Mewujudkan Karakter Mitologi “Warak Ngendog” dalam Versi Urban di  Art Toys Custom Exhibition
Jun11

Mewujudkan Karakter Mitologi “Warak Ngendog” dalam Versi Urban di Art Toys Custom Exhibition

  Setelah dilaunching tanggal 2 Mei 2017 kemarin, Karamba menggelar event Art Toys Custom Exhibition pada tanggal 10 – 14 Juni 2017 di Sirkel Space, Jl Jeruk Raya No.1 Semarang. Pameran ini melibatkan 23 Artist, illustrator, dan toy maker dari Semarang, Kudus, Magelang, Jogja, Jakarta, Tangerang, dan Bandung. Seniman yang terlibat di acara ini antara lain adalah Art Not Only Today, Arief Hadinata, Azis Wicaksono, Bagus Panuntun, Bobo, Crack, Dimas “Dimski”, Dhika Adikara, Djehovan Dhira, Doni Dermawan, Galih Pratama, Gula, Iky, Isa Indra Permana, M.K. Dandi, Potr, Rato Tanggela, Riandi Sumadinata, Silvia Tampi, Syaiful Aqmal, Taufik Ahmad, Wulang Sunu, danYonathan Halim. Pameran yang dibuka Sabtu, 10 Juni 2017 mulai jam 20.00 ini juga mengadakan lapak toys dan merchandise, music playlist oleh Sasongko Anis dan THBX/GB , serta Waaraa Android Game Trial oleh Osam Toys. Acara dilanjutkan artist sharing juga dengan para kreator art toys : Iky (Bandung) dan Doni Dermawan (Magelang). Pada hari minggunya akan diadakan workshop bersama Clay Koh. Saat ini produk art toys masih jarang dipakai di Indonesia, khususnya Semarang. Namun saat ini mulai banyak seniman yang membuat art toys. Karena tiap seniman umumnya memiliki karakter/ style nya masing-masing, dan karakter itu tidak cukup hanya dimunculkan lewat karya 2 dimensi, seperti gambar atau lukisan. Waaraa adalah bentuk urban/ modern dari warak ngendog. Karamba dan Osam Toys membuatnya sebagai metode berkarya dengan konten lokal dan mempopulerkannya di jaringan yang lebih luas. Meet Waaraa, sebuah karakter art toy terbaru dari Karamba Art Movement & Osam Toys dengan mengusung ikon Warak Ngendog, binatang mitologi lokal Semarang. Mahluk yang memiliki kepala naga (Tionghoa), badan buraq (Arab), dan kaki kambing (Jawa) ini adalah simbol kerukunan dan toleransi antar etnis tersebut. Waaraa muncul sebagai pengingat di saat toleransi di Indonesia semakin kritis dan sering diperdebatkan....

Read More
ARTJOG 2017: Ruang Ekspresi Seniman Indonesia
May29

ARTJOG 2017: Ruang Ekspresi Seniman Indonesia

Memasuki usianya yang sudah satu dekade, gelaran ARTJOG nampaknya memang layak disebut sebagai lebaran seni rupa nya Indonesia. Hal tersebut dapat diamini karena 10 tahun terakhir ARTJOG telah menjadi salah satu indikator besarnya seni rupa di Indonesia, khususnya Yogya, di mata dunia. Perayaan ini juga menghadirkan puluhan seniman dan kerap dihadiri ribuan pecinta seni dari dalam dan luar negeri tiap tahunnya. Diawali dengan nama “Jogja Art Fair” yang langsung dikenal sebagai perayaan besar di dunia seni rupa, ARTJOG terus berkembang dan memperbaiki diri. Pun di tahun ke-10 yang akan digelar di Jogja National Museum (JNM) mulai 19 Mei-19 Juni 2017 tiap ajang di sana kian menebalkan predikat ARTJOG sebagai ajang komunikasi massal dalam bingkai seni rupa. Di tahun kesepuluhnya ini, ARTJOG memilih tema “Changing Perspective” yang dimaksudkan pemilihan tema yang masih berada dalam ruang komunikasi massa ini. Sudut pandang kekinian terlalu profan, di mana produksi wacana biner (baik-benar atau jahat-baik) adalah tujuan dari berpikir. Belum ada kesadaran bahwa pemikiran lahir dari keterbiasaan, budaya, dan peradaban yang berbeda. “Selama ini, perspektif biasa didasarkan logika yang bersumber pada rasionalitas otak manusia, namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Jika di Barat biasa dicari melalui pendekatan science (ilmu pengetahuan), maka di Timur lebih pada aspek budaya, tradisi dan common sense (pengetahuan publik) yang kerap kurang mewakili pengetahuan masyarakat modern secara global,” jelas Bambang Witjaksono selaku tim kurator ARTJOG. Sebanyak 73 seniman bakal berpartisipasi dalam ARTJOG 10 ini. Karya mereka bakal berusaha keras mendaur ulang cara pandang mereka yang hadir dalam merespon fenomena atau peristiwa sehari-hari. “Tahun ini dipilih 73 seniman, Baik melalui seniman undangan, maupun seniman aplikasi,” kata Ignatia Nilu, tim kurator ARTJOG 10. Seperti biasanya, ARTJOG 10 punya banyak program utama dan pendamping.  Ada “Exhibition” di mana tim secara khusus mengundang seniman luar negeri untuk berpartisipasi seperti Singapura, Jepang, Inggris, Amerika Serikat, dan Australia. Lalu ada program “Comission Works” yang tahun ini menyajikan karya seniman muda asal Yogya: Wedhar Riyadi sebagai commission artist. Instalasi balon-balon dengan ikon mata akan menggubah tampilan utama bangunan Jogja National Museum yang menjadi lokasi pameran. Selanjutnya, “Young Artist Award”, yaitu penghargaan bagi seniman muda terbaik peserta ARTJOG yang berusia di bawah 33 tahun. Program ini sengaja dirancang sebagai wujud apresiasi atas kiprah mereka dalam berkarya. Program pendamping seperti “Curatorial Tour” sebagai sarana memuaskan rasa penasaran dan keingintahuan pengunjung. Dipandu tim kurator ARTJOG, pengunjung akan diajak untuk mengelilingi ruang pamer seraya diberikan penjelasan mengenai konsep karya-karya yang ditampilkan. Tim ARTJOG juga mendekatkan para seniman dengan pengunjung dengan membuat program “Meet the Artist” yang memfasilitasi publik untuk berdiskusi secara langsung, serta bertukar gagasan dan inspirasi dalam berkarya dengan seniman-seniman yang terlibat dalam ARTJOG. ARTJOG juga memfasilitasi bentuk seni yang lain yang akan ditampilkan selama pameran berlangsung. Special Performance yang akan ditampilkan pada tahun ini menyajikan performance art karya Melati Suryodharmo, pemutaran...

Read More
Mengenal Seni Kontemporer Indonesia di Ruang MES 56
May28

Mengenal Seni Kontemporer Indonesia di Ruang MES 56

Untuk dapat menjadi kreatif tentu mudah, namun untuk menghasilkan ouput yang bagus dari proses itu tentu memerlukan rangkaian yang panjang  dan berbagai tahapan dalam perjalanannya. Ruang dalam sebuah kota juga memiliki andil yang cukup besar untuk dapat mewujudkan hal tersebut. Dewasa ini semakin banyak ruang alternatif yang muncul di berbagai kota di Indonesia, dimana ruang-ruang ini mengakomodir para pekerja seni dan pemikir kreatif untuk mewujudkan ide-idenya. Salah satu ruang tersebut adalah MES 56 di Yogyakarta. Terbentuk pada tahun 2002 yang silam, Ruang MES 56 kini telah berkembang menjadi hangout place para pekerja seni di Yogyakarta, tidak hanya dari subkultur fotografi kontemporer saja. Terletak tidak jauh dari Keraton Yogyakarta, ruang kreatif ini terdiri dari  studio, kelas belajar, sampai tempat nongkrong dengan pohon besar nan rindang di halaman depannya. Ruang MES 56 diinisiasi oleh sederet seniman lokal. Mulai dari Agung Nugroho Widhi, Akiq Abdul Wahid, Anang Saptoto, Angki Purbandono, Daniel Satria Koestoro, Dessy Sahara Angelina, Edwin Dolly Roseno, Eko Bhirowo, Jim Allen Abel, Wimo Ambala Bayang, dan Wok The Rock. Fokus kinerja Ruang MES 56 terletak pada bidang fotografi dan seni kontemporer yang memungkinkan dapat beririsan dengan disiplin ilmu lain. Harapannya, Ruang MES 56 dapat membangun kondisi kreatifitas yang responsif, selain kritis terhadap lingkungan sekitar dan kontekstual terhadap substansi demi terealisasinya iklim masyarakat terbuka, kreatif, serta mandiri. Hingga saat ini cukup banyak program-program rutin yang diselenggarakan Ruang MES 56 seperti pameran, diskusi, pertukaran kreasi, workshop, sampai pengarsipan. Menariknya, keseluruhan program dibiayai oleh pembiayaan pribadi dengan dukungan dari pihak donatur institusi non-profit atau perusahaan komersial. Dengan semangat kolektif, program-program tersebut dilaksanakan untuk mendorong serta mendukung keberadaan seni kontemporer di Indonesia pada umumnya dan Yogyakarta pada...

Read More
Pemenang Go Ahead Challenge 2016 Siap Lepas Landas
May16

Pemenang Go Ahead Challenge 2016 Siap Lepas Landas

Munculnya talenta-talenta baru di bidang seni yang berhasil memperkenalkan dan memamerkan karya seni melalui sebuah pameran tak lepas dari dukungan berbagai pihak kolektif seni dan art space sebagai fasilitator. Go Ahead Challenge sebagai salah satu wadah bagi para penggiat seni kreatif untuk mengekspresikan karya seni mereka di empat sub-kultur yaitu seni visual, fotografi, musik, dan style ini menghadirkan sebuah pameran seni kolektif dari empat seniman berbakat keluaran Go Ahead Challenge 2016 yang digelar di Hall A4, Gudang Sarinah Ekosistem, Pancoran. Sebuah pameran berjudul “ONboarding” Go Ahead Challenge – Winner 2016 Exhibition memamerkan empat karya seni visual yang memiliki tema dan kekuatan narasi yang disampaikan melalui eksperimentasi medium yang berbeda-beda. Tema-tema yang diangkatpun beragam seperti ketahanan pangan, kehidupan nelayan Kulonprogo, hingga tema personal seperti bagaimana proses kerja otak dari seorang desainer. “Gagasan dan tema “ONboarding” ini mengacu kepada perkembangan dari empat pemenang Go Ahead Challenge 2016 setelah melewati proses pembelajaran dalam berkarya yang sekarang ini sedang menapaki awal karir mereka. Empat pemenang yang memiliki latar belakang seni berbeda yaitu musik, visual arts, fotografi, dan style, ditantang untuk mengeksplorasi ide mereka lebih jauh lagi agar dapat dipresentasikan secara visual, dan ini bukanlah pekerjaan yang mudah,” kata Saleh ‘Ale’ Husein selaku kurator dari “ONboarding Go Ahead Challenge – Winner 2016 Exhibition dan perupa yang sukses menggelar pameran di Singapore Art Museum tahun 2016. Ale yang sebelumnya juga ikut mengkurasi karya dari empat seniman di pameran sebelumnya yaitu Artospora 2016, mengaku bangga dengan kemajuan berkarya yang terlihat di pameran kali ini, mereka mampu menjawab setiap tantangan dari Go Ahead Challenge. Seperti John Martin dari sub-kultur style, yang fokus di  fashion design dengan gaya futuristik, mampu membuat instalasi dari jalinan bambu sebagai bentuk otak manusia yang di dalamnya terdapat busana serta benda-benda lain yang merefleksikan cara kerja seorang desainer art fashion. Yulio Onta dari sub-kultur musik, pemain bas dari band Piston ini berkolaborasi dengan tiga illustrator untuk mempresentasikan lagunya yang berjudul Menuju Ketiga, melalui sebuah ilustrasi gambar. “Di pameran kali ini, para mentor dan kurator betul-betul mengarahkan proses kreatif kami untuk lebih fokus kepada konsep dan narasi yang ingin disampaikan dan sebisa mungkin tidak dibatasi dengan satu bidang seni tertentu, kayak gue yang selama ini fokus di musik aja. Tapi di “ONboarding” gue didorong dan ditantang untuk eksplorasi bidang seni lain dan melihat lebih dalam lagi dari bagaimana sebuah proses berkarya bisa berjalan dengan konteks sosial dan lingkungan di sekitar kita.” kata pemain bas kelahiran Jakarta ini. Kedekatan dengan isu sosial tertentu turut digambarkan oleh Badar dari sub-kultur fotografi yang terbiasa berkarya melalui foto dan video, maupun Iwe yang mewakili sub-kultur seni visual. Badar kembali mengangkat beras untuk tema karyanya kali ini, baginya beras...

Read More
Pameran Perdana Van Gogh Diluncurkan di Melbourne
Apr26

Pameran Perdana Van Gogh Diluncurkan di Melbourne

Pameran paling akbar Vincent van Gogh, Van Gogh and the Seasons akan digelar di Melbourne, Australia pada 28 April – 9 Juli 2017. Pameran akan dibuka dengan pertunjukan perdana eksklusif pada 27 April 2017 di NGV Intenational dan akan dihadiri oleh keturunan dari Vincent van Gogh, Josien van Gogh dan Sylvia Cramer beserta Sjraar van Heugthen, kurator pameran ini dan mantan Pimpinan Koleksi di Van Gogh Museum. Van Gogh and the Seasons secara eksklusif diadakan di Melbourne dan menghadirkan koleksi terbesar karya seni Van Gogh untuk pertama kalinya di Australia. Van Gogh sebagai salah satu tokoh yang paling menonjol dalam sejarah seni memiliki karir yang tergolong singkat, selama hampir tidak lebih dari satu dasawarsa, namun memberikan warisan seni yang terus memberi inspirasi kepada para seniman, serta memukau masyarakat hingga kini. Menampilkan 50 karya agung Van Gogh yang memukau, dengan sapuan warna yang hidup, Van Gogh and the Seasons menampilkan keterikatan yang erat antara sang seniman visioner ini dengan sang musim  –  musim semi dengan kebun yang menghijau dan padang rumput nan segar;  musim panas dengan bulir-bulir gandum yang siap dipanen dan yang berkilauan di bawah panasnya mentari; musim gugur dengan panen berlimpah dan sosok-sosok penabur benih yang berdiri dalam kesendirian; dan musim dingin dengan pemandangan petani yang menggali kentang dari dalam tanah ladang nan beku. Bagi Van Gogh, berbagai musim itu mencerminkan siklus kehidupan – kelahiran, masa tumbuh kembang, dewasa dan kematian. Bagi sang seniman, siklus yang terjadi terus-menerus ini melambangkan kebesaran alam dan keberadaan suatu kekuatan yang lebih tinggi. Tony Ellwood, Direktur NGV berkata, “Rasa cinta Van Gogh kepada sang musim sangatlah mendalam dan memainkan peran penting dalam kehidupan dan kegiatannya. Keterpesonaannya pada musim panas, musim gugur, musim dingin dan musim semi serta pada siklus abadi di alam ini terlihat pada energi dan  dinamisme dari sentuhan kuasnya yang khas, yang hampir seperti melompat dari kanvas dengan pancaran kehidupan. Van Gogh and the Seasons merupakan suatu kebangaan besar bagi The National Gallery of Victoria, dan memberikan peluang bagi khalayak luas untuk menikmati pameran terakbar yang menampilkan karya-karya teragung Van Gogh yang pertama kali digelar di Australia, dan yang sebagian besar belum pernah dipamerkan di negara ini.” Pameran ini diadakan oleh The National Gallery of Victoria dan Art Exhibitions Australia dan dibuka setiap hari pukul 10-17. Tiket tersedia di...

Read More
Catalyst Arts Gelar ART MARKET JAKARTA 2017
Apr17

Catalyst Arts Gelar ART MARKET JAKARTA 2017

Catalyst Arts, sebuah emerging artists’ marketplace akan kembali menggelar ART MARKET JAKARTA untuk ketujuh kalinya pada 28-30 April mendatang di Kuningan City, Jakarta Selatan. Acara ini merupakan bazaar karya seni dan produk kreatif berbasis ilustrasi yang mengajak seniman, ilustrator, dan brand kreatif lokal untuk memamerkan dan menjual karyanya ke ranah publik. ART MARKET JAKARTA 7 kali ini akan diramaikan oleh puluhan brand kreatif lokal serta karya seni dan art merchandise dari seniman maupun ilustrator lokal dari berbagai kota di Indonesia. Beberapa diantaranya adalah Keramik Suka-Suka, Simpul Idea, Kayu Manis, Kertasbykarls, Nrshimha, Obie, Water Planet, Leeven&Co., Heimlo, bits and bobs, Galih Sakti, Resatio Adi Putra, dan Citra Marina. Produk-produk bazaar yang ditawarkan pun sangat beragam, mulai dari produk fashion seperti t-shirt ilustrasi, aksesoris handmade, scarf, tote-bag, sampai produk home décor seperti bantal, lukisan, gantungan tanaman, hiasan dinding, dan masih banyak lagi. Dengan desain produk yang diproduksi dalam jumlah terbatas dan kreativitas yang memiliki daya pikat tersendiri, produk-produk bazaar ini dijual dengan harga yang cukup terjangkau agar dapat dinikmati oleh publik yang lebih luas. Di samping bazaar karya seni dan art merchandise, juga akan ada berbagai workshop kreatif untuk mengisi weekend seperti accordion zine making dan silk screen printing. Akan ada juga Food & Beverage Corner yang diisi oleh Churros, Dapur Baba, Hubblescoop, Kickass Coffee, Sama Food Indonesia, Sate Blora Pak Agus, dan Volle Kitchen yang akan membuat pengunjung semakin betah berada di dalam venue acara. Sebagai pelengkap, tidak ketinggalan live performance music dari musisi-musisi lokal seperti DJ Vinyl Dua Sejoli, David Tarigan, Indische Party, Margalo, Sisitipsi, Zaenal, dan Mondo Gascaro. Yang spesial di ART MARKET JAKARTA 7 kali ini adalah kolaborasi dengan penggiat seni lintas negara di Asia Tenggara. Para pencinta buku bisa melihat banyak sekali art book dan zine lokal di bagian special showcase dari Pagggges, sebuah platform yang ditujukan untuk seniman, ilustrator, fotografer, dan penulis yang membuat zine dan art book untuk dipublikasikan secara mandiri. Sementara itu, didatangkan dari Malaysia ada Raksasa Print, sebuah studio silk screen berbasis di Kuala Lumpur yang memproduksi hand-printed art prints, art books, zines, dan printed fabric. Salah satu seniman visual asal Kuala Lumpur yang namanya cukup mencuat, Orkibal, juga berkolaborasi dengan ART MARKET JAKARTA 7 untuk membuat ilustrasi yang dipakai sebagai visual utama acara ini. Orkibal juga akan turut hadir dan berkolaborasi dengan dua seniman visual, Arya Mularama dari Jakarta dan Addy Debil dari Bandung, untuk membuat sebuah giant mural berukuran 15 x 5 meter di area acara. Giant mural ini nantinya dapat dijadikan spot foto menarik bagi para pengunjung Seperti yang diungkapkan oleh Co-Founder Catalyst Arts, Patricia Wulandari, kolaborasi dengan seniman dari Asia Tenggara ini merupakan yang pertama dan menjadi pemacu...

Read More