Fotografer David Dubnitskiy Eksploitasi Keindahan Tubuh Wanita
Mar25

Fotografer David Dubnitskiy Eksploitasi Keindahan Tubuh Wanita

David Dubnitskiy adalah seorang fotografer asal Ukraina yang gemar mengekplorasi foto mengenai keindahan tubuh wanita. Hampir dari seluruh karya fotografinya berupa foto wanita setengah telanjang ataupun sama sekali tidak mengenakan busana. Meskipun saat ini sudah banyak nude photographer di dunia, namun karya-karya dari David sedikit berbeda karena menggunakan framing kehidupan sehari-hari. Hingga saat ini fotografer lepas yang satu ini sudah memiliki lebih dari 40.000 follower di akun 500px...

Read More
Australia Barat Kembali dengan Fremantle International  Street Arts Festival 2017
Mar24

Australia Barat Kembali dengan Fremantle International Street Arts Festival 2017

Australia Barat sebagai negara bagian terbesar di benua Australia kembali menghadirkan Fremantle International Street Arts Festival. Festival yang memasuki tahun ketujuhnya di 2017 ini merupakan festival street art terbesar dan terbaik di Australia yang akan diselenggarakan mulai tanggal 13 hingga 17 April 2017. Sederet nama besar dengan beragam pertujukan memukau memenuhi jalan-jalan di Fremantle yang memang telah bertransformasi layaknya sebuah panggung pertunjukan terbuka. Beragam atraksi seni mulai dari musik, street theatre, komedi, sirkus, hingga beragam teknologi seni terbaru akan hadir dan siap memukau para wisatawan. Tak hanya itu, sepanjang akhir pekan yang meriah ini pun para wisatawan juga dapat menikmati beragam pop-up bar juga sajian makanan-makanan unik dan dan lezat yang akan memanjakan mata dan lidah para wisatawan. Fremantle sebagai “Kota Hipster” di Australia Barat yang telah masuk menjadi salah satu dari “Top 10 Cities of 2016” oleh Lonely Planet memang merupakan pelabuhan bagi ibukota Australia Barat, Perth. Fremantle atau yang biasa disebut dengan Freo yang telah mengalami banyak transformasi hingga saat ini memang lebih dikenal dengan musik dan seni, beragam kafe dan bar, bangunan historis hingga penduduk lokal yang unik dengan gaya ekletik dan sangat ramah. Dan hal ini yang menjadikan Fremantle sebagai destinasi bagi siapa pun yang ingin menikmati sebuah pengalaman liburan baru  dimana menggabungkan antara suasana kota yang santai dengan beragam elemen hiburan menarik mulai dari kuliner hingga wisata pantai. Cukup dengan menaiki kereta di jalur Fremantle dari Stasiun Perth atau sekitar 25 menit perjalanan dengan menyetir dari pusat kota Perth para wisatawan sudah bisa berjumpa dengan “Cappuccino Strip” yang tersohor di sekitar South Terrace atau Bannister Street. Menikmati fish and chips dengan olahan ikan segar langsung dari Fishing Boat Harbour, Cicerellos dan Kailis menjadi dua rekomendasi bagi para wisatawan yang berkunjung. Tidak ketinggalan, menjelajah beragam museum dan galeri seperti Moores Building Contemporary Art Gallery hingga mengunjungi Western Australia Maritime Museum bisa menjadi beberapa aktivitas yang bisa dilakukan selama perjalanan ke Fremantle, Australia...

Read More
Peluncuran dan Bedah Buku Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya
Mar24

Peluncuran dan Bedah Buku Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya

Setelah beredar sejak 12 Maret 2017 lalu, buku Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya yang ditulis oleh Aris Setyawan akan resmi diluncurkan lewat sebuah acara bedah buku. Buku setebal 302 halaman ini diterbitkan oleh penerbit Warning Books yang bekerjasama dengan penerbit Tan Kinira. Acara peluncuran dan bedah buku Pias akan diadakan pada Senin, 27 Maret 2017 di Yogyatorium Dagadu, Yogyakarta. Acara ini akan memadukan bedah buku dan penampilan musik. Untuk sesi bedah buku akan menghadirkan 3 pembicara: Aris Setyawan (Penulis Pias), Erie Setiawan (Penulis, Musikolog, direktur Art Music Today), dan Dewi Kharisma Michellia (Penulis Elegi dan Surat Panjang, Mahasiswi STF Driyarkara). Diskusi akan dimoderatori oleh Titah AW (editor WARN!NGMAGZ). Sedang untuk sesi musik, panggung Pias akan dimeriahkan oleh penampilan dari Fajar Merah dan Kopibasi. Keduanya merupakan musisi yang akrab dengan dunia perbukuan. Berisi 44 tulisan, Pias merupakan buku pertama karya Aris Setyawan. Sesuai dengan peran Aris yang bergerak di berbagai bidang: etnomusikolog; pimpinan redaksi media seni dan budaya Serunai.co, serta penabuh drum band Aurette and The Polska Seeking Carnival, tulisan-tulisan Aris dalam Pias pun membahas banyak bidang dan tidak terlalu spesifik membahas satu tema tertentu. Aris membicarakan musik, seni rupa, film, sastra, buku, aktivisme, hingga fenomena sosial semacam para tukang yang mengobrol sembari ngaso di warung makan kaki lima. Benang merah dari semua tulisan ini adalah seni dan budaya. Tidak sesempit pemahaman seni dan budaya di galeri atau panggung pertunjukan tentunya. Alih-alih, Aris selalu memaknai seni dan budaya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Seni dan budaya berkelindan erat dengan manusia dan kemanusiaan. Maka, obrolan di angkringan sekalipun adalah budaya. Untuk saat ini, Pias bisa didapatkan melalui penerbit Warning Book (Perum Aph Seturan Baru A19, Yogyakarta). Atau untuk yang di luar Yogyakarta dapat memesan ke nomor 082135249330. Dalam waktu dekat, Pias juga segera tersedia di toko-toko buku. Acara peluncuran Pias tanggal 27 Maret nanti gratis dan terbuka untuk...

Read More
Catatan Untuk Pameran BLOOM IN DIVERSITY
Mar21

Catatan Untuk Pameran BLOOM IN DIVERSITY

Penulis: Rain Rosidi, Hakim Faizal & Cindy Poh Pameran Seni Rupa kolaborasi antara Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta (FSR ISI Yogyakarta) dan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) pertama kali diselenggarakan pada tahun 2014 dengan judul “Equal Liberium” yang dilaksanakan di kota Bandung. Pameran kolaborasi dua institusi seni ini kembali akan diadakan pada tanggal 25 Maret 2017 dengan mengambil tempat di Bale Banjar Sangkring Art Space Yogyakarta. Pameran kali ini mengambil judul “BLOOM IN DIVERSITY”, sebuah tema yang diharapkan melampaui pembahasan mengenai relasi kedua institusi. Tema ini berangkat dari situasi keberagaman bangsa Indonesia secara luas yang memiliki sejarah panjang dalam mengelola kemajemukan. “BLOOM IN DIVERSITY” dalam bahasa Indonesia kurang lebih bermakna “Mekar dalam Keberagaman”. Diversity dalam konteks ini adalah suatu kondisi yang memiliki atau terdiri dari berbagai elemen yang berbeda. Mekar dalam perbedaan adalah harapan agar perbedaan itu dapat secara organik menumbuhkan kemampuan warga bangsa ini dalam mengelola dan belajar demokrasi secara terus menerus. Menjadi berbeda adalah memahami bahwa keberadaan masing-masing identitas itu ada karena adanya identitas yang lain. “Bloom in Diversity” ingin menyajikan masing-masing identitas itu bersanding dengan identitas yang lain secara bersama. Pengertian identitas pun dipahami bukan sesuatu yang statis, namun dinamis, negosiatif, dan partikular. Dalam pemahaman seperti itu, maka identitas menjadi hal yang selalu tumbuh dalam keberagaman; Bloom in Diversity. Situasi global hari ini memberikan tempat pada keragaman justru melalui lanskapnya yang memiliki kanal-kanal instrumen yang sama. Dalam ranah seni rupa kontemporer, kanal-kanal itu antara lain institusi pendidikan, acara-acara seni rupa seperti biennale dan semacamnya, galeri seni, museum, media, pasar, dan para pelakunya. Pendidikan seni rupa yang mengadopsi banyak pola pendidikan sejenis di dunia global, pada satu sisi memberi perhatian yang lebih pada perkembangan seni modern dari barat, tetapi di sisi lain memberikan peluang bagi tampilnya ragam identitas yang dijalani para mahasiswa. Wacana seni kontemporer hari ini pun memberi perhatian pada perkembangan seni yang tidak tunggal, dan membuka peluang bagi munculnya praktik seni di luar arus sejarah utama sebelumnya yang terlalu mengacu ke barat. Peluang ini memungkinkan untuk menampilkan banyak identitas lain di luar arus utama yang selama ini menjadi perhatian. Pada pameran ini, nampak bahwa para mahasiswa seni sudah melampaui perbincangan yang sebelumnya mengenai persoapan di dalam seni itu sendiri. Mereka dengan fasih menggunakan bermacam media seni sesuai dengan minat dan gagasannya, seperti fotografi, video, patung, instalasi, lukisan, grafis, kriya, dan sebagainya. Pilihan menggunakan bermacam media itu mereka gunakan untuk menampilkan ragam identitasnya, dalam situasi makin terbukanya sumber pengetahuan dan jaringan seni hari ini. Setidaknya ragam karya yang tampil dalam pameran ini dapat menjadi salah satu gambaran dari praktik anak muda yang selalu bertumbuh dan berkembang dalam mempraktikan demokrasi sehari...

Read More
Mengawali Biennale Jogja XIV Equator #4 dengan Pameran Pra Biennale
Mar21

Mengawali Biennale Jogja XIV Equator #4 dengan Pameran Pra Biennale

Berbeda dengan rangkaian Biennale Jogja sebelumnya, kali ini Biennale Jogja XIV Equator #4 mengawali kegiatannya dengan menyelenggarakan pameran Pra Biennale guna mengumumkan nama-nama perupa Indonesia yang terpilih kepada publik, serta memberikan materi perkenalan berkaitan dengan Brasil sebagai negara mitra pilihan Biennale Jogja kali ini. Pembukaan pameran Pra Biennale Jogja XIV Equator #4 dimulai pada tanggal 20 Maret 2017 di gedung PKKH UGM. Dalam pembukaan pameran Pra Biennale XIV Equator #4 juga diumumkan nama-nama seniman Indonesia peserta Biennale Jogja XIV Equator #4, peluncuran laman resmi Biennale Jogja XIV #4, peluncuran logo dan merchandise Biennale Jogja XIV Equator #4. Dalam pameran Pra Biennale XIV Equator #4 yang bertemakan #IndonesiaMeetBrazil ini terdapat sekitar 27 karya seniman lokal yang tampilkan, dan pameran akan berlangsung selama 6 hari kedepan dan bisa dikunjungi mulai pukul 10.00 sd 20.00 WIB setiap...

Read More
Tonner Doll Company Ciptakan Boneka Transgender
Mar12

Tonner Doll Company Ciptakan Boneka Transgender

Ribuan cuitan tentang produk Tonner Doll Company itu telah diposting sejak diumumkan bahwa boneka itu akan diluncurkan dalam pekan mainan New York Toy Fair 2017. Boneka tersebut dibuat berdasarkan pada sosok pegiat remaja yang lahir sebagai anak laki-laki, tetapi hidup sebagai perempuan, Jazz Jennings, yang menghebohkan karena pada usia enam tahun dia diwawancarai tentang disforia gender yang dialaminya dengan presenter TV terkenal AS, Barbara Walters satu dekade lalu saat Jazz berusia 16 tahun. Dalam halaman Facebook-nya Jazz mengatakan “Saya ditentukan sebagai laki-laki saat lahir, tetapi sejak awal saya sebetulnya seorang perempuan. Saya menunjukkan diri saya sebagai seorang perempuan kepada keluarga saya dengan ketertarikan terhadap boneka, gaun, pernak-pernik, dan segala sesuatu yang feminin. Saya tidak sekadar senang pada benda-benda yang identik dengan perempuan, namun saya juga sangat bersikeras menegaskan bahwa saya adalah seorang perempuan.” Pertanyaan banyak orang di media sosial adalah: apa sebenarnya yang membuat suatu boneka adalah transgender? Dalam satu posting, pembuat boneka itu menjelaskan bagaimana boneka itu dimiripkan dengan Jazz Jennings, tetapi tidak memiliki alat kelamin. Adapun reaksi Jazz atas boneka itu: “Saya menyukainya. Sebagian dari dana jatah saya akan disumbangkan untuk membantu anak muda transgender yang kesulitan. “Saya berharap hal ini dapat membantu orang-orang transgender mendapat perhatian positif dengan menunjukkan bahwa kita sama saja seperti semua orang lain.” “Tentu saja boneka itu hanya sekadar boneka perempuan biasa, karena persis seperti itulah adanya saya: seorang perempuan biasa.” tegas...

Read More