Nick Drake: Jari Lincah Muncul Kembali
Jul20

Nick Drake: Jari Lincah Muncul Kembali

Folk sedang seksi. Di radio arus utama folk semacam Fourtwnty atau Payung Teduh terus diminta. Panggung-panggung kampus dijajal nama-nama semacam Deu Galih, Sisir Tanah, Oscar Lolang, Silampukau, dan berderet-deret lainnya. Bob Dylan, begawan folk itu, tahun lalu dapat nobel sastra. Lantas, folk mana lagi yang engkau dustakan? Folk semacam Nick Drake! Lengkaplah dia didustakan. Semasa hidupnya albumnya tidak cukup laku, padahal masa berkiprahnya sewaktu dengan zaman seksinya folk Inggris tahun ‘60-an. Namanya tenggelam, dan dengan demikian tenggelam juga lagu-lagu dengan petikan jari yang lincah dan suara tebal nan lirihnya, padahal ksatria bergitar akustik semacam Cat Stevens dan Richard Thompson sedang melejit. Matinya bunuh diri dalam keadaan depresi dan terabaikan. Citra itulah yang kemudian melekat padanya, padahal citranya di hadapan orang-orang BBC pernah lebih bagus daripada David Bowie! Tahun ‘90-an seorang spesialis biografi musisi, Patrick Humphries, menerbitkan buku biografi Nick Drake. Musisi yang mati bunuh diri dan depresi biasanya jatuh jadi mitos. Humphries berusaha menguak mitos itu dengan menjelajahi situasi belantika musik dan situasi sosial politik Inggris pada tahun ’60-an. Situasi industri musik yang membuat namanya masyhur setelah kematiannya tak ketinggalan. Dia juga mengusut sistem pendidikan sekolah swasta Inggris dan kecenderungan-kecenderungan keluarga Inggris yang pernah merasakan zaman invasi Inggris. Semua itu dia telusuri untuk menjelaskan kegagalan Nick Drake dalam karirnya dan faktor-faktor penyebab depresinya. Terkuaklah wajah lain Nick Drake yang lebih manusiawi. Dengan demikian, buku Nick Drake: sebuah biografi itu tidak hanya memberikan gambaran tentang sosok musisi malang itu, tetapi juga tentang cara kerja belantika musik dan pengaruh sosial politik yang melingkupinya. Barangsiapa ingin atau sedang berkiprah di bidang musik bisa menjadikan buku ini sebagai pembanding untuk membaca keadaan belantika musik masa kini. Barangsiapa suka musik akan mendapatkan kisah tentang seorang jenius folk yang tidak hanya mengilhami kancah folk, tetapi musisi-musisi genre lain, seperti Robert Smith The Cure dan vokalis Television, bahkan di-cover musisi semacam Elton John. Penerbit Yayasan Jungkir Balik Pustaka Indonesia bersepakat dengan Bloomsbury Publishing Plc untuk menerbitkan Nick Drake: sebuah biografi karya Patrick Humphries (ISBN 978-602-61744-0-6) pada bulan Juli 2017, lalu diikuti oleh tur buku ke beberapa kota di Indonesia. Yes, Nick Nick Nick Drake is on its way… Jadwal Tur Buku Nick Drake: sebuah biografi Jakarta: 22 Juli 2017 di WR Store Yogyakarta: 28 Juli 2017 di Survive Garage Malang: 3 Agustus 2017 di Poharin Art Space Malang: 5 Agustus 2017 di Kafe Pustaka (Perpus Pusat UM) Surabaya: 6 Agustus 2017 di C2O Library & Collabtive Malang: 10 Agustus 2017 di Semeru Art...

Read More
Menuju Soundrenaline 2017 di Road To Soundrenaline Cirebon
Jul20

Menuju Soundrenaline 2017 di Road To Soundrenaline Cirebon

Tanggal 22 Juli mendatang, Cirebon disuguhi gelaran Road To Soundrenaline, sebuah festival musik dan seni yang merupakan rangkaian menuju main event yaitu Soundrenaline di Bali, bulan September nanti. Sebagai salah satu rangkaian tersebut, Road to Soundrenaline Cirebon menghadirkan sebuah festival musik yang fresh dan apik. Baik dari segi line up artis, desain panggung, dan booth booth interactive lainnya. Bertempat di Lapangan Makorem 063 Sunan Gunung Jati Cirebon, event ini mengusung konsep festival musik urban, dengan tampilan yang di desain cukup apik. Tata panggung, tata lampu dan visual akan di desain sedemikian rupa sehingga mampu memberikan pengalaman yang berbeda bagi para audience di Cirebon. Stage yang di design dengan tata cahaya dan visual panggung yang epic, akan di isi oleh beberapa deretan band kelas wahid seperti THE S.I.G.I.T, Rocket Rockers, Hanyaterra, Puppyhansen, Suar & Temaram dan Toreh. Beberapa booth interactive seperti F&B dan market place akan hadir pula meramaikan gelaran Road To Soundrenaline Cirebon, diantaranya; SRC, Wild Original, KFC, Cirebon Sultana, Famouz Café, Takadon, Kampus Kopi, Moocow, dan Cirebonstore.co. Di area A longue, pengunjung juga dapat melihat pameran karya Fotografi dan artwork dari Klise Unswagati dan Worst Graffiti, sehingga akan menambah pengalaman para pengunjung dalam menonton festival...

Read More
Simbiosis Berkesenian di Simbiosis Art Market Semarang
Jul17

Simbiosis Berkesenian di Simbiosis Art Market Semarang

SIRKEL merupakan sebuah gallery dan collective-mastermind dari beberapa komunitas di Semarang yang berfokus mempromosikan seniman dan karya mereka. “SIMBIOSIS art market” adalah salah satu bentuk melting-pot yang diinisiasi Sirkel untuk mewadahi distribusi dan transaksi hasil karya seniman dan ekosistem pendukungnya untuk merayakan kemandirian berkarya. Dengan semangat “kendeli! toto keri!” (from chaos, comes order) Sirkel menggelar Simbiosis Art Market (SAM) edisi perdana pada Sabtu-Minggu, 15-16 Juli 2017 , jam13.00 – 21.00 Impala Space, Kota Lama Semarang. SAM mendisplay dan menjual jual original artwork seperti drawing, kolase, cat air, urban toys, dan custom jacket. Juga karya ilustrasi yang dicetak pada kaos, poster, sticker, komik, atau enamel pin. Serta karya craft seperti woven, scarf, earing, dll.  Ada19 kreator dan komunitas yang terlibat yaitu Karamba & Friends, Sasongko & Fams, Bobomagz, Puppet Pit Inc, Soekirman,  Craftecu, Zave x Clingythingy, Penggiat Jalan Sehat, Papillon, Khuma, Duduk Nyeni, Adonai, Poor boy, Whytype x Burnass, Daily Works, Ganang Aji, dan Collage Sabotage. Mereka tak hanya bersala dari Semarang, tapi juga dari kota lain seperti Yogyakarta dan Tuban. Fatchurofi sebagai salah satu inisiator sirkel mengatakan bahwa meski baru pertama kali membuat art market, SAM ini menjadi program yang akan coba kami rutinkan. Dengan adanya art market, kreator/seniman akan semakin mudah bertemu dengan publik untuk memamerkan karyanya dan bertransaksi. Publik juga dimudahkan untuk mencari artwork, craft, maupun art supply yang berkualitas. Selain berbelanja di art market, pengunjung juga diajak ikutan sketch art jamming bersama Kuda Lari Project dan Komik Soekirman. Tak hanya itu, pengunjung juga bisa mendengarkan live music setiap harinya oleh band dan musisi indie Semarang, seperti : Greedys, Lilin Semasa Hujan, Olly Oxen,Brit Boys, Jou Barakati, dan...

Read More
Bottlesmoker Rilis Album Bebas Unduh ‘Parakosmos’
Jul17

Bottlesmoker Rilis Album Bebas Unduh ‘Parakosmos’

‘Parakosmos’ dari Bottlesmoker ini merupakan rilisan pertama dari seri album menyambut ulang tahun Yes No Wave Music ke sepuluh dan sekaligus merayakan Netlabel Day yang jatuh pada tanggal 14 Juli 2017. Album ‘Parakosmos’ menceritakan tentang perjalanan seseorang di suatu dunia yang memiliki keharmonisan di antara keberlawanan. Album ini merupakan kumpulan cerita tentang keharmonisan alam semesta, di mana titik harmonis kami anggap harus memiliki unsur keseimbangan dari dua hal yang bertolakbelakang. Tema yang diangkat adalah ritual-ritual seni yang dilakukan oleh masyarakat daerah di beberapa wilayah di Indonesia. Ritual tersebut bertujuan untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan hidup. Kata “Parakosmos” diambil dari dua pemaknaan; pertama dari kata Paracosm yang berarti imaginary world dan kedua dari kata Paradoks dan kata Kosmos, berarti semuanya di alam semesta ini memiliki pasangan (berlawanan; hitam putih, perempuan laki-laki, gelap terang dll). Anggung Suherman (Angkuy) dan Ryan Adzani (Nobie) melakukan pendekatan yang berbeda dalam pengerjaan album Parakosmos ini. Untuk bersentuhan secara intim dengan seni tradisi ini, Bottlesmoker berkolaborasi dengan Palmer Keen, etnomusikolog asal Amerika yang melakukan field recording di banyak wilayah Indonesia untuk merekam kesenian dan alat musik daerah melalui format audio dengan pendekatan etnografi. Melalui nama Aural Archipelago, Palmer Keen berhasil mengumpulkan arsip dan mendokumentasikan kebudayaan daerah di Indonesia. Di album ini, Bottlesmoker merespon sebagian hasil dari ekspedisi yang dilakukan oleh Aural Archipelago. Menyerap energi dan nilai dari beberapa ritual keseniannya untuk direspon menjadi sebuah pengalaman baru. Ada dua pendekatan yang dilakukan oleh Bottlesmoker dalam proses kreatif di album ini; pertama, mengadaptasi beberapa motif dan pola permainan musik daerah, seperti motif kendang untuk penulisan beat, hingga motif Tarawangsa untuk penulisan rhythm yang repetitif. Kedua, mengambil rekaman suara bernyanyi solo hingga paduan suara, mulai dari kesenian Beluk di Tasikmalaya hingga Panggaiyang di Sumba Timur yang dijadikan materi vokal utama. ‘Parakosmos’ terdiri dari 10 lagu yang menjadi satu kesatuan cerita perjalanan seseorang dari ‘bawah’ menuju ‘atas’ yang terinspirasi dari nilai-nilai ritual yang dilakukan oleh bangsa Indonesia ‘dulu’ untuk tetap harmonis dengan semesta. Album ini merupakan album ke 4 Bottlesmoker dan menjadi album paling berbeda dengan konsep album sebelumnya. DOWNLOAD: BOTTLESMOKER – PARAKOSMOS...

Read More
ikkubaru Mengeluarkan Video Klip “Chasing Your Shadow”
Jul17

ikkubaru Mengeluarkan Video Klip “Chasing Your Shadow”

Grup musik city pop asal Bandung, Ikkubaru, resmi mengeluarkan video klip untuk lagu mereka yang berjudul “Chasing Your Shadow”. Lagu tersebut berada di rilisan ikkubaru bertajuk “Amusement Park”, sebuah album penuh perdana milik band beranggota Muhammad Iqbal (Vocal, Keyboard, Guitar), Rizki Firdausahlan (Vocal, Guitar), Muhammad Fauzi Rahman, (Bass) dan Banon Gilang (Drum), yang dirilis di dua Negara. Album ini disebar di Jepang melalui Hope You Smile Records (2014) sedang Album versi Indonesia ini dicetak dan didistribusi oleh Misashi Records dan Monolite Records (2017). Dalam pembuatan video ini, ikkubaru mempercayakan penggarapan kepada Andi Gondi, seorang sutradara muda asal Jakarta. Andi Gondi sendiri dikenal sebagai sosok yang banyak terlibat dalam beberapa proyek video klip. Misalnya, sebagai director untuk video klip Spaceandmissile – Play, Rewind, Erase, Muntheboyd – Perfect Hard Love. Juga terlibat dibeberapa penggarapan lain seperti video klip Blackteeth – Anjing Kantor, Kronutz – I Need More Love, Teman Sebangku – Sing About You, Oscar Lolang – Little Sunny Girl, Angsa & Serigala – Hitam & Putih dan lain sebagainya. Menurut penuturan Andi Gondi, video “Chasing Your Shadow” sendiri pada dasarnya menawarkan cuplikan kehidupan pribadi salah satu personel ikkubaru, dengan kemasan elemen arsitektural yang kental. Konsep awalnya, berangkat dari kacamata Andi Gondi melihat kehidupan seorang pencipta lagunya. “Pola desain atau pola rancangannya dikemas sederhana sebetulnya, bersama tim saya hanya mengembangkan segi visualnya saja. Pengembangan visual yang dilakukan adalah dengan melihat perspektif lain dari isi lagu “Chasing Your Shadow”,” katanya. Perspektif lain yang dimaksud adalah dengan dilibatkannya seorang perempuan asal Bandung yakni Karina Sokowati. Alhasil, Perempuan yang juga dikenal sebagai seorang praktisi independen yang ikut andil diberbagai medium kesenian—dikenal pula sebagai pendiri kolektif seni bernama Kongsi Callow, itu didapuk menjadi aktor utama dalam video berdurasi 4 menit lebih ini. “Penglihatan saya terhadap personal pencipta lagu, saya terapkan kepada sosok perempuan yang diperankan Karina Sokowati. Perspektif lagu “Chasing Your Shadow” sendiri saya balik, diperankan oleh perempuan. Alasannya, saya pribadi yakin dengan karakteristik seorang Karina Sokowati. Ia dapat membangun emosi yang saya mau. Karina Sokowati dapat memberikan ragam ekspresi, baik itu naik dan turun dengan begitu maksimal, dan itu tentu baik bagi kebutuhan visual yang diinginkan, terutama untuk penggambaran lagunya secara utuh,” ujar Andi Gondi menjelaskan. Lebih jauh, lanjut Andi Gondi, diluar yang telah dijelaskan. Video klip “Chasing Your Shadow” memiliki benang merah lain yang ingin disampaikan. Mulai dari lokasi dan Nuansa yang dibangun yaitu dengan sajian pendekatan suasana 80-an, lokasinya sendiri diambil diberbagai sudut di Kota Bandung, ragam tempat yang dianggap sangat memiliki keterwakilan dengan konsep yang diusung. “Lokasi yang kami pakai adalah salah satu elemen yang hendak kami tawarkan—kepada publik, makanya setting utama yang dibangun adalah nuansa 80’an. Nilai arsitekturalnya yang memang...

Read More