_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"kanaltigapuluh.info","urls":{"Home":"http://kanaltigapuluh.info","Category":"http://kanaltigapuluh.info/category/nowplaying/","Archive":"http://kanaltigapuluh.info/2017/05/","Post":"http://kanaltigapuluh.info/liam-gallagher-akan-sambangi-indonesia/","Page":"http://kanaltigapuluh.info/redaksi/","Attachment":"http://kanaltigapuluh.info/liam-gallagher-akan-sambangi-indonesia/ehr_men_060417liam/","Nav_menu_item":"http://kanaltigapuluh.info/culture-art/","Wpcf7_contact_form":"http://kanaltigapuluh.info/?post_type=wpcf7_contact_form&p=1161"}}_ap_ufee
Dryjacket Gambarkan Efek Krisis Finansial di Klip “Patron Without Funds”
May16

Dryjacket Gambarkan Efek Krisis Finansial di Klip “Patron Without Funds”

Dalam video klip barunya yang dirilis oleh Hopeless Records, Dryjacket secara menggetarkan merekam satu sisi kota New York dan orang-orang di dalamnya. “It’s getting difficult to wait,” buka single ‘Patron Without Funds’ yang bernada murung pada awalnya namun berakhir dengan semangat yang membebaskan. Video ini menceritakan seorang patron (pencari nafkah) dengan kontras emosi berbeda. Josh Coll sebagai sutradara berperan apik menerjemahkan lirik dari lagu yang cukup realistis tentang efek kesulitan finansial yang menerpa Amerika Serikat. Single ini masih diambil dari album baru mereka For Posterity. Album tersebut menjadi favorit para penggemar emo dan indie-rock, mengingatkan nomor Death Cab For Cutie hingga American Football. The Adobe Flash Player is required for video playback.Get the latest Flash Player or Watch this video on...

Read More
Tentang Album ‘Thousand Mile Stare’  Incendiary
May06

Tentang Album ‘Thousand Mile Stare’ Incendiary

Jika berbicara hardcore, sudah pasti New York adalah salah satu tempat yang diagungkan. Namun yang tidak terduga adalah di sudut timur wilayah suburban kota tersebut, tepatnya Long Island, ternyata ada scene hardcore lokal yang juga tidak kalah intens. Setidaknya, scene hardcore Long Island sekarang sedang punya idola baru, bernama Incendiary. Terbentuk pada tahun 2007, Incendiary terkenal karena berhasil menjembatani tradisi NYHC ala Earth Crisis dengan roots lokal Long Island macam Vision of Disorder. Roots Long Island lain yang cukup mempengaruhi band ini juga datang dari nomor Glassjaw. Terbukti, album Cost of Living rilisan tahun 2013 berhasil merekam sisi poignant band ini yang diselimuti atmosfir metallic hardcore yang ketat dan bertenaga. Saat saya mendengarkan album terbaru band ini, Thousand Mile Stare, rasanya sangat lengkap. Meski bukan seorang yang mengikuti hardcore, tapi Incendiary berhasil membakar darah saya dengan agresi hardcore yang intens dibalut sound metal teknikal. Selain itu, sentuhan produser Will Putney (Every Time I Die, The Acacia Strain) nampak terasa di keseluruhan produksi. Tiap track di album ini digeber dengan sangat dahsyat—riff tajam dan hentakan patah-patah bersahutan dengan shouting dari departemen vokal, ambil contoh track “Front Toward Enemy”, “The Product Is You” dan “Fact Or Fiction”. Kualitas tersebut menemani  band ini yang secara lirik menumpahkan kefrustasian sosial politik yang relevan dan mendesak. Dirilis label Closed Casket Activities, Thousand Mile Stare adalah album yang menjadi lanjutan yang tepat paska Cost of Living. Materi di sini sangat kuat menjadikan album terbaik persembahan Incendiary, setidaknya untuk saat ini. The Adobe Flash Player is required for video playback.Get the latest Flash Player or Watch this video on...

Read More
Youth Killed It Berikan Nafas Baru Brit-rock di Debut Album ‘Modern Bollotics’
May06

Youth Killed It Berikan Nafas Baru Brit-rock di Debut Album ‘Modern Bollotics’

Saat saya menyimak materi Youth Killed It, benak saya sedikit dibuat berpikir, mempertanyakan apakah ini rap-rock? Ataukah ini adalah dekonstruksi musik tersebut menjadi warna yang baru? Yap. Itulah kesan saya saat pertama kali disodorkan nama Youth Killed It dan album pertamanya ‘Modern Bollotics’. Mereka adalah band asal Norwich UK dan sedang mendobrak batas genre ketika menyatukan grime music, indie-rock and alternative rock. Kita bisa familiar dengan riff renyah Brit-rock ala Arctic Monkeys, penyampaian vocal yang terpengaruh artist grime, kemudian juga dilengkapi sentuhan-sentuhan yang mengingatkan Fall Out Boy. Youth Killed It juga seakan melempar saya ke dua album awal Twenty One Pilots. Terbentuk sejak tahun 2010, Youth Killed It lebih dulu dikenal sebagai unit bernama Under The Influence yang memainkan rap-metal modern. Namun, pada tahun 2016, mereka memberanikan diri mengubahnya menjadi Youth Killed It dan berhasil menyita banyak perhatian dengan perubahan musik yang diusung. Setelah mengeluarkan dua EP, mereka akhirnya bekerjasama dengan Rude Records untuk memproduksi album penuh Modern Bollotics. Lewat amunisi 12 track yang padat, Youth Killed It berbicara soal perjalanan mereka sebagai band, kebosanan soal pekerjaan hingga perkuliahan, seperti tertuang dalam single ‘Popstar’.  Dengan musik yang danceable, Youth Killed It berusaha menyampaiknnya dengan cara yang menyenangkan pula, dan saya bisa memberi nilai positif untuk ini. The Adobe Flash Player is required for video playback.Get the latest Flash Player or Watch this video on...

Read More
Have A Mercy Rilis Album ‘Make The Best Of It’
Apr28

Have A Mercy Rilis Album ‘Make The Best Of It’

Perubahan personil rasanya berdampak besar mengubah visi sound Have Mercy. Terbukti, album ‘Make The Best of It’ membuat Have Mercy meluruhkan akar indie emo  yang melekat di rilisan sebelumnya, ‘The Earth Pushed Back’ (2013) dan ‘A Place of Our Own’ (2014). Sekarang, Have Mercy menempatkan ‘Make The Best of It’ sebagai album alternative rock yang terbuka dengan sound yang megah dan terpoles. Jika ada ungkapan tepat, maka saya akan bilang ini adalah Have Mercy yang baru. Bahkan ada juga yang bilang, akhirnya Brian Swindle baru menyadari potensinya sebagai penulis pop terbaik. Brian, frontman sekaligus personil asli band asal Baltimore, Maryland ini, dibantu produser Paul Leavitt (All Time Low) dan Brian McTernan (Thrice) selama proses rekaman. Ada sedikitnya 11 track yang direkam di album ketiga ini. “Coexist” masih jadi alasan kenapa saya ingin mendengarkan album ini. Ada juga track menonjol dan layak diperhatikan seperti “Baby Grand” dan “Reaper”. Secara keseluruhan album ini mudah untuk disebut kohesif dan solid, tapi tetap ‘The Earth Pushed Back’ adalah yang terbaik bagi saya. The Adobe Flash Player is required for video playback.Get the latest Flash Player or Watch this video on...

Read More
Vinyl Soundtrack La La Land Laris Manis
Apr23

Vinyl Soundtrack La La Land Laris Manis

Film drama musikal yang sedang naik daun, La La Land ternyata memikat para kolektor vinyl. Hal ini terlihat wajar karena film ini memang digarap dengan sangat serius, terutama pada bagian soundtracknya. Di penghargaan Golden Globe kemarin pun film yang dibintangi oleh Emma Stone dan Ryan Gosling menang di kategori Best Score dan Best Original Song. Justin Hurwitz adalah nama di balik scoring film ini. Sementara untuk soundtrack, salah satu musisi yang mengisi adalah John Legend yang juga ikut main peran. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh US-based Nielsen Music, La La Land Soundtrack yang dirilis oleh Interscope menduduki peringkat pertama sebagai vinyl paling ralis selama 4 bulan pertama 2017 ini dengan angka penjualan sebanyak 25.000 keping, mendahului album Bob Marley yang bertajuk Legend yang hanya laris 16.000...

Read More
Simak The Aces, Bicara Jujur Tentang Seks di Single “Physical”
Apr12

Simak The Aces, Bicara Jujur Tentang Seks di Single “Physical”

Saat membaca lirik pembuka “We can change our bad habits/Try to sleep at night” dalam single berjudul “Physical”, The Aces mencoba terdengar segar dengan mengusung lirik tentang relationship yang positif di musik pop. Terlebih, kuartet  tersebut punya pendapat yang beda dengan lirik lagu milik para popstar kebanyakan yang cenderung menonjolkan seks yang sensual. “Physical adalah ketidaktertarikan atas hubungan yang semata-mata tentang seks,” ujar band ini, dilansir dari NPR. “Casual intimacy sangat diglorifikasikan di mata masyarakat, dan kami ingin mengutarakan perspektif yang sebaliknya,” tambahnya. Lewat lagu pop yang ringan dan danceable, kuartet asal Utah itu dalam lagunya menceritakan seseorang yang sangat menginginkan makna relationship daripada sekedar hasrat seks. “Substansi (relationship) adalah yang sangat penting dan disepelekan,” tukasnya lagi. Selain itu,  mereka sedikit banyak menyalurkan inspirasi pop 80-an dengan memasukan elemen synth dan semacamnya. Meski begitu, kita seakan masih bisa menyamakan musik The Aces dengan nama-nama tertentu yang berada di lingkaran, misalnya HAIM hingga The 1975. Artinya, dari segi musik, mereka cukup kompromis dengan tren. “Physical” sendiri adalah single baru di debut EP I Don’t Like Being Honest, yang akan dirilis Red Bull Records pada 23 Juni mandatang. Single itu seolah jadi awal yang baik untuk melambungkan The Aces, yang terdiri kakak beradik Cristal (gitar/vocal) dan Alisa Ramirez (drum), Katie Henderson (gitar) dan McKenna Petty (bass). Media dan blog alternatif sudah merespon The Aces secara positif, misalnya Nylon, DIY Mag, Idolator dan lain-lain, menyebut band yang patut disimak tahun 2017. Sila dengarkan single “Physical” di Spotify, di sini....

Read More