_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"kanaltigapuluh.info","urls":{"Home":"http://kanaltigapuluh.info","Category":"http://kanaltigapuluh.info/category/nowplaying/","Archive":"http://kanaltigapuluh.info/2017/04/","Post":"http://kanaltigapuluh.info/bali-creative-week-2017-sukses-digelar/","Page":"http://kanaltigapuluh.info/redaksi/","Attachment":"http://kanaltigapuluh.info/bali-creative-week-2017-sukses-digelar/img-20170430-wa0027/","Nav_menu_item":"http://kanaltigapuluh.info/culture-art/","Wpcf7_contact_form":"http://kanaltigapuluh.info/?post_type=wpcf7_contact_form&p=1161"}}_ap_ufee

Budaya Berbagi dan Kaitannya dengan Musik di Indonesia

SHARE

Ilustrasi: therogueginger.com

Di Indonesia, berbagi bisa dibilang sudah menjadi budaya tersendiri. Berbagi bisa dalam hal apapun, sesimpel berbagi makanan hingga berbagi data, dalam konteks ini adalah file musik.

Sudah menjadi hal umum kita menemukan file-file lagu di warnet-warnet yang ada di seluruh Indonesia, atau saling berbagi lagu bersama teman melalui flashdisk atau bluetooth di handphone. Dari sisi marketing tentu hal ini bagus, karena karya dari musisi dapat tersebar dengan luas, namun dari segi bisnis tentu merugikan karena karya tersebut dibagikan secara “gratis”.

Ditengah carut marutnya sistem dan budaya pembajakan tersebut, band pop independen asal Jakarta, Efek Rumah Kaca ternyata memiliki sudut pandangnya sendiri. Mereka menggunakan lisensi Creative Commons dalam menyebarkan karya musiknya, dimana dengan menggunakan lisensi tersebut musisi bisa dibilang menggratiskan musiknya untuk dikonsumsi oleh para pendengar secara legal, dengan batasan tertentu pastinya.

Bicara soal menggratiskan karya dan membawakan ulang karya musik, sebenarnya sudah sejak lama terjadi di dunia, terlihat dari banyaknya video cover song di situs Youtube ataupun Soundcloud, namun bisa dibilang hal ini ilegal secara hukum karena mereka tidak memperoleh ijin resmi dari pencipta dan musisi aslinya, terlebih jika kemudian lagu tersebut diperuntukkan untuk kepentingan komersial, seperti montenasi di Youtube.

Di Indonesia sendiri belum lama ini band pop punk asal Yogyakarta, Endank Soekamti melakukan terobosan baru dalam album terbaru mereka ‘Soekamti Day’, dimana mereka membuat sebuah proyek bernama Soekamti Karaoke dimana para musisi dan pendengar dibebaskan untuk me remix lagu di album tersebut, dengan diberikan secara langsung source asli dari lagunya.

Saat ini, Ripstore.Asia dan Creative Commons juga sedang membuat kompetisi secara online dimana para musisi dan pendengar band Efek Rumah Kaca dibebaskan membawakan ulang lagu-lagu dari ERK, dan 14 lagu terpilih akan dirilis secara bebas unduh saat perayaan #Netlabelday 14 Juli 2016 mendatang.

Sebagai pendengar musik dan fans dari Efek Rumah Kaca, kamu juga dapat berkontribusi dengan melalukan vote pada musisi idola atau lagu yang kamu suka dalam kompetisi #Tribute2ERK ini, dengan membuka websitenya di tautan berikut ini.

Fenomena ini tentu menggambarkan semakin sadarnya musisi dalam penggunaan lisensi Creative Commons dan budaya berbagi itu sendiri, dimana karya dapat tersebar lebih luas bahkan dapat memunculkan wujud baru dari karya aslinya itu sendiri seperti apa yang dilakukan oleh Endank Soekamti dan Efek Rumah Kaca, dan tentunya secara tidak langsung musisi-musisi yang tidak pernah terendus namanya jadi mulai dikenal banyak orang karena membawakan lagu dari band atau musisi yang sudah punya nama di Indonesia, melalui jalur hukum yang legal tentunya.

*) Catatan ini merupakan bagian dari sindikasi #tribute2ERK inisiasi Ripstore.Asia dan Creative Commons Indonesia bersama Kanal Tigapuluh, Disorder Zine, Surnalisme, Ronascent, Jakartabeat dan Revius.

Author: Komang Adhyatma

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *