Berimajinasi Bersama “Inclination” Marsh Kids

marshkidsweb

Marsh Kids menyuguhkan sebuah pengalaman ilusi, tentang cerita enam orang yang tengah menjalani pengembaraan musikal dan kehidupan yang menarik.  

“Dari dunia di mana pria merokok cerutu dan bernyanyi secara flamboyan, datang enam bandit dengan penampilan yang berbeda. Dengan gitar di tangan dan bekas luka di dalam hatinya, mereka muncul bersenjatakan lagu-lagu yang berbicara tentang kerinduan, penyair yang terlupakan dan penebusan.”

Kurang lebih prolog ini menjelaskan asal muasal kolektif musikal ini. Lahir dari sebuah pengembaraan mistikal yang menjadikan grup “Anak-anak Payau” atau “Dataran hijau Yang Basah” ini menarik untuk diberikan atensi.

Keberagaman pengalaman menjadikan sebuah keharmonisan yang alami. Ini yang kemudian banyak dialami banyak kolektif (baca: Supergroup) macam Crosby, Stills & Nash and Young, Cream, Travelling Wilburys sampai Broken Social Scene atau Kantata Takwa, yang lahir dari pengembaraan batin dari tiap pribadi yang ada di dalamnya

Adalah S. Pramudita, Drs. F. Achmar, B. Saleh, G. Rahmadeva, M. Fahri dan B. Tobing, enam pria yang datang dari pengalaman musikal yang beragam. S. Pramudita dengan Tigapagi, B.Saleh, G. Rahmadeva dengan Polka Wars, B. Tobing dengan San Teletone, Drs. F. Achmar dengan Sore dan M.Fahri di Duckdive, akhirnya bertemu dalam satu ruang yang bernama Marsh Kids.

Secara musikal, bibit Marsh Kids berawal dari kumpulan-kumpulan lagu yang ditulis F. Achmar dan B.Saleh sekitar tahun 2011. “Saat itu kami berpikir akan sangat menarik jika pengalaman ini bisa diabadikan dalam bentuk rekaman, “ungkap B. Saleh.

Seperti ada reaksi kimia, bahkan sebelum tahu mereka akan menjadi berenam, F.Achmar mengajak B.Tobing, rekan lama semasa di Los Angeles, B.Saleh pun mengajak G. Rahmadeva, rekannya di SMA. Kemudian, untuk memberi warna yang cukup signifikan, S.Pramudita dan M.Fahri pun didaulat untuk melengkapi keharmonisan ini.

Mereka memulainya dengan merekam lagu “Bird Song”. Lagu ini sempat diabadikan dalam kompilasi Radio Kill The Video Stars. “Bird Song” pun sempat masuk nominasi “Best Indiepop Song” di ICEMA (Indonesia Cutting Edge Music Awards) tahun 2012.

Di tahun yang sama, kolektif ini mulai menjalani beberapa panggung dan memulai proses rekaman yang dilakukan di ALS studio hingga akhir 2013 bersama J. Vanco dan D. Martokoesoemo selaku sound engineer.

Meski sangat klise menyebut genre dari sebuah grup band, namun jika harus mendefenisikan apa yang mereka lakukan ke dalam sebuah formula, mereka menyebutnya Flamboyan Rock dan Tornado Pop.

“Istilah ini datangnya dari beberapa kawan setelah mendengar dan menyaksikan kami langsung. Jika disimak lebih dalam, ada dualisme di penamaan genre musik tersebut. Apa artinya? Well, you should have to hear and see us play, “ujar mereka.

“Kami semua keluar dari zona nyaman, itu mengapa lagu, gaya dan sound yang kita tulis dan kita buat di sini (Marsh Kids) sangat berbeda dengan apa yang kami buat di project-project kami sebelumnya, “ungkap F. Achmar tentang seperti apa musik Marsh Kids.

Beragam gaya tercampur aduk disana, semua sound bertemu dalam diorama sinematik yang aduhai, dari sensasi hangat Pantai California mid 70-an, siraman kabut dingin di puncak gunung, kepulan asap jalanan kota New York sehabis hujan, semua menyusup dan menyeruak jadi satu dengan gaya bebas dan luas, sebebas dan seluas-luasnya.

“Musik ibarat air yang mengalir, angin yang berhembus, angin yang kita rasakan, jadi buat apa dimampatkan, dibataskan, biarlah mengalir dan berhembus, “ ungkap B. Saleh.

Semua penggambaran itu akan terjawab di debut album bertajuk The Many Failings of Bugsy Moonblood yang akan dirilis di tengah tahun ini di bawah label Helat Tubruk dan Demajors. Namun mereka memberikan satu petunjuk lewat single “ Inclination” yang dirilis oleh Helat Tubruk dan Demajors di bulan Juni ini secara digital via soundcloud dan untuk diunduh dengan kualitas audio terbaik lewat iTunes, Deezer dan Spotify.

“Intinya kurang lebih adalah perjalanan sang pengembara yang melewati kisah-kisah bersama manusia dan Tuannya,“ ungkap B. Saleh soal tema dari album debut Marsh Kids. “Makna adalah kerinduan akan kesederhanaan Marshland yang mana untuk sesaat merasa bahwa dataran lluas yang basah itu lah tempat yang satu-satu bisa memeluk dan menyayangi para mahluk urban yang selalu merasa tersesat di hutan beton yang seakan selalu fana dalam lahiriahnya, “sahut F. Achmar. “Jika dirasakan kurang lebih seperti mimpi buruk di Mojave,”tambahnya.

Lebih jauh lagi, Achmar menjelaskan soal tema lirik-lirik di album Marsh Kids yang mana berpusat pada kontemplasi yang berbuah depresi akan muaknya para insan akan keabsahan fana-nya kehidupan yang stagnan. “Kenapa stagnan? Ya, karena terpatok oleh aturan-aturan yang hanya membatasi ruang gerak pemikiran yang sepatutnya bebas dan membentang, layaknya dataran marsh land itu sendiri,”ungkapnya.

Siapkan sabuk pengaman dan biarkan imajinasi anda dibawa oleh single “Inclination” dari Marsh Kids. Hati-hati di jalan, anda akan menemukan banyak kejutan di perjalanannya.

(Visited 695 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment