Circa Survive Rilis Album “The Amulet”
Sep25

Circa Survive Rilis Album “The Amulet”

Circa Survive akhirnya resmi merilis album keenam mereka, The Amulet. Sebelumnya band yang diusung Anthony Green dan empat rekannya ini melepas sejumlah single seperti “Lustration”, “Premonition of the Hex”, dan “Rites of Investiture”. “Lustration” cukup berhasil memberikan gambaran tentang album The Amulet. Mereka makin matang dalam meracik elemen-elemen progresif, art-rock hingga emo yang aksesibel namun tetap menyajikan kerumitan dan imajinasi liar. Lalu di “Premonition of the Hex”, Circa Survive menangkap isu politik dan personal, yang menurutnya kedua hal itu sangat mempengaruhi album ini. Sementara “Rites of Investiture”, musiknya terdengar lebih intens dengan menonjolkan departemen bass dan vocal lebih berat. Kemudian, perjalanan epik kalian akan ditutup oleh track berjudul sama seperti albumnya, “The Amulet”, yang menawarkan vocal impresif Green, detail isian gitar mengawang dan drum yang makin intens di akhir, seolah kita sudah tidak lagi menghirup oksigen namun helium. Anthony Green sendiri menyebut album ini sebagai ‘rebirth’, yang merefleksikan usahanya memperbaiki hidupnya jadi lebih baik. “Ketika dulu band ini dimulai adalah sebuah kematian dan rekaman ini lebih terasa seperti kelahiran kembali di banyak aspek,”...

Read More
Kuartet Indie-rock Eitherway Berkenalan Lewat “Thank Heaven”
Sep14

Kuartet Indie-rock Eitherway Berkenalan Lewat “Thank Heaven”

September tampaknya memang menjadi bulan yang ceria. Eitherway, kuartet indie-rock yang masih hangat di Malang ini, akhirnya merilis debut single dengan tajuk ‘Thank Heaven’ melalui Haum Entertainment. Rilisnya single tersebut menjadi pemicu kembali aktifnya Haum Entertainment setelah hiatus selama hampir satu tahun. ‘Thank Heaven’ sendiri bercerita tentang seorang “penyendiri” yang sampai saat ini masih berusaha untuk membuat dirinya tidak menjadi apa yang paling ia takutkan dalam hidup; menjadi pilihan yang salah. Lagu ini terinspirasi dari kehidupan nyata si penulis sendiri. Kurang lebih ia ingin menyampaikan bahwa, sungguh tidaklah mengenakan jika orang-orang di sekitar, seperti pasangan, teman-teman, atau bahkan orang tua dan keluarga sendiri, menganggap Anda adalah pilihan yang salah di hidup mereka. Band yang terbentuk di awal tahun 2017 ini memilih ‘Thank Heaven’ sebagai titik perkenalan mereka karena menurut Bagas sebagai si penulis, lagu tersebut merupakan lagu pertama yang membentuk karakter Eitherway sendiri. Karena ‘Thank Heaven’ pula, Bagas pun membentuk Eitherway dan seperti yang sudah dijelaskan jika lagu ini merupakan kekhawatiran terbesarnya. Eitherway merupakan kuartet indie-rock yang masih hangat di Malang. Di inisiasi oleh Bagas (Vokal dan Gitar) dan Guntur (Gitar) yang telah satu hati dan kemudian mengajak kedua teman lainnya Arifin (Bass) dan Ridho (Drum). Mengaku sangat mengidolakan Modern Baseball, meskipun musik yang mereka mainkan tidak terlalu mirip dengan idola mereka. Membentuk band ini sebagai sarana ‘curhatan’ melalui media musik yang mereka cintai. Dalam waktu dekat, Eitherway akan mengeluarkan kejutan lain melalui media Haum...

Read More
Interview dengan Silverstein tentang “Dead Reflection” dan Pengalaman Turnya di Indonesia
Sep11

Interview dengan Silverstein tentang “Dead Reflection” dan Pengalaman Turnya di Indonesia

  Jika membicarakan band apa yang sering didengarkan ketika SMA, saya bisa menaruh Silverstein di urutan 5 teratas. Namun seiring waktu berlalu, saya tidak lagi nyetel dengan band yang telah terbentuk 17 tahun silam ini. Saat mereka kembali mengeluarkan album baru yang saya catat ini adalah album studio ke-8 mereka, saya cukup tertegun. Akhirnya saya bisa kembali menyegarkan pikiran saya tentang Silverstein lewat album barunya, Dead Reflection. Album ini kaya dengan perubahan dan penuh variasi namun benang merahnya adalah bagaimana Silverstein di sini mengatakan kalau musik bisa menyelamatkanmu. Di album Dead Reflection, Shane Told, vocalist band ini, mendokumentasikan tahun-tahun terberatnya. Pengalaman itu membuatnya berjalan menuju self-destructive namun di satu sisi ada harapan yang membuatnya bangkit, yakni menceritakan perjalanan personalnya dengan Silverstein. Dan hebatnya, Silverstein selalu ada di saat paling genting di dalam hidupnya. Mewakili KANALTIGAPULUH, saya berkesempatan berbicara dengan Shane Told  lewat email. Kami membicarakan betapa gilanya fans di Indonesia dan pengalaman unik mereka saat tur ke sini. Tidak lupa juga membahas proses di balik album Dead Reflection dan album rileks favoritnya. Kalian pernah ke Indonesia tahun 2012, apa pengalaman buruk dan menyenangkan yang kalian ingat tentang tur itu dan para fans? Kami sebetulnya sudah ke Indonesia 2 kali, dan keduanya adalah hal yang istimewa. Hal yang sangat saya ingat adalah bagaimana bersemangatnya para fans dan bagaimana senangnya mereka saat kami datang ke kotanya. Band luar tidak begitu sering mengunjungi Indonesia, itulah alasannya, tapi saya sangat kaget bagaimana gilanya para fans di sini. Soal pengalaman buruk, saya ingat satu kali polisi datang dan berusaha menghentikan konser dan promotornya harus memberi mereka uang, dan di waktu lainnya kami pernah berangkat sangat telat ke bandara dan berpikir mungkin bakal ketinggalan pesawat…promotornya cuma bilang “don’t worry, di Surabaya telat itu sudah biasa.” Saya tidak sadar kalau cerita airport ini termasuk pengalaman buruk! Kalian melakukan banyak perubahan di album Dead Reflection, seperti proses penulisan, produksi, dan sound direction. Apa yang kamu rasakan ketika semua ide ini muncul di kepala? Saya rasa di album sebelum-sebelumnya kami telah melakukan perubahan di sana sini dan tiap kali kami melakukannya kami sangat senang dengan hasilnya. Jadinya di Dead Reflection kami memilih melakukan banyak perubahan lagi. Sekarang kami jadi makin nyaman bekerja di luar zona nyaman jika itu bisa jadi alasannya. Kadang hal yang natural sekarang adalah memperhatikan apa yang bisa kami lakukan untuk berkembang. Kami bermain sangat aman di album-album terdahulu dan saya merasa saya harusnya melakukan perubahan semacam ini sejak lama. Apa kalian anggap itu adalah hal baru paling gila yang pernah dilakukan Silverstein? Saya mengakui album Short Songs punya ide yang intens, begitu juga lagu-lagu yang tumpang tindih dan mundur di This Is How The Winds Shifts. Namun secara produksi album ini (Dead Reflection) punya pikiran...

Read More
Mengulik Penyanyi Muda Selandia Baru, Theia
Aug29

Mengulik Penyanyi Muda Selandia Baru, Theia

Theia, satu lagi penyanyi muda yang berbakat dan penuh percaya diri dari Selandia Baru. Memainkan musik elektro pop berbalut R&B membius, penyanyi asal Christchurch bernama asli Em-Haley Walker ini mulai dikenal ketika single-nya ‘Roam’ menjadi hit Spotify Global Viral Chart di tahun 2016. Sebagai gambaran, track itu berhasil mencetak hampir 10 juta play hingga artikel ini dimuat. Single yang menjadi hit lainnya seperti ‘Everything’, ‘Treat You’ dan ‘Champagne Supernova’ kini dimasukkan ke dalam debut self-titled EP yang dirilis beberapa waktu lalu. Termasuk juga di dalamnya adalah ‘Silver Second’, single debut Theia yang sempat dirilis di tahun 2015. KANALTIGAPULUH pun berkesempatan berbincang dengan Theia seputar karir bermusiknya, mulai dari bagaimana pemerintah Selandia Baru mendukung para seniman berkarya, pesan di  lagu ‘Roam’ dan juga pendapatnya ketika dibandingkan dengan Lorde dan Broods. Silakan simak interviewnya di bawah ini. Sewaktu masih kecil, apa yang menjadi cita-cita kamu? Saya memiliki banyak passion dan ketertarikan sewaktu kecil dan semuanya sudah dan akan tercapai. Sesuatu yang kreatif apakah itu teater, musik, dance atau seni sejak dulu selalu ada di benak saya. Bagaimana kamu akhirnya terjun ke industri musik? Saya telah bermusik sejak remaja dan memutuskan untuk benar-benar fokus di musik setelah lulus kuliah. I knew I had to give it the best possible push. Apa yang membuatmu bahagia menjadi seorang singer-songwriter di Selandia Baru? Apakah pemerintah serius mendukung para artis? Ada banyak plaform yang disediakan (Pemerintah Selandia Baru) seperti NZ On Air, yang memudahkan para penggiat di industri kreatif mengajukan pendanaan untuk projek yang mereka kerjakan. Saya kira kami sangat bersyukur berkat dukungan tersebut dan saya sendiri punya 3 lagu yang video musiknya didanai oleh pemerintah. Tidak semua orang bisa mendapatkan dukungan dana itu tapi setidaknya kami diberikan pilihan untuk mencoba. Apa penyesalan yang pernah kamu alami di dalam karir? Tidak ada. Own the decisions I make and learn from the mistakes. Apa yang akan kamu kerjakan dan tinggal ketika tidak bermusik lagi? Who knows, I’m still young! Saya ingin bahagia dan menyadari bahwa saya sedang berusaha dengan keras mencapai apa yang saya inginkan di hidup ini. Apa kamu punya tempat atau waktu spesial untuk menulis lagu atau semua itu datang secara alamiah? Kadang-kadang yang saya tulis pertama adalah melodi, kadang pula liriknya. Saya kerap menulis semua ide-ide yang muncul. Tidak ada cara ataupun formula tertentu. Apa ketakutan terbesarmu? Apakah itu muncul di dalam musikmu? Menjadi tidak bahagia. Saya berusaha memberikan yang terbaik dan membuat karya yang membuat saya bahagia maka itulah musik saya. Kamu sedang dimana ketika menulis ‘Roam’? Apa yang sedang kamu hadapi saat itu? Saya sedang berada di sebuah studio di Auckland setelah menyelesaikan sejumlah sesi di Australia dan Selandia Baru dan saya merasa...

Read More
Silverstein Bersenang-senang di Single “The Afterglow”
Aug23

Silverstein Bersenang-senang di Single “The Afterglow”

Musik yang agresif, lirik dan melodi yang emotif, disebut jadi pondasi yang identik dengan nama Silverstein. Namun setelah 17 tahun eksistensi, Silverstein sedikit mengubah komposisi musiknya di single ‘The Afterglow’ yang terdapat di album terbaru Dead Reflection. ‘The Afterglow’ yang menjadi single album tersebut membuktikan jika Silverstein masih bisa tumbuh dan mengembangkan arah musiknya. Jika kita mengingat kejayaan band-band yang memadukan generik emo, punk dan tambahan gaya vocal scream di tahun 2000-an, sulit rasanya melupakan nama Silverstein. Kali ini, Silverstein berubah jadi agak modern pop-punk dan berupaya jadi relevan kembali di Warped Tour bersama nama-nama yang lebih muda seperti State Champs, Knuckle Puck, dan Neck Deep. Tidak heran, video musik The Afterglow merekam bagaimana Silverstein bersenang-senang di Warped Tour 2017. Dead Reflection adalah album ke-8 Silverstein dan dirilis oleh Rise Records. Album ini jadi bukti kematangan Silverstein, bereksperimen dengan berbagai elemen yang baru namun tetap terasa visi Silverstein yang kita kenal. Sebelumnya Silverstein merilis album pertama When Broken Is Easily Fixed di tahun 2003 dirilis oleh Victory Records. Nama mereka semakin banyak terdongkrak ke permukaan ketika album Discovering The Waterfront dirilis pada tahun 2005 , dimana terdapat single ‘My Heroine’. The Adobe Flash Player is required for video playback.Get the latest Flash Player or Watch this video on...

Read More