PUMA dan Illumination, Despicable Me 3 Kolaborasi dalam  Koleksi Perdana yang Ceria
Jul21

PUMA dan Illumination, Despicable Me 3 Kolaborasi dalam Koleksi Perdana yang Ceria

PUMA, bersama dengan Illumination dan Universal Brand Development meluncurkan koleksi yang telah ditunggu-tunggu – PUMA x Minions Collection.  Kerja sama multi musim dengan Minions Gru yang setia dan jahil, dari franchise Despicable Me, koleksi ini akhirnya telah tiba di Indonesia. Sejak Despicable Me hadir pada tahun 2010 silam, Minions telah menjadi ikon budaya pop yang kerap menginspirasi seniman, desainer, dan para tastemaker global. Untuk koleksi kolaborasi sepatu dan pakaian dengan PUMA, para Minion, Stuart, Carl dan Kevin membawa kelucuan dan kerusuhan mereka menghasilkan desain mewah namun lucu dan modis ke siluet klasik si kucing besar. Para Minion menambahkan pola dan percikan warna baru, kacamata mereka yang khas, pisang, dan masih banyak lagi. Untuk anak-anak, terdapat berbagai macam pilihan yang tersedia untuk menyemarakan tempat bermain atau sekolah mereka. Para Minion menambahkan keseruan lain dalam koleksi produk PUMA Basket, dengan tambahan motif pisang di bagian strap-nya. Koleksi Basket ini juga tersedia dalam versi bertali menyenangkan dengan ilustrasi Minion berwarna hitam putih di bagian atasnya, dan ditambah dengan Formstripe biru dan tali berwarna kuning yang khas. Kedua sepatu menonjolkan dengan debossed PUMA No.1 dengan logo Minion. Kejenakaan para Minion berlanjut di koleksi pakaian, termasuk Track Jackets, Sweat Pants, Hoodies dan Kaos – semua menonjolkan logo kolaborasi PUMA x Minions dan beragam grafis yang lucu-lucu. Tas, scarfs dan sarung tangan juga turut melengkapi koleksi yang menyenangkan ini. Bagi kalian yang berjiwa muda, keseruan koleksi ini juga hadir dalam gaya streetwear. Sepatu sneaker Suede klasik hadir dalam warna monotone hitam dengan pola grafis dan sol Minions, sedangkan Disc Blaze dihiasi dengan kombinasi warna putih dan cetakan Minions. Kedua sepatu menonjolkan motif kacamata khas para Minion di bagian lidah dan tumit sepatu. Koleksi pakaian menawarkan oversized crew sweat, bomber jacket, oversized tee – setiap potong koleksi ini  dihadirkan dengan cetakan nama para Minion, Stuart, Carl dan Kevin dalam font Helvetica untuk kesan yang kontemporer. Melengkapi koleksi PUMA x Minions juga ada backpack berwarna hitam yang menonjolkan grafis karakter para Minion. Koleksi sepatu, apparel dan aksesori dari PUMA x Minions sudah tersedia dan hadir dalam koleksi pria dan wanita di retail partner resmi PUMA : Our Daily Dose Senayan City dan PIK serta Wilio Grand Indonesia dan Tunjungan Plaza 5 Surabaya.  ...

Read More
Nick Drake: Jari Lincah Muncul Kembali
Jul20

Nick Drake: Jari Lincah Muncul Kembali

Folk sedang seksi. Di radio arus utama folk semacam Fourtwnty atau Payung Teduh terus diminta. Panggung-panggung kampus dijajal nama-nama semacam Deu Galih, Sisir Tanah, Oscar Lolang, Silampukau, dan berderet-deret lainnya. Bob Dylan, begawan folk itu, tahun lalu dapat nobel sastra. Lantas, folk mana lagi yang engkau dustakan? Folk semacam Nick Drake! Lengkaplah dia didustakan. Semasa hidupnya albumnya tidak cukup laku, padahal masa berkiprahnya sewaktu dengan zaman seksinya folk Inggris tahun ‘60-an. Namanya tenggelam, dan dengan demikian tenggelam juga lagu-lagu dengan petikan jari yang lincah dan suara tebal nan lirihnya, padahal ksatria bergitar akustik semacam Cat Stevens dan Richard Thompson sedang melejit. Matinya bunuh diri dalam keadaan depresi dan terabaikan. Citra itulah yang kemudian melekat padanya, padahal citranya di hadapan orang-orang BBC pernah lebih bagus daripada David Bowie! Tahun ‘90-an seorang spesialis biografi musisi, Patrick Humphries, menerbitkan buku biografi Nick Drake. Musisi yang mati bunuh diri dan depresi biasanya jatuh jadi mitos. Humphries berusaha menguak mitos itu dengan menjelajahi situasi belantika musik dan situasi sosial politik Inggris pada tahun ’60-an. Situasi industri musik yang membuat namanya masyhur setelah kematiannya tak ketinggalan. Dia juga mengusut sistem pendidikan sekolah swasta Inggris dan kecenderungan-kecenderungan keluarga Inggris yang pernah merasakan zaman invasi Inggris. Semua itu dia telusuri untuk menjelaskan kegagalan Nick Drake dalam karirnya dan faktor-faktor penyebab depresinya. Terkuaklah wajah lain Nick Drake yang lebih manusiawi. Dengan demikian, buku Nick Drake: sebuah biografi itu tidak hanya memberikan gambaran tentang sosok musisi malang itu, tetapi juga tentang cara kerja belantika musik dan pengaruh sosial politik yang melingkupinya. Barangsiapa ingin atau sedang berkiprah di bidang musik bisa menjadikan buku ini sebagai pembanding untuk membaca keadaan belantika musik masa kini. Barangsiapa suka musik akan mendapatkan kisah tentang seorang jenius folk yang tidak hanya mengilhami kancah folk, tetapi musisi-musisi genre lain, seperti Robert Smith The Cure dan vokalis Television, bahkan di-cover musisi semacam Elton John. Penerbit Yayasan Jungkir Balik Pustaka Indonesia bersepakat dengan Bloomsbury Publishing Plc untuk menerbitkan Nick Drake: sebuah biografi karya Patrick Humphries (ISBN 978-602-61744-0-6) pada bulan Juli 2017, lalu diikuti oleh tur buku ke beberapa kota di Indonesia. Yes, Nick Nick Nick Drake is on its way… Jadwal Tur Buku Nick Drake: sebuah biografi Jakarta: 22 Juli 2017 di WR Store Yogyakarta: 28 Juli 2017 di Survive Garage Malang: 3 Agustus 2017 di Poharin Art Space Malang: 5 Agustus 2017 di Kafe Pustaka (Perpus Pusat UM) Surabaya: 6 Agustus 2017 di C2O Library & Collabtive Malang: 10 Agustus 2017 di Semeru Art...

Read More
Simbiosis Berkesenian di Simbiosis Art Market Semarang
Jul17

Simbiosis Berkesenian di Simbiosis Art Market Semarang

SIRKEL merupakan sebuah gallery dan collective-mastermind dari beberapa komunitas di Semarang yang berfokus mempromosikan seniman dan karya mereka. “SIMBIOSIS art market” adalah salah satu bentuk melting-pot yang diinisiasi Sirkel untuk mewadahi distribusi dan transaksi hasil karya seniman dan ekosistem pendukungnya untuk merayakan kemandirian berkarya. Dengan semangat “kendeli! toto keri!” (from chaos, comes order) Sirkel menggelar Simbiosis Art Market (SAM) edisi perdana pada Sabtu-Minggu, 15-16 Juli 2017 , jam13.00 – 21.00 Impala Space, Kota Lama Semarang. SAM mendisplay dan menjual jual original artwork seperti drawing, kolase, cat air, urban toys, dan custom jacket. Juga karya ilustrasi yang dicetak pada kaos, poster, sticker, komik, atau enamel pin. Serta karya craft seperti woven, scarf, earing, dll.  Ada19 kreator dan komunitas yang terlibat yaitu Karamba & Friends, Sasongko & Fams, Bobomagz, Puppet Pit Inc, Soekirman,  Craftecu, Zave x Clingythingy, Penggiat Jalan Sehat, Papillon, Khuma, Duduk Nyeni, Adonai, Poor boy, Whytype x Burnass, Daily Works, Ganang Aji, dan Collage Sabotage. Mereka tak hanya bersala dari Semarang, tapi juga dari kota lain seperti Yogyakarta dan Tuban. Fatchurofi sebagai salah satu inisiator sirkel mengatakan bahwa meski baru pertama kali membuat art market, SAM ini menjadi program yang akan coba kami rutinkan. Dengan adanya art market, kreator/seniman akan semakin mudah bertemu dengan publik untuk memamerkan karyanya dan bertransaksi. Publik juga dimudahkan untuk mencari artwork, craft, maupun art supply yang berkualitas. Selain berbelanja di art market, pengunjung juga diajak ikutan sketch art jamming bersama Kuda Lari Project dan Komik Soekirman. Tak hanya itu, pengunjung juga bisa mendengarkan live music setiap harinya oleh band dan musisi indie Semarang, seperti : Greedys, Lilin Semasa Hujan, Olly Oxen,Brit Boys, Jou Barakati, dan...

Read More
Sasha Grey Rilis Koleksi Merchandise Untuk Proyek Amal
Jul15

Sasha Grey Rilis Koleksi Merchandise Untuk Proyek Amal

Bintang porno asal Amerika Serikat, Sasha Grey belum lama ini merilis koleksi merchandise pribadinya untuk sebuah program amal. Seluruh penjualan dari merchandise ini nantinya akan disumbangkan ke Planned Parenthood, sebuah organisasi non profit dalam bidang kesehatan seksual di Amerika Serikat dan seluruh dunia. Disablon dengan bahan Gildan, merchandise ini dapat dibeli dalam bentuk t shirt, hoodie, sweater, rompi dan juga gelas mug. Merchandise ini menampilkan visual wajah Sasha Grey dan juga tulisan “LOVE”, dimana kamu pasti akan berimajinasi ketika memandang desain visual tersebut. Kamu dapat mendapatkan koleksi merchandise ini dengan membelinya di tautan berikut...

Read More
Adidas Campus Lahir Kembali di Era Milenial Untuk Ekspresikan Kebebasan
Jul15

Adidas Campus Lahir Kembali di Era Milenial Untuk Ekspresikan Kebebasan

Kabar baik untuk pecinta sepatu adidas dalam seri klasiknya, karena akhirnya adidas Originals kembali menghadirkan sepatu ikonik mereka yang paling asli dan otentik, yaitu adidas Campus. Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 1980-an, Campus telah menjadi sepatu yang paling populer di lapangan basket. Sepatu ini hadir dalam variasi warna yang tegas dan berani, yaitu burgundy dan hijau. Pada saat yang hampir bersamaan, sepatu ini juga menjadi idola di lingkungan underground di New York. Dalam rangka melahirkan kembali hegemoni Campus ini, adidas Originals menyatukan intuisi kreatif dengna latar belakang downton dengan berkolaborasi bersama Blondey McCoy, Na-Kel Smith, Tavia Bonetti, dan Tiffany Lighty. Kolaborasi ini pun diberi nama sebagai kampanye No Time to Think. No Time to Think terinspirasi dari suasana downtown di New York pada era 90an. Sebagai sebuah kelompok, mereka menetapkan langkah untuk mengidentifikasi arti dari original, melawan semua halangan dan bertindak dengan naluri. Dengan tim kreatif baru yang dekat dengan suasana downtown serta budaya skate, Blondey, Na-Kel, Tavia dan Tiffany menjadi perwakilan sebagai wajah terbaru dari sepatu Campus. Kenneth Capello, seorang fotografer yang sudah menjadi bagian dari lingkungan downtown, turut dilibatkan untuk menampilkan semangat kebebasan dan intuisi yang tak kenal takut dari para kreator di lingkungan mereka. Koleksi sepatu Campus terbaru ini telah tersedia mulai tanggal 15 Juni 2017  yang lalu dan dibanderol dengan harga Rp1.399.000 sampai Rp1.599.000 di beberapa toko adidas di Indonesia. The Adobe Flash Player is required for video playback.Get the latest Flash Player or Watch this video on...

Read More
Latar Belakang Pendidikan Pendiri Startup Sukses Indonesia
Jul15

Latar Belakang Pendidikan Pendiri Startup Sukses Indonesia

  Laporan terbaru dari Quacquarelli Symonds (QS) World University Ranking 2017/2018 yang dirilis Kamis (8/06) menyebutkan bahwa 2 universitas di Indonesia, yaitu UI dan ITB berhasil naik peringkat. UI dari 325 ke 277 dan ITB dari 401 ke 331. Bagi anak muda Indonesia yang baru lulus SMA, memilih di mana mereka akan melanjutkan pendidikan tinggi adalah tantangan tersendiri. Beberapa pertanyaan yang sering muncul adalah, apakah saya harus kuliah di Indonesia atau luar negeri? Jurusan apa yang paling bisa menjamin saya mendapatkan karir yang bagus? Universitas mana yang bisa menjamin saya sukses? Dan masih banyak lagi. Namun pertanyaan besar yang harus kita jawab adalah, apakah lokasi di mana kita kuliah, jurusan yang kita ambil dan juga universitas merupaka faktor utama yang menentukan kesuksesan kita? Berkolaborasi dengan iPrice Group, kami bekerja sama dengan Venturra, salah satu perusahaan investasi yang cukup aktif di Indonesia membandingkan 50+ perusahaan rintisan dan 100+ pendiri untuk menganalisa latar belakang pendidikan mereka. Parameter “sukses” yang kami gunakan di sini adalah pendiri dari perusahaan rintisan yang minimal sudah mendapatkan pendanaan seri-A. Dari hasil penelitian ini, kami mendapatkan 3 temuan menarik mengenai latar belakang pendidikan para pendiri perusahaan rintisan sukses di Indonesia. ITB Menjadi Universitas Pencetak Pendiri Sukses Terbanyak Dari 100 orang lebih pendiri yang kami analisa, 14 orang pernah mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung. Para pendiri Bukalapak, seperti Achmad Zaky, Nugroho Herucahyono dan Muhamad Fajrin Rasyid sama-sama berasal dari Institut Teknologi Bandung. Selain itu ada juga COO dari Kudo yang telah diakuisisi Grab Agung Nugroho, CEO Snapcart Raynazran Royono, Co-Founder Fabelio Marshal Tegar Utoyo dan masih banyak lagi. Bina Nusantara dan Harvard sama-sama berada di posisi ke dua. Kedua universitas ini mencetak 8 pendiri sukses. Beberapa orang yang berasal dari Bina Nusantara adalah pendiri dan juga CEO dari Tokopedia William Tanuwijaya, CEO dari Qlapa Benny Fajarai, CEO dari Tripvisto Benardus Sumartok. Sedangkan dari Harvard ada CEO Gojek Nadiem Makarim, CEO Traveloka Ferry Unardi, para co-founders Modalku, Raynold Wijaya dan Kelvin Teo dan masih ada yang lainnya. Menempati posisi ke tiga ada Universitas Purdue yang berhasil mencetak 7 pendiri sukses. Beberapa diantaranya adalah CEO dari Ruang Guru Adamas Syah Devara yang juga pernah mengenyam pendidikan di Harvard, CEO Berrybenka Jason Lamuda dan juga CEO Sribu Ryan Gondokusumo. Diposisi ke empat ada Stanford yang sukses mencetak 5 orang pendiri sukses seperti, CTO Traveloka Derianto Kusuma dan Co-Founder Cermati Oby Sumampouw. Terakhir ada Universitas Indonesia yang berhasil mencetak 4 orang pendiri sukses, beberapa diantaranya adalah CTO Tiket.com Natali Ardianto, Chief of Product Ruang Guru Iman Usman dan juga CEO Hijup Diajeng Lestari. Selain 6 universitas diatas, ada juga beberapa universitas di Indonesia lain yang berhasil mencetak pendiri sukses seperti Universitas Taruma...

Read More