Menjadi Kreatif dalam Industri Hiburan di Bandung Creative Scene 2017
Mar10

Menjadi Kreatif dalam Industri Hiburan di Bandung Creative Scene 2017

Entertainment kini telah tumbuh berkembang menjadi sebuah industri dengan pendapatan yang cukup tinggi. Perkembangan industri entertainment tertuju langsung pada pembangunan ekonomi modern dan peningkatan produktifitas. Isu terpenting dalam pembangunan entertainment sebagai sebuah industri adalah berkembangnya produktifitas dari pekerja di bidang itu sendiri. Perkembangan teknologi juga menambah jumlah permintaan akan produk dan pelayanan entertainment yang menggiring proses ini ke penciptaan bentuk entertainment kontemporer. Why is it important to be creative? Menjadi kreatif merupakan hal yang penting. Kenapa? Pernahkah kamu ditanya, atau bahkan bertanya pada diri sendiri, “ Selanjutnya apa?” Setiap orang punya beragam cara untuk mengisi waktu dalam kesehariannya. Bagaimana cara kamu melewati setiap jam dalam satu hari? Kamu pasti punya waktu dan ruang yang kamu ciptakan sendiri untuk menjawab pertanyaan tadi. Kamu akan bisa mendengar dirimu sendiri berpikir dan menemukan hal yang kamu suka dan ingin dilakukan. Menjadi kreatif adalah berpikir, mengidentifikasi, menjelajah, memahami, mencoba, menemukan, menciptakan dan menetapkan sebuah ide atau gagasan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Pernah mendengar istilah Startup? Istilah ini begitu dikenal dan sekarang mulai banyak orang yang berani mengimplementasikan ide baru menjadi sebuah bisnis. Dalam bisnis entertainment, adalah sangat penting berkreasi dengan gayamu sendiri. Menunjukkan karya yang sebelumnya tak terlihat oleh ornag banyak. Namun kini, dengan menjadikannya sebuah startup baru, kamu bisa memperlihatkan dan menciptakan ruang baru untuk produktifitas berbeda yang penuh potensi. Seperti yang dikatakan oleh Joseph Chilton Pearce, “ Untuk menjalani hidup yang kreatif, kita harus mengenyahkan rasa takut salah.” Berdasarkan hal tersebut di atas, DSOC,  sebagai platform digital dance network bekerjasama dengan Authenticity mengadakan sebuah event bertajuk BCS2017 akronim dari BANDUNG CREATIVE SCENE 2017. BCS2017 sendiri merupakan gelaran perdana yang bertujuan untuk mengembangkan kreatifitas menjadi sebuah bisnis dengan pendapatan tinggi. Di gelaran perdana ini, acara akan dikemas dalam bentuk talk show yang menampilkan beberapa pembicara asal Bandung yang kompeten di bidangnya masing-masing. Mereka adalah Brand Manager Colosseum Club Jakarta Andrey Samsudin, CEO Tridy Production Dody Majid, CEO RR Lighting Robby Antonius, dan CEO Sembilan Matahari Adi Panuntun. Para pembicara akan menampilkan presentasi terkait pengalamannya dalam bisnis entertainment dimana pemaparannya akan menjadi ilmu berguna dan meningkatkan daya kreatifitas audience. Acara akan dilangsungkan pada Sabtu, 11 Maret 2017, di Infinite Lounge The Crowne Plaza Hotel, Jl Lembong no. 19 Lt. 22 Bandung, mulai pukul 12.00 – 18.00 WIB. Acara kemudian akan dilanjutkan dengan sesi After Party yang akan dimeriahkan oleh d’ubz band (80’s dance music) dengan set house music oleh Marciano Namara, Hendra,...

Read More
Dalam Waktu Dekat, Soundcloud Akan Diakuisisi Spotify
Nov10

Dalam Waktu Dekat, Soundcloud Akan Diakuisisi Spotify

Desas-desus bahwa layanan musik streaming asal Swedia, Spotify yang akan mengakuisisi salah satu rivalnya, Soundcloud yang berasal dari Jerman nampaknya akan segera menjadi kenyataan, karena saat ini Spotify ingin mengalahkan rival terberatnya yaitu Apple Music. Meskipun cukup populer, SoundCloud dianggap sedit tertinggal dibandng platform musik lainnya. Dikutip dari Financial Times, proses akuisisi ini dilakukan demi strategi dan bisnis Spotify kedepannya, terlebih lagi pada 2017, Spotify ingin memperbesar jumlah penggunanya dengan fitur-fitur yang ada di SoundCloud, dimana banyak musisi indie dan musisi elektronik bisa menggunggah karyanya dengan bebas....

Read More
Pokemon dan Emo: Emosi Generasi 2000-an
Jul24

Pokemon dan Emo: Emosi Generasi 2000-an

Katanya budaya berjalan berputar-putar; maju ke depan dengan spiral. Katanya tidak ada budaya yang mati; hanya kita saja yang merasa jenuh. Akibatnya, tren budaya massa apapun yang terjadi di masa lalu akan kita jumpai lagi di masa depan karena siklus ini. Biasanya, diikuti pula oleh tingkatan emosi yang lebih kuat dari sebelumnya. Lihat saja sekarang ini. Sekali lagi Pokemon menjadi fenomena global. Faktor emosi yang lebih kuat dari sebelumnya berhasil mendemamkan kegilaan seluruh dunia hanya dalam satu malam. Bukan jitunya sebuah marketing atau teori kecanggihan teknologi jadi penyebabnya namun emosi kolektif lah yang mampu memicunya. Hal yang sama terjadi dengan jargon generasi 90an berserta meme-meme atau artifak-artifak masa-masa itu yang direduplikasi kembali sebagai pengingat bahwa kita sudah berjalan jauh. Mereka mengingatkan. Bukankah melihat ke belakang itu indah? Meski kecil, melihat spion adalah cara kita merasa aman saat melihat ke depan kan? Dan yang indah bagi sebuah generasi milenial terjadi pada malam Minggu kemarin. Yakni pagelaran kolaboratif antara We.Hum Collective dan SobatIndi3 yang menyuguhkan Sugar We’re Going Down Singing! dalam kurung berkaraoke bareng musik emo dan pop-punk di Jakarta. Acara ini memutarkan musik-musik introspektif dan sentimenal memorable era 2000-an. Malam seperti ini biasa disebut emo night. Maaf untuk pop-punk karena sepertinya harus melebur masuk ke pusaran emo. Pasalnya tahun 2000-an terdapat momen crossover yang mengakibatkan tipisnya irisan untuk membedakan emo dan pop-punk bahkan pop. Band-band semacam Saves The Day, The Starting Line dan New Found Glory adalah yang dimaksud. Plus, apakah Blink-182 mendahului mereka karena punya track berjudul Emo? Sekitar 80 orang atau lebih menyesaki Mondo cafe, lantai 3 Rossi Musik, bilangan selatan Jakarta. Tidak hanya berdiam diri atau sekedar menganggukan kepala secara vertikal horizon, namun orang-orang itu berlomba-lomba menarik oksigen di paru-paru mereka dengan cara bernyanyi kencang. Tercipta gelombang koor yang berlarut-larut surut ketika DJ memutar nomor ‘Best of Me’ milik The Starting Line, misalnya. Apalagi My Chemical Romance, kaki ini gemetar karena takut lantai rubuh demi meneriaki ‘I’m not Okay’. Bagian yang perlu dicatat adalah semua orang menikmati malam itu. Tidak peduli referensi tentang Emo itu adalah At The Drive-In atau My Chemical Romance sampai From First To Last, di sini kita merayakan satu dekade kebelakang saat musik benar-benar menyatu lewat perasaan terlupakan. Bukan lagi atas fondasi ideal tertentu, meski ini juga perlu. Era 2000-an sendiri menjadi penting. Pasalnya tahun-tahun itu dapat jadi salah satu faktor yang mendefinisikan sebuah generasi. Di Amerika, Serangan 11 September, Perang Irak dan Bush mempengaruhi kecemasan anak muda di sana. Musik yang emosional dan lirik yang geram mendorong kita merasa terwakilkan dengan band seperti Jimmy Eat World di album Bleed American misalnya. Belum lagi energi dan kharisma Chris Carrabba di Dashboard Confessional yang...

Read More
Rich Chigga, Rapper Fenomenal Jakarta Yang Dapat Respek Ghostface Killah
Jul23

Rich Chigga, Rapper Fenomenal Jakarta Yang Dapat Respek Ghostface Killah

Brian Imanuel atau Rich Chigga menuai sensasi karena video dari single “Dat $tick” yang berhasil viral di Youtube hingga Spotify pada awal tahun 2016. Videonya berhasil ditonton 7 juta viewers sejak dirilis Februari lalu. Ini fenomenal. Tapi bagaimana rapper asal Jakarta ini bisa mendapatkan buzz segila ini? Pertama mungkin namanya. Rich Chigga tidak diperbincangankan di Tanah Air, ia justru menjadi buah bibir di Amerika dan negara lain. Wajar, dari pemilihan monikernya pun cukup menohok bagi orang luar. Menurut urbadictionary, Chigga merupakan sebutan slang buat warga Asia yang mencari tempat di kultur hip hop. Nama ini jadi penting. Ya tentu saja, tanpa sadar Brian memberikan statement kalau musik hip hop serta genre lain di bawah payung budaya pop masih dianggap sebagai tempat utopis. Di mana secara universal, tiap individu berhak punya rasa memiliki, terlebih saat posisi kamu adalah outsider maka hip hop adalah anthem. Namun belakangan, Brian sendiri menyesal memilih alias tersebut. Kedua. Yang makin bikin nama Rich Chigga meroket adalah karena dia menjadi fitur di video 88rising di mana rapper-rapper kenaman duduk mengomentari single dan video “Dat $tick”. Di antaranya adalah Cam’ron, Desiigner dan yang istimewa adalah Ghostface Killah, rapper yang dianggap legenda dan namanya yang besar berkat grup Wu-Tang Clan. Reaksinya tidak terduga. Mereka nampak tercengang karena vocal Brian yang terdengar berat namun siapa sangka dia ternyata masih berusia 16 tahun. Akibat faktor usia itu, salah satunya menyebut Rich Chigga bakal berpotensi menjadi nama yang diperhitungkan di ekosistem rap. Ghostface Killah sendiri menikmati bagaimana trap beat mengiringi rant rapper yang baru belajar sekitar 4 tahun lalu ini. “Ini beda! Kamu belum pernah lihat (rapper) yang seperti ini” timpal Ghostface Killah. Menurutnya, Brian berani jujur tentang dirinya sendiri dan itu yang paling keren. Ghostface Killah katanya siap buat me-remix single ini. Wah! Selain itu, tentu saja apa yang banyak membuat tertarik dengan Rich Chigga adalah musik dan cara menyampaikannya. Dalam durasi yag cukup singkat, yakni 2 menit. Brian mengamati tensi kehidupan di sekitar yang terlihat tidak beres. Banyak topik provokatif di track yang musiknya diproduseri Ananta Vinnie tersebut bicarakan, misalnya arogansi aparat, ketimpangan sosial, drugs bahkan gangster. ini nyaris mirip dengan bagaimana rapper dan musik rap Amerika tumbuh di ghetto. “People be starving//And people be killing for food//With that crack and that spoon//But these rich mothafuckas they stay eatin’ good//Droppin’ wage livin good,” ucap Brian di dalam verse ‘Dat $tick’. Barisan kata ini adalah pernyataan yang jujur. Media-media hip hop seperti Complex turut memuji rapper muda ini. Di dalam videonya, Brian pintar memainkan stereotype menjadi sesuatu yang komikal dan satir. Di sana dia memilih memakai kaos polo berwana pink, celana khaki serta tas pinggang Reebok daripada tampil klise dengan...

Read More
Kenali Jenis-Jenis Royalti dalam Industri Musik
Jul17

Kenali Jenis-Jenis Royalti dalam Industri Musik

Banyak diantara musisi dan pencipta lagu di Indonesia khususnya yang belum tahu tentang publishing. Publishing sendiri berarti penerbit maknanya adalah wadah kumpulan karya lagu, penerbit yang bertanggung jawab untuk memastikan penulis lagu dan komposer menerima royalti atau hasil dari penjualan ketika komposisi mereka digunakan secara komersial. Jika kamu menulis lagu, dan lagu tersebut dijual, download, streaming atau digunakan dalam banyak cara lain, kamu harus tahu jika mereka (konsumen) menghasilkan royalti untuk sang penulis dan pencipta lagu itu sendiri. Saat ini, jenis royalti penulis lagu yang diperoleh ada dua cara : Analog Songwriter Royalti (yang dihasilkan dari industri musik dalam bentuk fisik ), dan Royalti Digital Songwriter (yang dihasilkan dari industri musik digital modern). Dengan semua cara yang berbeda. Syarat mutlak dari setiap aliran pendapatan dan jenis royalti yang dijelaskan di bawah ini dihasilkan dari rekaman asli dari lagu atau “komposisi” yang telah diciptakan pertama kali. Mechanical Royalties Sebagai contoh  menjual produk fisik seperti CD, piringan hitam atau kaset, Setiap kali sebuah rilisan laku dijual atau diproduksi, kamu akan mendapatkan yang namanya Mechanical Royalties, ini artinya jika yang terjual dari hasil reproduksi lagu  atau hasil rekaman. Sebagai contoh reproduksi di AS, maka tingkat royalti adalah $ 0,091 untuk lagu di bawah lima menit. Tingkat rumus  yang ditetapkan oleh Pemerintah AS untuk lagu lebih dari lima menit di luar AS royalti biasanya 8% -10%. Analog Public Performance Royalties Setiap kali ada pertunjukan musik yang memainkan komposisi lagu yang kamu buat, itu sudah terjadi sebuah royalti. Sementara sebuah pertunjukan sering kali diadakan baik di pub, cafe ataupun lapangan, airplay di radio, bahkan ketika mendengarkan musik di restoran dan salon, penulis lagu pun seharusnya mendapatkan royalti. Dalam hal ini jadi siapa yang membayar ?  radio, TV jaringan, bar, restoran, pesawat terbang, kantor, biosko  merekalah yang seharusnya membayarkan royalti. Baik di AS maupun di luar AS, tingkat royalti ditentukan oleh negosiasi masing masing antara organisasi-organisasi pertunjukan atau melalui collecting society. Synchronization License Royalties (dari “Distribusi” Copyright) Jika ada perusahaan produksi atau orang lain ingin menggunakan komposisi musik kamu dalam acara TV, film atau komersial, Mereka harus membayar lisensi sinkronisasi. Biaya lisensi (baik dalam dan di luar AS) adalah negosiasi biasanya didasarkan pada beberapa hal seperti penggunaan durasi, bagaimana itu digunakan (background atau upfront), format dan berdasarkan popularitas lagunya. Mechanical Synchronization Royalties Berarti bahwa ada per unit royalti pembayaran ke penulis lagu berdasarkan jumlah unit yang diproduksi dengan meliputi lagu yang ada didalam sebuah perangkat  (kartu , mainan, video game, dll). Tergantung pada jenis unit yang diproduksi. Print Royalties Seperti namanya, royalti ini dihasilkan dari hak cipta Pubic Display.  Royalti ini terletak pada sesuatu yang tercetak misal lirik, lembaran musik, tablature, dll. Ketika penerbit musik seperti Hal Leonard atau Universal Music Publishing membuat lembaran musik, atau perusahaan cetak kaos dengan tercantum lirik pada kaosnya, mereka diwajibkan untuk...

Read More
Budaya Berbagi dan Kaitannya dengan Musik di Indonesia
Jul04

Budaya Berbagi dan Kaitannya dengan Musik di Indonesia

Di Indonesia, berbagi bisa dibilang sudah menjadi budaya tersendiri. Berbagi bisa dalam hal apapun, sesimpel berbagi makanan hingga berbagi data, dalam konteks ini adalah file musik. Sudah menjadi hal umum kita menemukan file-file lagu di warnet-warnet yang ada di seluruh Indonesia, atau saling berbagi lagu bersama teman melalui flashdisk atau bluetooth di handphone. Dari sisi marketing tentu hal ini bagus, karena karya dari musisi dapat tersebar dengan luas, namun dari segi bisnis tentu merugikan karena karya tersebut dibagikan secara “gratis”. Ditengah carut marutnya sistem dan budaya pembajakan tersebut, band pop independen asal Jakarta, Efek Rumah Kaca ternyata memiliki sudut pandangnya sendiri. Mereka menggunakan lisensi Creative Commons dalam menyebarkan karya musiknya, dimana dengan menggunakan lisensi tersebut musisi bisa dibilang menggratiskan musiknya untuk dikonsumsi oleh para pendengar secara legal, dengan batasan tertentu pastinya. Bicara soal menggratiskan karya dan membawakan ulang karya musik, sebenarnya sudah sejak lama terjadi di dunia, terlihat dari banyaknya video cover song di situs Youtube ataupun Soundcloud, namun bisa dibilang hal ini ilegal secara hukum karena mereka tidak memperoleh ijin resmi dari pencipta dan musisi aslinya, terlebih jika kemudian lagu tersebut diperuntukkan untuk kepentingan komersial, seperti montenasi di Youtube. Di Indonesia sendiri belum lama ini band pop punk asal Yogyakarta, Endank Soekamti melakukan terobosan baru dalam album terbaru mereka ‘Soekamti Day’, dimana mereka membuat sebuah proyek bernama Soekamti Karaoke dimana para musisi dan pendengar dibebaskan untuk me remix lagu di album tersebut, dengan diberikan secara langsung source asli dari lagunya. Saat ini, Ripstore.Asia dan Creative Commons juga sedang membuat kompetisi secara online dimana para musisi dan pendengar band Efek Rumah Kaca dibebaskan membawakan ulang lagu-lagu dari ERK, dan 14 lagu terpilih akan dirilis secara bebas unduh saat perayaan #Netlabelday 14 Juli 2016 mendatang. Sebagai pendengar musik dan fans dari Efek Rumah Kaca, kamu juga dapat berkontribusi dengan melalukan vote pada musisi idola atau lagu yang kamu suka dalam kompetisi #Tribute2ERK ini, dengan membuka websitenya di tautan berikut ini. Fenomena ini tentu menggambarkan semakin sadarnya musisi dalam penggunaan lisensi Creative Commons dan budaya berbagi itu sendiri, dimana karya dapat tersebar lebih luas bahkan dapat memunculkan wujud baru dari karya aslinya itu sendiri seperti apa yang dilakukan oleh Endank Soekamti dan Efek Rumah Kaca, dan tentunya secara tidak langsung musisi-musisi yang tidak pernah terendus namanya jadi mulai dikenal banyak orang karena membawakan lagu dari band atau musisi yang sudah punya nama di Indonesia, melalui jalur hukum yang legal tentunya. *) Catatan ini merupakan bagian dari sindikasi #tribute2ERK inisiasi Ripstore.Asia dan Creative Commons Indonesia bersama Kanal Tigapuluh, Disorder Zine, Surnalisme, Ronascent, Jakartabeat dan...

Read More