Arsip Musik Negara di Perpustakaan Digital Lokananta
Feb13

Arsip Musik Negara di Perpustakaan Digital Lokananta

  Perusahaan rekaman dan studio milik pemerintah; Lokananta, telah meluncurkan perpusatakaan digital untuk arsip koleksi musiknya dan sudah bisa diakses sejak 1 Februari 2016 lalu. Pada tahap awalnya, perpustakaan digital ini akan diisi dengan potongan audio yang berdurasi 50% dari durasi aslinya. Selain itu, dilengkapi juga dengan galeri foto dan artikel atau berita yang menceritakan dan atau berkaitan dengan Lokananta. Perpustakan digital ini adalah salah satu proyek dari Lokananta Project yang diinisiasi oleh Perum Percetakan Negara Republik Indonesia cabang Surakarta, dibantu dengan para penulis, fotografer, dan desainer muda berbakat. Niat untuk memoles kembali Lokananta sebagai wadah arsip musik Indonesia ini juga termasuk pembuatan sebuah buku yang nantinya akan diluncurkan bersamaan dengan perpustakaan digital Lokananta. Setelah keduanya rilis secara resmi, pengelolaan perpustakaan digital akan diserahkan seluruhnya kepada Lokananta. Meski belum dirilis secara resmi, perpustakaan digital Lokananta sudah bisa diakses melalui link...

Read More
AriReda Tampil Sebagai Pembuka ‘Konser Tentang Rasa’
Jan23

AriReda Tampil Sebagai Pembuka ‘Konser Tentang Rasa’

AriRea dipilih untuk menjadi penampil pembuka untuk konser Tentang Rasa yang  dilaksanakan pada Rabu, 20 Januari 2016 di Gedung Kesenian Jakarta. Suasana nyaman dalam gedung semakin menguat ketika petikan gitar Ari Malibu perlahan melantun, disusul dengan suara ringan nan indah dari Reda Gaudiamo. AriReda membawakan beberapa lagu musikalisasi puisi, salah satunya yang juga menjadi lagu penutup adalah puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul Bunga-bunga di Halaman. AriReda terbentuk pada tahun 1982, menjadi duo yang mengkover lagu-lagu folk dan balada seperti Fly Away (John Denver) dan lagu-lagu dari Simon & Garfunkel. Pada tahun 1987, mereka terlibat dalam proyek apresiasi seni dan bertugas untuk memperkenalkan puisi pada anak-anak sekolah, lewat puisi Sapardi Djoko Damono yang digubah menjadi sebuah lagu. Sejak proyek itu mereka menyanyikan lagu-lagu musikalisasi puisi. Pada tahun 2007, AriReda mengerluarkan album pertama setelah dua dasawarsa bermusik bersama. Dan pada 2015, mereka mengeluarkan album kedua yang menampilkan musikalisasi puisi dari beragam karya...

Read More
Konser Tentang Rasa Frau: Pengalaman Holistik Mengalami Musik
Jan23

Konser Tentang Rasa Frau: Pengalaman Holistik Mengalami Musik

 Rabu (20/1) Konser Tentang Rasa dari Frau berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta. Kali ketiga konser ini digelar, setelah sebelumnya Bandung dan Jogjakarta menjadi kota pilihan. Kabar gembira ini dilahap manis segera oleh para pendengar Frau, tiket habis dalam waktu sehari. Menanggapi animo yang luar biasa ini sang promotor yakni G Production, segera mengambil jalan alternatif dengan melangsungkan konser tambahan yang dilaksanakan pukul 15.30. Seusai penampilan AriReda sebagai band pembuka, Leilani Hermiasih memasukki panggung dengan dress kebaya merah dan rambutnya yang dipotong pendek. Membawa lentera ia berjalan menghampiri Oskar yang sedari tadi siap di atas sana. Setelah duduk rapih, Frau langsung menyikat tiga lagu baru yang salah satunya adalah sebuah musikalisasi puisi dari gabungan beberapa karya. Lani, panggilan akrabnya, pun tersenyum puas dan menyapa penonton sore itu. Bercerita sedikit mengenai muasal mengapa konser ini dinamakan Konser Tentang Rasa. Lani bercerita, nama ini dicetuskan oleh sang illustrator asli logo konser ini, yakni Rukmunal Hakim, seorang illustrator asal Bandung yang terkenal dengan karyanya yang penuh makna nan elok. Hakim mengatakan bahwa musik Frau mengantarkan beragam perasaan pada pendengarnya. Maka diputuskanlah Konser Tentang Rasa menjadi tajuk konser Frau ini. Selesai menyapa dan sedikit bercerita, Frau menyenandungkan salah satu lagu yang berasal dari album Happy Coda yang berjudul Water. Ia juga menyanyikan sebuah musikalisasi puisi hasil gubahannya dari karya puisi salah satu temannya. Sebuah lagu berjudul Tiada Bunga Merekah yang bercerita tentang kisah patah hati. Lalu Frau memanggil salah seorang kawannya dari Jogjakarta, Erson Padapiran. Menemani Frau dengan lantunan terompet yang percaya diri dan serasi untuk lagu Mr. Wolf dan I’m a Sir. Menutup sesi pertama dari Konser Tentang Rasa. Menunggu jeda 10 menit menuju sesi kedua, panitia berkeliling membagikan secarik kertas dan sebotol minuman berasa pada seluruh penonton. Kembali hadir di panggung, Lani pun akhirnya menjelaskan. Kadang terasa sulit baginya menemukan pengalaman holistik dengan musik yang baginya seperti penyeimbang untuk hidupnya. Namun terkadang pengalaman holistik itu justru hadir tanpa perilaku mewah atau pencarian yang sulit. Ia malah hadir ketika Lani beraktifitas sehari-hari, seperti saat ia berkendara motor dan melewati warung pecel lele, gundukan sampah, dan toko parfum yang wangi semerbak. Orkestra besar gubahan musisi kesayangannya malah hadir dengan sempurna di benaknya. Itulah saat dimana Lani sadar, bahwa mengalami musik tak hanya melulu dimonopoli mata dan telinga, tapi juga indera lainnya. Maka hadirlah sebuah botol berisi minuman bermerk “Minuman Tentang Rasa Tjap Piano” dan wewangian yang entah darimana datangnya tiba-tiba menyeruak, membantu kami para penonton untuk mengalami musik dengan beragam indera. Wewangian apa barusan? Wangi bedak? Obat batuk? Santan? Mi instan? Entah apa, tetapi aroma itu di sana, di sekitar penonton. Dan lagu Tukang Jagal pun mulai dimainkan. Sebuah lagu hasil interpretasi Lani akan...

Read More
Suasana Hangat Keluarga Besar Sineas di Piala Maya 2015
Dec22

Suasana Hangat Keluarga Besar Sineas di Piala Maya 2015

Selayaknya ajang bergengsi lainnya, Piala Maya 2015 hadir dengan rapih dan anggun. Namun bedanya, suasana kekeluargaan yang intim dan akrab menyeruak hangat di gedung Soehanna Hall, Energy Building, Jakarta, Sabtu (19/12) lalu. SORE dipilih menjadi band pembuka acara. Menampilkan lagu-lagu andalan mereka yang tak asing lagi seperti Pergi Tanpa Pesan dan Sssst…. Satu persatu misteri siapa memenangkan nominasi apa mulai terkuak. Tak jarang para pemenang  yang melakukan speech, berbicara santai sambil menyisip guyonan-guyonan ringan, seperti sedang hangout bareng teman. Bahkan beberapa sineas, yang dipelopri oleh Gandhi Fernando, mengumbar nomor handphone di podium sebagai ajang promosi. Ya, memang diakui sendiri oleh Bounty Umbara, peraih penyunting gambar terpilih Piala Maya 2015, bahwa malam itu yang ia lihat di Soehanna Hall adalah teman-teman sineas yang tidak asing lagi. “Senengnya saya sama Piala Maya ya ini, di sini yang saya lihat ya orang-orang yang sama, yang saya kenal. Sesama pekerja sineas. Nggak seperti ajang yang kemaren, banyaknya malah liat pebisnis hehehe” ucap Bounty yang diikuti riuh tepuk tangan, senyum merekah, dan tawa-tawa kecil dari orang-orang yang datang. Teks Berbahasa Indonesia Untuk Film Indonesia Malam itu nominasi penata musik terpilih diumumkan oleh penyanyi kondang Dewi Yull, ditemani anaknya yang memiliki kekurangan pada indra pendengarnya, Panji Surya Putra. Di podium sebelum membacakan nominasi, Dewi Yull mengatakan bahwa ada kurang lebih 2 juta masyarakat Indonesia yang tuli. Selama ini, ia bilang, kaum tuli hanya bisa menonton film dari luar negeri, karena film-film itu menggunakan teks. Karena itu, ia berharap agar film Indonesia bisa meberikan teks, karena kaum tuli juga sangat ingin menikmati film Indonesia. DVD/VCD Yang Hilang Apresiasi juga diberikan pada rilisan fisik (DVD) terpilih dengan nominasi Assalamualaikum Beijing & Haji Backpacker, Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, Selamat Pagi, Malam, Sokola Rimba, dan Tabula Rasa. Koleksi DVD Terpilih dimenangkan oleh film Selamat Pagi, Malam. Apresiasi ini tentu saja untuk menstimulasi semangat para pembuat rilisan fisik VCD maupun DVD, yang telah dan masih bertahan untuk terus berkarya, meski pembajakan sudah merajalela. Kini pembuat rilisan fisik terus menerus berkurang karena kalah telak dengan pembajakan. Bahkan pemasok DVD yang cukup besar seperti Disc Tara memutuskan untuk menutup seluruh gerainya dan menyisakan satu gerai yang berada di Sabang, karena rilisan fisik mulai ditinggalkan dan dihantam oleh para pembajak. Lewat ajang ini dan melalui nominasi ini, diharapkan penonton Indonesia sebisa mungkin menghindari pembajakan dan membeli produk asli. Beli bajakan seharga Rp 8.000, karya asli seharga Rp 25.000, dengan selisih Rp 17.000 yang tidak terlalu besar ini kita bisa membantu karya anak bangsa, karya teman kita, why not? Di penghujung acara, Hafiz Husni (Founder dan Festival Director Piala Maya 2015) dan dr. Daniel Irawan (ketua komite pemilih) membacakan nominasi film panjang terpilih...

Read More
Ini Daftar Pemenang Piala Maya 2015
Dec22

Ini Daftar Pemenang Piala Maya 2015

Tahun keempat Piala Maya 2015 digelar di Soehanna Hall, Energy Building, Jakarta, 19 Desember 2015. Penjurian panjang dilakukan oleh komite pemilih yang berjumlah 467 orang yang berasal dari beragam kalangan profesi dan usia. Berikut daftar pemenang Piala Maya 2015: Film Panjang Terpilih : Guru Bangsa Tjokroaminoto – Pic[k]olock Production Sutradara Terpilih : Garin Nugroho (Guru Bangsa Tjokroaminoto) Pemeran Utama Pria Terpilih : Deddy Sutomo (Mencari Hilal) Pemeran Utama Wanita Terpilih : Marsha Timothy (Nada Untuk Asa) Pemeran Pendukung Pria Terpilih : Donny Damara (2014: Siapa Di Atas Presiden?) Pemeran Pendukung Wanita Terpilih : Ria Irawan (Bulan Di Atas Kuburan) Pendatang Baru Pria Terpilih : Morgan Oey (Assalamualaikum Beijing) Pendatang Baru Wanita Terpilih (Piala Tuti Indra Malaon) : Whulandary Herman (Bidadari Terakhir) Pemain Cilik Terpilih : Aria Kusumah (Pendekar Tongkat Emas) Penampilan Berkesan Terpilih (Piala Arifin C. Noer) : Wulan Guritno (Nada Untuk Asa) Skenario Asli Terpilih : Kapan Kawin? (Monty Tiwa, Ody C. Harahap, Robert Ronny) Skenario Adaptasi Terpilih : Filosofi Kopi (Jenny Yusuf) Lagu Tema Terpilih : “Let It Be My Way” – Andien (Hijab) Desain Poster Film Terpilih : Badoet (Hans Nio) Penata Musik Terpilih : Guru Bangsa Tjokroaminoto (Andi Rianto) Penyunting Gambar Terpilih : 3 (Alif Lam Mim) (Bounty Umbara) Penata Suara Terpilih : Guru Bangsa Tjokroaminoto (Satrio Budiono, Trisno) Penata Artistik Terpilih : Guru Bangsa Tjokroaminoto (Allan Sebastian) Penata Kamera Terpilih : Guru Bangsa Tjokroaminoto (Ipung Rachmat Syaiful) Penata Kostum Terpilih : Guru Bangsa Tjokroaminoto (Retno Ratih Damayanti) Penata Rias & Rambut Terpilih : Pendekar Tongkat Emas (Jerry Octavianus) Penata Efek Khusus Terpilih : Comic 8: Casino Kings Part 1 (Chorenk, Epics Fx Studios) Penulisan Kritik Film Terpilih : “Refleksi Dalam Secangkir Kopi” – Filosofi Kopi, Arul Fitron Film Pendek Terpilih : Lemantun (Wregas Bhanuteja) Film Dokumenter Pendek Terpilih : Jalan Panjang (Ignasisus LW Somalinggi) Film Daerah Terpilih : Silet Di Antara Digoel Papua (Papua, Henry W. Muabuay) Film Animasi Terpilih : Djakarta-00 (Galang Ekaputra Larope) Koleksi DVD Terpilih : Selamat Pagi, Malam Piala Iqbal Rais Untuk Sutradara Muda Film Pendek/Animasi/Dokumenter Berbakat : Hariwacahya Utomo – Film Dokumenter “Cerita Tentang Cak Munir”    ...

Read More