Membangkitkan Gairah Perfilman Lokal dalam Sewon Screening #3
Oct16

Membangkitkan Gairah Perfilman Lokal dalam Sewon Screening #3

Eksebisi film pendek yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Film & Televisi, Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini sudah memasuki tahun ketiganya. Eksebisi yang bertujuan menjadi wadah apresiasi dan berbegi referensi film pendek bagi mahasiswa, komunitas maupun penggiat film pendek di Indonesia. Eksebisi yang diselenggarakan tahun ini mengusung tema yang sama dengan tahun lalu yaitu “Angin Segar”. Tema itu dipilih karen amelihat perkembangan karya film pendek pasti akan mengalami perubahan, baik dari segi teknis, estetika, maupun unsur-unsur lainnya. Terlebih bagi mahasiswa jurusan Film dan Televisi Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang dalam proses pembelajarannya mengembangkan kompetensi di bidang audio visual, salah satunya berupa karya film yang segmentasi dan wilayah eksplorasi terbatas. Sewon Screening #3 sendiri diselenggarakan pada 30 Oktober – 4 November 2017, bertempat di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sewon Screening sendiri memiliki beberapa rangkaian berupa pra-acara; Layar Tancep yang diadakan di wilayah Sewon, Kelas Bunga Matahari atau kelas apresiasi kritik film dan acara utama yang berupa pemutaran film hasil kurasi, pemutaran film hasil kurasi, pemutaran film spesial, pemutaran film focus on, temu komunitas, dan diskusi alternatif Dengan adanya Sewon Screening diharapkan dunia perfilman dapat lebih baik lagi dan dikenal oleh masyarakat luas. Karena pada dasarnya dunia film bukan hanya milik production houseatau filmmakers semata, melainkan milik semua lapisan masyarakat yang meiliki ketertarikan dalam dunia perfilman....

Read More
Go Ahead Challenge Beri Nafas Baru untuk Kota Seniman
Oct16

Go Ahead Challenge Beri Nafas Baru untuk Kota Seniman

Yogyakarta yang dikenal dengan beragam komunitas kreatif di setiap sudut kotanya, kembali bergaung dengan hadirnya Go Ahead Challenge Festival 2017 (13/10). Bertempat di Lapangan Krida, para penggiat dan pecinta seni berkumpul untuk merayakan semangat berekspresi dan berkolaborasi di festival kreatif yang merupakan rangkaian kompetisi Go Ahead Challenge (GAC) 2017. Go Ahead Challenge (GAC) Festival yang berjalan di empat kota, dengan Yogyakarta sebagai kota kedua, kini turut mempersembahkan karya-karya dari semifinalis terbaik yang berasal dari wilayah Jawa. “Melalui dukungan dari Sampoerna A yang membawa Go Ahead Challenge Festival di empat kota berbeda, para pelaku kreatif kini memiliki ruang untuk berekspresi secara lebih luas dan belajar dari para seniman lain. Selain menghadirkan karya-karya inspiratif dari tokoh seni tanah air terkemuka, dan berbagai kolaborasi menarik antara emerging artist, komunitas kreatif, maupun para musisi lokal dan tanah air, GAC Festival juga merupakan ajang apresiasi untuk para semifinalis GAC 2017,” jelas Ade Darmawan, visual artist terkemuka yang merupakan salah satu kurator di ajang Go Ahead Challenge 2017. Sejumlah semifinalis terbaik yang memiliki talenta di bidang visual art, fotografi, musik, dan style, turut mempresentasikan karya mereka secara visual di ruang pamer bertajuk A Space. Mereka ditantang untuk dapat memamerkan karya-karya mereka yang sebelumnya telah didaftarkan melalui goaheadpeople.id, dengan lebih apik dan menarik. Salah satu semifinalis GAC 2017 bidang visual art asal Yogyakarta, Yahya Dwi Kurniawan, mengaku bangga dapat memamerkan karya nya untuk dapat dinikmati masyarakat secara luas. “Bisa lolos menjadi semifinalis di ajang GAC 2017 dan diapresiasi oleh Sampoerna A melalui GAC Festival ini merupakan suatu kebangaan bagi saya. Apalagi karya saya dapat dipamerkan bersama karya para seniman profesional tanah air. Tentunya hal ini sangat menginspirasi dan memacu saya untuk terus menantang diri dalam berkaya dan belajar dari tokoh-tokoh seni panutan,” jelas Yahya. Selain karya para semifinalis yang dipamerkan di A Space, terdapat pula karya-karya dari para tokoh seni terkemuka tanah air yang juga berperan sebagai kurator GAC 2017 yaitu Ade Darmawan, Anton Ismael, Ajeng Svastiari, dan Iga Massardi. Dengan mengangkat tema ‘Major Scale’ yang diambil dari istilah seni musik, karya-karya mereka terlihat harmonis mengisi ruang pamer dengan beragam medium dari bidang seni yang beragam. Selain itu, para pemenang GAC terdahulu juga terlibat dalam memeriahkan GAC Festival. Adapun Yogi Kusuma, pemenang GAC 2015 bidang fotografi, mengisi ruang arsip di dalam A Space dengan dokumentasi perjalanan GAC mulai tahun 2013 hingga 2016. Ia juga terlibat dalam merancang Festival Stage sebagai creative director, dengan mengajak jebolan GAC lainnya, yaitu Andre Yoga (finalis GAC 2015 bidang visual art), Dani Huda (finalis GAC 2015 bidang fotografi), dan Nara (finalis GAC 2015 bidang musik). Selain itu, Kurniawan ‘Iwe’ Ramadhan pemenang GAC 2016 bidang visual art turut menciptakan artwork yang menghiasi...

Read More
Ini Dia Daftar Pemenang Bandung Contemporary Art Awards 2017
Oct10

Ini Dia Daftar Pemenang Bandung Contemporary Art Awards 2017

Kompetisi Bandung Contemporary Art Awards (BaCAA) #5 mengumumkan 3 seniman terbaik pada tanggal 5 Oktober 2017 yang lalu. Bertempat di Lawangwangi Creative Space, malam penghargaan dilanjutkan dengan pembukaan pameran 15 finalis yang akan berlangsung hingga 5 November 2017. Malam penghargaan ini juga dimeriahkan oleh penampilan dari Rock N Roll Mafia dan Oscar Lolang. Kompetisi ini mengundang seluruh seniman di Indonesia di bawah umur 40 tahun. Sejak  proses open submission pada 20 Februari 2017 yang lalu, panitia telah menerima lebih dari 400 peserta yang kemudian diseleksi melalui beberapa tahap penjurian oleh kurator seni diantaranya Agung Hujatnikajennong, jurnalis seni Carla Bianpoen, kolektor seni dan Wiyu Wahono serta dua orang juri internasional, yaitu galeris asal LA, Susan Baik, galeris asal Kuala Lumpur Valentine Willie. Gelar 3 karya terbaik BaCAA#5 kali ini diraih oleh Deni Ramdani, Cynthia Delaney Suwito dan Etza Meisyara, dan Special Mention Award diraih oleh Ricky Janitra. Deni Ramdani meraih penghargaan berupa uang tunai sebesar Rp. 100.000.000 lewat karyanya 0o. Secara simbolis, 0o menceritakan kerusakan lingkungan yang terjadi di sebagian bentang alam Bandung utara. Deni menggantung kantung plastik besar berisi air dan ikan hias di atas gundukan tanah yang dibentuk menyerupai kontur tanah Bandung. Ia melubangi kantung plastik tersebut dengan jarum sehingga air sedikit demi sedikit menetes dan membasahi tanah di bawahnya. Perbandingan yang kontras antara kepelikan isu lingkungan dengan kesederhanaan tampilan 0o menjadikan karya ini layak untuk menjadi salah satu pemenang. Peraih penghargaan art trip ke pusat seni dunia, Cynthia Delaney Suwito, juga menghadirkan isu ekologi dalam lingkup yang lebih global lewat cara yang sederhana. Berangkat dari sebuah spekulasi bahwa dengan menahan napas maka kita dapat menyumbangkan oksigen bagi orang lain, Cynthia ingin mengajak pemirsa untuk memikirkan kembali betapa berharganya oksigen bagi kehidupan kita. Dengan pendekatan relasional, Cynthia mengajak pemirsa untuk menahan napas selama mungkin. Ia kemudian mencatat waktu tersebut, membaginya dengan angka 7.500.000.000 (perkiraan jumlah manusia di bumi), dan mendapatkan angka hasil akhirnya dalam satuan nanodetik. Catatan tersebut ia jejerkan sebagai bagian dari karya Holding Breath. Etza Meisyara dengan karyanya How Does It Feel? (To Be A Refugee) berhasil memenangkan kesempatan residensi di Centre Intermondes, La Rochelle, Perancis. Secara liris, Etza menuliskan sebuah komposisi musikal sebagai catatan akan percakapan-percakapannya dengan para pengungsi di Munich, Jerman. Pertemuan ini, baginya hanyalah sebagian kecil dari refleksi persoalan yang lebih besar mengenai mobilitas manusia di masa sekarang. Komposisi ini juga hadir dalam bentuk alat-alat makan yang dibentuk sebagai not balok pada lembaran besi, layaknya partitur raksasa. Bagi Etza, alat makan adalah simbol kehangatan dan kekeluargaan yang ia temukan dalam hubungan antar manusia....

Read More
KUSTOMFEST, Barometer Kustom Kultur  di Indonesia
Oct10

KUSTOMFEST, Barometer Kustom Kultur di Indonesia

Festival motor kustom terbesar di Indonesia, Kutomfest telah usai digelar di Yogyakarta selama dua hari, tepatnya pada tanggal 8 dan 9 Oktober 2017 yang lalu dengan mengusung tema “No Boundaries” yang bermakna menembus batasan-batasan yang ada dalam berkarya. Memasuki tahun keenamnya, Kustomfest nampaknya masih menjadi suatu ajang yang dinanti-nanti oleh para builder untuk menampilkan karya-karya terbaiknya, terbukti dengan tampilkan kurang lebih 130 motor dan 40 mobil dalam gelaran tahun ini dengan rincian masing-masing untuk Main Class terdiri dari: Prostreet 7 motor, European Chopper & Bobber 2 motor, American Chopper & Bobber 15 motor, American Stock Custom 1 motor, FFA 14 motor, Cafe Racer 21 motor, Bagger 5 motor, Japan Chopper & Bobber 5 motor. Sedangkan di kelas Nitrohead terdiri dari FFA 32 motor, Choppy Cub 4 motor, Old & Retro 16 motor, Matic 1 motor. Sementara kelas khusus yakni Honda Scrambler 5 motor yang ikut didukung PT Astra Honda Motor dan Club Style 6 motor dengan disokong oleh Anak Elang Harley-Davidson. Untuk display dan peserta kontes mobil di kelas Airkooled terdapat 3 mobil, Muscle Car 5 mobil, Hot Rod Custom 4 mobil, Low Rider 3 mobil, Pickup 7 mobil, Japan Retro Car 2 mobil, dan juga highlight khusus Pick Paradise yang menampilkan 7 mobil. Total dispay dan mobil yang didisplay berjumlah30 mobil. Ajang Kustomfest tahun ini juga akan menjadi kickoff program Indonesia Attack yang dinisiasi oleh KUSTOMFEST dalam mewadahi para builder muda Indonesia untuk bisa tampil di ajang Yokohama Hot Rod Custom Show di Jepang pada Desember mendatang. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini juga dilakukan pengundian lucky draw dari tiket penonton untuk mendapatkan sebuah motor kustom secara cuma-cuma yang diberi nama “Ojo Dumeh”, dimana memiliki makna jangan cepat puas atau menjadi sombong terhadap pencapaian yang telah diraih. Yang menarik dari ajang Kustomfest adalah fenomena berkumpulnya berbagai komunitas biker dan builder dari seluruh Indonesia, bahkan dari kalangan internasional. Kustom kultur di Indonesia sendiri mulai tumbuh berkembang di Indonesia sejak 10 tahun terakhir, dan Kustomfest secara tidak langsung menjadi wadah untuk builder kreatif ini untuk memamerkan karyanya. Tidak melulu soal motor, secara fashion dan lifestyle dari para builder tentu menarik juga untuk disimak. Jaket kulit, bandana, sepatu kulit dan celana jeans tentu menjadi identitas dari para biker dan builder ini. Alhasil cukup banyak tenant dari clothing bertemakan “anak motor” yang juga dihadirkan dalam gelaran ini. Meskipun menjadi wadah bagi kalangan industri kreatif dalam hal clothing dan aksesories motor dan juga wadah mengapresiasi para builder di Indonesia, ternyata pemerintah Yogyakarta sendiri kurang memberikan dukungan secara langsung terhadap festival ini. Hal ini terlihat dari para sponsor yang mendukung acara ini kebanyakan dari perusahaan swasta. Sebagai kota seni dan budaya, seharusnya pemerintah Yogyakarta lebih...

Read More
Fakta Menarik Tentang Dubai
Oct05

Fakta Menarik Tentang Dubai

Apa Kamu yakin sudah mengetahui segala sesuatu tentang Dubai? Saat kota ini dikenal dengan gaya hidupnya yang gemerlap dan mewah, serta menawarkan berbagai hal yang hingga kini memegang rekor dunia, Dubai juga menyimpan berbagai sejarah dan kebudayaan yang menarik – serta berbagai hal yang akan mengejutkan Kamu. Mari cari tahu beberapa hal menarik berikut, untuk menyingkap beberapa hal yang patut Kamu ketahui tentang Dubai. Sebelum sektor pariwisata dan perhotelan, penghasilan terbesar Dubai berasal dari industri minyak – hal ini telah diketahui banyak orang. Namun, sebelum industri minyak, Dubai memiliki industri Mutiara yang besar, dengan 300 kapal layar selam dan 7.000 pelaut yang selalu bekerja keras. Untuk menggali sejarah panjang ini, kunjungi Pearl Museum, yang menjadi salah satu rumah terbesar bagi koleksi mutiara terbaik di dunia, yang didonasikan oleh pedagang mutiara Sultan Al Owais. Salah satu koleksi yang dipamerkan adalah sebuah mutiara air laut senilai AED 500 juta (hampir 2 Triliun Rupiah). Pada pertengahan tahun 1800an, India Rupee merupakan mata uang utama di Dubai dan di berbagai negara lainnya di UEA, dengan Gulf Rupee sebagai penggantinya pada tahun 1957, yang akhirnya berhenti digunakan pada tahun 1966. Dibalik evolusi penggunaan mata uang ini, hubungan dengan India tetap bertahan kuat – dibuktikan dengan India sebagai negara dengan angka kedatangan wisatawan terbanyak ke Dubai, dan juga ketersediaan banyak restoran India yang menggiurkan di berbagai penjuru kota. Hal lain yang menjadi bukti hubungan kuat antara Dubai dan India adalah pembukaan Bollywood theme park pertama di dunia, di Dubai Parks and Resorts. Dubai memiliki sistem transportasi publik yang mutakhir. Menurut data Guinness World Records, sistem kereta metro di Dubai merupakan sistem metro tanpa awak terpanjang di dunia. Dan jalurnya bertambah panjang setiap harinya, dengan stasiun pemberhentian baru yang terus ditambah hingga mencapai lokasi Expo 2020 di Dubai. Kurang dari 50 tahun lalu pada tahun 1968, hanya terdapat 13 mobil yang terdaftar di Dubai. Saat ini, ada lebih dari 1,5 juta mobil, berkaca pada pertumbuhan signifikan dari permukiman nelayan dan penyelam mutiara yang hingga kini menjadi kota keempat yang paling banyak dikunjungi di dunia. Berbanding terbalik dari kepercayaan yang ada, Dubai bukan hanya sebuah kota pesisir; Dubai juga merupakan rumah bagi pegunungan terjal berama Hatta, dimana pengunjung dapat mendaki dan juga bermain sepeda gunung sambil menikmati pemkamungan alam di pegunungan Hajar, bermain kayak melewati air berwarna toska yang jernih di Hatta Dam, dan menjelajahi perkebunan kurma dan peternakan lebah yang sangat bagus digunakan sebagai latar berfoto. Kebudayaan Emirati mengharuskan sang pemilik rumah untuk memberikan teh dan kurma bagi tamu mereka, dengan cara tradisional menuangkan yang hanya setengah gelas saja. Alasannya adalah karena cangkir yang dipakai tidak memiliki gagang dan teh yang disajikan sangatlah panas – Kamu...

Read More
Mengukur Popularitas iPhone 8 dan X Pada Konsumen Indonesia
Oct02

Mengukur Popularitas iPhone 8 dan X Pada Konsumen Indonesia

Beberapa minggu lalu, tanggal 12 September 2017 Apple baru saja merayakan ulang tahun yang ke-10. Bertepatan dengan momen ini, Apple memperkenalkan tiga produk andalan terbaru mereka yaitu iPhone 8, 8 plus dan X (dibaca 10). Sama seperti tahun sebelumnya, untuk memeriahkan hari bersejarah Apple, iPrice Group kembali melakukan riset unik mengenai ketertarikan konsumen Indonesia terhadap iPhone model terbaru ini. Riset ini dilakukan untuk melihat seberapa besar antusiasme masyarakat Indonesia dengan peluncuran iPhone model terbaru. Dalam riset ini, iPrice membandingkan ketertarikan masyarakat Indonesia akan beberapa model iPhone. Model yang dibandingkan adalah, iPhone 6, 7, 8 dan X. Untuk mengukur perilaku konsumen, iPrice menggunakan data-data yang disediakan di Google Trends. Dari hasil analisa perbandingan ini, kami menemukan 2 perilaku menarik mengenai masyarakat Indonesia dan iPhone: Mayoritas Masyarakat Indonesia Lebih Tertarik Mencari Harga iPhone Model Lama, dibandingkan Harga iPhone Model Terbaru Berdasarkan hasil pengamatan dan data yang dikumpulkan pada 1 minggu setelah peluncuran iPhone 8 dan X, mayoritas provinsi di Indonesia lebih tertarik untuk mengetahui “Harga iPhone 6”, dibandingkan “Harga iPhone X”. 6 dari 10 provinsi dengan UMP tertinggi tahun 2017 lebih tertarik untuk mencari “harga iPhone 6”  dibandingkan dengan iPhone model baru. Beberapa provinsi tersebut adalah DKI Jakarta (Rp 3.355.750), Sulawesi Utara (Rp 2.598.000), Aceh (2.500.000), Sulawesi Selatan (2.500.000), Sumatera Selatan (Rp 2.388.000), dan Kepulauan Riau (Rp 2.358.454). Hal ini dapat terjadi karena harga iPhone X yang terlalu tinggi. Tahun ini Apple membandrol iPhone 8 USD $ 699, iPhone 8 Plus USD $ 799 dan iPhone X USD $ 999. Angka ini merupakan harga jual di Amerika. Ketika barang terebut dikirimkan ke keluar Amerika, harga tersebut akan naik beberapa kali lipat. Di Singapura, harga iPhone X adalah 1.648 SGD atau sama dengan Rp 16,2 juta. Dengan uang sebanyak ini, masyarakat Indonesia bisa menggunakannya untuk DP mobil baru, membeli Mac Book Pro seharga 15 jutaan, modal bisnis dan masih banyak lagi. Temuan mengejutkan lain adalah, “Harga iPhone X” populer di beberapa provinsi yang memiliki UMP lebih rendah seperti Gorontalo (Rp 2,030,000. Urutan ke-14), dan juga Kalimantan Timur (Rp 2,354,800. Urutan ke-10)  iPhone 8 dan X Hanya Populer di Masyarakat Indonesia Pada Saat Hari Peluncuran iPrice juga mengamati data yang ada di Google Trends satu minggu sebelum peluncuran, saat peluncuran, dan satu minggu setelah peluncuran iPhone 8 dan X. Dari data yang dikumpulkan, dapat disimpulkan bahwa iPhone 8 dan X hanya populer pada saat peluncuran yaitu tanggal 13-14 September 2017. Jika kita melihat grafis yang ada, 5 hari sebelum peluncuran, masyarakat Indonesia lebih tertarik mencari “harga iPhone 6” dan “harga iPhone 7” dibandingkan “harga iPhone 8” atau “harga iPhone X”. Popularitas iPhone 8 dan X meningkat tajam pada tanggal 13 September di Indonesia. Hal ini...

Read More