FISIPOL Art Days 2017: Transisi dalam Era Post-Truth
Sep27

FISIPOL Art Days 2017: Transisi dalam Era Post-Truth

Garis waktu dihidupkan oleh pergerakan manusia. Gerak yang disesuaikan dengan tantangan yang dihadapi dalam suatu masa. Tantangan tak pernah sama, maka pergerakan manusia berubah agar tetap bertahan. Manusia menapaki perpindahan, dimaknai sebagai proses yang terjadi dalam setiap perubahan. Dalam setiap perpindahan terdapat pergeseran yang memunculkan wujud nilai baru yang mengaburkan kebenaran. Seperti era post-truth, fakta tidak lagi menjadi titik tumpu, melainkan emosi serta preferensi yang mengambil alih. Melalui tema “Transisi”, FISIPOL Art Days 2017 hadir untuk mengantarkan khalayak mengingat sekaligus membandingkan posisi awal dan akhir dari suatu objek dalam tolak ukur yang beragam. Khalayak diajak untuk memaknai perjalanan atas perpindahan sebagai aktualisasi dirinya dan orang lain. Berangkat dengan kesadaran khalayak sebagai individu dan makhluk komunal, “transisi” mencoba menelusuri lompatan-lompatan yang terjadi dalam proses hidup manusia sehingga bisa meredam kemungkinan konflik. FISIPOL Art Days akan diselenggarakan pada 26-30 September. Dalam rangkaiannya, terdapat 3 program inti yang bisa dinikmati: Pameran, Pertunjukkan, dan Diskusi Film. Ketiga acara diadakan di FISIPOL UGM dan Kelas Pagi Yogyakarta. Tahun ini, secara khusus pameran mengusung tema “FUTURE LEAK: 5W + 1H ARE WE GOING?”. Tema tersebut diusung berangkat dari keyakinan bahwa seluruh pergerakan manusia menuju masa depan, apa pun bentuknya. Meskipun demikian, keyakinan terhadap masa depan tidak dipahami sebagai hal yang datang begitu saja. Wujud masa depan, pergerakan manusia dalam mengisi masa depan, peran yang dimainkan di masa depan, hingga alasan manusia memburu masa depan menjadi pertanyaan besar dalam tema ini. Dengan menunjuk Titah A.W. sebagai kurator utama, pameran utama FISIPOL Art Days  memilih 20 karya submisi dan karya seniman tamu, yaitu Akiq A.W., Budi N.D. Dharmawan, Jompet Kuswidananto, Maria Tri Sulistiyani (Papermoon Puppet Theatre), dan Timoteus A. Kusno untuk ditampilkan di penjuru lantai 3 hingga 4 Gedung Mandiri FISIPOL UGM. Karya seni yang ditampilkan tidak hanya berwujud visual, juga menekankan kekuatan audio, bahkan menggabungkan keduanya sehingga interaktif. Karya-karya terpilih dianggap mampu memantik khalayak untuk menerawang masa depan dengan cara yang menyentil, kontekstual, dan berani. Khalayak diajak untuk merefleksikan masa depan, sebagai realitas yang maju atau mundur. Menyadarkan bahwa ide-ide tidak lagi harus berwujud materi, relasi digiring jadi kolaborasi, dan kerja cerdas adalah kunci baik di level personal maupun komunal. Tidak hanya berefleksi, FISIPOL Art Days 2017 pun mengajak memahami media yang mengabadikan setiap masa agar dapat diamati kembali di masa depan. Zine saat ini menjadi media yang banyak dipilih untuk merekam pergerakan manusia. Oleh karena itu, FISIPOL Art Days 2017  berkolaborasi dengan Indisczine Partij untuk memperkenalkan zine lebih jauh melalui penyelenggaraan pameran arsip di sepanjang Taman Sansiro FISIPOL UGM. Pameran arsip zine akan digelar terhitung hari kedua hingga penutupan FISIPOL Art Days 2017. Agar khalayak lebih memahami eksistensi zine, pada hari ketiga Indisczine Partij menjelaskan...

Read More
Salihara Gelar Literature and Ideas Festival  2017
Sep21

Salihara Gelar Literature and Ideas Festival 2017

Tahun ini, LIFEs mengangkat tema Membaca Amerika Latin: VIVA! REBORN!. Amerika Latin dipilih karena menawarkan banyak pemikiran penting yang bisa dipelajari. Sebut saja beberapa di antaranya yaitu genre sastra realisme magis, gerakan politik adat dan sosialis, teologi pembebasan, teori ketergantungan, dsb. “Amerika Latin selalu lantang dan menantang,” pengantar kuratorial dari Ayu Utami selaku direktur LIFEs dan kurator sastra Komunitas Salihara. Selain karya sastranya yang mendunia, lanjut Ayu Utami, “Amerika Latin juga bisa diperbandingkan dengan Indonesia. Dari sejarah kolonialisme, rezim militer dan demokrasi, masalah lingkungan hingga pertemuan agama Abrahamik dan agama lokal.” Selama tiga minggu, kami menghadirkan forum-forum diskusi yang membicarakan tentang hal-hal tersebut. Salah satunya adalah Diskusi Meja Bundar; sebuah pertemuan pegiat budaya yang memiliki fokus diskursus budaya Amerika Latin. Pembicaraan berkisar mengenai perkembangan sastra dan pemikiran, termasuk praksis sosial ekonomi politik di sub-benua yang berada di bumi bagian selatan itu. Adapun dalam Pentas Sastra, selain makan malam, pentas musik dan seni pertunjukan, LIFEs juga mempertemukan sastrawan Indonesia dan Amerika Latin dalam satu panggung yang berjudul Pentas Malam: Sajian dari Selatan. Setelah pembacaan singkat, para sastrawan akan berbincang-bincang tentang isu-isu mutakhir yang terjadi di dunia ketiga, misalnya problematika politik dan iman. Kami menampilkan sastrawan Indonesia yang akhir-akhir ini banyak diperbicangkan seperti Ziggy Zezsyazioviennazabriskie dan Feby Indirani. Sementara dari Amerika Latin, ada Carmen Boullosa (Meksiko) yang karyanya menyuarakan feminisme dan Héctor Abad Faciolince (Kolombia) yang dikenal sebagai sastrawan pasca-El Boom, gejala sastra Amerika Latin yang mendunia pada 1960-1980an. Dalam LIFEs, pengunjung juga bisa berpartisipasi dalam program Lokakarya. Beberapa di antaranya adalah What’s in a Name? yang akan mengembangkan narasi tulisan dari sebuah nama, bersama Sergio Chejfec, penulis Argentina. Dan lokakarya Seruput Cerita yang akan mengelaborasikan kopi dan fiksi yang diampu oleh Yusi Avianto Pareanom. LIFEs yang terbuka untuk semua kalangan ini juga akan mengadakan bazaar buku selama empat hari penuh, pemutaran film-film penting Amerika Latin serta kolaborasi pertunjukan dan pameran seni rupa. LIFEs 2017 akan ditutup oleh ceramah pamungkas dari M. Chatib Basri dan penampilan duet musik Indonesia-Venezuela. LIFEs 2017 akan berlangsung pada 07-28 Oktober 2017 di Komunitas Salihara, serta didukung oleh kedutaan besar Cile, Brasil, Argentina, Meksiko, Kolombia, Spanyol, Kuba, Venezuela dan Swiss yang berada di Indonesia. Literature and Ideas Festival (LIFEs) merupakan bentuk baru Bienal Sastra Salihara yang telah berlangsung sejak 2011. Jika Bienal Sastra lebih banyak menampilkan program-program pembacaan, LIFEs akan lebih mengedepankan perbincangan tentang ide dan...

Read More
Eksploitasi Indentitas Kulit Hitam dalam Karya Lukisan Kerry James Marshall
Aug27

Eksploitasi Indentitas Kulit Hitam dalam Karya Lukisan Kerry James Marshall

Seniman Kerry James Marshall menggambarkan situasi rasisme etnis kulit hitam di Amerika Serikat pada tahun 60an hingga saat ini dalam salah satu karya terbarunya. Lahir di Alabama pada tahun 1955, seniman ini bermigrasi ke Los Angeles dimana pada saat itu terjadi pemberontakan etnis kulit hitam dalam kampanye bertajuk Black Panther movement pada tahun 1965, dimana ini adalah salah satu partai politik kulit hitam pertama di Amerika Serikat dan berisikan kaum pemberontak bersenjata. Karya yang berupa kolase, lukisan, fotografi dan video ini menampilkan subjek “berwarna hitam” sebagai pusat perhatian penikmat karyanya dan menjadi bentuk representasi dari seni...

Read More
Untuk Pertama Kalinya Karya Lukisan Kurt Cobain Dipamerkan di Seattle
Aug27

Untuk Pertama Kalinya Karya Lukisan Kurt Cobain Dipamerkan di Seattle

Ada yang berbeda di Seattle Art Fair tahun ini yang digelar pada 3-6 Agustus yang lalu. Pada pameran seni rupa ini turut ditampilkan karya-karya dari tokoh ikonik Seattle, Kurt Cobain. Cobain yang juga merupakan motor dibalik band grunge Nirvana ini selain menulis lirik juga gemar membuat gambar-gambar dan lukisan abstrak yang merupakan pencerminan dari pemikirannya absurd nya. Salah satu lukisan Cobain yang cukup ikonik adalah sosok tubuh yang kurus keris, bunga berwarna merah dan juga sesok bayi dengan kepalanya yang telah rusak, dimana lukisan ini juga menjadi cover album Nirvana ‘Incesticide’ yang dirilis pada tahun 1992...

Read More
Konser Kontemporer Michael Asmara dan Patrick Gunawan Hartono di Salihara
Aug24

Konser Kontemporer Michael Asmara dan Patrick Gunawan Hartono di Salihara

Konser Kontemporer merupakan pertunjukan musik dua komposer kontemporer Indonesia mutakhir. Komunitas Salihara akan menampilkan Michael Asmara (Indonesia) dan Patrick Gunawan Hartono (Indonesia-London). Michael Asmara akan membawakan delapan repertoar terbaiknya yang ditulis sejak 1997 sampai 2017. Dengan konsep mini orkestra, ada karya-karya yang dimainkan dengan teknik permutasi, disusun secara improvariasi dan pelbagai teknik lainnya. Ada pula penampilan duet antar instumen musik, misalnya violin dan elektronik. Dalam kesempatan ini, Michael Asmara akan berkolaborasi dengan Nadya Janitra (Indonesia) dan Song Hong Chamber Music (Vietnam). Adapun Patrick Gunawan Hartono akan menampilkan repertoar berjudul Unity yang mengkombinasikan media audio dan visual. Dalam penggarapannya, Unity tercipta berdasarkan pengalaman komposer ketika berada selama sepuluh tahun di dua dimensi budaya, yaitu Indonesia dan Eropa. Michael Asmara dan Patrick Gunawan Hartono adalah dua komposer kontemporer garda depan Indonesia. Michael Asmara dikenal sebagai komposer yang menggabungkan falsafah musik timur dan idiom musik barat. Sementara itu Patrick Gunawan Hartono dikenal dunia sebagai komposer elektronik dan elektroakustik....

Read More
Menuju Festival Arsip IVAA: Peluncuran Buku “JEJAK, Seni dan Pernak Pernik Dunia Nyata”
Aug04

Menuju Festival Arsip IVAA: Peluncuran Buku “JEJAK, Seni dan Pernak Pernik Dunia Nyata”

Pengalaman bangsa Indonesia dengan sejarahnya telah menunjukkan bahwa sejarah tidak pernah lepas dari kepentingan kekuasaan. Hal itu juga berlaku dalam penyusunan sejarah seni rupa. Membicarakan sejarah berarti sambil mempertanyakan versi. Dari situlah, kerja pengarsipan menemukan urgensinya. Dan Indonesian Visual Art Archive (IVAA) sebagai lembaga yang sudah bergerak selama 22 tahun di bidang pengarsipan seni rupa merasa perlu untuk memantik kegairahan publik terhadap kerja pengarsipan. Untuk memancing kegairahan publik pada kerja pengarsipan ini, IVAA menggagas Festival Arsip (Fest!Sip) IVAA. Sebuah acara perayaan kehidupan atas budaya arsip yang selama ini hidup di antara kita, dalam berbagai lini dan skala. Fest!Sip mengajak publik untuk melihat dan berkaca kembali pada sejarahnya, terutama sejarah seni visual di Indonesia dan kaitannya dengan dinamika zaman yang terus-menerus bergerak. Format festival sendiri dipilih untuk memaksimalkan daya dalam memantik gairah publik. Upaya yang kemudian diwujudkan menjadi salah satu kegiatan Festival Arsip adalah Lokakarya Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa. Lokakarya digelar sejak bulan Mei-Juni 2017 di rumah IVAA. Peserta diberi materi-materi seperti sejarah seni rupa Indonesia, dinamika praktik pengarsipan seni budaya di Indonesia, digital humanities , serta metodologi penelitian dan pengarsipan seni. Tujuan dari lokakarya sendiri yaitu mengajak para peserta belajar melakukan eksplorasi, analisis, dan penelitian di bidang seni budaya dengan menggunakan arsip.  Proses pembelajaran peserta selama 2 bulan menghasilkan 11 esai yang kemudian dikemas dalam satu buku berjudul “Jejak: Seni dan Pernak Pernik Dunia Nyata”. Peserta yang terpilih berangkat dari profesi dan latar belakang pendidikan yang bervariasi. Sehingga ide serta gagasan yang mereka miliki terkait seni rupa menghasilkan esai dengan beragam tema, yaitu: Analisis Kerja Kreatif Zaenal Arifin dalam Lukisan “Realis Surealis” (Evan Sapentri) Kinetik Seni, Teknologi, dan Mekanik (Rio Raharjo) MATA Ullen Sentalu, Ruang dalam Sebuah Poros (Annisa Rachmatika Sari) Medan Seni Kartunis, Pakyo! (Muhammad Irvan) Menyoal Sensor Film, di Antara Swasensor dan Teror (Hardiwan Prayogo) Menyimak Praktik Ruang Seni Alternatif di Manado (David Ganap) Pertumbuhan dan Pergeseran Praktik Residensi di Jogja (Arga Aditya) Reproduksi Identitas Komunitas Seni Sakato Sebagai Kelompok Seniman Berbasis Etnis di Yogyakarta (Alwan Brilian Dewanta) S. Sudjojono dan Internasionalisme (Aam Endah Handoko) Seni Instalasi: Pernak-Pernik Dunia Nyata (Sadida Inani) Seni yang Memunggungi Orang Miskin (Isma Swastiningrum) Menariknya, ide dan gagasan ini sangat dekat dengan kehidupan masing-masing individu, dan secara tidak langsung menunjukkan subjektifitas dunia nyata dalam perspektif mereka. Sumber arsip yang dipakai pun bermacam-macam. Tak hanya dari buku dan wawancara, tetapi juga katalog pameran, kliping seni, dan web online tentang seni yang belum banyak dimanfaatkan. Bertempat di Rumah IVAA pada hari Jumat, 11 Agustus 2017, launching dan bedah buku JEJAK: Seni dan Pernak Pernik Dunia Nyata mengundang dua pembicara. Yakni, Fairuzul Mumtaz yang bertindak sebagai editor buku sekaligus mentor yang membimbing peserta dalam penulisan. Kemudian...

Read More