Interview: Menguak Sisi Personal Produser Film Dokumenter Peraih Oscar, Nick Reed
Nov29

Interview: Menguak Sisi Personal Produser Film Dokumenter Peraih Oscar, Nick Reed

Dalam suatu kesempatan, kami berhasil melakukan sesi wawancara bersama Nick Reed disela kesibukannya menjadi mentor Jumpcut Asia yang digelar oleh Discovery Network Asia-Pacific. Jumpcut Asia sendiri adalah sebuah lokakarya selama tiga-hari di Singapura yang mengajak para pembuat film dengan cita-cita tinggi dalam menghasilkan konten untuk siaran global di kanal-kanal linear maupun digital melalui praktik terbaik DNAP. Jika kamu tertarik dengan program tersebut, dapat melakukan registrasi di tautan berikut ini karena pendaftaran masih dibuka hingga 11 Desember 2016. Nicholas Reed adalah seorang produser film dokumenter Asal Inggris yang namanya berhasil menembus industri perfilman Hollywood. Belum lama ini salah satu karya dokumenternya yang berjudul ‘Heart Of A Tiger’ berhasil menyabet penghargaan perfilman paling bergensi di dunia, Piala Oscar. Selain itu, Reed juga menjadi orang yang bertanggung jawab terhadap beberapa konten video viral di internet untuk beberapa brand kenamaan dunia. Simak interview ekslusif kami bersama Nick Reed berikut ini. What make you interested in becoming producer for documentaries? A story captured my imagination, so I was left with no option but to make the film. As a producer, is there any specific experience or step or phase at interest you the most in movie production? Just be passionate about a story – tell anyone and everyone and the rest will follow. You were in the military prior to your shift to your world today. What made you take this decision? Also, do you mind to share your involvement in Hollywood especially when you work on “Hook” with Steven Spielberg? As a teen, i was fascinated about becoming a pilot. My parents were not rich, so it seemed joining the military was a great way to achieve my dream. I joined the Fleet Air Arm of the British Royal Navy.  On the film HOOK, a British friend told me they wanted British extras for a big Hollywood film – they looked at my picture, thought i looked very English and looked like Robin Williams’ father and I was miraculously cast by Steven Spielberg to play Robin’s father in the movie – a total crazy Hollywood story. As I learned from your biography, you’ve been through a lot of changes; from being pilot to an actor and then to be a producer and then consultant and now even you have your own movie production. Among all of these stages and changes in life you have, which “Nick Reed” that you like the most? Or maybe you still want to go to the level and be the Nick Reed that you want? What a fun question.  I am restless in that I always want to learn, to try new things, as long as I can keep trying...

Read More
Interview: Pengalaman Seru GAC Mengisi Soundtrack Film Karya Ernest Prakarsa
Nov29

Interview: Pengalaman Seru GAC Mengisi Soundtrack Film Karya Ernest Prakarsa

Ditemui disela Konser Musik Kolaborasi Garnier Sakura Garden Festival pada hari Sabtu (26/11) yang lalu, Gamaliel Audrey Cantika (GAC) berbagi sedikit cerita mengenai proyek bermusik mereka saat ini. Ceritain dong pengalaman kalian manggung di acara ini? GAC: Kita tahun ini diundang Garnier untuk mengisi Sakura Garden Festival 2016, dan kami bakal membawakan beberapa lagu yang sudah dilatih oleh Viky Sianipar dan bandnya. Ada berapa lagu yang kalian kerjakan bersama Viky? GAC: Ada lagu kita dan beberapa lagu cover, totalnya 6 lagu. Gimana perasaan kalian dalam proyek kolaborasi ini? GAC: Seru, karena ada beberapa yang belum pernah kami bawain. Jadi, berbeda dengan manggung kita yang biasanya. Proses latihannya berapa lama? GAC: Sebenarnya kemarin kami dikasih dengar aransemennya, terus tadi sekitar jam 13.00 kami sudah GR (Gladi Resik) lengkap dengan bang Vicky. Karena kemarin untuk vokalnya belum jadi, sekarang sudah siap dengan format band. Menurut kalian, acara ini bagaimana? GAC: Seru banget karena konsepnya yang tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Yang tahun lalu ada talent search dan kolaborasi juga. Soalnya konsepnya kan “Dekatkan dirimu”, jadi ada konsep talent search yang beruntung bisa kolaborasi, nyanyi (lebih dekat dengan idola). Sudah pernah tampil di acara Garnier sebelumnya? GAC: Belum. Ini pertama kali dan excited banget. Sebelumnya kalian pernah tampil juga di Festival musik (Java Jazz Festival). Apa yang membedakan dengan penampilan kalian kali ini? GAC: Bedanya, kalau disana repertoire dan bandnya dari kita sendiri. Kalau di acara ini kita ada kolaborasi dengan bandnya Bang Vicky. Lagu-lagunya juga ada cover yang belum pernah kita bawain sebelumnya, meskipun tetap ada lagu-lagu dari album kita yang juga diaransemen ulang. Di sini juga ada multimedia dengan segala macamnya. Selain menyanyi, kesibukan kalian apa? GAC: Sebagai GAC aja sudah lumayan sibuk sih hahaha. Puji Tuhan masih ada aja kegiatan entah off air, on air ataupun foto untuk majalah. Yang terakhir kami baru ada proyek untuk mengisi salah satu soundtrack film layar lebar. Jadi ada kesempatan mengisi soundtrack? Kapan rilisnya? GAC: Iya. Sebentar lagi. Ada yang tahun ini dan tahun depan. Ada berapa lagu yang kalian buat? GAC: Dilihat nanti aja ya, karena bener-bener sebentar lagi rilisnya. Lagunya akan rilis awal Desember tahun ini. Kita juga lagi menghitung hari. Genre yang kalian bawain untuk soundtrack ini tetap pop atau bagaimana? GAC: Macem-macem sih, ada upbead, ballad, tergantung dari adegan-adegannya, karena kami mengisi beberapa scene juga. Bukan akting ya, tapi lagunya. Dan ini juga berupa proyek kolaborasi. Film apa yang menjadikan kalian sebagai pengisi soundracknya ini? GAC: Filmnya Ernest Prakarsa, judulnya “Cek Toko Sebelah”. Karena filmnya drama komedi, kalian mengisi lagu seperti apa disana? GAC: Sesuai sama scene nya. Bisa dilihat di trailernya ada sedikit lagu kami disana. Berapa bulan proses pengerjaan soundtrack film ini?...

Read More
Video Interview: Kelompok Penerbang Roket
Nov07

Video Interview: Kelompok Penerbang Roket

Band rock asal Jakarta yang digawangi oleh John Paul Patton (Bass/Lead Vocal), Rey Marshall (Guitar/Back Vocal) dan Igusti Vikranta (Drum/Backing Vocal) ini memang sedang cukup banyak diperbincangkan oleh penggemar musik rock di tanah air. Kelompok Penerbang Roket atau biasa disingkat KPR mengambil namanya dari lagu yang dipopulerkan Duo Kribo bertajuk ‘Mencarter Roket’ ini berkiblat pada musik rock Indonesia era 70an seperti AKA, Duo Kribo hingga Panbers. Jika mendengarkan lagu mereka yang berjudul Mati Muda atau Dimana Merdeka, kalian akan mengetahui cita-cita mereka tentang musik bersubstansi alkohol, keringat, protes, dan distorsi. Simak video interview ekslusif kami bersama Kelompok Penerbang Roket dibawah ini.       The Adobe Flash Player is required for video playback.Get the latest Flash Player or Watch this video on...

Read More
Pelem Ukulele, Terobosan Baru Enterpreneur Muda dalam Pembuatan Ukulele di Indonesia
Sep09

Pelem Ukulele, Terobosan Baru Enterpreneur Muda dalam Pembuatan Ukulele di Indonesia

Foto: Dokumentasi pribadi Pelem Ukulele Saat ini industri kreatif di Indonesia sudah berkembang dengan sangat pesat, salah satunya adalah industri pembuatan alat musik. Di Indonesia sendiri, lebih tepatnya di Yogyakarta terdapat sebuah industri kreatif yang khusus memproduksi alat musik ukulele, yaitu Pelem Ukulele. Seperti apakah Pelem Ukulele tersebut yang ternyata kualitas produknya sudah diakui hingga tingkat internasional? Simak interview kami bersama orang dibalik Pelem Ukulele, Wafiq Giotama yang juga bermusik bersama band Answer Sheet dan juga Fadil Firdaus berikut ini. Pelem Ukulele terbentuk sejak kapan? Ogik: Pelem Ukulele dibentuk sejak tahun 2010 namun mulai beroperasi 2011. Siapa saja orang dibelakang Pelem Ukulele? Ogik: Di Pelem Ukulele ada dua orang yaitu saya dan Mas fadil. Kalau saya lebih ke bagian marketing, dan mas Fadil lebih ke bagian produksi. Kenapa dinamakan Pelem? Dan selain Ogik apakah founder yang lain juga seorang musisi? Fadil: Produksi kami dulu memang awalnya menggunakan kayu mangga. Kebetulan kayu mangga juga salah satu kayu kelas premium untuk ukulele. Ogik: Iya, kebetulan mas Fadil dulu adalah seorang gitaris additional di sebuah band nasional dan juga seorang sound engineer. Fadil: Selain itu kami juga punya harapan kedepan untuk membuat ukulele tidak perlu menebang pohon di hutan, namun juga bisa di rumah mengingat pohon mangga di Indonesia cukup banyak ditemukan. Sebagai enterpreneur muda, apa yang mendasari kalian berani berbisnis memproduksi alat musik seperti ini? Ogik: memang waktu itu belum ada yang memproduksi ukulele di Indonesia. Saya punya ukulele dari luar negeri yang bisa dibilang harganya cukup mahal. Kebetulan dulu mas Fadil punya studio dan saya coba-coba rekam di situ. Menurut kami hasilnya kurang memuaskan. Fadil: Setelah dilihat ternyata spesifikasinya belum all solid. Sudah lumayan tapi belum maksimal. Sedangkan harga ukulele sengan spesifikasi all solid wood hanya ada dari luar negeri dan cost nya cukup tinggi. Akhirnya saya pun bertekad untuk membuat sendiri. Alat musik apa saja yang kalian produksi? Fadil: Kami berfokus di Ukulele dari ukuran soprano, concert, tenor dan baritone. Selain itu saat ini kami juga membuat guitalele. Di Indonesia sendiri apakah peminat ukulele cukup tinggi? Ogik: Semakin tahun semakin meningkat. Skena ukulele di Indonesia semakin lama semakin banyak karena adanya beberapa komunitas seperti Ukeba di Bandung, Ukesub di Surabaya, dan Jakarta Ukulele. Kenapa alat musik yang dikerjakan spesifik ke ukulele saja? Fadil: Selain karena spesialisasi kami disitu, kami berusaha memaksimalkan penggunaan kayu. Mengingat ukulele memiliki body yang lebih kecil, maka kayu yang dibutuhkan lebih sedikit. Tidak jarang kami menggunakan kayu sisa pembuatan gitar. Pengembangan seperti apa yang akan dilakukan Pelem Ukulele kedepannya? Ogik: Kami akan membuat beberapa alat musik baru seperti guitar junior dan ukulele bass. Tapi yang sedang kami kerjakan adalah mencari metode dalam meninkatkan produksi agar harga dapat ditekan namun...

Read More
Interview Plainsunset: Bicara Perubahan di Album Baru dan Skena Singapura
Aug19

Interview Plainsunset: Bicara Perubahan di Album Baru dan Skena Singapura

Dibentuk tahun 1996, Plainsunset berkembang dari komunitas punk rock. Mereka merilis debut Runaway pada tahun 1997. Plainsunset kemudian hadir dengan Love Songs For The Emotionally Wounded empat tahun kemudian. Sejak saat itu, nama mereka semakin besar dan berpengaruh. Meski sempat memutuskan bubar pada tahun 2004, tren datang silih berganti dan band-band baru bermunculan, namun Plainsunset adalah senjakala yang tidak pernah mau tenggelam. Tahun ini kuartet yang diusung Norsham Husaini, Nizam Sukri, Helmi Abd Rahman dan Jon Chan tersebut memasuki fase baru dalam berkarya lewat album anyar Both Boxer and Benjamin. Untuk itu, KANALTIGAPULUH tartarik membicarakan album baru yang  judulnya sendiri terinspirasi George Orwell itu. Sekalian juga, kami menanyakan Jon Chan dan Sham sejarah band dan skena lokal Singapura. What we should expect from your upcoming record Both Boxer & Benjamin?   Sham: Lots of guitars … like lots of them. And tambourine. And claps. And xylophone. And distortion. And delays. And singalongs. Please have a listen and give the record some support. Hope you will like it. Jon: I agree that for us it’s a little different, more textured. Also, we’re playing with a different dynamic of what we usually do. It’s just us trying things out. Could you share the meaning behind the album title Both Boxer & Benjamin?  Jon: The title is based on the theme and the characters from George Orwell’s “Animal Farm”. It’s not so much to do with his portrayal of communism, but more to do with the personalities. It’s about how all of us have both the idealist (Boxer the Horse) and the pragmatic cynic (Benjamin the Donkey). A large part of the themes are to do with social politics and dynamics. How did you write ‘Six/Four’? Jon: The song is based on a few things, ostensibly about the notion of how we move on from things. Often everything from how me move from one relationship into another, into a new job, into new places, countries, everything. In each we are always hoping that “this is it. it will be better this time.” Do you still remember how you ended up playing emo/indie-rock and punk music?   Sham: We just started the band cause we heard Green Day’s Kerplunk. As band members change and we listen to lots of other stuff beside punk rock, the band just evolve to what it is now. How do you feel when people start referring you as the most influential punk/indie rockers in Singapore? Jon: I actually still don’t know how to react to that. I think it feels slightly uncomfortable for me when I get stares on the street or something. Sham: I don’t think we are the most influential...

Read More
Saturday Night Karaoke: Jangan Anggap Gak Ada Band Pop-punk Keren Di Sini
Aug11

Saturday Night Karaoke: Jangan Anggap Gak Ada Band Pop-punk Keren Di Sini

Saturday Night Karaoke mengulik pop-punk dengan sangat pas. Mereka setia bermain-main dengan kecepatan daripada kerumitan, album Slurp! mereka berdurasi kurang dari 15 menit.  Dengan esensi yang serba terbatas seperti itu, mereka berusaha semaksimal mungkin tampil ngepop. Inilah tradisi pop-punk klasik yang kita kenal. Di luar itu, mereka berhasil mengembangkan gayanya sendiri. Penampilan mereka yang anak rumahan berhasil mengombinasikan depresi dan ekspresi geeky secara energik. Slurp! penuh dengan lagu-lagu tentang romantic angst yang diselimuti kenelangsaan identitas sebagai anak pop-punk yang sering diperlakukan under-estimate. “I’ll never get the girl if I still write stupid punk songs,” tulis Saturday Night Karaoke dalam track ’90’s Revival 101′. Tahun lalu Slurp! dirilis oleh satu label Jepang, SP Records dan dipasarkan oleh notable distributor Waterslide Records. Sementara di Indonesia, versi lokal album itu sudah hilang dari peredaran dalam waktu singkat ketika dirilis Rizkan Records. Oleh karenanya,  penasaran juga dengan trio Prabuerg (vocal/gitar), Brian (bass) dan Athif Aiman (drum)  di balik Saturday Night Karaoke saat ini. Simak interview kasual via LINE KANALTIGAPULUH dengan band yang pertama kali merilis demo CD-R sejak tahun 2008 ini tentang Slurp! dan hal-hal yang menyelimuti benak Saturday Night Karaoke. Biar mirip intro Slurp!, Saturday Night Karaoke itu? Brian  : Band keren. Prabuerg : Barasuara. Athif Aiman : Burgerkill. Prabuerg : Berak kabeh. Descendents, blink-182, The Ergs!? Prabuerg: Anjir lah, ini mah serius. Descendents. Brian : Saya Blink. Athif Aiman : Burgerkill. fuck popang!! Brian : #emonightjkt. Prabuerg : Kufur nikmat kalian semua. Tepat satu tahun Slurp! dirilis S-P records di Jepang. Apakah Slurp! debut album SNK? Coba runutkan discography kalian. Prabuerg : Silahkan Brian dan Atip. Brian:  Jadi SNK itu memiliki banyak rilisan sebelum slurp. Namun Slurp merupakan rilisan ”album” pertama. Coba Prab punten runutkan diskografi SNK, saya ndak afal hehe. Athif Aiman : Serius aing gak apal Prab. Kan aing fakk popang. Prabuerg: Slurp emang beneran album pertama pak. Soalnya dulu rilisnya EP terus. 2008 – Demo CDR 2010 – Duh! EP 2011 – Blah! EP 2011 – Kind Of Like Smitten EP (Ergs! cover EP) 2012 – Discography 2012 – Ohai! (#Bingo0202 special CDR) 2015 – Slurp! 2016 – Gawking Geek Music (split with Aggi) 2016 – Never Learn (digital single) 2016 – 行かない!(Maxi 3″ single) Seberapa penting album Slurp!? Brian : Penting sekali. buat saya itu jadi album pertama selama saya ‘ngeband’. Jadi semacam ”we’re going somewhere” juga buat saya di SNK. Prabuerg : IMO, jadi milestone SNK sih, ngarep banget bisa dirilis dan di distribusiin internasional. Jadi ya terharu banget. Athif Aiman : Penting karena saya bisa belajar ngulik pattern drum Dadang. Prabuerg : Berak haha tapi ya urang aja sampe mewek pas pertama kali unpacking paket pertama Slurp, terharu euy. Dadang drummer (SNK) sebelumnya. Athif drummer baru SNK, fresh diculik dari unit marawis berkedok indie rock, Uncanny. Brian :...

Read More