Bertiga, Pameran Seni Rupa Seputar Problematika Kehidupan Sehari-Hari
Nov20

Bertiga, Pameran Seni Rupa Seputar Problematika Kehidupan Sehari-Hari

Pameran BERTIGA adalah sebuah pameran yang menampilkan karya-karya lukisan serta gambar-gambar ilustrasi dan komik yang digagas oleh 3 orang perupa dari Jurusan Seni Murni Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Yakni, Pery Anwar S, Putut Pramudikho dan juga Rizki Chino. Tidak ada tema besar atau yang diusung dari pameran ini. Dalam pameran ini, para perupa di bebaskan untuk menampilkan karya-karyanya yang di buat dalam kurun waktu tahun 2013-2017. Meskipun tidak ada tema besar atau khusus yang diangkat dalam pameran ini, namun tetap ketiga perupa ini memiliki satu kesamaan dalam kekaryaannya yang mampu membuat benang merah dalam karya-karya mereka bertiga. Mereka bertiga sama-sama memiliki corak kekaryaan yang ilustratif dan komikal. Seperti halnya Putut Pramudikho yang memang fokus membuat karya-karya komik dari tahun 2011 hingga sekarang. Selain itu, Rizki Chino dan juga Pery Anwar S menampilkan lukisan-lukisan bergaya Pop Surealisme yang cenderung ilustratif dan komikal. Putut Pramudikho dalam pameran ini menampilkan karya-karya komik dan ilustrasi yang bertemakan mengenai persoalan asmara yang sangat rumit dalam kehidupan anak muda pada zaman sekarang. Dari mulai patah hati, rindu yang menggebu dan juga perjuangan mendapatkan hati gadis pujaan. Tema ini cukup mewakilkan kondisi anak muda zaman sekarang yang mana para anak muda cenderung lebih cengeng karena masalah percintaan, namun Putut mencoba mengemas hal tersebut menjadi sesuatu yang menggelikan yang mampu mengundang tawa para apresiator yang membaca komik yang ia buat. Persoalan asmara juga diangkat oleh Rizki Chino dalam pameran ini, namun berbeda dengan Putut, Chino menampilkan tema-tema patah hati dan juga perasaan yang tersakiti oleh sebuah pengkhianatan dalam hubungan percintaan yang dialaminya. Hal tersebut di tampilkan oleh Chino dalam lukisan bergaya Pop Surealisme dengan karakter-karakter khasnya yang memiliki raut wajah murung yang menampilkan kesedihan atau kehilangan harapan. Berbeda dari Putut dan juga Chino, Pery Anwar S mencoba menggali ingatan-ingatannya ketika masa kecil yang hidup dan di besarkan di kawasan bantaran rel kereta api Stasiun Kiaracondong, Bandung. Pery banyak membicarakan mengenai kondisi realitas di kawasan bantaran rel kereta api Kiaracondong. Kondisi masyarakat yang hidup di pemukiman padat penduduk dimana areal tersebut bukan diperuntukkan sebagai pemukiman, namun areal yang seharusnya tidak di huni oleh warga karena areal tersebut sangat berbahaya dan mengancam nyawa yang tinggal di situ. Hal tersebut karena mampu menyebabkan tertabrak oleh kereta api yang sedang melintas. Banyak sekali yang di bicarakan oleh pery lewat karya-karya lukisannya. Mengenai bahaya tinggal di bantaran rel, warganya yang tidak peduli terhadap hukum, dan juga kondisi anak muda yang sering mengonsumsi minuman keras serta hal negatif lainnya. Dalam pameran ini, para apresiator disuguhkan tema-tema berbeda dan juga karakter-karakter yang memiliki kekhasan masing-masing dari setiap perupa. Putut Pramudikho yang merespon cerita-cerita asmara anak muda masa kini, Rizki Chino yang “curhat”...

Read More
JIWA: Jakarta Biennale 2017 Telah Dibuka
Nov09

JIWA: Jakarta Biennale 2017 Telah Dibuka

Yayasan Jakarta Biennale kembali menggelar ajang seni rupa  dua tahunan Jakarta Biennale. Bertema JIWA, perhelatan ini dibuka pada 4 November 2017  yang lalu dan akan berlangsung hingga 10 Desember 2017 di tiga lokasi berbeda. Lokasi utama adalah  Gudang Sarinah Ekosistem di Pancoran Jakarta Selatan, Museum Sejarah Jakarta (Fatahillah)  serta Museum Seni Rupa dan Keramik di Kota Tua, Jakarta Barat. JIWA: Jakarta Biennale 2017 menawarkan sebuah pendekatan yang berbeda bila  dibandingkan dengan empat edisi Jakarta Biennale sebelumnya – diselenggarakan sepanjang  kurun 2009 hingga 2015- yang mencoba menawarkan tema-tema tentang realitas  kontemporer dan gagasan tentang intervensi praktik artistik yang dapat ditawarkan oleh  para seniman untuk merespon berbagai isu dan persoalan urban di Jakarta. Jakarta Biennale kali ini memfokuskan pembahasan dan pendekatan karya para seniman  yang ditampilkan pada persoalan-persoalan tentang dorongan dasar manusia dan  mengamati berbagai hubungan yang bersifat majemuk yang menggerakkan berbagai rasa,  indera, serta wawasan. Di tengah keriuhan persoalan fanatisme, intoleransi, kegilaan akan  kekuasaan dan pertarungan ruang yang meruak beberapa waktu belakangan, membuat  tema tentang sesuatu yang esensial dalam hidup dianggap relevan dan penting diangkat. Sebagai sesuatu yang lazim dijadikan elemen pembentuk sebuah masyarakat, budaya  beserta produk-produk yang dihasilkannya bisa digunakan sebagai tolok ukur untuk  memahami semangat sebuah zaman.  “Melalui tolok ukur ini, kita bisa menilai kemajuan atau kemunduran sesuatu, baik itu  pemikiran, perilaku, dan bahkan budaya. Salah satu tujuan JIWA: Jakarta Biennale 2017  adalah untuk memeriksa kembali tolok ukur itu,” tutup Melati. Selain pameran seni visual, agenda kegiatan JIWA: Jakarta Biennale 2017 kali ini juga diisi  dengan serangkaian seri performans yang diselenggarakan setiap hari sejak 4 hingga 14  November 2017 di ketiga lokasi. Jason Lim dari Singapura akan menjadi seniman pertama  yang melakukan performans di instalasi tanah liat yang dibangunnya di Hall B Gudang  Sarinah Ekosistem. Beberapa orang Bissu dari Komunitas Bissu yang ada di Makassar juga  tampil dan menjadi performans yang menandai pembukaan JIWA: Jakarta Biennale 2017. Selain kedua performans itu, beberapa seniman lain juga turut ambil bagian dalam seri  performans tersebut. Mereka adalah Abdi Karya (Indonesia), Ali Al-Fatlawi dan Wtiq AlAmeri (Swiss), Nikhil Chopra (India), Pawel Althamer (Polandia), Eva Kot’akova (Republik  Ceko), Ratu Rizkitasari Saraswati (Indonesia), Alastair MacLennan (Inggris), Otty Widiasari  (Indonesia), Gabriella Golder (Argentina), PM Toh (Indonesia), Aliansyah Chaniago  (Indonesia), David Gheron Tretiakoff (Perancis), Darlene Litaay (Indonesia), Marintan Sirait  (Indonesia), dan Pinaree Sanpitak (Thailand). Di samping seri performans, JIWA: Jakarta  Biennale juga mengadakan sesi bincang-bincang dengan beberapa seniman pada 5  November 2017 di Gudang Sarinah Ekosistem serta simposium yang diadakan selama dua  hari pada 13 dan 14 November 2017 di Institut Français d’Indonésie (IFI) Jakarta. Melanjutkan kegiatan yang sudah dimulai sejak penyelenggaraan Jakarta Biennale 2015  silam, Yayasan Jakarta Biennale juga kembali menyertakan penerbitan buku referensi seni ...

Read More
Journey, Pameran Tunggal Foto Panggung Hendy Winartha Memotret Selama 10 Tahun
Oct28

Journey, Pameran Tunggal Foto Panggung Hendy Winartha Memotret Selama 10 Tahun

Konsisten menjadi seorang pekerja seni alias seniman tidaklah gampang. Butuh mental yang kuat jika harus melakoni profesi seniman selama bertahun-tahun, padahal pekerjaan yang berkaitan dengan seni biasanya dianggap belum tentu menjanjikan oleh sebagian orang, khususnya di Indonesia. Hendy Winartha adalah salah satunya. Seniman kepala tiga lebih asal Pontianak ini sudah menjadi fotografer selama satu dekade lebih di Yogyakarta. Kini dia memberanikan diri membesut pameran tunggal karya fotografinya. Adalah ‘Journey – A Solo Stage Photography Exhibition by Hendy Winarta a.k.a Fndkbl – Stage Photographer’, pameran karya-karya foto Hendy selama sepuluh tahun melakukan aktivitas memotretnya, terutama fotografi panggung pertunjukan musik atau foto konser, dan semacamnya. “Journey adalah sebuah perjalanan ‘spiritual’ saya mengabadikan aksi panggung dari musisi/band. Pameran ini menampilkan karya-karya foto panggung saya selama lebih dari satu dekade,” kata Hendy. Dalam pameran ini, Hendy dibantu oleh Kurniadi Widodo sebagai kurator. Ada pula teman-teman Jogja Stage (komunitas foto panggung Jogja) dan teman-teman fotografer di Kelas Pagi Yogyakarta (KPY). “Foto-foto akan yang akan dipamerkan besok ada beberapa yang paling berpengaruh dan berkesan dalam perjalanan memotret saya, di antaranya foto Captain Jack, di mana saya pernah menjadi fotografernya selama kurang lebih 10 tahun. Lalu ada foto-foto Got Me Blind, band pertama yang saya abadikan aksi panggungnya. Dan karena saya adalah Slanker sejak SMP, Slank juga sempat saya abadikan foto-fotonya tahun 2012,” ujar pria yang kerap disapa Kaboel itu. Pameran foto ‘Journey’ ini rencananya akan dibuka gratis di Kelas Pagi Yogyakarta (KPY) Creative Space selama lima hari, yakni 11 – 15  November 2017. Di situ Hendy akan memajang sekitar 150 karya fotonya sejak tahun 2006....

Read More
Membangkitkan Gairah Perfilman Lokal dalam Sewon Screening #3
Oct16

Membangkitkan Gairah Perfilman Lokal dalam Sewon Screening #3

Eksebisi film pendek yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Film & Televisi, Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini sudah memasuki tahun ketiganya. Eksebisi yang bertujuan menjadi wadah apresiasi dan berbegi referensi film pendek bagi mahasiswa, komunitas maupun penggiat film pendek di Indonesia. Eksebisi yang diselenggarakan tahun ini mengusung tema yang sama dengan tahun lalu yaitu “Angin Segar”. Tema itu dipilih karen amelihat perkembangan karya film pendek pasti akan mengalami perubahan, baik dari segi teknis, estetika, maupun unsur-unsur lainnya. Terlebih bagi mahasiswa jurusan Film dan Televisi Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang dalam proses pembelajarannya mengembangkan kompetensi di bidang audio visual, salah satunya berupa karya film yang segmentasi dan wilayah eksplorasi terbatas. Sewon Screening #3 sendiri diselenggarakan pada 30 Oktober – 4 November 2017, bertempat di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sewon Screening sendiri memiliki beberapa rangkaian berupa pra-acara; Layar Tancep yang diadakan di wilayah Sewon, Kelas Bunga Matahari atau kelas apresiasi kritik film dan acara utama yang berupa pemutaran film hasil kurasi, pemutaran film hasil kurasi, pemutaran film spesial, pemutaran film focus on, temu komunitas, dan diskusi alternatif Dengan adanya Sewon Screening diharapkan dunia perfilman dapat lebih baik lagi dan dikenal oleh masyarakat luas. Karena pada dasarnya dunia film bukan hanya milik production houseatau filmmakers semata, melainkan milik semua lapisan masyarakat yang meiliki ketertarikan dalam dunia perfilman....

Read More
Go Ahead Challenge Beri Nafas Baru untuk Kota Seniman
Oct16

Go Ahead Challenge Beri Nafas Baru untuk Kota Seniman

Yogyakarta yang dikenal dengan beragam komunitas kreatif di setiap sudut kotanya, kembali bergaung dengan hadirnya Go Ahead Challenge Festival 2017 (13/10). Bertempat di Lapangan Krida, para penggiat dan pecinta seni berkumpul untuk merayakan semangat berekspresi dan berkolaborasi di festival kreatif yang merupakan rangkaian kompetisi Go Ahead Challenge (GAC) 2017. Go Ahead Challenge (GAC) Festival yang berjalan di empat kota, dengan Yogyakarta sebagai kota kedua, kini turut mempersembahkan karya-karya dari semifinalis terbaik yang berasal dari wilayah Jawa. “Melalui dukungan dari Sampoerna A yang membawa Go Ahead Challenge Festival di empat kota berbeda, para pelaku kreatif kini memiliki ruang untuk berekspresi secara lebih luas dan belajar dari para seniman lain. Selain menghadirkan karya-karya inspiratif dari tokoh seni tanah air terkemuka, dan berbagai kolaborasi menarik antara emerging artist, komunitas kreatif, maupun para musisi lokal dan tanah air, GAC Festival juga merupakan ajang apresiasi untuk para semifinalis GAC 2017,” jelas Ade Darmawan, visual artist terkemuka yang merupakan salah satu kurator di ajang Go Ahead Challenge 2017. Sejumlah semifinalis terbaik yang memiliki talenta di bidang visual art, fotografi, musik, dan style, turut mempresentasikan karya mereka secara visual di ruang pamer bertajuk A Space. Mereka ditantang untuk dapat memamerkan karya-karya mereka yang sebelumnya telah didaftarkan melalui goaheadpeople.id, dengan lebih apik dan menarik. Salah satu semifinalis GAC 2017 bidang visual art asal Yogyakarta, Yahya Dwi Kurniawan, mengaku bangga dapat memamerkan karya nya untuk dapat dinikmati masyarakat secara luas. “Bisa lolos menjadi semifinalis di ajang GAC 2017 dan diapresiasi oleh Sampoerna A melalui GAC Festival ini merupakan suatu kebangaan bagi saya. Apalagi karya saya dapat dipamerkan bersama karya para seniman profesional tanah air. Tentunya hal ini sangat menginspirasi dan memacu saya untuk terus menantang diri dalam berkaya dan belajar dari tokoh-tokoh seni panutan,” jelas Yahya. Selain karya para semifinalis yang dipamerkan di A Space, terdapat pula karya-karya dari para tokoh seni terkemuka tanah air yang juga berperan sebagai kurator GAC 2017 yaitu Ade Darmawan, Anton Ismael, Ajeng Svastiari, dan Iga Massardi. Dengan mengangkat tema ‘Major Scale’ yang diambil dari istilah seni musik, karya-karya mereka terlihat harmonis mengisi ruang pamer dengan beragam medium dari bidang seni yang beragam. Selain itu, para pemenang GAC terdahulu juga terlibat dalam memeriahkan GAC Festival. Adapun Yogi Kusuma, pemenang GAC 2015 bidang fotografi, mengisi ruang arsip di dalam A Space dengan dokumentasi perjalanan GAC mulai tahun 2013 hingga 2016. Ia juga terlibat dalam merancang Festival Stage sebagai creative director, dengan mengajak jebolan GAC lainnya, yaitu Andre Yoga (finalis GAC 2015 bidang visual art), Dani Huda (finalis GAC 2015 bidang fotografi), dan Nara (finalis GAC 2015 bidang musik). Selain itu, Kurniawan ‘Iwe’ Ramadhan pemenang GAC 2016 bidang visual art turut menciptakan artwork yang menghiasi...

Read More
Ini Dia Daftar Pemenang Bandung Contemporary Art Awards 2017
Oct10

Ini Dia Daftar Pemenang Bandung Contemporary Art Awards 2017

Kompetisi Bandung Contemporary Art Awards (BaCAA) #5 mengumumkan 3 seniman terbaik pada tanggal 5 Oktober 2017 yang lalu. Bertempat di Lawangwangi Creative Space, malam penghargaan dilanjutkan dengan pembukaan pameran 15 finalis yang akan berlangsung hingga 5 November 2017. Malam penghargaan ini juga dimeriahkan oleh penampilan dari Rock N Roll Mafia dan Oscar Lolang. Kompetisi ini mengundang seluruh seniman di Indonesia di bawah umur 40 tahun. Sejak  proses open submission pada 20 Februari 2017 yang lalu, panitia telah menerima lebih dari 400 peserta yang kemudian diseleksi melalui beberapa tahap penjurian oleh kurator seni diantaranya Agung Hujatnikajennong, jurnalis seni Carla Bianpoen, kolektor seni dan Wiyu Wahono serta dua orang juri internasional, yaitu galeris asal LA, Susan Baik, galeris asal Kuala Lumpur Valentine Willie. Gelar 3 karya terbaik BaCAA#5 kali ini diraih oleh Deni Ramdani, Cynthia Delaney Suwito dan Etza Meisyara, dan Special Mention Award diraih oleh Ricky Janitra. Deni Ramdani meraih penghargaan berupa uang tunai sebesar Rp. 100.000.000 lewat karyanya 0o. Secara simbolis, 0o menceritakan kerusakan lingkungan yang terjadi di sebagian bentang alam Bandung utara. Deni menggantung kantung plastik besar berisi air dan ikan hias di atas gundukan tanah yang dibentuk menyerupai kontur tanah Bandung. Ia melubangi kantung plastik tersebut dengan jarum sehingga air sedikit demi sedikit menetes dan membasahi tanah di bawahnya. Perbandingan yang kontras antara kepelikan isu lingkungan dengan kesederhanaan tampilan 0o menjadikan karya ini layak untuk menjadi salah satu pemenang. Peraih penghargaan art trip ke pusat seni dunia, Cynthia Delaney Suwito, juga menghadirkan isu ekologi dalam lingkup yang lebih global lewat cara yang sederhana. Berangkat dari sebuah spekulasi bahwa dengan menahan napas maka kita dapat menyumbangkan oksigen bagi orang lain, Cynthia ingin mengajak pemirsa untuk memikirkan kembali betapa berharganya oksigen bagi kehidupan kita. Dengan pendekatan relasional, Cynthia mengajak pemirsa untuk menahan napas selama mungkin. Ia kemudian mencatat waktu tersebut, membaginya dengan angka 7.500.000.000 (perkiraan jumlah manusia di bumi), dan mendapatkan angka hasil akhirnya dalam satuan nanodetik. Catatan tersebut ia jejerkan sebagai bagian dari karya Holding Breath. Etza Meisyara dengan karyanya How Does It Feel? (To Be A Refugee) berhasil memenangkan kesempatan residensi di Centre Intermondes, La Rochelle, Perancis. Secara liris, Etza menuliskan sebuah komposisi musikal sebagai catatan akan percakapan-percakapannya dengan para pengungsi di Munich, Jerman. Pertemuan ini, baginya hanyalah sebagian kecil dari refleksi persoalan yang lebih besar mengenai mobilitas manusia di masa sekarang. Komposisi ini juga hadir dalam bentuk alat-alat makan yang dibentuk sebagai not balok pada lembaran besi, layaknya partitur raksasa. Bagi Etza, alat makan adalah simbol kehangatan dan kekeluargaan yang ia temukan dalam hubungan antar manusia....

Read More