Menikmati Libur Lebaran dengan Menonton Sajian Film di Viu
Jun23

Menikmati Libur Lebaran dengan Menonton Sajian Film di Viu

Menyambut liburan ini dengan gembira dan ini adalah waktu yang tepat untuk menikmati hiburan Asia terbaik bersama keluarga dan teman. Kamu dapat menikmati liburan Kamu dengan menonton beberapa drama dan film seru dari Korea, Hindi, Thailand, Turki dan Indonesia di Viu. Konten hiburan ini juga bisa menjadi teman perjalanan Kamu ketika mudik. Viu menghadirkan lebih dari 20.000 jam konten hiburan Asia terbaik kepada Viuers (pengguna Viu). Viu juga menyediakan konten simulcast yang tersedia di Viu hanya dalam 8 jam dengan teks Bahasa Inggris (dan dalam waktu 24 jam dengan teks bahasa Indonesia) setelah ditayangkan di negara asal, seperti Korea atau Jepang. Kamu dapat mengakses Viu di ponsel dan tablet dengan mendownload aplikasi Viu dari Google Play atau Apple App Store, serta di desktop melalui https://www.viu.com/id. Nikmati Serial Drama Korea Terpopluler berikut ini hanya di Viu selama libur Lebaran!  ...

Read More
Lensa Mata Kembali Hadirkan Film Seluloid di Malang
Jun11

Lensa Mata Kembali Hadirkan Film Seluloid di Malang

Sudah sejak lama, film berkembang ke arah digital sehingga penggunaan film seluloid pun mulai ditinggalkan. Inilah salah satu faktor yang membuat barang-barang seperti proyektor, pemotong film, poster serta gulungan film milik bapak Hariadi, tak terjamah selama 26 tahun. Beliau adalah seorang pegiat bioskop keliling bernama “Cinedex 14” (Cinema Gedek) yang cukup berjaya pada masanya. Setelah sekian lama menyimpan barang-berharga tersebut di dalam gudang, bapak Hariadi memutuskan untuk mendirikan “Indonesian Old Cinema Museum Malang” tepat pada 3 April 2017 lalu. Keberadaan museum film analog pertama di Malang ini menarik perhatian sekelompok pecinta film yang tergabung dalam Lensa Mata. Pertemuan dengan bapak Hariadi pun membuat Lensa Mata diamanahkan untuk mengelola museum tersebut. Beberapa rencana telah disusun oleh Lensa Mata. Harapannya, selain melakukan perawatan pada peralatan yang ada, mereka bisa membuat database film-film dan alat-alat yang ada di museum agar kemudian dapat diakses oleh masyarakat. Tak hanya itu, tetapi juga melakukan pemutaran film yang tentunya menggunakan film seluloid, baik di lokasi museum atau di luar museum. Kegiatan pemutaran, dengan nama yang sama seperti kepemilikan bapak Hariadi di masa lampau, yakni “Cinedex 14”, menjadi modal awal dalam pengelolaan museum. Tepat pada 13 Juni 2017 pukul 19:30 WIB, pemutaran film berjudul “Bayi Ajaib” (1982) karya sutradara Tindra Rengat akan dilaksanakan di museum yang terletak di RM. Ringin Asri Jl. Sukarno Hatta No. 45, Kota Malang. Film tersebut dirasa cocok dengan nuansa Ramadhan yang identik dengan pengembalian kesadaran dan peningkatan religiusitas umat muslim. Terlebih, masyarakat sekaligus bisa bernostalgia melalui film seluloid tanpa mengeluarkan biaya pada pemutaran ini. Jadi, mari bernostalgia...

Read More
Film Panas: “Ageless” Sebuah Film Dokumenter Tentang Piringan Hitam dan Wreda
Jun07

Film Panas: “Ageless” Sebuah Film Dokumenter Tentang Piringan Hitam dan Wreda

“Ageless” merupakan sebuah film dokumenter yang menceritakan korelasi antara pengaruh musik dengan kejiwaan seseorang, dalam hal ini dengan para lansia yang tinggal di panti wreda (panti jompo). Film karya Kiki Assaf (DJ, aktivis vinyl, produser) ini berisi wawancara antara Tata Karwata (pengamat musik) dengan Dr. Maruli Mangunsong (pakar bidang neurologi) sebagai respon terhadap kegiatan milik Sukabumi Vinyl Club, yaitu melakukan kunjungan dan memutar album-album piringan hitam lawas di sejumlah panti wreda di Sukabumi. Nostalgia yang diberikan vinyl atau piringan hitam terhadap lansia yang tinggal di panti wreda membawa kenangan masa lalu di kala muda melalui pemutaran lagu-lagu lama via medium yang paling familiar dengan mereka pada zamannya, hal tersebut secara psikologis diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup mereka di usia senja. Pada akhir pekan ini, Jumat tanggal 09 Juni 2017, Spasial akan menggelar pemutaran (screening) film “Ageless” yang juga akan ditemani dialog bersama Kiki Assaf (director), Kairyadi Halim (IDDIGERS), Budi Warsito (Kineruku) dan Idhar Resmadi sebagai moderator. Screening “Ageless” akan berlangsung di Spasial (Jl Gudang Selatan no 22B, Bandung) mulai pukul 19.00 sampai selesai.  ...

Read More
Bicara Soal Moralitas dalam Film Enter The Void
May31

Bicara Soal Moralitas dalam Film Enter The Void

Ketika menonton film ini maka ingatan kita seakan dibawa seperti saat menonton video musik Smack My Bitch Up karya Prodigy. Sejak adegan pertama, penonton disuguhkan adegan aktifitas sehari-hari karakter tersebut seperti aktifitas di toilet saat pagi hari, ganti pakaian, dan menghisap marijuana.  Adegan-adegan berikutnya adalah  mengisahkan kehidupan malam karakter tersebut. Terlihat dia masuk ke sebuah klab malam, menenggak minuman, menghisap marijuana (lagi) dan membuat kekacauan. Pada akhirnya, dia sukses menggaet satu perempuan dan membawanya pulang ke rumah. Mereka bercinta, lalu si perempuan pergi begitu saja. Konklusi dari sosok karakter tersebut terjawab ketika karakter tak bernama itu kemudian menghadap ke sebuah cermin. Pada titik ini, penonton baru tahu bahwa semua adegan tadi dilihat dari sudut pandang seorang perempuan. Lupakan Prodigy, dalam Enter the Void ini pun memberikan sensasi visual yang sama. Film karya Gaspar Noe tersebut menceritakan perjalanan hidup subjektif suatu karakter, mulai dari ingatan-ingatan di masa lalu, halusinasi penggunakan narkotika dan hal-hal erotis yang nampak secara langsung di visual penonton dengan ditambahkan efek-efek gambar sinematik. Sejak awal film, penonton diposisikan dalam diri Oscar. Penonton melihat apa yang Oscar lihat, lengkap dengan kedipan mata dan halusinasinya saat mengkonsumsi narkotika. Dalam sebuah transaksi narkotika, Oscar ditembak mati polisi. Ia menjadi arwah penasaran dan melayang-layang di langit kota Tokyo. Arwah Oscar yang melayang-layang di langit Tokyo tersebut seakan ingin mengawasi adik kesayangannya yang juga terjebak dalam dunia malam yang kelam sebagai penari telanjang disalah satu klab malam Tokyo.  Dengan sudut pandang orang pertama yang Noe terapkan, perjalanan Oscar jadi tidak sekadar perjalanan sebuah hantu menembus batas dimensi, tapi juga petualangan pandangan mata yang hanya bisa dimungkinkan oleh kamera film. Secara garis besar selain unsur kekerasan (narkotika, pornografi) film ini menceritakan tentang kisah drama masa lalu sepasang kakak beradik (Oscar dan Linda) dan atraksi antara laki-laki dan perempuan dalam lingkup keluarga. Mereka berjanji untuk selalu bersama sepeninggal orang tua mereka karena kecelakaan mobil. Mereka dipertemukan kembali di Tokyo saat sudah dewasa dan Oscar mengusahakan hal tersebut untuk mendatangkan Linda, meskipun harus berjualan narkotika sebagai cara untuk mengumpulkan uang. Kemampuan Oscar setelah meninggal ia gunakan untuk menembus batas-batas pribadi kehidupan Linda, dan melakukan apa yang selama ini dilarang oleh status mereka sebagai kakak-adik seperti melihat Linda buka baju dan telanjang di kamarnya sendiri, melihat Linda berhubungan intim dengan bosnya di tempat kerjanya hingga merasuki  tubuh seorang laki-laki dan merasakan dirinya berhubungan intim dengan adiknya sendiri. Inti dari film ini selain visual sinematiknya yang luar biasa adalah mengenai moralitas seseorang. Moralitas bagaimana kita tidak boleh “mengintip” hal-hal personal milik orang lain, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Saya rasa Noe sukses merepresentasikan maksud dari filmnya ini, dengan menggunakan metode melodrama psikedelik yang sukses membius visual dan pendengaran penonton filmnya.     The Adobe...

Read More
Propaganda LGBT Melalui Film Masih Dianggap Gagal
May28

Propaganda LGBT Melalui Film Masih Dianggap Gagal

Beberapa tahun terakhir isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) cukup santer berhembus di masyarakat, termasuk di dunia perfilman dunia. Beberapa film yang mendapat sorotan mengenai hal ini antara lain adalah Beauty and the Beast dan Power Rangers. Menurut penelitian terbaru yang dilakukan Glaad, dunia perfilman tahun lalu masih belum berhasil merepresentasikan LGBT. Studi tahunan yang dikenal dengan nama Studio Responsibility Index itu menilai 125 film yang dirilis pada tahun 2016 silam. Hasilnya, hanya ditemukan 18,4 persen film yang mengandung karakter LGBT. Kebanyakan masih diberi peran yang minor, bukan utama. Bahkan, di 10 dari 23 film yang punya karakter LGBT hanya memunculkannya selama kurang dari satu menit di layar bioskop. Rumah produksi besar turut mendapat sorotan dalam penelitian tersebut. Disney, Sony dan Lionsgate dinilai menjadi studio yang gagal merepresentasikan LGBT dan Fox, Paramount, ataupun Warner Bros juga dinilai masih miskin karakter maupun cerita LGBT. Namun dalam laporannya, Ellis selaku presiden dari Glaad menyampaikan ada awal yang menjanjikan untuk film-film di tahun 2017, karena telah dimunculkan karakter LGBT dalam karya besar seperti Beauty and the Beast dan Power Rangers. Hanya saja, program televisi masih lebih merepresentasikan kepanikan atau homofobia. “Millennials dengan usia 18 hingga 34 tahun dua kali lebih mungkin diidentifikasi sebagai LGBT daripada generasi tua,” tulis Ellis. Ia melanjutkan, jika film ingin tetap dianggap relevan dengan penonton, mereka harus merefleksikan keberagaman di...

Read More
“Marlina the Murderer in Four Acts” Tuai Pujian di  Festival Film Cannes
May28

“Marlina the Murderer in Four Acts” Tuai Pujian di Festival Film Cannes

Film Marlina the Murderer in Four Acts yang dibintangi Marsha Timothy menuai pujian di Festival Film Cannes, Perancis. Film yang mengisahkan perjuangan seorang janda itu dianggap permata baru dalam festival film tingkat internasional tersebut. Kritikus film internasional banyak menggambarkan film tersebut sebagai film ‘permata’ yang menyenangkan dengan gambar elok dan memberikan citra baik dalam ajang film tersebut. Marlina the Murderer in Four Acts karya Mouly Surya itu menceritakan kisah Marsha Timothy menjadi sosok Marlina yang seorang janda dan harus melawan perampok. Marlina tinggal sendirian di sebuah bukit di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Suatu kali, pria bernama Markus dan kelompotannya mencoba merampok Marlina. Namun dengan penuh keberanian, Marlina membunuh Markus demi mempertahankan diri. Akan tetapi masalah belum selesai, Marlina ternyata dibayangi oleh sosok Markus yang kemudian mengubah hidupnya 180 derajat. “Tidak terlalu banyak film yang menceritakan pahlawan wanita yang menghabiskan sebagian besar waktunya bepergian dengan bus dan menunggang kuda dengan beberapa kepala di dalam tasnya dan dipuji karena kehalusan mereka membuat hal tersebut,” seperti diulas AFP. Sang sutradara Mouly Surya mengatakan  bahwa film tersebut mendapatkan banyak bantuan dari Perancis dan produser dari negara tersebut, Isabelle Galchant. Keputusan Mouly menayangkan kontur geografi Sumba ternyata membawa decak kagum di Cannes. Para penonton di Negeri Parfum itu terpesona akan panorama Sumba yang cenderung berbeda dibandingkan sisi Indonesia lainnya. “Saya kerjakan ini sudah dua tahun lamanya, melihat pasar film awalnya saya ke festival di Tokyo dan Busan,” kata Mouly yang kemudian bertemu tidak sengaja dengan Glachant suatu hari dan mendapatkan ide dari produser tersebut dikutip dari CNN.  The Adobe Flash Player is required for video playback.Get the latest Flash Player or Watch this video on...

Read More