((AUMAN)) Tersandung Masalah Pembajakan Karya Digital

auman1

((AUMAN))

Industri musik di Indonesia nampaknya belum bisa menyelesaikan masalah pembajakan karya musisi secara tuntas, hal ini terbukti dengan mencuatnya kasus yang menimpa band cadas asal Palembang, ((AUMAN)) belum lama ini.

Pasca bubarnya ((AUMAN)) pada bulan Februari 2015 para kolaboratornya menyepakati untuk melimpahkan hak penerbitan musik dan segala hal lain yang terkait dengan band tersebut kepada Rimauman Music, dengan seorang Farid Amriansyah sebagai pelaksana dan pemegang amanatnya. Dan, setelahnya Rimauman Music pun berdiri sendiri secara otonom dan memegang penuh segala hak dari ((AUMAN)) yang menjadi roster dari label muda yang lahir dari kematian ((AUMAN)) sebagai band. Hingga kini beberapa band yang juga menjadi bagian dari keluarga Rimauman Music antara lain BLACK//HAWK, CLOUD, RESIGN, HOAX dan AGAINST OPPRESSION dan juga beberapa band lain dari region Sumatera bagian Selatan yang sedang dalam proses merilis materi musiknya bersama Rimauman Music.

Rimauman Music sendiri adalah label dan penerbit musik mandiri kecil yang berdomisili di Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. Label mandiri tersebut lahir dari rahim kolektif musik heavy rock asal Palembang, ((AUMAN)), yang kemudian diinisiasikan sebagai sebuah cara untuk berkontribusi secara aktif mendorong perkembangan scene musik lokal dengan merilis band-band dari kota Palembang dan Sumatera bagian Selatan sebagai sebuah region. Inspirasinya sendiri muncul dari apa yang dilakukan oleh Hydra Head Records dan Neurot Recordings di mancanegara.

Sebelumnya Rimauman Music yang beroperasi secara rumahan ini sempat menghadapi kasus pelanggaran hak kekayaan intelektual ketika lagu dari ((AUMAN)) dipakai tanpa izin untuk program olahraga di dua televisi nasional yaitu Metro TV dan ANTV. Kedua kasus tersebut terselesaikan secara musyawarah dan mufakat antara kedua institusi media itu dengan Rimauman Music dengan keduanya membuat pernyataan maaf resmi yang dipublikasikan.

Kali ini permasalahan yang kembali menimpa Ramauman Music adalah pemakaian salah satu rilisan mereka yaitu album ((AUMAN)) yang berjudul ‘Suar Marabahaya’ yang diselinapkan tanpa otorisasi yang sah oleh content aggregator yang tak bertanggung jawab ke situs-situs dan aplikasi penyedia layanan musik digital online yang syah seperti iTunes, Deezer, Spotify, Rhapsody, Guvera, CD Baby dan mungkin beberapa penyedia layanan musik digital lainnya. Kejadian ini diketahui dari Aprialdi Noor Idris –pemain drums dari Trendy Reject dan Time- yang melaporkan pada Rimauman Music akan munculnya album ‘Suar Marabahaya’ di sebuah layanan musik digital berbayar pada tanggal 22 Desember 2015, dimana Rimauman Music tidak pernah menjalin kerjasama apapun dengan content aggregator untuk memasukkan katalognya sebagai konten dalam penyedia layanan musik digital online.

Sementara ini, konsultan Rimauman Music yang berdomisili di Jakarta, Tata Trianti, per tanggal 23 Desember 2015 sudah melakukan proses pelaporan ke penyedia layanan musik digital online yang terkait untuk memperoleh informasi akan sumbernya yaitu content aggregator yang hingga berita ini diturunkan masih belum diketahui.

Setelah kabar ini mencuat, beberapa penyedia layanan yang kebobolan tersebut merespon cepat dan kooperatif akan pengaduan awal yang diajukan oleh Rimauman Music via social media. Yang mana memang tujuannya adalah menjadikan penyedia layanan musik digital online tersebut sebagai rekan kerja penyelidikan untuk mengincar content aggregator nakal yang melakukan pelanggaran hak kekayaan intelektual atas album ((AUMAN)) yang berjudul ‘Suar Marabahaya’.

Bantuan untuk menyelesaikan kasus ini juga diberikan oleh content aggregator dalam negeri seperti Musikator dan 5Beat yang memberikan tips dan informasi metode penyelidikan, begitu juga Demajors Independent Music Industry (DIMI).

Kasus seperti ini sebenarnya masih terbilang langka di industri musik Indonesia. Di kala digital music dianggap sebagai platform masa depan ternyata masih memiliki celah dalam sistem yang seharusnya mengutamakan proses verifikasi, validasi dan otorisasi yang ketat dan tegas akan legalitas kontennya.

 

(Visited 824 times, 1 visits today)

Author: Komang Adhyatma

Share This Post On

Submit a Comment