_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"kanaltigapuluh.info","urls":{"Home":"http://kanaltigapuluh.info","Category":"http://kanaltigapuluh.info/category/nowplaying/","Archive":"http://kanaltigapuluh.info/2017/04/","Post":"http://kanaltigapuluh.info/puma-keluarkan-koleksi-terbarunya-dalam-seri-classics/","Page":"http://kanaltigapuluh.info/redaksi/","Attachment":"http://kanaltigapuluh.info/puma-keluarkan-koleksi-terbarunya-dalam-seri-classics/http-bae-hypebeast-comfiles201703sesame-street-puma-suede-2017-collaboration-1/","Nav_menu_item":"http://kanaltigapuluh.info/culture-art/","Wpcf7_contact_form":"http://kanaltigapuluh.info/?post_type=wpcf7_contact_form&p=1161"}}_ap_ufee
Pokemon dan Emo: Emosi Generasi 2000-an
Jul24

Pokemon dan Emo: Emosi Generasi 2000-an

Katanya budaya berjalan berputar-putar; maju ke depan dengan spiral. Katanya tidak ada budaya yang mati; hanya kita saja yang merasa jenuh. Akibatnya, tren budaya massa apapun yang terjadi di masa lalu akan kita jumpai lagi di masa depan karena siklus ini. Biasanya, diikuti pula oleh tingkatan emosi yang lebih kuat dari sebelumnya. Lihat saja sekarang ini. Sekali lagi Pokemon menjadi fenomena global. Faktor emosi yang lebih kuat dari sebelumnya berhasil mendemamkan kegilaan seluruh dunia hanya dalam satu malam. Bukan jitunya sebuah marketing atau teori kecanggihan teknologi jadi penyebabnya namun emosi kolektif lah yang mampu memicunya. Hal yang sama terjadi dengan jargon generasi 90an berserta meme-meme atau artifak-artifak masa-masa itu yang direduplikasi kembali sebagai pengingat bahwa kita sudah berjalan jauh. Mereka mengingatkan. Bukankah melihat ke belakang itu indah? Meski kecil, melihat spion adalah cara kita merasa aman saat melihat ke depan kan? Dan yang indah bagi sebuah generasi milenial terjadi pada malam Minggu kemarin. Yakni pagelaran kolaboratif antara We.Hum Collective dan SobatIndi3 yang menyuguhkan Sugar We’re Going Down Singing! dalam kurung berkaraoke bareng musik emo dan pop-punk di Jakarta. Acara ini memutarkan musik-musik introspektif dan sentimenal memorable era 2000-an. Malam seperti ini biasa disebut emo night. Maaf untuk pop-punk karena sepertinya harus melebur masuk ke pusaran emo. Pasalnya tahun 2000-an terdapat momen crossover yang mengakibatkan tipisnya irisan untuk membedakan emo dan pop-punk bahkan pop. Band-band semacam Saves The Day, The Starting Line dan New Found Glory adalah yang dimaksud. Plus, apakah Blink-182 mendahului mereka karena punya track berjudul Emo? Sekitar 80 orang atau lebih menyesaki Mondo cafe, lantai 3 Rossi Musik, bilangan selatan Jakarta. Tidak hanya berdiam diri atau sekedar menganggukan kepala secara vertikal horizon, namun orang-orang itu berlomba-lomba menarik oksigen di paru-paru mereka dengan cara bernyanyi kencang. Tercipta gelombang koor yang berlarut-larut surut ketika DJ memutar nomor ‘Best of Me’ milik The Starting Line, misalnya. Apalagi My Chemical Romance, kaki ini gemetar karena takut lantai rubuh demi meneriaki ‘I’m not Okay’. Bagian yang perlu dicatat adalah semua orang menikmati malam itu. Tidak peduli referensi tentang Emo itu adalah At The Drive-In atau My Chemical Romance sampai From First To Last, di sini kita merayakan satu dekade kebelakang saat musik benar-benar menyatu lewat perasaan terlupakan. Bukan lagi atas fondasi ideal tertentu, meski ini juga perlu. Era 2000-an sendiri menjadi penting. Pasalnya tahun-tahun itu dapat jadi salah satu faktor yang mendefinisikan sebuah generasi. Di Amerika, Serangan 11 September, Perang Irak dan Bush mempengaruhi kecemasan anak muda di sana. Musik yang emosional dan lirik yang geram mendorong kita merasa terwakilkan dengan band seperti Jimmy Eat World di album Bleed American misalnya. Belum lagi energi dan kharisma Chris Carrabba di Dashboard Confessional yang...

Read More
Rich Chigga, Rapper Fenomenal Jakarta Yang Dapat Respek Ghostface Killah
Jul23

Rich Chigga, Rapper Fenomenal Jakarta Yang Dapat Respek Ghostface Killah

Brian Imanuel atau Rich Chigga menuai sensasi karena video dari single “Dat $tick” yang berhasil viral di Youtube hingga Spotify pada awal tahun 2016. Videonya berhasil ditonton 7 juta viewers sejak dirilis Februari lalu. Ini fenomenal. Tapi bagaimana rapper asal Jakarta ini bisa mendapatkan buzz segila ini? Pertama mungkin namanya. Rich Chigga tidak diperbincangankan di Tanah Air, ia justru menjadi buah bibir di Amerika dan negara lain. Wajar, dari pemilihan monikernya pun cukup menohok bagi orang luar. Menurut urbadictionary, Chigga merupakan sebutan slang buat warga Asia yang mencari tempat di kultur hip hop. Nama ini jadi penting. Ya tentu saja, tanpa sadar Brian memberikan statement kalau musik hip hop serta genre lain di bawah payung budaya pop masih dianggap sebagai tempat utopis. Di mana secara universal, tiap individu berhak punya rasa memiliki, terlebih saat posisi kamu adalah outsider maka hip hop adalah anthem. Namun belakangan, Brian sendiri menyesal memilih alias tersebut. Kedua. Yang makin bikin nama Rich Chigga meroket adalah karena dia menjadi fitur di video 88rising di mana rapper-rapper kenaman duduk mengomentari single dan video “Dat $tick”. Di antaranya adalah Cam’ron, Desiigner dan yang istimewa adalah Ghostface Killah, rapper yang dianggap legenda dan namanya yang besar berkat grup Wu-Tang Clan. Reaksinya tidak terduga. Mereka nampak tercengang karena vocal Brian yang terdengar berat namun siapa sangka dia ternyata masih berusia 16 tahun. Akibat faktor usia itu, salah satunya menyebut Rich Chigga bakal berpotensi menjadi nama yang diperhitungkan di ekosistem rap. Ghostface Killah sendiri menikmati bagaimana trap beat mengiringi rant rapper yang baru belajar sekitar 4 tahun lalu ini. “Ini beda! Kamu belum pernah lihat (rapper) yang seperti ini” timpal Ghostface Killah. Menurutnya, Brian berani jujur tentang dirinya sendiri dan itu yang paling keren. Ghostface Killah katanya siap buat me-remix single ini. Wah! Selain itu, tentu saja apa yang banyak membuat tertarik dengan Rich Chigga adalah musik dan cara menyampaikannya. Dalam durasi yag cukup singkat, yakni 2 menit. Brian mengamati tensi kehidupan di sekitar yang terlihat tidak beres. Banyak topik provokatif di track yang musiknya diproduseri Ananta Vinnie tersebut bicarakan, misalnya arogansi aparat, ketimpangan sosial, drugs bahkan gangster. ini nyaris mirip dengan bagaimana rapper dan musik rap Amerika tumbuh di ghetto. “People be starving//And people be killing for food//With that crack and that spoon//But these rich mothafuckas they stay eatin’ good//Droppin’ wage livin good,” ucap Brian di dalam verse ‘Dat $tick’. Barisan kata ini adalah pernyataan yang jujur. Media-media hip hop seperti Complex turut memuji rapper muda ini. Di dalam videonya, Brian pintar memainkan stereotype menjadi sesuatu yang komikal dan satir. Di sana dia memilih memakai kaos polo berwana pink, celana khaki serta tas pinggang Reebok daripada tampil klise dengan...

Read More
Kenali Jenis-Jenis Royalti dalam Industri Musik
Jul17

Kenali Jenis-Jenis Royalti dalam Industri Musik

Banyak diantara musisi dan pencipta lagu di Indonesia khususnya yang belum tahu tentang publishing. Publishing sendiri berarti penerbit maknanya adalah wadah kumpulan karya lagu, penerbit yang bertanggung jawab untuk memastikan penulis lagu dan komposer menerima royalti atau hasil dari penjualan ketika komposisi mereka digunakan secara komersial. Jika kamu menulis lagu, dan lagu tersebut dijual, download, streaming atau digunakan dalam banyak cara lain, kamu harus tahu jika mereka (konsumen) menghasilkan royalti untuk sang penulis dan pencipta lagu itu sendiri. Saat ini, jenis royalti penulis lagu yang diperoleh ada dua cara : Analog Songwriter Royalti (yang dihasilkan dari industri musik dalam bentuk fisik ), dan Royalti Digital Songwriter (yang dihasilkan dari industri musik digital modern). Dengan semua cara yang berbeda. Syarat mutlak dari setiap aliran pendapatan dan jenis royalti yang dijelaskan di bawah ini dihasilkan dari rekaman asli dari lagu atau “komposisi” yang telah diciptakan pertama kali. Mechanical Royalties Sebagai contoh  menjual produk fisik seperti CD, piringan hitam atau kaset, Setiap kali sebuah rilisan laku dijual atau diproduksi, kamu akan mendapatkan yang namanya Mechanical Royalties, ini artinya jika yang terjual dari hasil reproduksi lagu  atau hasil rekaman. Sebagai contoh reproduksi di AS, maka tingkat royalti adalah $ 0,091 untuk lagu di bawah lima menit. Tingkat rumus  yang ditetapkan oleh Pemerintah AS untuk lagu lebih dari lima menit di luar AS royalti biasanya 8% -10%. Analog Public Performance Royalties Setiap kali ada pertunjukan musik yang memainkan komposisi lagu yang kamu buat, itu sudah terjadi sebuah royalti. Sementara sebuah pertunjukan sering kali diadakan baik di pub, cafe ataupun lapangan, airplay di radio, bahkan ketika mendengarkan musik di restoran dan salon, penulis lagu pun seharusnya mendapatkan royalti. Dalam hal ini jadi siapa yang membayar ?  radio, TV jaringan, bar, restoran, pesawat terbang, kantor, biosko  merekalah yang seharusnya membayarkan royalti. Baik di AS maupun di luar AS, tingkat royalti ditentukan oleh negosiasi masing masing antara organisasi-organisasi pertunjukan atau melalui collecting society. Synchronization License Royalties (dari “Distribusi” Copyright) Jika ada perusahaan produksi atau orang lain ingin menggunakan komposisi musik kamu dalam acara TV, film atau komersial, Mereka harus membayar lisensi sinkronisasi. Biaya lisensi (baik dalam dan di luar AS) adalah negosiasi biasanya didasarkan pada beberapa hal seperti penggunaan durasi, bagaimana itu digunakan (background atau upfront), format dan berdasarkan popularitas lagunya. Mechanical Synchronization Royalties Berarti bahwa ada per unit royalti pembayaran ke penulis lagu berdasarkan jumlah unit yang diproduksi dengan meliputi lagu yang ada didalam sebuah perangkat  (kartu , mainan, video game, dll). Tergantung pada jenis unit yang diproduksi. Print Royalties Seperti namanya, royalti ini dihasilkan dari hak cipta Pubic Display.  Royalti ini terletak pada sesuatu yang tercetak misal lirik, lembaran musik, tablature, dll. Ketika penerbit musik seperti Hal Leonard atau Universal Music Publishing membuat lembaran musik, atau perusahaan cetak kaos dengan tercantum lirik pada kaosnya, mereka diwajibkan untuk...

Read More
Budaya Berbagi dan Kaitannya dengan Musik di Indonesia
Jul04

Budaya Berbagi dan Kaitannya dengan Musik di Indonesia

Di Indonesia, berbagi bisa dibilang sudah menjadi budaya tersendiri. Berbagi bisa dalam hal apapun, sesimpel berbagi makanan hingga berbagi data, dalam konteks ini adalah file musik. Sudah menjadi hal umum kita menemukan file-file lagu di warnet-warnet yang ada di seluruh Indonesia, atau saling berbagi lagu bersama teman melalui flashdisk atau bluetooth di handphone. Dari sisi marketing tentu hal ini bagus, karena karya dari musisi dapat tersebar dengan luas, namun dari segi bisnis tentu merugikan karena karya tersebut dibagikan secara “gratis”. Ditengah carut marutnya sistem dan budaya pembajakan tersebut, band pop independen asal Jakarta, Efek Rumah Kaca ternyata memiliki sudut pandangnya sendiri. Mereka menggunakan lisensi Creative Commons dalam menyebarkan karya musiknya, dimana dengan menggunakan lisensi tersebut musisi bisa dibilang menggratiskan musiknya untuk dikonsumsi oleh para pendengar secara legal, dengan batasan tertentu pastinya. Bicara soal menggratiskan karya dan membawakan ulang karya musik, sebenarnya sudah sejak lama terjadi di dunia, terlihat dari banyaknya video cover song di situs Youtube ataupun Soundcloud, namun bisa dibilang hal ini ilegal secara hukum karena mereka tidak memperoleh ijin resmi dari pencipta dan musisi aslinya, terlebih jika kemudian lagu tersebut diperuntukkan untuk kepentingan komersial, seperti montenasi di Youtube. Di Indonesia sendiri belum lama ini band pop punk asal Yogyakarta, Endank Soekamti melakukan terobosan baru dalam album terbaru mereka ‘Soekamti Day’, dimana mereka membuat sebuah proyek bernama Soekamti Karaoke dimana para musisi dan pendengar dibebaskan untuk me remix lagu di album tersebut, dengan diberikan secara langsung source asli dari lagunya. Saat ini, Ripstore.Asia dan Creative Commons juga sedang membuat kompetisi secara online dimana para musisi dan pendengar band Efek Rumah Kaca dibebaskan membawakan ulang lagu-lagu dari ERK, dan 14 lagu terpilih akan dirilis secara bebas unduh saat perayaan #Netlabelday 14 Juli 2016 mendatang. Sebagai pendengar musik dan fans dari Efek Rumah Kaca, kamu juga dapat berkontribusi dengan melalukan vote pada musisi idola atau lagu yang kamu suka dalam kompetisi #Tribute2ERK ini, dengan membuka websitenya di tautan berikut ini. Fenomena ini tentu menggambarkan semakin sadarnya musisi dalam penggunaan lisensi Creative Commons dan budaya berbagi itu sendiri, dimana karya dapat tersebar lebih luas bahkan dapat memunculkan wujud baru dari karya aslinya itu sendiri seperti apa yang dilakukan oleh Endank Soekamti dan Efek Rumah Kaca, dan tentunya secara tidak langsung musisi-musisi yang tidak pernah terendus namanya jadi mulai dikenal banyak orang karena membawakan lagu dari band atau musisi yang sudah punya nama di Indonesia, melalui jalur hukum yang legal tentunya. *) Catatan ini merupakan bagian dari sindikasi #tribute2ERK inisiasi Ripstore.Asia dan Creative Commons Indonesia bersama Kanal Tigapuluh, Disorder Zine, Surnalisme, Ronascent, Jakartabeat dan...

Read More
Efek Rumah Kaca dan Creative Commons Kita
Jun22

Efek Rumah Kaca dan Creative Commons Kita

Ada banyak cara bagi Anda untuk menemukan ERK, menyelami lirik dan nada, mengoleksi musiknya lalu jatuh cinta kepadanya. Ia bisa saja menghampiri Anda dengan cara tak terduga. Entah rekomendasi kawan lama yang tahunan tak jumpa, disetel sayup-sayup saat sore-sore ngobrol politik di kantor teman, atau petikan reffrainnya yang diposting mantan. Tak menutup kemungkinan juga Anda baru ‘menemukannya’ setelah membaca catatan ini, bergabung bersama banyak persinggungan lain yang telah menemukannya lebih dulu: pecinta musik, kolektor, ibu rumah tangga, abg labil, musisi sejawat, aktivis NGO, sampai pemuda gabut seperti saya. Bogor tahun 2008 adalah momen gabut dan jatuh cinta pertama saya pada ERK, setelah tuntas deadline redaksi melawan deru AC, hujan seharian dan kantuk tak tertahan; menelusuri kanal-kanal blog mencari bahan bacaan adalah usaha terbaik satu-satunya. Yang saya ingat, saya baru saja selesai mengunduh berkas PDF dari sebuah blog. PDF itu kumpulan artikel yang aslinya difotokopi lalu disebar gerilya ke berbagai gigs di Jakarta. Tak hanya diberikan link unduh softcopynya cuma-cuma, ia bahkan disertakan cara untuk mencetaknya di kertas HVS sambil disarankan untuk disebarkan ulang ke teman lainnya. Judul berkas PDF itu ‘Di Udara’ namanya, kumpulan artikel yang dibuat khusus untuk mengulas satu band pujaan trio pop minimalis asal Jakarta yang baru punya satu album: Efek Rumah Kaca. Nama Di Udara sendiri diambil dari salah satu lagu ERK tentang Munir Said Thalib yang meninggal dalam perjalanan pesawat jurusan ke Amsterdam, 7 September 2004 pada umur 39 tahun. Dua bulan setelah kematiannya, penyidik menemukan jejak-jejak senyawa arsenikum di tubuh Munir. SBY sempat membuat tim investigasi independen, namun hasil penyelidikannya tidak pernah diterbitkan ke publik sampai hari ini. Indonesia tidak tahu persisnya apa yang terjadi dengan Munir di udara saat itu. Yang jelas kematiannya memicu gelombang baru kesadaran pemuda di Indonesia tentang kondisi sosial politik negaranya. Sebagian lagi melawan dengan tagar #menolaklupa untuk banyak kasus pembunuhan serupa dan penghilangan paksa yang ditutup-tutupi rezim. Kembali ke ERK, dulu saya pikir hebat betul ada band lokal seperti ini, baru merilis debut album sudah dibuatkan kumpulan artikel khusus oleh penggemar yang merangkap awak redaksi. Di sanalah saya menemukan tulisan-tulisan segar Zelva, Deva dan Nando, sosok virtual yang dulu hanya saya kenal sebatas di multiply dan Yahoo Messenger. Menjalankan fanzine karena kecintaan, tiga fans garis depan ini mungkin tak menduga ERK bakal menjadi sebesar sekarang, baik nama dan karyanya. Meski hanya terbit beberapa edisi saja, Di Udara jelas memicu ERK menjadi sassus dan omongan dimana-mana tentangnya, terlebih bagi saya dan lingkaran pertemanan saya di Bogor yang notabene jauh dari riuhnya skena Jakarta, begitu juga mungkin di kota dan provinsi lain. Di kesempatan lain pada tahun yang sama, ERK juga menghampiri saya dengan cara unik. Tepatnya lewat track...

Read More
Waduh, Pertunjukan Musik Underground Dilarang di Demak, Jawa Tengah
Jun08

Waduh, Pertunjukan Musik Underground Dilarang di Demak, Jawa Tengah

Setelah sebelumnya ulama dan gubernur Aceh Barat melarang pertunjukan konser musik di daerahnya, kali ini giliran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Demak, Jawa Tengah melarang konser musik reggae dan punk digelar di kota tersebut. Anehnya, mereka tidak melarang konser musik dangdut yang notabene menampilkan pertunjukan yang bisa dibilang seronok, karena dianggap merupakan budaya asli anak bangsa. “Kalau band-band biasa atau musik dangdut masih diizinkan, karena ini kan musik asli Tanah Air. Berbeda dengan musik punk, reggae atau jenis musik underground itu,” ujar Ketua PCNU Demak, Musyadad Syarif, dikutip dari Okezone. “Kalau musik dangdutan dengan batas waktu tertentu, ya monggo-lah, silakan. Selain ini budaya asli bangsa, penontonnya juga lebih mudah dikendalikan. Tidak sampai membuat anak-anak ikut berpakaian aneh-aneh yang menjadi ciri khas aliran musik reggae dan punk itu,” jelasnya. Ketua GP Ansor Demak, Abdurrahman Kasdi menambahkan, belum lama ini terdapat konser musik punk dan membawa dampak cukup besar. Sejumlah anak muda dan santri pondok pesantren (ponpes) mendadak tak pulang ke rumah atau ponpes. “Setelah ditelusuri ternyata mereka mengikuti orang-orang yang datang saat konser itu (punk/reggae). Hal ini kan meresahkan orangtua serta kalangan ponpes, ditambah lagi Demak dikenal secara luas sebagai kota santri,” tutup Abdurrahman....

Read More