Interview: Lebih Dekat dengan Album Perdana Gardika Gigih
Nov08

Interview: Lebih Dekat dengan Album Perdana Gardika Gigih

Komponis Gardika Gigih asal Yogyakarta merilis album perdana berjudul “Nyala”. Album Nyala dalam versi digital dan cakram padat (CD) dirilis berbarengan pada Senin 6 November 2017. Pembuatan album Nyala didukung penuh oleh Sorge Records, label berbasis koperasi asal Bandung. Berikut petikan wawancara singkat mengenai album perdana komposer dan pianis muda berbakat asal Yogyakarta ini. Kenapa album penuh perdana Anda dinamai Nyala? Semua orang di dalam hidupnya pasti pernah mengalami masa-masa sulit. Nah, album ini bicara tentang harapan. Sesusah apapun situasi yang dihadapi pada akhirnya pasti akan baik-baik saja. Rasa apa yang Anda usung dalam album Nyala? Sulit untuk menjelaskannya dalam sebuah deskripsi tunggal. Album ini menyampaikan banyak emosi. Namun yang paling penting adalah sebuah ungkapan yang jujur atas perasaan. Pasti kita pernah gembira, pernah sedih, pernah mencintai, pernah marah, pernah baik-baik saja, pernah kecewa dan mengecewakan, pernah optimis, pernah pesimis, pernah down tapi juga di satu sisi penuh harapan. Rasa-rasa itulah yang menjadikan kita sebagai manusia, dan semua kontradiksi yang berkecamuk itulah yang dituangkan dalam album “Nyala” ini. Bisa ceritakan proses kreatif pembuatan lagu-lagu di dalam Nyala? Album ini prosesnya cukup panjang. Pada awalnya, saat Sorge Records menawarkan untuk mendukung penuh album ini pasca konser kolaborasi “Kita Sama-Sama Suka Hujan” di Bandung & Jakarta tahun 2015, saya belum ada bayangan ingin bikin materi seperti apa. Masih mencari-cari konsep, ide musik, warna, teknis instrumentasi, cara membuat komposisi, dan sebagainya. Tahun 2014 akhir hingga 2015 awal, saya mulai berpikir tentang tema ‘Rumah’, sesuatu yang dekat dengan keseharian kita. Namun konsep ini tak kunjung mendarat menjadi materi musik yang nyata, selain beberapa sketsa yang abstrak dan masih menggantung. Pertengahan tahun 2015, saya merasa stuck di musik. Rasanya saya ingin berhenti sejenak. Saya gamang dengan jalan ke depan. Di masa-masa penat itulah, entah kenapa saya mulai tertarik dan suka dengan cahaya. Saya banyak memperhatikan cahaya di mana saja. Cahaya, bagi saya seperti sebuah harapan di saat masa-masa sulit yang pasti kita semua pernah mengalaminya. Harapan inilah yang kemudian menjadi konsep utama dalam album “Nyala” Kemudian saya banyak menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk melamun dan merenung dengan spirit utama dalam benak saya: cahaya sebagai sebuah energi. Lalu satu persatu saya mulai membuat materi komposisi musik. Terciptalah komposisi-komposisi seperti “Ending: Departure”, “Nyala”, “Rain is Falling From You”. Rata-rata dimulai dengan ide dasar baik dari melodi, harmoni, ritme, dsb, kemudian dikembangan menjadi sebuah kerangka komposisi yang utuh. Ada juga beberapa nomor lama seperti “Kereta Senja” yang syair dan melodi vokalnya diciptakan oleh Mas Ananda Badudu, “Dan Hujan I” yang liriknya saya ciptakan bersama Mas Febriann Mohammad alias Layur. Proses komposisi ini jadi semakin detail saat kami semua berlatih. Kami berlatih hanya empat kali, pada awal hingga pertengahan...

Read More
Interview dengan Silverstein tentang “Dead Reflection” dan Pengalaman Turnya di Indonesia
Sep11

Interview dengan Silverstein tentang “Dead Reflection” dan Pengalaman Turnya di Indonesia

  Jika membicarakan band apa yang sering didengarkan ketika SMA, saya bisa menaruh Silverstein di urutan 5 teratas. Namun seiring waktu berlalu, saya tidak lagi nyetel dengan band yang telah terbentuk 17 tahun silam ini. Saat mereka kembali mengeluarkan album baru yang saya catat ini adalah album studio ke-8 mereka, saya cukup tertegun. Akhirnya saya bisa kembali menyegarkan pikiran saya tentang Silverstein lewat album barunya, Dead Reflection. Album ini kaya dengan perubahan dan penuh variasi namun benang merahnya adalah bagaimana Silverstein di sini mengatakan kalau musik bisa menyelamatkanmu. Di album Dead Reflection, Shane Told, vocalist band ini, mendokumentasikan tahun-tahun terberatnya. Pengalaman itu membuatnya berjalan menuju self-destructive namun di satu sisi ada harapan yang membuatnya bangkit, yakni menceritakan perjalanan personalnya dengan Silverstein. Dan hebatnya, Silverstein selalu ada di saat paling genting di dalam hidupnya. Mewakili KANALTIGAPULUH, saya berkesempatan berbicara dengan Shane Told  lewat email. Kami membicarakan betapa gilanya fans di Indonesia dan pengalaman unik mereka saat tur ke sini. Tidak lupa juga membahas proses di balik album Dead Reflection dan album rileks favoritnya. Kalian pernah ke Indonesia tahun 2012, apa pengalaman buruk dan menyenangkan yang kalian ingat tentang tur itu dan para fans? Kami sebetulnya sudah ke Indonesia 2 kali, dan keduanya adalah hal yang istimewa. Hal yang sangat saya ingat adalah bagaimana bersemangatnya para fans dan bagaimana senangnya mereka saat kami datang ke kotanya. Band luar tidak begitu sering mengunjungi Indonesia, itulah alasannya, tapi saya sangat kaget bagaimana gilanya para fans di sini. Soal pengalaman buruk, saya ingat satu kali polisi datang dan berusaha menghentikan konser dan promotornya harus memberi mereka uang, dan di waktu lainnya kami pernah berangkat sangat telat ke bandara dan berpikir mungkin bakal ketinggalan pesawat…promotornya cuma bilang “don’t worry, di Surabaya telat itu sudah biasa.” Saya tidak sadar kalau cerita airport ini termasuk pengalaman buruk! Kalian melakukan banyak perubahan di album Dead Reflection, seperti proses penulisan, produksi, dan sound direction. Apa yang kamu rasakan ketika semua ide ini muncul di kepala? Saya rasa di album sebelum-sebelumnya kami telah melakukan perubahan di sana sini dan tiap kali kami melakukannya kami sangat senang dengan hasilnya. Jadinya di Dead Reflection kami memilih melakukan banyak perubahan lagi. Sekarang kami jadi makin nyaman bekerja di luar zona nyaman jika itu bisa jadi alasannya. Kadang hal yang natural sekarang adalah memperhatikan apa yang bisa kami lakukan untuk berkembang. Kami bermain sangat aman di album-album terdahulu dan saya merasa saya harusnya melakukan perubahan semacam ini sejak lama. Apa kalian anggap itu adalah hal baru paling gila yang pernah dilakukan Silverstein? Saya mengakui album Short Songs punya ide yang intens, begitu juga lagu-lagu yang tumpang tindih dan mundur di This Is How The Winds Shifts. Namun secara produksi album ini (Dead Reflection) punya pikiran...

Read More
Mengulik Penyanyi Muda Selandia Baru, Theia
Aug29

Mengulik Penyanyi Muda Selandia Baru, Theia

Theia, satu lagi penyanyi muda yang berbakat dan penuh percaya diri dari Selandia Baru. Memainkan musik elektro pop berbalut R&B membius, penyanyi asal Christchurch bernama asli Em-Haley Walker ini mulai dikenal ketika single-nya ‘Roam’ menjadi hit Spotify Global Viral Chart di tahun 2016. Sebagai gambaran, track itu berhasil mencetak hampir 10 juta play hingga artikel ini dimuat. Single yang menjadi hit lainnya seperti ‘Everything’, ‘Treat You’ dan ‘Champagne Supernova’ kini dimasukkan ke dalam debut self-titled EP yang dirilis beberapa waktu lalu. Termasuk juga di dalamnya adalah ‘Silver Second’, single debut Theia yang sempat dirilis di tahun 2015. KANALTIGAPULUH pun berkesempatan berbincang dengan Theia seputar karir bermusiknya, mulai dari bagaimana pemerintah Selandia Baru mendukung para seniman berkarya, pesan di  lagu ‘Roam’ dan juga pendapatnya ketika dibandingkan dengan Lorde dan Broods. Silakan simak interviewnya di bawah ini. Sewaktu masih kecil, apa yang menjadi cita-cita kamu? Saya memiliki banyak passion dan ketertarikan sewaktu kecil dan semuanya sudah dan akan tercapai. Sesuatu yang kreatif apakah itu teater, musik, dance atau seni sejak dulu selalu ada di benak saya. Bagaimana kamu akhirnya terjun ke industri musik? Saya telah bermusik sejak remaja dan memutuskan untuk benar-benar fokus di musik setelah lulus kuliah. I knew I had to give it the best possible push. Apa yang membuatmu bahagia menjadi seorang singer-songwriter di Selandia Baru? Apakah pemerintah serius mendukung para artis? Ada banyak plaform yang disediakan (Pemerintah Selandia Baru) seperti NZ On Air, yang memudahkan para penggiat di industri kreatif mengajukan pendanaan untuk projek yang mereka kerjakan. Saya kira kami sangat bersyukur berkat dukungan tersebut dan saya sendiri punya 3 lagu yang video musiknya didanai oleh pemerintah. Tidak semua orang bisa mendapatkan dukungan dana itu tapi setidaknya kami diberikan pilihan untuk mencoba. Apa penyesalan yang pernah kamu alami di dalam karir? Tidak ada. Own the decisions I make and learn from the mistakes. Apa yang akan kamu kerjakan dan tinggal ketika tidak bermusik lagi? Who knows, I’m still young! Saya ingin bahagia dan menyadari bahwa saya sedang berusaha dengan keras mencapai apa yang saya inginkan di hidup ini. Apa kamu punya tempat atau waktu spesial untuk menulis lagu atau semua itu datang secara alamiah? Kadang-kadang yang saya tulis pertama adalah melodi, kadang pula liriknya. Saya kerap menulis semua ide-ide yang muncul. Tidak ada cara ataupun formula tertentu. Apa ketakutan terbesarmu? Apakah itu muncul di dalam musikmu? Menjadi tidak bahagia. Saya berusaha memberikan yang terbaik dan membuat karya yang membuat saya bahagia maka itulah musik saya. Kamu sedang dimana ketika menulis ‘Roam’? Apa yang sedang kamu hadapi saat itu? Saya sedang berada di sebuah studio di Auckland setelah menyelesaikan sejumlah sesi di Australia dan Selandia Baru dan saya merasa...

Read More
“Millennial Heartbreaker”, Adu Lari Fatrace Bareng Pop-punk dan Patah Hati
Aug05

“Millennial Heartbreaker”, Adu Lari Fatrace Bareng Pop-punk dan Patah Hati

Dengan ayunan elemen pop-punk klasik yang kental, Fatrace datang bersama EP terbaru Millennial Heartbreaker. Mini album berisi 4 track ini betah menempel di kuping karena begitu ringan didengarkan tanpa meninggalkan esensi punk itu sendiri. Fatrace mengaku lumayan banyak terpengaruh oleh rilisan dari band pop-punk 90-an, terutamanya roster Mutant Pop Records hingga Lookout! Records. Alhasil, mereka cukup terdengar berbeda dari materi sebelumnya dimana kali ini juga ada pengaruh manisnya pop era 60-an. Band yang beranggotakan tiga orang ini sejatinya berasal dari Bekasi namun namanya sudah dikenal sampai ke mana-mana, sampai tidak heran mini album Millennial Heartbreaker dirilis oleh label asal Bandung Geekmonger Records dan juga rilisan pertama Don’t Tell Your Mom, I’m Fat  oleh netlabel Jerman Ramone To The Bone. Selain mampu mengobati patah hati, mini album Fatrace ini juga bakal bisa melengkapi koleksi rilisan pop-punk lokal favorit seperti Saturday Night Karaoke, The Spikeweed, dan Billy The Klits. Jika masih ingin tahu lebih banyak, simak juga obrolan singkat KANALTIGAPULUH dengan Farhan, vokalis dan gitaris Fatrace soal mini albumnya kali ini. GM-013 Millenials Heartbreaker by Fatrace Bisa deksripsikan musik kalian gak tapi pake minimal 3 emoji 😀? 😅😂🚀 Millennials Heartbreaker! ini bercerita tentang apa?  Beberapa tentang jatuh cinta dan beberapa tentang aktivitas gua yang menyenangkan yakni menonton variety show Korea 😂😂😂 Kalau “Pandangan ke-5” itu lagu buat siapa? Hehe.. itu tentang salah satu cewek di suatu sekolah di daerah Solo. Waktu itu kami ketemu gak sengaja di suatu kedai dimana dia dan teman-temannya lagi coret-coretan kelulusan. Sekolah dia berada di depan rumah kakek saya, itu kali pertama ketemu di 26 tahun menjalankan ibadah mudik haha. Lagunya catchy semua ya. Album apa sih yang kalian selalu dengarkan sampe bisa bikin lagu-lagu yang catchy begini? Alhamdulillah kami banyak dengar lagu-lagu enak untuk di album ini. Beberapa rilisan dari Mutant Pop Records, seperti The Proms, The Wanna-Bes, The Grrrlscouts, terus juga pasti nya The Queers, Chixdiggit, Mr T Experience juga mulai memasukan The Beach Boys sebagai daftar formula pembuatan lagu di EP ini dan mungkin seterusnya. Ada rencana bikin video klip? Lagu mana yang kalian akan pilih dan tanpa memikirkan masalah dana dan lokasi, apa konsep ideal yang ada di pikiran kalian? Ada banget. Moguri Dance akan dipilih sebagai lagu yg di buat video klipnya. Konsepnya udah dipikirin juga. Kami akan membuat konsep sederhana, seperti live perform tapi dengan space dan alat yang minim. Semoga bisa terlaksana secepatnya...

Read More
Mengulik Lebih Jauh Tentang Band Indie Pop Singapura M1LDL1FE
Aug01

Mengulik Lebih Jauh Tentang Band Indie Pop Singapura M1LDL1FE

Kuartet Indie-pop asal Singapura M1LDL1FE akhirnya merilis self-titled EP  beberapa waktu kemarin. KANALTIGAPULUH pun berhasil menghubungi Paddy Ong dan David Siow, member band ini untuk membicarakan perjalanan band dan seputar pengerjaan EP tersebut. First off, bisa diceritakan tentang band kalian. Bagaimana awal terbentuknya dan pemilihan nama M1LDL1FE? We first started as a University band, memainkan cover buat acara-acara kampus. Kami sempat mempertahankan personil asli tapi lalu terjadi perubahan seiring dengan materi baru. Nama (M1LDL1FE) sendiri adalah plesetan dari kata Wildlife, yang huruf W disana kami buat terbalik. Something meek belying a more primal side, much like being a musician with a day job. Seperti apa konser pertama kalian? David: Konser pertama kami akan jadi peluncuran EP pada tanggal 5 Agustus mendatang, saya membayangkan konser ini akan penuh dengan pelepasan emosi – joy, excitement and fear. Siapa yang kira-kira jadi pengaruh musikalitas atau comparison kalian? Saya dengar kalian menyukai musik seperti Two Door Cinema Club, apa betul? Paddy: We bonded together liking bands like Last Dinosaurs, Bombay Bicycle Club, and Mutemath. Semua band ini memiliki pendekatan membuat musik yang sangat kami kagumi and we try to take that into our songwriting too. Ketika saya mendengarkan EP PAIRS (masih pakai nama Take Two), ini sangat apik. Apakah akan banyak perubahan untuk EP yang baru? eksperimen yang gila mungkin? Paddy: kami mencoba sound yang baru di EP ini. Beberapa lagu lebih keras daripada biasanya, and some are a little more vulnerable than we are used to. Kenapa kalian datang dengan merilis EP, alih-alih mengerjakan sebuah debut full-lenght? Paddy: Hari ini dengan adanya streaming, sepertinya kamu tidak harus membuat album full-lenght sebagai “must have” lagi. Di masa lalu, semua album memiliki keterbatasan di format fisik. EP dirilis dengan kepingan vinyl yang lebih kecil karena sebagai materi promo saja. LP justru terbatas pada durasi karena keterbatasan ruang data di tiap kepingan (yang kemudian tergantikan oleh CD). Tapi kini, dengan mudahnya mengunggah lagu di dunia maya, gampangnya, tiap kamu punya satu lagu, kamu bisa mengunggahnya secara langsung dan tidak terikat dengan format album apapun. Jika kamu merilis satu lagu tiap bulan, kamu bisa memiliki satu album dalam setahun. Kalau dulu, lebih masuk akal menulis semua lagu yang kamu bikin tiap bulan dan merilis semuanya ke dalam produk fisik, daripada menghabiskan biaya dan memproduksi satu produk tiap bulan. In any case, membuat sebuah album penuh adalah sesuatu yang ingin kami capai. Tantangan dan proses membuat rentang karya adalah sesuatu yang pastinya ingin kami coba. Bagaimana proses rekaman EP ini? David: Setelah selama beberapa tahun mengerjakannya bersama-sama, saya pikir kami telah berhasil memahami kekuatan dan kelemahan masing-masing, yang membuat kami dapat saling membantu manakala dibutuhkan. Hal itu juga terbantu karena kami punya...

Read More
Interview: Mengenal Lebih Jauh Band Pop Punk Australia, Stand Atlantic
Jul25

Interview: Mengenal Lebih Jauh Band Pop Punk Australia, Stand Atlantic

Stand Atlantic adalah band dari Australia yang beranggotakan 3 orang. Band yang segera merilis mini album perdana dengan Rude Records ini akan membicarakan proses rekaman album, influence, dan segala yang berkaitan dengan band ini bersama  KANALTIGAPULUH. First off, boleh berkenalan dulu dengan Stand Atlantic? Apakah ini band pertama kalian? Bagaimana sejarah terbentuknya? Stand Atlantic bukan band pertama kami! Potter (bass) dan saya (Bonnie) dulu bermain di band yang sama, lalu kami memutuskan mengganti namanya dan memulai sesuatu yang baru kemudian kami bertemu Jonno (drum) lewat pertemanan and the rest is history! EP terbaru kalian Sidewinder akan dirilis September mendatang, apakah semuanya ready to go? Punya cerita dari studio? Apa tema yang kalian cover di album ini? Everything is super ready to go! Kami sudah tidak sabar merilisnya. Well, saya tidak bisa ingat semua cerita saat rekaman tapi ada fakta unik saat saya merekam vocal untuk verse lagu “Sidewinder” dengan mengunyah permen karet haha. EP-nya mencakup banyak tema, seperti tentang making mistakes, being second best dan juga berusaha meraih apa yang kamu inginkan di hidup ini. “Coffee at Midnight” adalah single yang catchy sekaligus punchy. Lagu ini juga mencampurkan dengan baik elemen punk namun masih terasa ngepop. Bagaimana kalian mendefinisikan musik yang diusung? Siapa influence kalian? Thank you! Basically, kami mendefinisikan musik seperti yang kamu bilang tadi. Kami menyukai penyanyi seperti Justin Bieber, Sia, Frank Ocean, dan Blackbear yang adalah influens terbesar kami untuk aspek sound ngepop dan kami meraciknya dengan sisi agresif pop-punk seperti The Story So Far, Knuckle Puck, dan Trophy Eyes. Kalian pasti senang menjadi roster Rude Records. Bagaimana ceritanya kalian bisa ada di sana? Yeah we are so stoked! Pertama kami menyelesaikan rekaman EP dan setelah signed dengan manager, kami langsung dihubungi Rude. Soal tour, apakah kalian berencana menyambangi Amerika atau manjadi support sejumlah band? Kami sedang menyiapkan sesuatu, sayangnya belum bisa diumumkan saat ini tapi kalian bisa memantau social media kami kok! Belakangan banyak band dari Australia yang mulai menjadi sorotan. Juga, negara ini telah jadi titik bagi banyak band berpengaruh untuk tur. Terakhir saya mendengarkan album Trophy Eyes, Ceres, Camp Cope, Luca Brasi, Colombus, The Smith Street Bands, mereka masih bisa membius kepala saya dan saya pastinya juga mengharapkan itu di album kalian.  Yeah it’s really cool how the Aus music scene is starting to make a mark globally! Kami juga suka band-band yang kamu sebut tadi, semoga kamu juga menyukai album ini. The Adobe Flash Player is required for video playback.Get the latest Flash Player or Watch this video on YouTube....

Read More