Black Metal: Musik Keras dengan Suara Kegelapan
May27

Black Metal: Musik Keras dengan Suara Kegelapan

Banyak dari kita yang menyimpulkan musik keras yang satu ini identik dengan kegelapan dan satanisme. Meskipun jauh dari negara asalnya Norwegia, di Indonesia komunitas dan band Black Metal hingga saat ini masih berkembang dengan cukup pesat. Pada awalnya istilah “Black Metal” muncul di tahun 1982, dimana nama tersebut adalah nama album dari band Thrash metal asal U.K yang bernama VENOM. Sebagai band pertama di dunia yang mempopulerkan musik tersebut, nama black metal pun kemudian diidentikkan dengan salah satu aliran dari musik keras ini. Peter Beste, seorang fotografer asal Houston, Texas telah menghabiskan waktu selama 8 tahun untuk menyelami subkultur black metal di Norwegia. Peter dalam bukunya True Norwegian Black Metal (Vice Books, 2008) menyatakan bahwa black metal adalah subkultur yang berangkat dari heavy metal, paganisme, dan kemarahan remaja pada era 80an. Memasuki era 90an, subkultur ini kemudian berubah tidak hanya sekedar musik namun menjadi simbol perlawanan yang lebih ekstrim, seperti pembunuhan, bunuh diri, penistaan makam, hingga pembakaran gereja. Para pengikut subkultur black metal juga menolak budaya modern. Mereka cenderung memuja dewa-dewa kuno dari daratan Skandinavia dan juga penolakan pada sistem kristenisasi di Eropa. Selain itu subkultur black metal identik dengan aksi panggungya. Berbagai tindakan kontroversial kerap dilakukan diatas panggung, seperti meminum darah, mulitasi kepala hewan (biasanya domba, kambing ataupun babi). Selain itu mereka menggunakan atribut-atribut anti christ seperti pentagram dan juga mengecat wajahnya agar menyerupai mayat (corpse paint). Kasus besar sempat muncul akibat perseteruam black metal Norwegia dengan Finlandia, yang berujung dengan aksi bunuh diri Per Yngve Ohlin dari band Mayhem dan kasus pembunuhan pemilik label black metal pertama di dunia yang juga personel dari band Mayhem, Oystein Aarseth oleh Varg Vikernes. Perkembangan Black Metal di Indonesia Di Indonesia sendiri, band black metal masih identik dengan budaya dan tradisi daerah tempat mereka berkembang yang kemudian menjadi sebuah bentuk wajah dan identitas baru. Di Yogyakarta sebagai contohnya, Mystis merilis sebuah album bertajuk ‘Spirit of Merapi Forest’ dimana album ini mengangkat tema-tema kejawen yang masih cukup kental di tanah Jawa. Dalam attitude black metal di Indonesia juga sangat berbeda dengan di Eropa, karena sama sekali tidak ada pembunuhan, pemujaan terhadap setan, pembakaran gereja ataupun penghujatan terhadap Kristus. Band black metal yang dianggap cukup hipster di Indonesia (karena mengganti huruf U dengan V – aksen Skandinavia), Bvrtan (Buruh Tani) malah mengusung konsep yang berbeda lagi. Tema yang diangkat oleh band ini seputaran agrikulturalisme. Judul lagu yang mereka gunakan juga cenderung jenaka, seperti “Pacul Pusaka Dari Pak Kades” ataupun “Musnahlah Panen Raya Tahun Ini Yang Membuat Kami Tidak Bahagia”. Seperti band black metal pada umumnya, Bvrtan tidak pernah menunjukkan identitas asli para personelnya. Mereka menggunakan istilah Pak Kades sebagai vokalis, Tvkang Pacvl sebagai drummer...

Read More
Tommy Cash, Pemuda Estonia Yang Merubah Kultur Hip Hop Dunia
May27

Tommy Cash, Pemuda Estonia Yang Merubah Kultur Hip Hop Dunia

Estonia, sebuah negara kecil yang telah mengalami invasi dari  Denmark, Jerman, Swedia dan Rusia menikmati masa kemerdekaan yang singkat pada awal abad ke-20 sampai akhirnya mengumumkan kemerdekaan sebagai Republik Estonia pada tahun 1991. Sekarang dapat kita bayangkan disana telah terlahir seorang anak laki-laki pada saat itu, dim masa ketika Estonia sedang membangun budayanya dari nol setelah cengkeraman rezim Soviet. Anak laki-laki ini tumbuh dan tinggal di sebuah kap mesin mobil  yang saat itu Tallinn, Ibukota Estonia masih menjadi wilayah kekuasaan Rusia. Saat tumbuh dewasa, si bocah ini mulai mendengarkan Kanye West sambil duduk di tempat tidurnya. Dia pergi ke sekolah tapi dia  merasa asing dan menjadi seorang  penyendiri, hingga akhirnya dirinya menemukan rasa kebebasan melalui tarian, melalui fashion dan akhirnya melalui musik hip hop. The Adobe Flash Player is required for video playback.Get the latest Flash Player or Watch this video on YouTube. Anak laki-laki ini adalah Tommy Cash. Karya yang dibawakannya tidak jauh dari cerita kelam di masa kecilnya, dimana banyak terjadi konflik SARA dan dunia kegelapan lain yang dia gambarkan dalam karya musiknya tanpa rasa takut sedikitpun, dan ini merupakan suatu bentuk “pemberontakan” yang di Estonia sendiri hal itu sangat jarang terjadi. Lingkungan tempat tinggalnya yang chaos ternyata membentuk pola berkarya Tommy. “Saya selalu menjadi penyendiri,” ujarnya. “Saya  mendengarkan musik yang tidak didengarkan anak-anak lain. Saya selalu menyalakan mp3 player saya, memainkan musik yang aneh.” Kanye West bisa dibilang merubah jalan hidup saya.  “Kanye selalu mendorong saya dengan liriknya. – ‘terus mengejar impianmu’, hal seperti itu – dan itu benar-benar mendorongku untuk mengejar apa yang ingin kulakukan. ” kenangnya. Ketika kamu mencari tau mengenai Tommy di internet, hal pertama yang muncul di kepala adalah berasal dari belahan bumi sebelah mana orang ini. Karya Tommy memang sangat unik, mulai dari musiknya, liriknya dan visual sinematik pada video-videonya. Dalam urusan fashion (karena hip hop memang dekat dengan subkultur tersebut), Tommy bekerjasama dengan seorang desainer muda bernama  Gosha Rubchinskiy, yang pada awalnya hanyalah seorang tukang jahit jalanan dan kini sudah menjadi terkenal di daratan Eropa Timur. Pada akhirnya, Tommy bukan hanya seorang rapper. Dia merupakan simbol individualitas. DJ Premier pernah berkata, “Ini semua tentang menjadi orisinil dan memiliki gayamu sendiri. Itulah yang terpenting dalam berkarya, pun dalam musik  hip-hop. ” Saat ini ada  begitu banyak referensi hip-hop di dunia untuk “menjaganya agar tidak berubah” selama bertahun-tahun. Namun  Tommy muncul dengan merubah semua budaya usang itu dengan ciri khasnya sendiri tanpa terbantahkan lagi. The Adobe Flash Player is required for video playback.Get the latest Flash Player or Watch this video on...

Read More
Stars and Rabbit Rilis Video Musik “Man Upon The Hill”
May23

Stars and Rabbit Rilis Video Musik “Man Upon The Hill”

   Stars and Rabbit, duo independen pop folk asal Yogyakarta pada hari ini merilis video musik terbaru mereka yang berjudul “Man Upon The Hill”. Video musik ini disutradarai oleh Bona Palma dan dalam pengerjaannya dibantu oleh D.O.P senior Arief Pribadi menceritakan sebuah konsep lingkaran kehidupan. Dalam video ini sendiri banyak menceritakan simbol hubungan antara manusia dengan alam, seperti peran Elda dan Adi, dua entitas yang saling terkoneksi akan tetapi mereka tidak pernah sadar jika saling terkoneksi satu sama lainnya dikarenakan perbedaan ruang dan waktu. Tapi disatu sisi mereka akan tetap selalu terhubung, dan mereka akan terus saling mencari satu sama lain. “Being in nature surprisingly connected you to your own deepest thoughts and feelings, and only in that way you can really listen to them.” ungkap Elda. “Lagu ini diciptakan di alam terbuka, karena itu video musik ini dilakukan di alam terbuka juga. Kebetulan Sumba bisa mewakili semua kebutuhan visual untuk video musik ini,” tutup Adi. The Adobe Flash Player is required for video playback.Get the latest Flash Player or Watch this video on...

Read More
Mengalun Sendu Bersama Puti Chitara di Goodnight Tour 2017 Yogyakarta
May22

Mengalun Sendu Bersama Puti Chitara di Goodnight Tour 2017 Yogyakarta

Jumat, 19 Mei 2017 menjadi hari yang sangat spesial bagi Puti Chitara. Tepatnya di IFI-LIP Yogyakarta, Puti Chitara menggelar intimate concert yang bertajuk “Goodnight Tour 2017”, dimana konser ini masuk dalam rangkaian promo album keduanya yang bertajuk ‘Goodnight’. Tidak tampil seorang diri, Puti Chitara tampil dalam format full band diiringi oleh Dika Chasmala, Billy Aryo, Dzulfikri Malawi, Bona Ambarita dan Yudhistira Mirza. Selain itu pianis pendatang baru asal Yogyakarta, Hana Fairuz turut membuka pertunjukan disambung oleh Gardika Gigih.  Selain itu ada juga ruang galeri persembahan Go Ahead Challenge yang berisikan karya-karya dari para seniman dan para penggemar mengenai album ‘Goodnight’ Puti Chitara. Secara total ada sekitar 200 karya yang masuk melalui proses open submission. Pertunjukan dimulai sekitar pukul 20.00 WIB oleh pianis pendatang baru, Hana Fairuz. Meskipun ini kali perdana Hana tampil di depan publik dalam project solonya, tidak membuat gadis berusia 19 tahun ini nampak canggung. Membawakan 2 lagu ciptaan sendiri dan beberapa lagu gubahan berbahasa Perancis, Hana tampak fasih memainkan piano meskipun kadang vokalnya masih belum stabil. Gardika Gigih, komposer muda yang juga akan merilis album perdananya dalam waktu dekat berganti mengokupasi panggung. Kali ini Gigih tidak banyak membawakan materi yang ada di albumnya, lagu “I’ll Take You Home” dipilih untuk dibawakan karena sudah dirilis menjadi single dan sisa penampilannya membawakan musik-musik improvisasi  dan penampilan Gigih kali ini tidak menggunakan setlist. Puti Chitara menyapa dengan hangat para penonton yang memadati IFI-LIP pada malam hari itu, dengan mengenakan gaun semi transparan berwarna coklat dan sepatu sneakers berwana putih didampingi para musisi yang mengenakan kemeja berwarna putih, Puti membuka penampilannya dengan lagu ‘Sweet Nightmare’. Dalam konser perdananya di Jogja ini selain membawakan seluruh materi dari album keduanya ‘Goodnight’, Puti Chitara secara khusus membawakan dua materi dari album perdananya ‘Sarsaparilla Dream’ yaitu ‘Illusion’ dan ‘Sarsaparilla Dream’.  Ada bentuk kolaborasi yang cukup spesial pada lagu “Goodnight”, karena Puti Chitara berkolaborasi bersama Gardika Gigih. Gigih nampak sukses membuat komposisi musik untuk lagu ini sehingga kesan magis dari lagu tersebut lebih terasa, terlebih lagu tersebut ditulis Puti Chitara saat mengandung 2 bulan namun kemudian sang janin harus meninggalkan dunia terlebih dahulu. Dengan menyajikan sebuah konser piano dengan 3 performer berlatar belakang genre musik yang berbeda, konser Goodnight Tour 2017 Yogyakarta ini nampaknya layak dimasukkan dalam arsip pertunjukan tematis di tahun 2017....

Read More
Geliat Musik Folk Cirebon dalam Suburbia – The First Folk Music Festival in Cirebon
Apr10

Geliat Musik Folk Cirebon dalam Suburbia – The First Folk Music Festival in Cirebon

Tidak mau tertinggal dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia, Cirebon saat ini dalam industri hiburan dan kreatifnya sudah mulai bergeliat. Hal ini ditunjukkan dengan digelarnya“Suburbia – The First Folk Music Festival in Cirebon”. Acara ini diadakan di Umah Kebon  pada hari Minggu, 9 April 2017. Dengan mengusung konsep pesta di taman belakang rumah, para pengunjung berhasil dibuai oleh beragam suguhan etnik yang khas mulai dari penampilan musisi Klopediakustik dari Kuningan,Hanyaterra dari Jatiwangi, dan Danilla dari Jakarta. Selain itu pameran foto dari komunitas Klise Unswagati yang mengangkat pesan – pesan humanis yang di display sepanjang area masuk ke panggung. “Digelarnya Suburbia ini untuk memberikan penyegaran serta menumbuhkan pergerakan generasi penggiat dan penikmat seni kreatif agar dapat mengekspresikan karya mereka dengan cara masing–masing. Berkat dukungan Sampoerna A, Cirebon dapat menyuarakan kreativitas musisinya yang cukup eksperimental dan jelas berbeda seperti Hanyattera dan Klopediakustik” ujar Irfan, perwakilan dari Ruang Alternatif, penyelenggara Suburbia. Acara dibuka sekitar pukul 8 malam dengan menampilkan Klopediaakustik sebagai pembuka. Perhatian saya sukses dicuri oleh penampilan dari Hanyaterra pada malam hari itu. Menyajikan musik eksperimental dengan menggunakan instrumen tanah liat, kelompok musik asal Jatiwangi tersebut sukses membawa budaya lokalnya dalam representasi sebuah pertunjukan musik di gelaran ini. Seperti yang kita tahu, Jatiwangi adalah salah satu daerah produsen genteng tanah liat dan tembikar di Indonesia. Danilla cukup sukses membius para penonton yang memadati Omah Kebon pada malam hari itu dengan buaian lagu-lagu sendu nya selama kurang lebih satu jam lamanya. Ditemui seusai penampilannya di atas panggung, Danilla mengaku sangat puas dengan antusiasme Cirebon di kunjungan perdananya ini dan juga makanan khasnya. “Datang ke Cirebon demi menampilkan musik saya merupakan sebuah kepuasan tersendiri apalagi dapat melihat musisi lokal lain yang bisa memberi inspirasi bahwa musik folk tidak pernah mati sampai kapan pun. Kepercayaan akan idealisme dalam bermusik tentu akan menciptakan sentuhan rasa tersendiri bagi pendengar, inilah yang selama ini saya pegang. Asalkan kita, para musisi dapat mengekspresikan karya dengan berani dan yakin,” ujar pelantun ‘Buaian’tersebut. “ Acara ini sengaja kami kemas untuk dapat menciptakan atmosfer musik folk yang kental dengan keintiman yang tercipta antara musisi dan fansnya. Kami harap pergerakan kreativitas Cirebon tidak hanya berhenti di sini dan dapat menyentuh kalangan yang lebih luas lagi kedepannya,” tutup...

Read More