Catalyst Art-Market: Semangat Jajan Barang Nyeni‏

IMG_20150427_014624

Foto: Trian S

Minggu (26/4), di tahunnya yang keempat, Art-Market berkolaborasi dengan Tabik!, program musik tahunan yang digelar oleh SRM Bands. Selama dua hari di akhir pekan, Art-market kali ini mengambil venue di lantai 3 Kuningan City, Jakarta.

Sedari Sore di hari Minggu, acara ini relatif ramai dikunjungi. Dari muda-mudi nyeni dan chic sampai keluarga-keluarga yang ingin bersantai. Wajar! Soalnya di sini banyak sekali lapak yang menawarkan barang keperluan sehari-hari yang handmade nan unik. Keluarga yang membawa anak kecil pastinya senang. Pasalnya saat belanja, anak mereka bisa melihat gambar aneka ria drawing doodle atau lukisan kaya warna. Lantas cukup pantas kalau aktivitas ini bisa disebut juga jajan seni.

Karya handmade itu adalah aktualisasi dari kurang lebih 24 illustrator dan sejumlah brand di bisnis kreatif. Khusus ilustrator, mereka berusaha sekreatif mungkin memodifikasi karya artworknya ke dalam berbagai medium kebutuhan orang, entah sebatas dekorasi atau bentuk fungsional seperti bantal, t-shirt, totebag dan book-note. Di antara mereka, yang mencuri perhatian adalah Syams Riadio. Ia mencoba menyodorkan tema edukasi wildlife lewat postcard. Asyiknya lagi, postcard itu bisa langsung dikirimkan ke seluruh kantor National Park yang ada di Indonesia, ia menyebutnya sebagai program interaksi. Lumayan kan kalau adik kita dan kita sendiri jadi tahu beberapa hewan yang tengah terancam dan kenal beberapa National Park yang melindungi habitatnya.

Mari berpindah ke panggung. Di hari pertama, panggung musik Tabik! diisi oleh band yang tengah jadi buah bibir di scene. Ada Bedchamber, yang baru lahir dengan EP-nyaPerrenial. Mereka ditemani Jody In The Morning Glory Parade, Lightcraft, serta The Young Liars. Dan di hari berikutnya hadir Ballads of The Cliche bersama Vincent Vega yang dibuka Ellipsis dan Spring Summer. Soal crowd, rasanya di hari kedua kurang begitu mengigit meski line up terbilang wahid.

Walaupun begitu, Ballads of the Cliche tetap tampil lepas. Musiknya yang lebih jangly daripada tiga band lain di hari itu, lulus dalam menghidupkan suasana. Bahkan beberapa anak kecil jadi penonton setia dan terlihat riang. Ini bukti, Ballads of the Cliche sudah jadi band indie pop yang mabrur ketika sejatinya anak-anak kecil berhasil terhibur.(Trn)

(Visited 127 times, 1 visits today)

Author: Trian Solomons

Share This Post On

Submit a Comment