofeminisme melihat perempuan memiliki elemen yang sama penting, karena dari keduanya kehidupan lahir dan berkembang. Dalam mitos Indonesia, perempuan mendapatkan posisi yang sakral, yaitu sang pencipta. Nampak dari penamaan Dewi Sri, Nenek Moyang dan Ibu Pertiwi yang lekat dengan kita.

Seiring berjalannya waktu, alam dan perempuan menjadi barang eksploitasi patriarki. Kemudian kita sama-sama tahu kemana arah perjalanan perempuan sebagai manusia, terusir dan terpinggirkan ke tempat yang asing bernama rumah?

Another Trip To The Moon mustahil menjawab pertanyaan tersebut secara praktis namun tidak ada yang salah jika berupaya mengingatkan pertanyaan tersebut. Terlebih melihat karakter-karakter inferior dan pasif di sana yang terikat oleh kekuasaan di luar kehendaknya.

Kuncinya sendiri terletak pada perjalanan Asa yang melangkah ke luar hutan dan memasuki kehidupan masa kini dengan menaiki bus pariwisata.  Sequence ini adalah pertanyaan-pertanyaan kebebasan manusia dari primitif sampai hari ini yang belum menemukan titik temu dan terus dipertanyakan (terus dinyatakan). Dari sana tersirat, apakah kita bisa disebut merdeka jika ruang memaksa kita menjadi orang lain?

Satu hal lagi, sepanjang perjalanannya, tidak seperti sang ibu; Asa terhitung sedikit sekali berada di tengah frame.  Kebanyakan Asa berada di samping kiri dan kanan. Kecuali momen saat Asa berjalan menuju kebebasannya. Mungkin ini simbol dari ketersisihan kehendak bebas kita baik wanita atau pria. Sekali lagi, apakah kita masih bisa dibilang merdeka jika ruang kerap menentukan siapa kita?

Mungkin berangkat dari pertanyaan-pertanyaan itu, Another Trip To The Moon berusaha meroketkan kita ke bulan, atau ke sesuatu pelarian dari ketersesatan yang ideal.

(Visited 1,412 times, 1 visits today)

Author: Trian Solomons

Share This Post On

Submit a Comment