_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"kanaltigapuluh.info","urls":{"Home":"http://kanaltigapuluh.info","Category":"http://kanaltigapuluh.info/category/nowplaying/","Archive":"http://kanaltigapuluh.info/2017/04/","Post":"http://kanaltigapuluh.info/kelompok-penerbang-roket-dan-mooner-gelar-tur-ke-australia/","Page":"http://kanaltigapuluh.info/redaksi/","Attachment":"http://kanaltigapuluh.info/kelompok-penerbang-roket-dan-mooner-gelar-tur-ke-australia/82dd5832-3e3e-45ba-ba48-820d82fb7f49/","Nav_menu_item":"http://kanaltigapuluh.info/culture-art/","Wpcf7_contact_form":"http://kanaltigapuluh.info/?post_type=wpcf7_contact_form&p=1161"}}_ap_ufee
Film Musik Makan: Tahun Keempat Yang Penuh Corak
Mar07

Film Musik Makan: Tahun Keempat Yang Penuh Corak

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Film Musik Makan (4/3) kembali menghadirkan beragam sajian istimewa. Sajian-sajian yang tidak hanya memanjakan lidah, namun juga mata, dan telinga. Di tahunnya yang keempat ini, masih berlokasi di Goethe Institut, Kolektif Film menghadirkan 3 film panjang dari Indonesia dan Singapura, kurasi makanan mulai dari Mie Ayam Kecombrang, Lumpia Semarang, hingga Babi Panggang, serta tidak ketinggalan musik yang didendangkan oleh Pandai Besi. Film-film Tentang Keberagaman di Asia Tenggara Pengalaman yang menyenangkan bagi siapapun yang hadir pastinya bisa menyaksikan 2 film untuk pertama kalinya. Yakni Apprentice yang pertama kalinya diputar di Indonesia, serta peluncuran film panjang pertama Wicaksono Wisnu Legowo (terlibat dalam film Pendekar Tongkat Emas) yakni Turah yang juga diproduseri oleh Ifa Isfansyah. Selain itu, pemenang Best Asian Feature di Salamindanaw Asian Film Festival 2016; yaitu Ziarah karya BW Purba Negara turut hadir sebagai film pembuka acara ini. Dari 2 film Indonesia yang ditampilkan, tidak ada satupun yang skenarionya memakai bahasa Indonesia. Keduanya sama-sama memakai bahasa daerah sesuai latar belakang tempat yakni Ziarah yang berlokasi di Gunung Kidul, serta Turah yang berlokasi di Tegal. Begitupun dengan Apprentice yang juga menggunakan bahasa Melayu pada karakter-karakter tertentu.  Dialog dengan bahasa daerah asli ini berhasil memperkuat karakter serta mendukung kedalaman ceritanya. Hal ini juga memperkaya otentisitas dalam film sehingga mempermudah penonton dalam memahami nuansa dalam cerita tersebut. Ketiga film tersebut pun kompak menceritakan kisah karakter yang berangkat dari sisi lain sebuah negara. Bukan bercerita tentang bingar Jakarta, dan bukan pula bicara tentang Orchard Road dan Gardens By The Bay. Seperti film Ziarah, BW mengisahkan kisah perjalanan dan perjuangan Mbah Sri (diperankan oleh Mbah Ponco) dalam mencari makam suaminya yang tidak pulang lagi setelah ikut perang. Ziarah memberikan potret dari sisi lain seorang pejuang negara dan bagaimana rakyat berkelit dan mengelola kisah masa lalu. Film ini juga memperlihatkan bahwa sejarah memiliki beragam versi, serta kerumitan tersendiri dalam mengurainya. Tidak hanya cerita dalam film yang menimbulkan beragam perasaan, tapi kisah produksinya sendiri yang mengharuskan BW dan kru untuk bekerja dengan seorang aktris amatir berusia 95 tahun ini juga lah yang menarik. Dalam forum diskusi selepas pemutaran film, BW bercerita bahwa dengan segala keterbatasan dan rintangan, akhirnya semangat dari Mbah Ponco sendiri yang membuat beliau berhasil melewati proses syuting pertamanya itu. Film kedua, yaitu Apprentice mengisahkan cerita tentang algojo dan bagaimana seorang pemuda bertarung dengan ingatannya sendiri. Film arahan Boon Junfeng ini memperlihatkan sisi lain dari Singapura, seperti bagaimana kelas hirearki dalam sebuah institusi, bagaimana masyarakatnya menyikapi hukuman mati dari sudut pandang yang berbeda-beda, juga bagaimana kondisi sosial warga kelas duanya. Pada forum tanya jawab, Raymond Phatahanavirangoon (produser dari Apprentice) menuturkan bahwa tidak sedikit masyarakat Singapura yang setuju dengan hukuman mati ini. Hal...

Read More
Konser Peluncuran Album “Dunia Milik Kita” dari Dialita
Sep26

Konser Peluncuran Album “Dunia Milik Kita” dari Dialita

Setelah merilis album secara digital yang bisa diunduh lewat website Yes No Wave dan mengedarkan rilisan fisik dalam bentuk CD, kini Paduan Suara Dialita kembali mengumumkan kabar gembira. Grup vokal yang merupakan penyintas serta keluarga dari eks-tahanan politik1965 ini, akan menggelar sebuah konser peluncuran album “Dunia Milik Kita” pada 1 Oktober 2016 mendatang. Konser ini berlokasi di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Tepatnya di Beringin Soekarno, sebuah taman yang berdiri di sana pohon beringin besar yang ditanam oleh Presiden RI pertama yakni Soekarno. Acara akan dilaksanan pada pukul 20.00 dan terbatas untuk 200 orang saja. Di acara ini, akan tampil juga para musisi-musisi muda yang berkolaborasi dalam album ini. Tiket donasi seharga Rp 25.000 dapat dibeli di Kedai Kebun Forum yang terletak di Jalan Tirtodipuran No. 3, Yogyakarta. Donasi tersebut digunakan untuk mengganti kudapan yang disediakan oleh Bakudapan, sebuah kelompok studi yang mempelajari tentang hubungan makanan dengan konteks sosio-politik dan budaya. Album fisik perdana Paduan Suara Dialita bertajuk “Dunia Milik Kita” resmi beredar pada 20 September 2016. Album yang berisi lagu-lagu dari kisah peristiwa eks-tapol 1965 yang dibuat saat mereka berada dalam sel penjara ini diproduseri oleh Wok The Rock dan diaransemen ulang oleh musisi-musisi muda bertalenta seperti Frau, Sisir Tanah, Cholil Mahmud, Nadya Hatta, Prihatmoko Catur, Komunitas Kroncongan Agawe Santosa dan Lintang Radittya....

Read More
Paduan Suara Dialita Rilis Album Digital Perdana Bertajuk “Dunia Milik Kita”
Aug17

Paduan Suara Dialita Rilis Album Digital Perdana Bertajuk “Dunia Milik Kita”

Hari kemerdakaan bukan melulu soal penyaluran sikap kompetitif di lomba balap karung ataupun panjat pinang. Hari kemerdakaan adalah saat yang tepat untuk kembali merenungi sejarah, mempelajari dan menghargainya. Momentum perayaan kemerdekaan yang ke-71 ini kemudian menjadi waktu yang tepat bagi Paduan Suara Dialita, untuk mengingatkan kita; para bangsa sekarang, bahwa kita punya masa lalu, punya kisah, punya sejarah. Sebuah album bertajuk “Dunia Milik Kita” resmi diluncurkan dan dapat diunduh secara gratis di situs www.yesnowave.com. Album ini berisi lagu-lagu dari kisah peristiwa eks-tapol 1965 yang dibuat saat mereka berada dalam sel penjara, dan beberapa saat mereka sudah bebas dari tahanan. Lagu-lagu tersebut dinyanyikan oleh Paduan Suara Dialita yang terdiri dari para penyintas juga keluarga mereka, yang berkolaborasi dengan para musisi lainnya seperti Frau, Sisir Tanah, Cholil Mahmud, Nadya Hatta, Prihatmoko Moki, Komunitas Kroncongan Agawe Santosa dan Lintang...

Read More
YEEZY BOOST 750, Kolaborasi Kanye West dan adidas
Jun06

YEEZY BOOST 750, Kolaborasi Kanye West dan adidas

Kanye West dan adidas Originals meluncurkan versi terbaru dari YEEZY BOOST 750 yang ikonik dan merupakan produk pertama dari kolaborasi adidas Originals by KANYE WEST pada 2015 lalu. YEEZY BOOST 750 ini hadir dalam versi berbahan suede berwarna abu-abu muda dengan sol luar karet transparan menampilkan teknologi bantalan adidas BOOST™ sepanjang sepatu, menggabungkan kenyamanan dan performa maksimal dengan gaya high-end. Fitur lainnya termasuk bahan kulit premium dan lapisan sepatu berbahan suede, lapisan jahitan bahan berpori pada kaki depan, lubang tali sepatu yang diperkuat dan tali pengikat Velcro yang elastis serta ciri khas ujung sepatu yang berlubang. Sneakers ini hadir dalam warna abu-abu muda akan tersedia dengan harga Rp 5,599,000 mulai 11 Juni 2016 mendatang di adidas Neighborhood Lippo Mall Puri, St. Moritz. Pemesanan YEEZY BOOST 750 akan dilakukan di toko adidas Neighborhood Pacific Place dan adidas Neighborhood Lippo Mall Puri, St. Moritz sebelum hari peluncurannya melalui sistem undian.Para pemesan dapat menuliskan informasi yang diperlukan dan mendaftarkan diri secara langsung pada kedua toko adidas yang disebutkan sejak 7 Juni 2016 pukul 10.00 WIB hingga 8 Juni 2016 pukul 22.00 WIB. Pemenang undian akan diumumkan melalui telepon dan email pada hari Jumat 10 Juni 2016. Para pemenang undian yang mendapatkan notifikasi kemudian dapat membeli YEEZY BOOST 750 secara langsung di hari peluncuran pada 11 Juni 2016...

Read More
Konser Parahita 2016: Wujud Eksplorasi Kolaborasi Endah N Rhesa dan Dialog Dini Hari
Apr09

Konser Parahita 2016: Wujud Eksplorasi Kolaborasi Endah N Rhesa dan Dialog Dini Hari

Sebuah ide yang mungkin awalnya terdengarnya sederhana akan selalu bisa menjadi besar jika diakusisi dengan cerdas dan serius. Seperti kolaborasi Dialog Dini Hari dan Endah N Rhesa ini. DDHEAR namanya, dibaca de-de-hiyr, sebuah karya kolaborasi dari kedua band folk tersebut yang kemudian semakin ke sini semakin terlihat seperti sebuah kesatuan band yang baru. Band kolaborasi. Mungkin cukup pantas disebut demikian, ya? Java Jazz 2016 adalah panggung pertama untuk DDHEAR. Juga kesuksesan pertama mereka sebagai band kolaborasi baru tersebut. Penampilan mereka banyak menuai pujian, dan semangat itu yang kembali membawa mereka untuk lebih yakin menyeriuskan DDHEAR. Sebuah mini album digarap, dan ya, sebuah konser pertama digelar. Konser ini diberi nama “Parahita”. Kata ini diambil dari bahasa sansekerta yang memiliki arti upaya saling menyejahterakan, membahagiakan, serta memberi manfaat. Di satu kesempatan saat konser, Dadang, vokalis Dialog Dini Hari (juga vokalis DDHEAR tentunya) menyatakan “Parahita” juga berarti saling membagi fee. Betapa indahnya simbisosis mutualisme ini. Pun, G Production sang promotor menunjuk Graha Bhakti Budaya sebagai venue konser malam itu, Kamis 7 April 2016. Selain kesiapan konser yang matang, para penonton juga disuguhi sebuah pameran. Karya merupakan hasil interpretasi seniman lewat medium berupa ilustrasi, lukis, dan seni grafis dari kata “Parahita”, ataupun rasa yang muncul dari saat mendengar lagu-lagu DDHEAR. Selain itu ada juga Photo Exhibition dari Ida Bagus Wibawa a.k.a Guswib yang mendokumentasikan momen-momen proses kolaborasi DDHEAR. Untuk konser, mereka membawakan lagu-lagu milik Dialog Dini Hari seperti 360 batu, Temui Diri, Tentang Rumahku, Pagi, Jalan Dalam Diam, dan Oksigen degan aransemen baru dari DDHEAR. Juga lagu-lagu Endah N Rhesa, seperti Waiting, Wish You Were Here, Just Tonight, dan When You Love Someone yang kali itu dinyanyikan dengan sangat romantis oleh Zio, bassist Dialog Dini Hari. Merubah gitar yang sebelumnya menjadi alat utama pengiring lagu When You Love Someone, menjadi dentingan piano yang membuat lagu ini menempati sisi keromatisan yang tidak bisa disangkal lagi. Selain itu, tak ketinggalan mereka juga membawakan lagu baru yang berjudul Jangan Berhenti Engkau Bernyanyi dan Terang, Berpijar Harapan. Percampuran kekuatan dari kedua band asal Bali dan Jakarta ini sukses menghasilkan suasana semarak dan musikalitas kelas atas yang sulit untuk tidak membuat penonton tersenyum-senyum sendiri. Senyum puas. Namun, ternyata tidak hanya disuguhkan pertunjukan DDHEAR yang mengagumkan, di tengah break acara Bonita & The Hus Band turut tampil malam itu. Kejutan kecil yang berhasil membuat para penonton gegap gempita dan berteriak manja kesenangan memanggil nama, “Boniiii!” “Bonitaaaa aaa!” “Ada Bonitaaaa!”. Lagu Aku Dimana milik Dialog Dini Hari dan Remember Me milik Endah N Rhesa, dicover begitu indah dan memukau. Selesai riuh tepuk tangan untuk Bonita & The Hus Band, kembali hadir DDHEAR ke atas panggung. Kali ini ternyata tampil dengan...

Read More