Banda Neira Nyanyikan Lagu Milik Eks. Tahanan Politik 1965 di 5th Music Gallery Jakarta

foto

Sabtu (14/3) Festival musik kebanggaan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia bertajuk Music Gallery akhirnya resmi digelar, ‘A Euphoric Music Festival – Celebrating Music & Art’ jadi tagline event yang telah memasuki tahun ke-5 ini. Line up yang padat nampaknya sengaja dipersiapkan untuk memuaskan dahaga hiburan muda- mudi Ibu Kota. The Trees and The Wild, Mondo Gascaro, Naif, Sore, Jirapah, Bara Suara, Banda Neira, Fourtwnty, Selimut Cokelat, MMS dan Payung Teduh sampai Tahiti 80 sukses bikin ribuan tiket habis terjual.

Gandaria City Jakarta Selatan jadi tempat ibadah jamaah Music Gallery pada hari itu. Ada 2 stage yang disiapkan panitia, Stage Pertamina di Skenoo Hall (lantai 3) dan Stage Nescafe Musik Asik  di Piazza  (lantai dasar), yap .. 2 stage dan terpisah beberapa lantai, capek.

Setelah digeber permainan epik penuh energi dari Barasuara (yang kabarnya sampai bikin tangan sang drummer , Marco Steffiano, berdarah ala- ala  Andrew Neiman dalam film Whiplash ) disejukkan performance bersahaja dari Sore, dan dibuat mematung oleh penampilan The Trees And The Wild yang rasuk, sebagian kecil dari crowd Skenoo Hall malam itu termasuk saya memilih meninggalkan Stage Pertamina dan turun ke Stage Nescafe  guna menantikan penampilan Banda Neira, padahal band Indie Pop asal Perancis Tahiti 80 akan segera naik pentas. Mungkin sebagian besar dari kami yang meninggalkan Stage Pertamina saat itu ngga tahu- tahu amat sama Tahiti 80 atau simply muak berhimpit- himpitan di  skenoo hall yang jadi super padat.

Di stage yang semi – semi outdoor malam itu sekitar pukul 9 malam Banda Neira naik pentas. Ananda Badudu dan Rara Sekar menyapa sekumpulan penonton dengan ”Kau Keluhkan”. Setelah sedikit obrolan canggung dengan penonton, penampilan pun dilanjutkan dengan musikalisasi puisi Subagio Sastrowardoyo “Rindu”. Penampilan Banda Neira malam itu terasa akrab dan mengalir hangat, sebelum melanjutkan penampilan, Rara Sekar menanyakan apakah ada di antara penonton yang anak rantau, karena lagu yang berikutnya dinyanyikan adalah “ Di Beranda” , lagu percakapan antara Ayah dan Ibu dengan anaknya yang hendak pergi sementara, lagu yang sukses bikin anak- anak rantau seketika sakit rumah (homesick) malam itu. Setelah “Mawar” yang sendu mencekam dimainkan, Nanda bercerita sedikit tentang “Kisah Tanpa Cerita”, “ lagu yang berikut ini terispirasi dari buku kumpulan puisi Boris Pasternak, Boris Pasternak itu yang nulis  Doctor Zhivago, sebuah novel di Uni Soviet di jaman ketika Uni Soviet masih ‘merah’.” Menurut pria dengan julukan gitaris yang tak hafal nama kunci ini, novel Doctor Zhivago seperti Bumi Manusia-nya (buku pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer) Uni Soviet, karena sempat dilarang edar.

“Lagu selanjutnya pas banget dibawain di Jakarta” ucap Rara Sekar yang buru- buru disusul riuh tepuk tangan penonton yang seketika tahu bahwa lagu berikutnya yang akan dimainkan adalah “Senja di Jakarta”. Lagu yang tercetus ketika Rara Sekar masih kerja di Jakarta dan tiap hari naik sepeda ke kantor dan  suatu hari melewati selokan besar yang bau. Menurut Rara sekar kejadian yang dialaminya itu patut dijadikan lagu karena banyak mengandung ironi.

Di akhir penampilannya Bandaneira memberikan penonton sebuah hadiah, “ini sebuah lagu baru, lagu ini adalah bagian dari kolaborasi bersama temen- temen musisi di Bali, yang menginisiasi project ini adalah Jerinx ‘SID’ dan Nosstress, project nya akan dirilis sebentar lagi dengan nama “Prisons Songs”. Lebih lanjut Rara Sekar menjelaskan, “Prisons Songs” adalah kumpulan lagu- lagu  yang ditemukan di tembok penjara Eks. Tapol (Tahanan Politik) 1965.

Dikutip dari www.hot.detik.com Senin (29/12/2014) proyek musik ini digagas oleh Komunitas Taman 65, drummer Superman Is Dead (SID) Jerinx, vokalis Navicula, Dadang Pranoto dan sejumlah musisi lain. Secara lengkap, musisi yang akan bergabung dalam proyek “Prisons Songs”  adalah Kupit dan Man Angga dari Nosstress, Dadang Pranoto dari Navicula/Dialog Dini Hari, Banda Neira serta Made Mawut sendiri yang merupakan solois blues.

Di proyek “Prison Songs” Bandaneira kebagian sebuah lagu berjudul “Tini dan Yanti”, sebuah lagu yang ditulis oleh Eks. Tapol 65 untuk anak dan isterinya.  Lagu ini adalah sebuah lagu yang sangat sedih bagi Ananda Badudu dan Rara Sekar secara pribadi. Rara menjelaskan bagian yang paling sedih di lagu tersebut adalah kata- kata La historia me absolvera, kalimat dalam bahasa spanyol yang artinya sejarah akan membebaskanku. “Tini dan Yanti” pertama kali dinyanyikan Bandaneira dalam gelaran Indonesian Writers for The World, (29/1/2015) di Goethe-Institut Jakarta. Walaupun bukan kali pertama ditampilkan, namun “Tini dan Yanti” berhasil dibawakan dengan pilu malam itu, masa yang tadinya dibawa syahdu jadi terdiam, ikut pilu. “Lagu ini didedikasikan untuk teman- teman yang pernah ditahan karena ekspresinya” ujar Rara Sekar sesaat sebelum memulai penampilan pamungkas Bandaneira. (Kn)

 

(Visited 3,977 times, 1 visits today)

Author: Ken Auva

Share This Post On

3 Comments

Submit a Comment