Menuju Festival Arsip IVAA: Peluncuran Buku “JEJAK, Seni dan Pernak Pernik Dunia Nyata”
Aug04

Menuju Festival Arsip IVAA: Peluncuran Buku “JEJAK, Seni dan Pernak Pernik Dunia Nyata”

Pengalaman bangsa Indonesia dengan sejarahnya telah menunjukkan bahwa sejarah tidak pernah lepas dari kepentingan kekuasaan. Hal itu juga berlaku dalam penyusunan sejarah seni rupa. Membicarakan sejarah berarti sambil mempertanyakan versi. Dari situlah, kerja pengarsipan menemukan urgensinya. Dan Indonesian Visual Art Archive (IVAA) sebagai lembaga yang sudah bergerak selama 22 tahun di bidang pengarsipan seni rupa merasa perlu untuk memantik kegairahan publik terhadap kerja pengarsipan. Untuk memancing kegairahan publik pada kerja pengarsipan ini, IVAA menggagas Festival Arsip (Fest!Sip) IVAA. Sebuah acara perayaan kehidupan atas budaya arsip yang selama ini hidup di antara kita, dalam berbagai lini dan skala. Fest!Sip mengajak publik untuk melihat dan berkaca kembali pada sejarahnya, terutama sejarah seni visual di Indonesia dan kaitannya dengan dinamika zaman yang terus-menerus bergerak. Format festival sendiri dipilih untuk memaksimalkan daya dalam memantik gairah publik. Upaya yang kemudian diwujudkan menjadi salah satu kegiatan Festival Arsip adalah Lokakarya Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa. Lokakarya digelar sejak bulan Mei-Juni 2017 di rumah IVAA. Peserta diberi materi-materi seperti sejarah seni rupa Indonesia, dinamika praktik pengarsipan seni budaya di Indonesia, digital humanities , serta metodologi penelitian dan pengarsipan seni. Tujuan dari lokakarya sendiri yaitu mengajak para peserta belajar melakukan eksplorasi, analisis, dan penelitian di bidang seni budaya dengan menggunakan arsip.  Proses pembelajaran peserta selama 2 bulan menghasilkan 11 esai yang kemudian dikemas dalam satu buku berjudul “Jejak: Seni dan Pernak Pernik Dunia Nyata”. Peserta yang terpilih berangkat dari profesi dan latar belakang pendidikan yang bervariasi. Sehingga ide serta gagasan yang mereka miliki terkait seni rupa menghasilkan esai dengan beragam tema, yaitu: Analisis Kerja Kreatif Zaenal Arifin dalam Lukisan “Realis Surealis” (Evan Sapentri) Kinetik Seni, Teknologi, dan Mekanik (Rio Raharjo) MATA Ullen Sentalu, Ruang dalam Sebuah Poros (Annisa Rachmatika Sari) Medan Seni Kartunis, Pakyo! (Muhammad Irvan) Menyoal Sensor Film, di Antara Swasensor dan Teror (Hardiwan Prayogo) Menyimak Praktik Ruang Seni Alternatif di Manado (David Ganap) Pertumbuhan dan Pergeseran Praktik Residensi di Jogja (Arga Aditya) Reproduksi Identitas Komunitas Seni Sakato Sebagai Kelompok Seniman Berbasis Etnis di Yogyakarta (Alwan Brilian Dewanta) S. Sudjojono dan Internasionalisme (Aam Endah Handoko) Seni Instalasi: Pernak-Pernik Dunia Nyata (Sadida Inani) Seni yang Memunggungi Orang Miskin (Isma Swastiningrum) Menariknya, ide dan gagasan ini sangat dekat dengan kehidupan masing-masing individu, dan secara tidak langsung menunjukkan subjektifitas dunia nyata dalam perspektif mereka. Sumber arsip yang dipakai pun bermacam-macam. Tak hanya dari buku dan wawancara, tetapi juga katalog pameran, kliping seni, dan web online tentang seni yang belum banyak dimanfaatkan. Bertempat di Rumah IVAA pada hari Jumat, 11 Agustus 2017, launching dan bedah buku JEJAK: Seni dan Pernak Pernik Dunia Nyata mengundang dua pembicara. Yakni, Fairuzul Mumtaz yang bertindak sebagai editor buku sekaligus mentor yang membimbing peserta dalam penulisan. Kemudian...

Read More
Sambut #KaryaKe10Andrea, Bentang Pustaka Bagikan Paket Buku Andrea Hirata ke 15 Pelosok Nusantara
Aug02

Sambut #KaryaKe10Andrea, Bentang Pustaka Bagikan Paket Buku Andrea Hirata ke 15 Pelosok Nusantara

Andrea Hirata adalah seorang penulis yang dikenal melalui novel Laskar Pelangi. Novel pertamanya yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka tersebut mengangkat cerita inspiratif dari anak-anak pedalaman Pulau Belitung yang giat belajar walaupun dihadapkan pada kondisi yang serba terbatas. Kisah ini berhasil menjadi buah bibir hingga berhasil tercatat sebagai novel mega best seller yang telah naik cetak sebanyak 37 kali dan diterjemahkan ke dalam 40 bahasa asing. Berniat meresonansikan nilai-nilai inspiratif dalam Laskar Pelangi serta 8 karya Andrea Hirata yang lain, Bentang Pustaka menyelenggarakan program bertajuk #EkspedisiKaryaAndrea. Bentang Pustaka membagikan karya Andrea Hirata ke 15 daerah di seluruh pelosok Indonesia. Adapun daerah yang menjadi jujukan #EkspedisiKaryaAndrea adalah Supiori (Prov. Papua), Waisai (Prov. Papua Barat), Kei Kecil & Haruku (Prov. Maluku), Sangihe (Prov. Sulawesi Utara), Tomia (Prov. Sulawesi Tenggara), Ende (Nusa Tenggara Timur), Sebatik (Kalimatan Utara), Baso (Prov. Sumatera Barat), Natuna & Anambas (Prov. Kepulauan Riau), Kimak, Arung Dalam & Tanjung Tinggi (Prov. Bangka Belitung), serta Sabang (Prov. Aceh). #EkspedisiKaryaAndrea berhasil terwujud atas kerja sama Bentang Pustaka dengan 15 tim KKN PPM Universitas Gadjah Mada. Kesamaan tujuan, yaitu untuk menggalakkan program literasi di daerah-daerah terdalam dan terluarIndonesia, membuat Bentang Pustaka berkolaborasi dengan mahasiswa-mahasiswa dari 15 tim KKN PPM UGM. Novel-novel Andrea Hirata tersebut menjadi bahan bacaan untuk program-program bertema literasi serta melengkapi koleksi perpustakaan setempat. Selain itu, Bentang Pustaka turut memberikan bantuan berupa paket buku senilai Rp 2.500.000 untuk Tim KKN UGM Arung Dalam Provinsi Bangka Belitung serta dan Tim KKN UGM Sebatik Provinsi Kalimantan Utara serta paket buku senilai Rp 500.000 untuk Tim KKN UGM Natuna Provinsi Kepulauan Riau dan Tim KKN UGM Supiori Provinsi Papua. Program ini diselenggarakan dalam rangka menanti #KaryaKe10Andrea yang akan diterbitkan pada pertengahan Agustus mendatang. Menariknya, judul dan sinopsis karya terbaru Andrea Hirata tersebut akan dirahasiakan sampai dengan hari peluncuran buku...

Read More
Nick Drake: Jari Lincah Muncul Kembali
Jul20

Nick Drake: Jari Lincah Muncul Kembali

Folk sedang seksi. Di radio arus utama folk semacam Fourtwnty atau Payung Teduh terus diminta. Panggung-panggung kampus dijajal nama-nama semacam Deu Galih, Sisir Tanah, Oscar Lolang, Silampukau, dan berderet-deret lainnya. Bob Dylan, begawan folk itu, tahun lalu dapat nobel sastra. Lantas, folk mana lagi yang engkau dustakan? Folk semacam Nick Drake! Lengkaplah dia didustakan. Semasa hidupnya albumnya tidak cukup laku, padahal masa berkiprahnya sewaktu dengan zaman seksinya folk Inggris tahun ‘60-an. Namanya tenggelam, dan dengan demikian tenggelam juga lagu-lagu dengan petikan jari yang lincah dan suara tebal nan lirihnya, padahal ksatria bergitar akustik semacam Cat Stevens dan Richard Thompson sedang melejit. Matinya bunuh diri dalam keadaan depresi dan terabaikan. Citra itulah yang kemudian melekat padanya, padahal citranya di hadapan orang-orang BBC pernah lebih bagus daripada David Bowie! Tahun ‘90-an seorang spesialis biografi musisi, Patrick Humphries, menerbitkan buku biografi Nick Drake. Musisi yang mati bunuh diri dan depresi biasanya jatuh jadi mitos. Humphries berusaha menguak mitos itu dengan menjelajahi situasi belantika musik dan situasi sosial politik Inggris pada tahun ’60-an. Situasi industri musik yang membuat namanya masyhur setelah kematiannya tak ketinggalan. Dia juga mengusut sistem pendidikan sekolah swasta Inggris dan kecenderungan-kecenderungan keluarga Inggris yang pernah merasakan zaman invasi Inggris. Semua itu dia telusuri untuk menjelaskan kegagalan Nick Drake dalam karirnya dan faktor-faktor penyebab depresinya. Terkuaklah wajah lain Nick Drake yang lebih manusiawi. Dengan demikian, buku Nick Drake: sebuah biografi itu tidak hanya memberikan gambaran tentang sosok musisi malang itu, tetapi juga tentang cara kerja belantika musik dan pengaruh sosial politik yang melingkupinya. Barangsiapa ingin atau sedang berkiprah di bidang musik bisa menjadikan buku ini sebagai pembanding untuk membaca keadaan belantika musik masa kini. Barangsiapa suka musik akan mendapatkan kisah tentang seorang jenius folk yang tidak hanya mengilhami kancah folk, tetapi musisi-musisi genre lain, seperti Robert Smith The Cure dan vokalis Television, bahkan di-cover musisi semacam Elton John. Penerbit Yayasan Jungkir Balik Pustaka Indonesia bersepakat dengan Bloomsbury Publishing Plc untuk menerbitkan Nick Drake: sebuah biografi karya Patrick Humphries (ISBN 978-602-61744-0-6) pada bulan Juli 2017, lalu diikuti oleh tur buku ke beberapa kota di Indonesia. Yes, Nick Nick Nick Drake is on its way… Jadwal Tur Buku Nick Drake: sebuah biografi Jakarta: 22 Juli 2017 di WR Store Yogyakarta: 28 Juli 2017 di Survive Garage Malang: 3 Agustus 2017 di Poharin Art Space Malang: 5 Agustus 2017 di Kafe Pustaka (Perpus Pusat UM) Surabaya: 6 Agustus 2017 di C2O Library & Collabtive Malang: 10 Agustus 2017 di Semeru Art...

Read More
Simbiosis Berkesenian di Simbiosis Art Market Semarang
Jul17

Simbiosis Berkesenian di Simbiosis Art Market Semarang

SIRKEL merupakan sebuah gallery dan collective-mastermind dari beberapa komunitas di Semarang yang berfokus mempromosikan seniman dan karya mereka. “SIMBIOSIS art market” adalah salah satu bentuk melting-pot yang diinisiasi Sirkel untuk mewadahi distribusi dan transaksi hasil karya seniman dan ekosistem pendukungnya untuk merayakan kemandirian berkarya. Dengan semangat “kendeli! toto keri!” (from chaos, comes order) Sirkel menggelar Simbiosis Art Market (SAM) edisi perdana pada Sabtu-Minggu, 15-16 Juli 2017 , jam13.00 – 21.00 Impala Space, Kota Lama Semarang. SAM mendisplay dan menjual jual original artwork seperti drawing, kolase, cat air, urban toys, dan custom jacket. Juga karya ilustrasi yang dicetak pada kaos, poster, sticker, komik, atau enamel pin. Serta karya craft seperti woven, scarf, earing, dll.  Ada19 kreator dan komunitas yang terlibat yaitu Karamba & Friends, Sasongko & Fams, Bobomagz, Puppet Pit Inc, Soekirman,  Craftecu, Zave x Clingythingy, Penggiat Jalan Sehat, Papillon, Khuma, Duduk Nyeni, Adonai, Poor boy, Whytype x Burnass, Daily Works, Ganang Aji, dan Collage Sabotage. Mereka tak hanya bersala dari Semarang, tapi juga dari kota lain seperti Yogyakarta dan Tuban. Fatchurofi sebagai salah satu inisiator sirkel mengatakan bahwa meski baru pertama kali membuat art market, SAM ini menjadi program yang akan coba kami rutinkan. Dengan adanya art market, kreator/seniman akan semakin mudah bertemu dengan publik untuk memamerkan karyanya dan bertransaksi. Publik juga dimudahkan untuk mencari artwork, craft, maupun art supply yang berkualitas. Selain berbelanja di art market, pengunjung juga diajak ikutan sketch art jamming bersama Kuda Lari Project dan Komik Soekirman. Tak hanya itu, pengunjung juga bisa mendengarkan live music setiap harinya oleh band dan musisi indie Semarang, seperti : Greedys, Lilin Semasa Hujan, Olly Oxen,Brit Boys, Jou Barakati, dan...

Read More
Mewujudkan Karakter Mitologi “Warak Ngendog” dalam Versi Urban di  Art Toys Custom Exhibition
Jun11

Mewujudkan Karakter Mitologi “Warak Ngendog” dalam Versi Urban di Art Toys Custom Exhibition

  Setelah dilaunching tanggal 2 Mei 2017 kemarin, Karamba menggelar event Art Toys Custom Exhibition pada tanggal 10 – 14 Juni 2017 di Sirkel Space, Jl Jeruk Raya No.1 Semarang. Pameran ini melibatkan 23 Artist, illustrator, dan toy maker dari Semarang, Kudus, Magelang, Jogja, Jakarta, Tangerang, dan Bandung. Seniman yang terlibat di acara ini antara lain adalah Art Not Only Today, Arief Hadinata, Azis Wicaksono, Bagus Panuntun, Bobo, Crack, Dimas “Dimski”, Dhika Adikara, Djehovan Dhira, Doni Dermawan, Galih Pratama, Gula, Iky, Isa Indra Permana, M.K. Dandi, Potr, Rato Tanggela, Riandi Sumadinata, Silvia Tampi, Syaiful Aqmal, Taufik Ahmad, Wulang Sunu, danYonathan Halim. Pameran yang dibuka Sabtu, 10 Juni 2017 mulai jam 20.00 ini juga mengadakan lapak toys dan merchandise, music playlist oleh Sasongko Anis dan THBX/GB , serta Waaraa Android Game Trial oleh Osam Toys. Acara dilanjutkan artist sharing juga dengan para kreator art toys : Iky (Bandung) dan Doni Dermawan (Magelang). Pada hari minggunya akan diadakan workshop bersama Clay Koh. Saat ini produk art toys masih jarang dipakai di Indonesia, khususnya Semarang. Namun saat ini mulai banyak seniman yang membuat art toys. Karena tiap seniman umumnya memiliki karakter/ style nya masing-masing, dan karakter itu tidak cukup hanya dimunculkan lewat karya 2 dimensi, seperti gambar atau lukisan. Waaraa adalah bentuk urban/ modern dari warak ngendog. Karamba dan Osam Toys membuatnya sebagai metode berkarya dengan konten lokal dan mempopulerkannya di jaringan yang lebih luas. Meet Waaraa, sebuah karakter art toy terbaru dari Karamba Art Movement & Osam Toys dengan mengusung ikon Warak Ngendog, binatang mitologi lokal Semarang. Mahluk yang memiliki kepala naga (Tionghoa), badan buraq (Arab), dan kaki kambing (Jawa) ini adalah simbol kerukunan dan toleransi antar etnis tersebut. Waaraa muncul sebagai pengingat di saat toleransi di Indonesia semakin kritis dan sering diperdebatkan....

Read More
ARTJOG 2017: Ruang Ekspresi Seniman Indonesia
May29

ARTJOG 2017: Ruang Ekspresi Seniman Indonesia

Memasuki usianya yang sudah satu dekade, gelaran ARTJOG nampaknya memang layak disebut sebagai lebaran seni rupa nya Indonesia. Hal tersebut dapat diamini karena 10 tahun terakhir ARTJOG telah menjadi salah satu indikator besarnya seni rupa di Indonesia, khususnya Yogya, di mata dunia. Perayaan ini juga menghadirkan puluhan seniman dan kerap dihadiri ribuan pecinta seni dari dalam dan luar negeri tiap tahunnya. Diawali dengan nama “Jogja Art Fair” yang langsung dikenal sebagai perayaan besar di dunia seni rupa, ARTJOG terus berkembang dan memperbaiki diri. Pun di tahun ke-10 yang akan digelar di Jogja National Museum (JNM) mulai 19 Mei-19 Juni 2017 tiap ajang di sana kian menebalkan predikat ARTJOG sebagai ajang komunikasi massal dalam bingkai seni rupa. Di tahun kesepuluhnya ini, ARTJOG memilih tema “Changing Perspective” yang dimaksudkan pemilihan tema yang masih berada dalam ruang komunikasi massa ini. Sudut pandang kekinian terlalu profan, di mana produksi wacana biner (baik-benar atau jahat-baik) adalah tujuan dari berpikir. Belum ada kesadaran bahwa pemikiran lahir dari keterbiasaan, budaya, dan peradaban yang berbeda. “Selama ini, perspektif biasa didasarkan logika yang bersumber pada rasionalitas otak manusia, namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Jika di Barat biasa dicari melalui pendekatan science (ilmu pengetahuan), maka di Timur lebih pada aspek budaya, tradisi dan common sense (pengetahuan publik) yang kerap kurang mewakili pengetahuan masyarakat modern secara global,” jelas Bambang Witjaksono selaku tim kurator ARTJOG. Sebanyak 73 seniman bakal berpartisipasi dalam ARTJOG 10 ini. Karya mereka bakal berusaha keras mendaur ulang cara pandang mereka yang hadir dalam merespon fenomena atau peristiwa sehari-hari. “Tahun ini dipilih 73 seniman, Baik melalui seniman undangan, maupun seniman aplikasi,” kata Ignatia Nilu, tim kurator ARTJOG 10. Seperti biasanya, ARTJOG 10 punya banyak program utama dan pendamping.  Ada “Exhibition” di mana tim secara khusus mengundang seniman luar negeri untuk berpartisipasi seperti Singapura, Jepang, Inggris, Amerika Serikat, dan Australia. Lalu ada program “Comission Works” yang tahun ini menyajikan karya seniman muda asal Yogya: Wedhar Riyadi sebagai commission artist. Instalasi balon-balon dengan ikon mata akan menggubah tampilan utama bangunan Jogja National Museum yang menjadi lokasi pameran. Selanjutnya, “Young Artist Award”, yaitu penghargaan bagi seniman muda terbaik peserta ARTJOG yang berusia di bawah 33 tahun. Program ini sengaja dirancang sebagai wujud apresiasi atas kiprah mereka dalam berkarya. Program pendamping seperti “Curatorial Tour” sebagai sarana memuaskan rasa penasaran dan keingintahuan pengunjung. Dipandu tim kurator ARTJOG, pengunjung akan diajak untuk mengelilingi ruang pamer seraya diberikan penjelasan mengenai konsep karya-karya yang ditampilkan. Tim ARTJOG juga mendekatkan para seniman dengan pengunjung dengan membuat program “Meet the Artist” yang memfasilitasi publik untuk berdiskusi secara langsung, serta bertukar gagasan dan inspirasi dalam berkarya dengan seniman-seniman yang terlibat dalam ARTJOG. ARTJOG juga memfasilitasi bentuk seni yang lain yang akan ditampilkan selama pameran berlangsung. Special Performance yang akan ditampilkan pada tahun ini menyajikan performance art karya Melati Suryodharmo, pemutaran...

Read More