Supergroup Shoegaze Jakarta StrawberryWine Rilis Album Mini Diskografi
May12

Supergroup Shoegaze Jakarta StrawberryWine Rilis Album Mini Diskografi

Supergroup indie Jakarta, StrawberryWine, merilis album mini-diskografi mereka yang bertajuk Taste Me: mini-discography [2009 – 2012].  Kata “supergroup” di sini mengacu pada gabungan dari beberapa personil band indie yang cukup ternama di scene Jakarta, yakni: Barefood, MellonYellow, Sharesprings& AGGI, di dalam tubuh StrawberryWine. StrawberryWine memainkan gaya musik shoegazing / noise-pop / neo-psychedelia / alternative-rock ala band-band macam: Band Of Susans, Bailter Space, Love Battery, The Brian Jonestown Massacre & Swervedriver. Kwartet ini berpersonilkan: Bernard Zega Tobing (vokal & gitar), Arief Bramantyo (drum & vokal latar), Bintang Arif (gitar) & Rachmad Triyadi (bass & vokal latar). “StrawberryWine aslinya terbentuk di Jakarta pada tahun 2005, yang awalnya merupakan proyek dari Bernard sama gua, yang kemudian sempat bongkar-pasang personil, hingga akhirnya fix dengan formasi yang sekarang,” ungkap Arief Bramantyo atau yang biasa disapa dengan nama Tyo. Bersama Wasted Rockers Recordings, StrawberryWine merilis album berjudul Taste Me yang merupakan semacam mini-diskografi dari era aktif band tersebut, yakni tahun 2009 –...

Read More
4 Mei 2016 Mendatang Disclosure Tampil di Jakarta
Apr25

4 Mei 2016 Mendatang Disclosure Tampil di Jakarta

Sebuah festival musik yang bertajuk DGTL LVE akan digelar secara perdana di Eco Park COnvention, Ancol, Jakarta pada 4 Mei 2016 mendatang. Love & Other Things dan organizer The Livescape Group akan menjadi promotor dari festival musik baru yang satu ini. Selain menampilkan Disclosure, festival ini juga menampilkan musisi-musisi elektronik dan DJ dari dalam negeri seperti Bima G dan Dipha Barus.  Festival terbaru ini juga menandai kehadiran promotor The Livescape Group asal Malaysia ini ke ranah pasar kegiatan hiburan di Indonesia. Harga tiket yang ditawarkan untuk tiket early bird dengan jumlah terbatas seharga Rp 420.000,- dan harga normal Rp 500.000,-.  Tiket tersebut sudah dapat dibeli melalui Galactic Asia dan...

Read More
De Tohtor Merilis Video Klip ‘It’s All About Rock n Roll’
Oct01

De Tohtor Merilis Video Klip ‘It’s All About Rock n Roll’

Unit rock ekspressive asal Bandung yang pada tahun lalu mengejutkan publik lewat pertunjukan kolosal bertajuk “Psychedelic Moment: Butterfly Mandala” di Gedung Kesenian Dewi Asri, ISBI Bandung, De Tohtor. Resmi merilis video klip terbaru mereka berjudul ‘It’s All About Rock n Roll’ dalam bentuk Footage (kumpulan rekaman video dari berbagai kamera) melalui kanal youtube resmi milik band terhitung 25 September 2015. Berbeda dengan lagu Butterfly Mandala yang bernuansa psychedelia ketimuran yang dirilis pada awal tahun lalu, Lagu ‘It’s All About Rock n Roll’ memiliki karakter nutritious rock n roll yang kental dengan riff gitar dan hook pada hentakan drum yang berang, namun tetap memiliki benang merah yang kurang lebih sama kuatnya dengan rilisan–rilisan yang sudah dikeluarkan oleh De Tohtor. Dalam video klip terbarunya ini, De Tohtor kembali bekerja sama dengan salah satu filmmaker muda berbakat di Indonesia, Cokladt Margana (Metafiksi Sompral) untuk menyutradarai video klip mereka. It’s All About Rock n Roll merupakan kelanjutan dari sebuah tradisi project visual band yang dibesarkan dilingkungan Bandung Blues Society (BBS) ini dan tercatat menjadi video klip keempat mereka disepanjang karir bermusiknya. Sebelumnya, De Tohtor telah merilis video klip untuk lagu berjudul Boneka Karet, Meditasi Biru dan Semedi Angkuh. Juga, dikerjakan oleh tangan dingin Cokladt Margana. Berbicara mengenai isi video klip It’s All About Rock n Roll sendiri apa yang tersaji merupakan gambaran cerita dari perjalanan historis selama band ini berdiri. Penjabaran perjalanan musikal mereka selama 8 tahun lebih, dari panggung ke panggung, bergantinya potret moment ke moment lainnya serta ragam cerita lain didalamnya. “Konten video klip berusaha menjelaskan isi lirik lagu ”It’s All About Rock n Roll”. Atau dengan kata lain, it’s all about… Perjalanan dan penampilan, panggung ke panggung, penikmat menjadi kawan, kawan turut berperan, perputaran kawanan personel, peristiwa di balik peristiwa, aktualita menertawakan hasrat, realita pelibat depresi, atensi membentuk loyalitas, ketidaksadaran pengingat sadar, penghimpun memori terpencil, perayaan kebebasan ekspresi, irama berselaput keangkuhan, distorsi pengantar keramahan, hentakan beraroma rock dan Rolling through screen, Rock n roll!,” tutur Cokladt Margana. Sebagai catatan lain, bisa dikatakan video klip anyar ini juga merupakan prolog menjelang album perdana De Tohtor yang akan rilis dalam waktu dekat berjudul “Butterfly Mandala” dan tentu saja ‘It’s All About Rock n Roll’ menjadi salah satu lagu yang hadir didalamnya. Menurut Rencana, album “Butterfly Mandala” nantinya akan dikemas dengan berbagai pendekatan, mulai dari kemasan Deluxe Edition terdiri dari Buku memoar tentang romantisme De Tohtor di scene independent, serta kemasan cakram padat berjumlah ganda dan pilihan-pilihan menarik lainnya dalam bentuk Merchandise. Sebelum akhirnya bisa disaksikan secara menyeluruh oleh publik, video klip “It’s All About Rock n Roll” tersebut telah resmi diputar bersamaan dengan hajat RIPSTORE.LIVE volume 1, sebuah micro gigs yang diselenggarakan...

Read More
PARAHYENA: “Tidak Hanya Hyena, Bayawak Pun Kami Punya!”
Oct01

PARAHYENA: “Tidak Hanya Hyena, Bayawak Pun Kami Punya!”

Teks: Bobbie Rendra Bagi band ini, kreatifitas adalah tujuan sekaligus perjalanan, ujungnya entah ada di mana. Kota Bandung melahirkan sebuah unit pedestrian music dengan komposisi instrumen unik: guitalele dan gitar elektrik memainkan pola kotekan Bali, biola dan bangsing Sunda memerankan skala nada gamelan, upright-bass dan cajon memberi nuansa akustik-folk yang kental, sedangkan vokalnya bernuansa musik Indonesia akhir era 90-an. Kombinasi bebunyian itupun mereka namai ‘sounds of Parahyena’. Band akustik ini juga seringkali menyelipkan sesi tatarucingan dan humor jahil di setiap panggungnya. Bahkan tidak jarang sang vokalis tiba-tiba mengajak penonton ‘berdoa’ bersama, untuk kemudian ‘dibohongi’ dengan berkata bahwa minggu depan sang penabuh cajon akan menikah. Cucuran canda tawa pun seakan menjadi ciri khas area panggung Parahyena. Siapakah Parahyena? Line-up mereka berisi Sendy Novian (main vocal, guitalele), Radi Tajul Arifin (lead guitar, backing vocal), Saipul Anwar (upright-bass), Cep Iman (violin), Fajar Aditya (cajon), dan Hendri ‘Ekek’ (bangsing). Mereka semua berasal dari kampus Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Berdiri sejak 11 Juli 2014 silam, Parahyena mengantongi sebuah petuah berbunyi “seni berpetualang, berpetualang seni” – meminjam jargon milik UKM pecinta alam Arga Wilis, yang menjadi basecamp mereka. “Yang bisa naik gunung belum tentu bisa naik panggung, yang bisa naik panggung belum tentu bisa naik gunung. Beruntungnya, Parahyena sudah bisa menunaikan keduanya,” canda Sendy memulai celoteh sore itu. Karya dari beberapa band seperti AulagaFolk dan The Cake adalah inspirasi musik mereka, di samping minat terhadap karya musisi/band Indonesia seperti Sweaty Family, Netral, Bing Slamet, R. Azmi, Gamelan, dan Mr. Sonjaya. Sejak setahun berdiri, sudah ada 2 single yang Parahyena bagi kepada kita semua, “Penari” dan “Ayakan”, yang tersedia di situs www.parahyena.jimdo.com. Dan masih ada 11 lagu baru yang sudah mereka siapkan untuk full-album perdana untuk rilis akhir 2015. Dahulu band ini sempat bernama Cucu And The Tangkal Nangka, sebelum akhirnya nama Parahyena dipilih karena dianggap cocok mewakili warna-warni selera musik masing-masing personilnya. Filosofi nama ini diadopsi dari karakter hewan hyena yang punya kebiasaan memakan bangkai bekas santapan sekelompok singa di sebuah savannah. Kemauan untuk memberdayakan hal-hal yang dianggap sudah ‘basi’ inilah, yang menjadi salah satu kekuatan Parahyena untuk terus hidup. “Dalam musik dan kesenian, ada sisi-sisi yang menurut trend modern sudah basi, namun bagi Parahyena hal-hal itu justru menjadi aset tersendiri untuk inspirasi berkarya,” beber gitaris Radi Tajul seraya bercerita tentang lagu ‘Ayakan’. Lirik pada single kedua ini berisi sisindiran dan paparikan, sebuah seni sastra Sunda, yang berkolaborasi dengan Dimas Wijaksana, vokalis band Mr. Sonjaya. Single pertama mereka, “Penari”, bercerita tentang daya tarik visual seniman tari yang menyuguhkan alunan gerak, kerlingan mata, dan lentik jemari. Pada lagu lain Parahyena, pattern musik tradisi sengaja mereka transpose sedemikian rupa ke dalam pola instrumen modern. “Sehingga...

Read More
Intimidasi Bunyi di Konser Album Elemental Gaze “Elemental”
Aug18

Intimidasi Bunyi di Konser Album Elemental Gaze “Elemental”

Foto: Maulana Adi Priatna Ada sebuah kombinasi menarik antara kota Bandung dan lampu-lampu kota yang samar terlihat dari kejauhan. Pemandangan yang memanjakan mata, yang bolehlah kiranya jika dilengkapi dengan beberapa lamunan, ketika mata meletakan pandangannya dari sebuah tempat yang mengakomodir semuanya, lengkap dengan desain artistik nan nyaman. Lawangwangi, satu diantara tempat di Bandung yang menyajikan suasana nyaman, dan menjauhkan Bandung yang terlanjur tertimpa sial dengan menjadi salah satu kota urban, dengan bisingnya hilir mudik kendaraan berlalu lalang. Lawangwangi menjadi pelarian dari sebuah kebisingan, entah itu bunyi bising dari kendaraan ataupun bunyi bising dari makian orang-orang. Namun Lawangwangi pada hari Jumat, 13 Agustus 2015, rupanya tidak bisa jadi tempat pelarian dari kebisingan, setidaknya untuk malam itu saja. Penyebabnya adalah sebuah band bernama Elemental Gaze, yang malam itu sedang merayakan kelahiran album mereka yang berjudul Elemental. Unit eksperimental, shoegaze, or whatever you named it ini datang dengan nomor-nomor berbahaya dari kantong album mereka yang baru. Mereka memamerkan materi di album itu secara live, dengan tambahan beberapa orang musisi yang ikut berkolaborasi dengan mereka, seperti misalnya Rara Sekar dari Banda Neira. Visual art di depan dan belakang panggung yang (kita sepakati saja menurut awam) abstrak, menjadi magnet tersendiri bagi Elemental Gaze untuk menguatkan musiknya. Selain itu juga keintiman yang terjalin antara band dan penonton menjadi point berikutnya, sehingga konser peluncuran album Elemental ini terasa sederhana namun sarat makna, setidaknya bagi personilnya sendiri, yang (menurut penuturan mereka diatas panggung) lumayan susah untuk mencocokan jadwal mereka berkumpul untuk album ini. Apalagi beberapa personilnya berjarak dikota yang berbeda. Jadi proses pembuatan albumnnya sendiri dicicil selama 2 tahun karena berbagai keterbatasan. Proses yang bagi mereka mungkin cukup melelahkan ini akhirnya terbayar juga pada malam itu. Hal ini terlihat dari muka-muka para personilnya yang nampak “sumringah” tiap membawakan lagu demi lagu pada malam itu. Selain set panggung yang memberi nuansa yang menguatkan untuk bersinergi dengan musik Elemental Gaze, tambahan musisi yang berkolaborasi seperti Rara Sekar juga ikut memberikan warna yang ciamik, apalagi dengan aksen Rara yang khas. Senandung pararampam atau dalam istilah orang sunda “ngahaleuang”, dengan cukup ber aaaaa saja, rara ikut andil dalam memberikan ruh pada lagu yang Elemental Gaze sajikan. Setidaknya ada beberapa point yang membuat konser Elemental Gaze pada malam itu menjadi berkesan, dari mulai tatanan panggung, kolaborasi Elemental Gaze dengan musisi lainnya, sampai suasana intim yang diperagakan lewat cerita ringan ditiap jeda lagu. Baik itu yang bercerita tentang isi lagu itu sendiri, maupun proses mereka ketika membuat album. Secara keseluruhan konser mereka juga diamini dengan suasana tempat yang mendukung akan “intimidasi” bunyi dari Elemental...

Read More