Black Metal: Musik Keras dengan Suara Kegelapan

Mayhem, band black metal pertama di dunia/Sumber foto: Vice

Banyak dari kita yang menyimpulkan musik keras yang satu ini identik dengan kegelapan dan satanisme. Meskipun jauh dari negara asalnya Norwegia, di Indonesia komunitas dan band Black Metal hingga saat ini masih berkembang dengan cukup pesat.

Pada awalnya istilah “Black Metal” muncul di tahun 1982, dimana nama tersebut adalah nama album dari band Thrash metal asal U.K yang bernama VENOM. Sebagai band pertama di dunia yang mempopulerkan musik tersebut, nama black metal pun kemudian diidentikkan dengan salah satu aliran dari musik keras ini.

Peter Beste, seorang fotografer asal Houston, Texas telah menghabiskan waktu selama 8 tahun untuk menyelami subkultur black metal di Norwegia.

Peter dalam bukunya True Norwegian Black Metal (Vice Books, 2008) menyatakan bahwa black metal adalah subkultur yang berangkat dari heavy metal, paganisme, dan kemarahan remaja pada era 80an. Memasuki era 90an, subkultur ini kemudian berubah tidak hanya sekedar musik namun menjadi simbol perlawanan yang lebih ekstrim, seperti pembunuhan, bunuh diri, penistaan makam, hingga pembakaran gereja.

Para pengikut subkultur black metal juga menolak budaya modern. Mereka cenderung memuja dewa-dewa kuno dari daratan Skandinavia dan juga penolakan pada sistem kristenisasi di Eropa.

Selain itu subkultur black metal identik dengan aksi panggungya. Berbagai tindakan kontroversial kerap dilakukan diatas panggung, seperti meminum darah, mulitasi kepala hewan (biasanya domba, kambing ataupun babi). Selain itu mereka menggunakan atribut-atribut anti christ seperti pentagram dan juga mengecat wajahnya agar menyerupai mayat (corpse paint).

Kasus besar sempat muncul akibat perseteruam black metal Norwegia dengan Finlandia, yang berujung dengan aksi bunuh diri Per Yngve Ohlin dari band Mayhem dan kasus pembunuhan pemilik label black metal pertama di dunia yang juga personel dari band Mayhem, Oystein Aarseth oleh Varg Vikernes.

Perkembangan Black Metal di Indonesia

Sumber gambar: ltheordinary.blogspot.co.id

Di Indonesia sendiri, band black metal masih identik dengan budaya dan tradisi daerah tempat mereka berkembang yang kemudian menjadi sebuah bentuk wajah dan identitas baru. Di Yogyakarta sebagai contohnya, Mystis merilis sebuah album bertajuk ‘Spirit of Merapi Forest’ dimana album ini mengangkat tema-tema kejawen yang masih cukup kental di tanah Jawa. Dalam attitude black metal di Indonesia juga sangat berbeda dengan di Eropa, karena sama sekali tidak ada pembunuhan, pemujaan terhadap setan, pembakaran gereja ataupun penghujatan terhadap Kristus.

Band black metal yang dianggap cukup hipster di Indonesia (karena mengganti huruf U dengan V – aksen Skandinavia), Bvrtan (Buruh Tani) malah mengusung konsep yang berbeda lagi. Tema yang diangkat oleh band ini seputaran agrikulturalisme. Judul lagu yang mereka gunakan juga cenderung jenaka, seperti “Pacul Pusaka Dari Pak Kades” ataupun “Musnahlah Panen Raya Tahun Ini Yang Membuat Kami Tidak Bahagia”. Seperti band black metal pada umumnya, Bvrtan tidak pernah menunjukkan identitas asli para personelnya. Mereka menggunakan istilah Pak Kades sebagai vokalis, Tvkang Pacvl sebagai drummer dan Kvli Arit sebagi bassist.

Terlepas dari semua pro dan kontranya, black metal hari ini telah berubah menjadi sebuah bertuk subkultur dan entitas baru yang jauh dari pola aslinya di Eropa. Indonesia yang memiliki keanekaragaman budayanya telah merubah persepsi banyak orang mengenai subkulutur ini, dan membuatnya menjadi lebih menarik lagi untuk disimak.

Author: Komang Adhyatma

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *