Chris Martin Bawakan “Don’t Look Back In Anger” di Konser Amal One Love Manchester
Jun05

Chris Martin Bawakan “Don’t Look Back In Anger” di Konser Amal One Love Manchester

Setelah tragedi ledakan bom Manchester dua minggu lalu, Ariana Grande kembali tampil di kota tersebut dalam sebuah konser amal pada hari Minggu (4/06). Dalam konser amal yang bertajuk One Love Manchester ini Grande menggandeng sejumlah musisi, salah satunya adalah punggawa dari band Coldplay, Chris Martin. Konser itu bertujuan untuk mengenang dan menggalang dana bagi para korban bom Manchester. Sebagai informasi, bom itu menewaskan 22 orang dan melukai puluhan orang lainnya. Mengenakan kaus bertuliskan “One Love Manchester”, Grande membuka penampilannya dengan lagu hit-nya, “Be Alright” dan “Break Free”. Dalam penampilannya bersama Chris Martin, Grande membawakan lagu hits dari band brit pop Oasis “Don’t Look Back In Anger” dimana lagu ini kembali menjadi viral setelah banyak pihak mengamini lagu ini sesuai sebagai anthem tragedi bom Manchester. The Adobe Flash Player is required for video playback.Get the latest Flash Player or Watch this video on...

Read More
Bicara Soal Moralitas dalam Film Enter The Void
May31

Bicara Soal Moralitas dalam Film Enter The Void

Ketika menonton film ini maka ingatan kita seakan dibawa seperti saat menonton video musik Smack My Bitch Up karya Prodigy. Sejak adegan pertama, penonton disuguhkan adegan aktifitas sehari-hari karakter tersebut seperti aktifitas di toilet saat pagi hari, ganti pakaian, dan menghisap marijuana.  Adegan-adegan berikutnya adalah  mengisahkan kehidupan malam karakter tersebut. Terlihat dia masuk ke sebuah klab malam, menenggak minuman, menghisap marijuana (lagi) dan membuat kekacauan. Pada akhirnya, dia sukses menggaet satu perempuan dan membawanya pulang ke rumah. Mereka bercinta, lalu si perempuan pergi begitu saja. Konklusi dari sosok karakter tersebut terjawab ketika karakter tak bernama itu kemudian menghadap ke sebuah cermin. Pada titik ini, penonton baru tahu bahwa semua adegan tadi dilihat dari sudut pandang seorang perempuan. Lupakan Prodigy, dalam Enter the Void ini pun memberikan sensasi visual yang sama. Film karya Gaspar Noe tersebut menceritakan perjalanan hidup subjektif suatu karakter, mulai dari ingatan-ingatan di masa lalu, halusinasi penggunakan narkotika dan hal-hal erotis yang nampak secara langsung di visual penonton dengan ditambahkan efek-efek gambar sinematik. Sejak awal film, penonton diposisikan dalam diri Oscar. Penonton melihat apa yang Oscar lihat, lengkap dengan kedipan mata dan halusinasinya saat mengkonsumsi narkotika. Dalam sebuah transaksi narkotika, Oscar ditembak mati polisi. Ia menjadi arwah penasaran dan melayang-layang di langit kota Tokyo. Arwah Oscar yang melayang-layang di langit Tokyo tersebut seakan ingin mengawasi adik kesayangannya yang juga terjebak dalam dunia malam yang kelam sebagai penari telanjang disalah satu klab malam Tokyo.  Dengan sudut pandang orang pertama yang Noe terapkan, perjalanan Oscar jadi tidak sekadar perjalanan sebuah hantu menembus batas dimensi, tapi juga petualangan pandangan mata yang hanya bisa dimungkinkan oleh kamera film. Secara garis besar selain unsur kekerasan (narkotika, pornografi) film ini menceritakan tentang kisah drama masa lalu sepasang kakak beradik (Oscar dan Linda) dan atraksi antara laki-laki dan perempuan dalam lingkup keluarga. Mereka berjanji untuk selalu bersama sepeninggal orang tua mereka karena kecelakaan mobil. Mereka dipertemukan kembali di Tokyo saat sudah dewasa dan Oscar mengusahakan hal tersebut untuk mendatangkan Linda, meskipun harus berjualan narkotika sebagai cara untuk mengumpulkan uang. Kemampuan Oscar setelah meninggal ia gunakan untuk menembus batas-batas pribadi kehidupan Linda, dan melakukan apa yang selama ini dilarang oleh status mereka sebagai kakak-adik seperti melihat Linda buka baju dan telanjang di kamarnya sendiri, melihat Linda berhubungan intim dengan bosnya di tempat kerjanya hingga merasuki  tubuh seorang laki-laki dan merasakan dirinya berhubungan intim dengan adiknya sendiri. Inti dari film ini selain visual sinematiknya yang luar biasa adalah mengenai moralitas seseorang. Moralitas bagaimana kita tidak boleh “mengintip” hal-hal personal milik orang lain, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Saya rasa Noe sukses merepresentasikan maksud dari filmnya ini, dengan menggunakan metode melodrama psikedelik yang sukses membius visual dan pendengaran penonton filmnya.     The Adobe...

Read More
Black Metal: Musik Keras dengan Suara Kegelapan
May27

Black Metal: Musik Keras dengan Suara Kegelapan

Banyak dari kita yang menyimpulkan musik keras yang satu ini identik dengan kegelapan dan satanisme. Meskipun jauh dari negara asalnya Norwegia, di Indonesia komunitas dan band Black Metal hingga saat ini masih berkembang dengan cukup pesat. Pada awalnya istilah “Black Metal” muncul di tahun 1982, dimana nama tersebut adalah nama album dari band Thrash metal asal U.K yang bernama VENOM. Sebagai band pertama di dunia yang mempopulerkan musik tersebut, nama black metal pun kemudian diidentikkan dengan salah satu aliran dari musik keras ini. Peter Beste, seorang fotografer asal Houston, Texas telah menghabiskan waktu selama 8 tahun untuk menyelami subkultur black metal di Norwegia. Peter dalam bukunya True Norwegian Black Metal (Vice Books, 2008) menyatakan bahwa black metal adalah subkultur yang berangkat dari heavy metal, paganisme, dan kemarahan remaja pada era 80an. Memasuki era 90an, subkultur ini kemudian berubah tidak hanya sekedar musik namun menjadi simbol perlawanan yang lebih ekstrim, seperti pembunuhan, bunuh diri, penistaan makam, hingga pembakaran gereja. Para pengikut subkultur black metal juga menolak budaya modern. Mereka cenderung memuja dewa-dewa kuno dari daratan Skandinavia dan juga penolakan pada sistem kristenisasi di Eropa. Selain itu subkultur black metal identik dengan aksi panggungya. Berbagai tindakan kontroversial kerap dilakukan diatas panggung, seperti meminum darah, mulitasi kepala hewan (biasanya domba, kambing ataupun babi). Selain itu mereka menggunakan atribut-atribut anti christ seperti pentagram dan juga mengecat wajahnya agar menyerupai mayat (corpse paint). Kasus besar sempat muncul akibat perseteruam black metal Norwegia dengan Finlandia, yang berujung dengan aksi bunuh diri Per Yngve Ohlin dari band Mayhem dan kasus pembunuhan pemilik label black metal pertama di dunia yang juga personel dari band Mayhem, Oystein Aarseth oleh Varg Vikernes. Perkembangan Black Metal di Indonesia Di Indonesia sendiri, band black metal masih identik dengan budaya dan tradisi daerah tempat mereka berkembang yang kemudian menjadi sebuah bentuk wajah dan identitas baru. Di Yogyakarta sebagai contohnya, Mystis merilis sebuah album bertajuk ‘Spirit of Merapi Forest’ dimana album ini mengangkat tema-tema kejawen yang masih cukup kental di tanah Jawa. Dalam attitude black metal di Indonesia juga sangat berbeda dengan di Eropa, karena sama sekali tidak ada pembunuhan, pemujaan terhadap setan, pembakaran gereja ataupun penghujatan terhadap Kristus. Band black metal yang dianggap cukup hipster di Indonesia (karena mengganti huruf U dengan V – aksen Skandinavia), Bvrtan (Buruh Tani) malah mengusung konsep yang berbeda lagi. Tema yang diangkat oleh band ini seputaran agrikulturalisme. Judul lagu yang mereka gunakan juga cenderung jenaka, seperti “Pacul Pusaka Dari Pak Kades” ataupun “Musnahlah Panen Raya Tahun Ini Yang Membuat Kami Tidak Bahagia”. Seperti band black metal pada umumnya, Bvrtan tidak pernah menunjukkan identitas asli para personelnya. Mereka menggunakan istilah Pak Kades sebagai vokalis, Tvkang Pacvl sebagai drummer...

Read More
Tommy Cash, Pemuda Estonia Yang Merubah Kultur Hip Hop Dunia
May27

Tommy Cash, Pemuda Estonia Yang Merubah Kultur Hip Hop Dunia

Estonia, sebuah negara kecil yang telah mengalami invasi dari  Denmark, Jerman, Swedia dan Rusia menikmati masa kemerdekaan yang singkat pada awal abad ke-20 sampai akhirnya mengumumkan kemerdekaan sebagai Republik Estonia pada tahun 1991. Sekarang dapat kita bayangkan disana telah terlahir seorang anak laki-laki pada saat itu, dim masa ketika Estonia sedang membangun budayanya dari nol setelah cengkeraman rezim Soviet. Anak laki-laki ini tumbuh dan tinggal di sebuah kap mesin mobil  yang saat itu Tallinn, Ibukota Estonia masih menjadi wilayah kekuasaan Rusia. Saat tumbuh dewasa, si bocah ini mulai mendengarkan Kanye West sambil duduk di tempat tidurnya. Dia pergi ke sekolah tapi dia  merasa asing dan menjadi seorang  penyendiri, hingga akhirnya dirinya menemukan rasa kebebasan melalui tarian, melalui fashion dan akhirnya melalui musik hip hop. The Adobe Flash Player is required for video playback.Get the latest Flash Player or Watch this video on YouTube. Anak laki-laki ini adalah Tommy Cash. Karya yang dibawakannya tidak jauh dari cerita kelam di masa kecilnya, dimana banyak terjadi konflik SARA dan dunia kegelapan lain yang dia gambarkan dalam karya musiknya tanpa rasa takut sedikitpun, dan ini merupakan suatu bentuk “pemberontakan” yang di Estonia sendiri hal itu sangat jarang terjadi. Lingkungan tempat tinggalnya yang chaos ternyata membentuk pola berkarya Tommy. “Saya selalu menjadi penyendiri,” ujarnya. “Saya  mendengarkan musik yang tidak didengarkan anak-anak lain. Saya selalu menyalakan mp3 player saya, memainkan musik yang aneh.” Kanye West bisa dibilang merubah jalan hidup saya.  “Kanye selalu mendorong saya dengan liriknya. – ‘terus mengejar impianmu’, hal seperti itu – dan itu benar-benar mendorongku untuk mengejar apa yang ingin kulakukan. ” kenangnya. Ketika kamu mencari tau mengenai Tommy di internet, hal pertama yang muncul di kepala adalah berasal dari belahan bumi sebelah mana orang ini. Karya Tommy memang sangat unik, mulai dari musiknya, liriknya dan visual sinematik pada video-videonya. Dalam urusan fashion (karena hip hop memang dekat dengan subkultur tersebut), Tommy bekerjasama dengan seorang desainer muda bernama  Gosha Rubchinskiy, yang pada awalnya hanyalah seorang tukang jahit jalanan dan kini sudah menjadi terkenal di daratan Eropa Timur. Pada akhirnya, Tommy bukan hanya seorang rapper. Dia merupakan simbol individualitas. DJ Premier pernah berkata, “Ini semua tentang menjadi orisinil dan memiliki gayamu sendiri. Itulah yang terpenting dalam berkarya, pun dalam musik  hip-hop. ” Saat ini ada  begitu banyak referensi hip-hop di dunia untuk “menjaganya agar tidak berubah” selama bertahun-tahun. Namun  Tommy muncul dengan merubah semua budaya usang itu dengan ciri khasnya sendiri tanpa terbantahkan lagi. The Adobe Flash Player is required for video playback.Get the latest Flash Player or Watch this video on...

Read More
Stars and Rabbit Rilis Video Musik “Man Upon The Hill”
May23

Stars and Rabbit Rilis Video Musik “Man Upon The Hill”

   Stars and Rabbit, duo independen pop folk asal Yogyakarta pada hari ini merilis video musik terbaru mereka yang berjudul “Man Upon The Hill”. Video musik ini disutradarai oleh Bona Palma dan dalam pengerjaannya dibantu oleh D.O.P senior Arief Pribadi menceritakan sebuah konsep lingkaran kehidupan. Dalam video ini sendiri banyak menceritakan simbol hubungan antara manusia dengan alam, seperti peran Elda dan Adi, dua entitas yang saling terkoneksi akan tetapi mereka tidak pernah sadar jika saling terkoneksi satu sama lainnya dikarenakan perbedaan ruang dan waktu. Tapi disatu sisi mereka akan tetap selalu terhubung, dan mereka akan terus saling mencari satu sama lain. “Being in nature surprisingly connected you to your own deepest thoughts and feelings, and only in that way you can really listen to them.” ungkap Elda. “Lagu ini diciptakan di alam terbuka, karena itu video musik ini dilakukan di alam terbuka juga. Kebetulan Sumba bisa mewakili semua kebutuhan visual untuk video musik ini,” tutup Adi. The Adobe Flash Player is required for video playback.Get the latest Flash Player or Watch this video on...

Read More