Eksploitasi Indentitas Kulit Hitam dalam Karya Lukisan Kerry James Marshall
Aug27

Eksploitasi Indentitas Kulit Hitam dalam Karya Lukisan Kerry James Marshall

Seniman Kerry James Marshall menggambarkan situasi rasisme etnis kulit hitam di Amerika Serikat pada tahun 60an hingga saat ini dalam salah satu karya terbarunya. Lahir di Alabama pada tahun 1955, seniman ini bermigrasi ke Los Angeles dimana pada saat itu terjadi pemberontakan etnis kulit hitam dalam kampanye bertajuk Black Panther movement pada tahun 1965, dimana ini adalah salah satu partai politik kulit hitam pertama di Amerika Serikat dan berisikan kaum pemberontak bersenjata. Karya yang berupa kolase, lukisan, fotografi dan video ini menampilkan subjek “berwarna hitam” sebagai pusat perhatian penikmat karyanya dan menjadi bentuk representasi dari seni...

Read More
Untuk Pertama Kalinya Karya Lukisan Kurt Cobain Dipamerkan di Seattle
Aug27

Untuk Pertama Kalinya Karya Lukisan Kurt Cobain Dipamerkan di Seattle

Ada yang berbeda di Seattle Art Fair tahun ini yang digelar pada 3-6 Agustus yang lalu. Pada pameran seni rupa ini turut ditampilkan karya-karya dari tokoh ikonik Seattle, Kurt Cobain. Cobain yang juga merupakan motor dibalik band grunge Nirvana ini selain menulis lirik juga gemar membuat gambar-gambar dan lukisan abstrak yang merupakan pencerminan dari pemikirannya absurd nya. Salah satu lukisan Cobain yang cukup ikonik adalah sosok tubuh yang kurus keris, bunga berwarna merah dan juga sesok bayi dengan kepalanya yang telah rusak, dimana lukisan ini juga menjadi cover album Nirvana ‘Incesticide’ yang dirilis pada tahun 1992...

Read More
Konser Kontemporer Michael Asmara dan Patrick Gunawan Hartono di Salihara
Aug24

Konser Kontemporer Michael Asmara dan Patrick Gunawan Hartono di Salihara

Konser Kontemporer merupakan pertunjukan musik dua komposer kontemporer Indonesia mutakhir. Komunitas Salihara akan menampilkan Michael Asmara (Indonesia) dan Patrick Gunawan Hartono (Indonesia-London). Michael Asmara akan membawakan delapan repertoar terbaiknya yang ditulis sejak 1997 sampai 2017. Dengan konsep mini orkestra, ada karya-karya yang dimainkan dengan teknik permutasi, disusun secara improvariasi dan pelbagai teknik lainnya. Ada pula penampilan duet antar instumen musik, misalnya violin dan elektronik. Dalam kesempatan ini, Michael Asmara akan berkolaborasi dengan Nadya Janitra (Indonesia) dan Song Hong Chamber Music (Vietnam). Adapun Patrick Gunawan Hartono akan menampilkan repertoar berjudul Unity yang mengkombinasikan media audio dan visual. Dalam penggarapannya, Unity tercipta berdasarkan pengalaman komposer ketika berada selama sepuluh tahun di dua dimensi budaya, yaitu Indonesia dan Eropa. Michael Asmara dan Patrick Gunawan Hartono adalah dua komposer kontemporer garda depan Indonesia. Michael Asmara dikenal sebagai komposer yang menggabungkan falsafah musik timur dan idiom musik barat. Sementara itu Patrick Gunawan Hartono dikenal dunia sebagai komposer elektronik dan elektroakustik....

Read More
Menuju Festival Arsip IVAA: Peluncuran Buku “JEJAK, Seni dan Pernak Pernik Dunia Nyata”
Aug04

Menuju Festival Arsip IVAA: Peluncuran Buku “JEJAK, Seni dan Pernak Pernik Dunia Nyata”

Pengalaman bangsa Indonesia dengan sejarahnya telah menunjukkan bahwa sejarah tidak pernah lepas dari kepentingan kekuasaan. Hal itu juga berlaku dalam penyusunan sejarah seni rupa. Membicarakan sejarah berarti sambil mempertanyakan versi. Dari situlah, kerja pengarsipan menemukan urgensinya. Dan Indonesian Visual Art Archive (IVAA) sebagai lembaga yang sudah bergerak selama 22 tahun di bidang pengarsipan seni rupa merasa perlu untuk memantik kegairahan publik terhadap kerja pengarsipan. Untuk memancing kegairahan publik pada kerja pengarsipan ini, IVAA menggagas Festival Arsip (Fest!Sip) IVAA. Sebuah acara perayaan kehidupan atas budaya arsip yang selama ini hidup di antara kita, dalam berbagai lini dan skala. Fest!Sip mengajak publik untuk melihat dan berkaca kembali pada sejarahnya, terutama sejarah seni visual di Indonesia dan kaitannya dengan dinamika zaman yang terus-menerus bergerak. Format festival sendiri dipilih untuk memaksimalkan daya dalam memantik gairah publik. Upaya yang kemudian diwujudkan menjadi salah satu kegiatan Festival Arsip adalah Lokakarya Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa. Lokakarya digelar sejak bulan Mei-Juni 2017 di rumah IVAA. Peserta diberi materi-materi seperti sejarah seni rupa Indonesia, dinamika praktik pengarsipan seni budaya di Indonesia, digital humanities , serta metodologi penelitian dan pengarsipan seni. Tujuan dari lokakarya sendiri yaitu mengajak para peserta belajar melakukan eksplorasi, analisis, dan penelitian di bidang seni budaya dengan menggunakan arsip.  Proses pembelajaran peserta selama 2 bulan menghasilkan 11 esai yang kemudian dikemas dalam satu buku berjudul “Jejak: Seni dan Pernak Pernik Dunia Nyata”. Peserta yang terpilih berangkat dari profesi dan latar belakang pendidikan yang bervariasi. Sehingga ide serta gagasan yang mereka miliki terkait seni rupa menghasilkan esai dengan beragam tema, yaitu: Analisis Kerja Kreatif Zaenal Arifin dalam Lukisan “Realis Surealis” (Evan Sapentri) Kinetik Seni, Teknologi, dan Mekanik (Rio Raharjo) MATA Ullen Sentalu, Ruang dalam Sebuah Poros (Annisa Rachmatika Sari) Medan Seni Kartunis, Pakyo! (Muhammad Irvan) Menyoal Sensor Film, di Antara Swasensor dan Teror (Hardiwan Prayogo) Menyimak Praktik Ruang Seni Alternatif di Manado (David Ganap) Pertumbuhan dan Pergeseran Praktik Residensi di Jogja (Arga Aditya) Reproduksi Identitas Komunitas Seni Sakato Sebagai Kelompok Seniman Berbasis Etnis di Yogyakarta (Alwan Brilian Dewanta) S. Sudjojono dan Internasionalisme (Aam Endah Handoko) Seni Instalasi: Pernak-Pernik Dunia Nyata (Sadida Inani) Seni yang Memunggungi Orang Miskin (Isma Swastiningrum) Menariknya, ide dan gagasan ini sangat dekat dengan kehidupan masing-masing individu, dan secara tidak langsung menunjukkan subjektifitas dunia nyata dalam perspektif mereka. Sumber arsip yang dipakai pun bermacam-macam. Tak hanya dari buku dan wawancara, tetapi juga katalog pameran, kliping seni, dan web online tentang seni yang belum banyak dimanfaatkan. Bertempat di Rumah IVAA pada hari Jumat, 11 Agustus 2017, launching dan bedah buku JEJAK: Seni dan Pernak Pernik Dunia Nyata mengundang dua pembicara. Yakni, Fairuzul Mumtaz yang bertindak sebagai editor buku sekaligus mentor yang membimbing peserta dalam penulisan. Kemudian...

Read More
Sambut #KaryaKe10Andrea, Bentang Pustaka Bagikan Paket Buku Andrea Hirata ke 15 Pelosok Nusantara
Aug02

Sambut #KaryaKe10Andrea, Bentang Pustaka Bagikan Paket Buku Andrea Hirata ke 15 Pelosok Nusantara

Andrea Hirata adalah seorang penulis yang dikenal melalui novel Laskar Pelangi. Novel pertamanya yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka tersebut mengangkat cerita inspiratif dari anak-anak pedalaman Pulau Belitung yang giat belajar walaupun dihadapkan pada kondisi yang serba terbatas. Kisah ini berhasil menjadi buah bibir hingga berhasil tercatat sebagai novel mega best seller yang telah naik cetak sebanyak 37 kali dan diterjemahkan ke dalam 40 bahasa asing. Berniat meresonansikan nilai-nilai inspiratif dalam Laskar Pelangi serta 8 karya Andrea Hirata yang lain, Bentang Pustaka menyelenggarakan program bertajuk #EkspedisiKaryaAndrea. Bentang Pustaka membagikan karya Andrea Hirata ke 15 daerah di seluruh pelosok Indonesia. Adapun daerah yang menjadi jujukan #EkspedisiKaryaAndrea adalah Supiori (Prov. Papua), Waisai (Prov. Papua Barat), Kei Kecil & Haruku (Prov. Maluku), Sangihe (Prov. Sulawesi Utara), Tomia (Prov. Sulawesi Tenggara), Ende (Nusa Tenggara Timur), Sebatik (Kalimatan Utara), Baso (Prov. Sumatera Barat), Natuna & Anambas (Prov. Kepulauan Riau), Kimak, Arung Dalam & Tanjung Tinggi (Prov. Bangka Belitung), serta Sabang (Prov. Aceh). #EkspedisiKaryaAndrea berhasil terwujud atas kerja sama Bentang Pustaka dengan 15 tim KKN PPM Universitas Gadjah Mada. Kesamaan tujuan, yaitu untuk menggalakkan program literasi di daerah-daerah terdalam dan terluarIndonesia, membuat Bentang Pustaka berkolaborasi dengan mahasiswa-mahasiswa dari 15 tim KKN PPM UGM. Novel-novel Andrea Hirata tersebut menjadi bahan bacaan untuk program-program bertema literasi serta melengkapi koleksi perpustakaan setempat. Selain itu, Bentang Pustaka turut memberikan bantuan berupa paket buku senilai Rp 2.500.000 untuk Tim KKN UGM Arung Dalam Provinsi Bangka Belitung serta dan Tim KKN UGM Sebatik Provinsi Kalimantan Utara serta paket buku senilai Rp 500.000 untuk Tim KKN UGM Natuna Provinsi Kepulauan Riau dan Tim KKN UGM Supiori Provinsi Papua. Program ini diselenggarakan dalam rangka menanti #KaryaKe10Andrea yang akan diterbitkan pada pertengahan Agustus mendatang. Menariknya, judul dan sinopsis karya terbaru Andrea Hirata tersebut akan dirahasiakan sampai dengan hari peluncuran buku...

Read More
Nick Drake: Jari Lincah Muncul Kembali
Jul20

Nick Drake: Jari Lincah Muncul Kembali

Folk sedang seksi. Di radio arus utama folk semacam Fourtwnty atau Payung Teduh terus diminta. Panggung-panggung kampus dijajal nama-nama semacam Deu Galih, Sisir Tanah, Oscar Lolang, Silampukau, dan berderet-deret lainnya. Bob Dylan, begawan folk itu, tahun lalu dapat nobel sastra. Lantas, folk mana lagi yang engkau dustakan? Folk semacam Nick Drake! Lengkaplah dia didustakan. Semasa hidupnya albumnya tidak cukup laku, padahal masa berkiprahnya sewaktu dengan zaman seksinya folk Inggris tahun ‘60-an. Namanya tenggelam, dan dengan demikian tenggelam juga lagu-lagu dengan petikan jari yang lincah dan suara tebal nan lirihnya, padahal ksatria bergitar akustik semacam Cat Stevens dan Richard Thompson sedang melejit. Matinya bunuh diri dalam keadaan depresi dan terabaikan. Citra itulah yang kemudian melekat padanya, padahal citranya di hadapan orang-orang BBC pernah lebih bagus daripada David Bowie! Tahun ‘90-an seorang spesialis biografi musisi, Patrick Humphries, menerbitkan buku biografi Nick Drake. Musisi yang mati bunuh diri dan depresi biasanya jatuh jadi mitos. Humphries berusaha menguak mitos itu dengan menjelajahi situasi belantika musik dan situasi sosial politik Inggris pada tahun ’60-an. Situasi industri musik yang membuat namanya masyhur setelah kematiannya tak ketinggalan. Dia juga mengusut sistem pendidikan sekolah swasta Inggris dan kecenderungan-kecenderungan keluarga Inggris yang pernah merasakan zaman invasi Inggris. Semua itu dia telusuri untuk menjelaskan kegagalan Nick Drake dalam karirnya dan faktor-faktor penyebab depresinya. Terkuaklah wajah lain Nick Drake yang lebih manusiawi. Dengan demikian, buku Nick Drake: sebuah biografi itu tidak hanya memberikan gambaran tentang sosok musisi malang itu, tetapi juga tentang cara kerja belantika musik dan pengaruh sosial politik yang melingkupinya. Barangsiapa ingin atau sedang berkiprah di bidang musik bisa menjadikan buku ini sebagai pembanding untuk membaca keadaan belantika musik masa kini. Barangsiapa suka musik akan mendapatkan kisah tentang seorang jenius folk yang tidak hanya mengilhami kancah folk, tetapi musisi-musisi genre lain, seperti Robert Smith The Cure dan vokalis Television, bahkan di-cover musisi semacam Elton John. Penerbit Yayasan Jungkir Balik Pustaka Indonesia bersepakat dengan Bloomsbury Publishing Plc untuk menerbitkan Nick Drake: sebuah biografi karya Patrick Humphries (ISBN 978-602-61744-0-6) pada bulan Juli 2017, lalu diikuti oleh tur buku ke beberapa kota di Indonesia. Yes, Nick Nick Nick Drake is on its way… Jadwal Tur Buku Nick Drake: sebuah biografi Jakarta: 22 Juli 2017 di WR Store Yogyakarta: 28 Juli 2017 di Survive Garage Malang: 3 Agustus 2017 di Poharin Art Space Malang: 5 Agustus 2017 di Kafe Pustaka (Perpus Pusat UM) Surabaya: 6 Agustus 2017 di C2O Library & Collabtive Malang: 10 Agustus 2017 di Semeru Art...

Read More