JAFF 2017 Mengusung Tema “Fluidity”
Nov09

JAFF 2017 Mengusung Tema “Fluidity”

Tahun ini, JAFF akan digelar pada 1-8 Desember 2017 mendatang di berbagai lokasi di Yogyakarta, yaitu Taman Budaya Yogyakarta, Cinema XXI, CGV Cinemas dan Taman Tebing Breksi dengan mengangkat tema “Fluidity” yang dimaksudkan seperti air yang senantiasa berubah dan berkembang, mengalir mengikuti arus namun tetap mempertahankan karakter air itu sendiri. Selain pemutaran film-film Asia-Pasifik, pada JAFF tahun ini juga dihelat berbagai macam kompetisi dalam program Asian Feature yang memperebutkan Golden Hanoman Award, Silver Hanoman Award, Geber Award dan NETPAC Award. Yang menarik dari JAFF tahun ini adalah sutradara Joko Anwar mendapat ruang khusus untuk dapat memutarkan film-film karyanya. Sebuah program yang bernama Focus on Joko Anwar akan memutarkan sebanyak 6 film. Tidak sekedar memutarkan film saja, JAFF juga akan menyediakan ruang bagi para pelaku dan penikmat film dalam sebuah program yang bernama Community Forum dan Public Lecture untuk dapat saling berdiskusi dan bertukar pikiran dalam pembahasan mengenai dunia perfilman dengan turut hadirnya pembicara seperti Garin Nugroho, Mira Lesmana, Reza Rahardian, Wregas Bhanuteja hingga Tony...

Read More
Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak Tayang Perdana di JAFF Yogyakarta
Nov08

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak Tayang Perdana di JAFF Yogyakarta

Menjelang acara Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-12 Desember mendatang, pada hari Selasa (7/11) telah digelar pemutaran perdana di wilayah Indonesia untuk Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak di CGV Hartono Mall, Yogyakarta. Menurut produser Rama Adi, filmini sangat perlu diputar dalam perhelatan ini, karena  hadir sebagai salah satu festival film terbesar dan terpenting di Indonesia. Film yang mengambil latar belakang di Sumba, Nusa Tenggara Timur ini bercerita tentang tujuh perampok mendatangi rumah seorang janda bernama Marlina (Marsha Timothy) ini mendapatkan kesempatan spesial untuk didapuk sebagi pengantar dari gelaran Jogja-NETPAC Asian Film Festival, dan menurut sang produser Rama Adi, fdirinya dan orang-orang dibalik film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak  merasa tersanjung pemutaran perdana film mereka dapat digelar di acara ini, karena JAFF sendiri adalah sebuah festival film terbesar di Indonesia dan Asia Pasifik....

Read More
Cher Terjun ke Layar Lebar dalam Film “Mamma Mia: Here We Go Again!”
Oct22

Cher Terjun ke Layar Lebar dalam Film “Mamma Mia: Here We Go Again!”

Ikon musik dunia, Cher telah bergabung dengan proyek film Mamma Mia: Here We Go Again! yang merupakan sekuel dari film berjudul Mamma Mia. Menurut  Variety, penyanyi ini akan berperan sebagai sosok yang masih dirahasiakan dan ini akan menjadi debutnya kembali di sebuah film layar lebar semenjak Burlesque pada tahun 2010. Cher akan bergabung dengan Meryl Streep sebagai Donna, Julie Walters sebagai Rosie dan Christine Baranski sebagai Tanya. Amanda Seyfried dan Dominic Cooper kembali berperan sebagai Sophie dan Sky, sementara Pierce Brosnan, Stellan Skarsgård dan Colin Firth juga kembali senbagai Sam, Bill dan Harry. Sekuel ini juga diramaikan oleh Lily James (Cinderella, Baby Driver), Alexa Davies (A Brilliant Young Mind), Jessica Keenan Wynn (Go Green), Jeremy Irvine (Fallen), Josh Dylan (Allied), Hugh Skinner (Kill Your Friends). Ol Parker’s (The Best Exotic Marigold Hotel) akan mengarahkan film ini dengan naskah yang ditulis oleh Catherine Johnson, Richard Curtis dan Parker...

Read More
Film Banda: Belajar Sejarah dengan Sinematografi Ala Video Musik
Aug27

Film Banda: Belajar Sejarah dengan Sinematografi Ala Video Musik

  Dikenal sebagai produser vide musik, Banda menjadi film panjang pertama dari seorang Jay Subiyakto. Pada divisi  naskah dari film ini ditulis oleh Irfan Ramli (penulis Cahaya Dari Timur, Surat Dari Praha). Sebagai film dokumenter tidak lengkap menyebutkan departemen kamera yang dipimpin oleh Sinematografer, Ipung Rachmat Syaiful, ICS, didukung oleh second unit camera Davy Linggar dan Oscar Motuloh. Aktor Reza Rahadian pun ditugaskan menjadi narator untuk bahasa Indonesia, sementara Ario Bayu untuk versi bahasa Inggrisnya. Dalam Banda the Dark Forgotten Trail ini diperlihatkan kepulauan Banda yang kini telah terlupakan, di mana pada masa penjajahan yang lalu pulau ini menjadi kawasan yang paling diburu oleh para penjajah karena menghasilkan pala terbaik, dimana pada masa itu pala menjadi salah satu komoditi rempah yang ditaksir dengan harga yang sangat tinggi melebihi emas. Tak hanya pala, pulau Banda meninggalkan kenangan masa lampau yang penuh dengan darah dan kesedihan. Kejayaan Banda dan pala berubah saat VOC tiba di sana dan melakukan aksi paling brutal sepanjang sejarah. Dari jumlah 14.000 orang, setelah peristiwa pembantaian pada tahun 1621 jumlah penduduk asli kepulauan Banda hanya tersisa 480 orang saja. Selain soal tanaman pala nya, Banda juga turut berperan penting dalam lahirnya Indonesia, karena Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, Dr. Tjipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusuma Sumantri sempat dibuang ke Banda Neira dan disanalah tempat munculnya ide-ide kebangsaan itu lahir. Sinematografi dalam film dokumenter ini sangatlah luar biasa. Jay Subiyakto seakan dapat menghadirkan visual ala video musik bertemakan alam dan kehidupan manusia kedalam sebuah bentuk film dokumenter. Berbagai cuplikan foto yang cepat membuat kita semakin fokus menonton. Pemandangan Banda yang diperlihatkan memanjakan mata para penonton, mulai dari kebun pala, pesisir pantai, hingga benteng-benteng Belanda yang bertebaran di pulau tersebut. Jay pun menyelipkan animasi untuk melengkapi sejarah kelam Banda. Tepuk tangan juga patut dilayangkan pada Indra Perkasa Lie sebagai musik komposer yang menghasilkan musik yang megah dan menghentak. Banda the Dark Forgotten Trail sukses mengajak kita mempelajari sejarah Bangsa ini dalam format dokumenter yang tidak membosankan, dan dengan mengetahui sejarah Bangsa, diharap kita semua juga semakin bangga kepada negara kita ini dengan segala kekayaan...

Read More
‘Biji Kopi Indonesia’ Rilis DVD Limited Edition
Aug04

‘Biji Kopi Indonesia’ Rilis DVD Limited Edition

  Lebih dari 300 tahun yang lalu kopi dibudidayakan di Indonesia, akan tetapi literatur dan sumber rujukan mengenai kopi Indonesia masih terbatas. Biji Kopi Indonesia (Aroma of Heaven) adalah film dokumenter yang merekam jejak perjalanan sejarah kopi Indonesia. Dokumenter ini hadir sebagai arsip visual yang memberikan gambaran tentang kekayaan cita rasa kopi dengan latar keragaman budaya Indonesia. Setelah dirilis tiga tahun yang lalu, kini Biji Kopi Indonesia (Aroma of Heaven) merilis filmnya dalam bentuk DVD. Sejak tanggal 3 Juni 2014 film ini telah ditayangkan di beberapa kota di Indonesia, antara lain, Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Bali, hingga ke luar Indonesia, salah satunya di Santa Anna, Amerika Serikat, dan Vancouver, Canada dalam acara World Coffee Film Festival. Media film dokumenter memiliki peran penting untuk memberikan hal yang faktual dalam kondisi sosial dan menjadi bahan kajian sekaligus bentangan perspektif yang menarik. Oleh karena itu, menurut Pujo Semedi, Antropolog dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, film ini menjadi penting sebagai arsip visual perjalanan kopi Indonesia. “Kami, seluruh keluarga besar Biji Kopi Indonesia (Aroma of Heaven) sangat bersyukur telah mendapat dukungan dan apresiasi positif dari masyarakat Indonesia dan internasional, khususnya para penggemar kopi. Sayangnya masih banyak dari teman-teman yang meminta film ini diputar di kotanya, namun kami belum bisa menyambanginya satu persatu. Oleh karena itu, dengan dirilisnya film Biji Kopi Indonesia (Aroma of Heaven) dalam bentuk DVD, diharapkan dapat menjawab keinginan dari teman-teman. Sehingga jumlah penonton film dokumenter ini semakin bertambah dan jangkauannya semakin luas,” tutur Budi Kurniawan, sang sutradara.   Bekerja sama dengan Nayaka Indonesia, DVD film Biji Kopi Indonesia (Aroma Of Heaven) hadir dalam kemasan limited edition. Paket istimewa ini berisi DVD dengan special features (behind the scene dan trailer), block note, postcard, serta dompet kulit. Proses pemesanan sudah dimulai semenjak 24 Juli lalu. Paket DVD yang dicetak dalam jumlah terbatas ini dapat dipesan dan dibeli secara online melalui website Nayaka Indonesia: www.nayakaindonesia.com, atau akun media sosial @nayakaindonesia dengan harga pre order 375k dan regular 500k.  ...

Read More
Menikmati Libur Lebaran dengan Menonton Sajian Film di Viu
Jun23

Menikmati Libur Lebaran dengan Menonton Sajian Film di Viu

Menyambut liburan ini dengan gembira dan ini adalah waktu yang tepat untuk menikmati hiburan Asia terbaik bersama keluarga dan teman. Kamu dapat menikmati liburan Kamu dengan menonton beberapa drama dan film seru dari Korea, Hindi, Thailand, Turki dan Indonesia di Viu. Konten hiburan ini juga bisa menjadi teman perjalanan Kamu ketika mudik. Viu menghadirkan lebih dari 20.000 jam konten hiburan Asia terbaik kepada Viuers (pengguna Viu). Viu juga menyediakan konten simulcast yang tersedia di Viu hanya dalam 8 jam dengan teks Bahasa Inggris (dan dalam waktu 24 jam dengan teks bahasa Indonesia) setelah ditayangkan di negara asal, seperti Korea atau Jepang. Kamu dapat mengakses Viu di ponsel dan tablet dengan mendownload aplikasi Viu dari Google Play atau Apple App Store, serta di desktop melalui https://www.viu.com/id. Nikmati Serial Drama Korea Terpopluler berikut ini hanya di Viu selama libur Lebaran!  ...

Read More