Pelem Ukulele, Terobosan Baru Enterpreneur Muda dalam Pembuatan Ukulele di Indonesia
Sep09

Pelem Ukulele, Terobosan Baru Enterpreneur Muda dalam Pembuatan Ukulele di Indonesia

Foto: Dokumentasi pribadi Pelem Ukulele Saat ini industri kreatif di Indonesia sudah berkembang dengan sangat pesat, salah satunya adalah industri pembuatan alat musik. Di Indonesia sendiri, lebih tepatnya di Yogyakarta terdapat sebuah industri kreatif yang khusus memproduksi alat musik ukulele, yaitu Pelem Ukulele. Seperti apakah Pelem Ukulele tersebut yang ternyata kualitas produknya sudah diakui hingga tingkat internasional? Simak interview kami bersama orang dibalik Pelem Ukulele, Wafiq Giotama yang juga bermusik bersama band Answer Sheet dan juga Fadil Firdaus berikut ini. Pelem Ukulele terbentuk sejak kapan? Ogik: Pelem Ukulele dibentuk sejak tahun 2010 namun mulai beroperasi 2011. Siapa saja orang dibelakang Pelem Ukulele? Ogik: Di Pelem Ukulele ada dua orang yaitu saya dan Mas fadil. Kalau saya lebih ke bagian marketing, dan mas Fadil lebih ke bagian produksi. Kenapa dinamakan Pelem? Dan selain Ogik apakah founder yang lain juga seorang musisi? Fadil: Produksi kami dulu memang awalnya menggunakan kayu mangga. Kebetulan kayu mangga juga salah satu kayu kelas premium untuk ukulele. Ogik: Iya, kebetulan mas Fadil dulu adalah seorang gitaris additional di sebuah band nasional dan juga seorang sound engineer. Fadil: Selain itu kami juga punya harapan kedepan untuk membuat ukulele tidak perlu menebang pohon di hutan, namun juga bisa di rumah mengingat pohon mangga di Indonesia cukup banyak ditemukan. Sebagai enterpreneur muda, apa yang mendasari kalian berani berbisnis memproduksi alat musik seperti ini? Ogik: memang waktu itu belum ada yang memproduksi ukulele di Indonesia. Saya punya ukulele dari luar negeri yang bisa dibilang harganya cukup mahal. Kebetulan dulu mas Fadil punya studio dan saya coba-coba rekam di situ. Menurut kami hasilnya kurang memuaskan. Fadil: Setelah dilihat ternyata spesifikasinya belum all solid. Sudah lumayan tapi belum maksimal. Sedangkan harga ukulele sengan spesifikasi all solid wood hanya ada dari luar negeri dan cost nya cukup tinggi. Akhirnya saya pun bertekad untuk membuat sendiri. Alat musik apa saja yang kalian produksi? Fadil: Kami berfokus di Ukulele dari ukuran soprano, concert, tenor dan baritone. Selain itu saat ini kami juga membuat guitalele. Di Indonesia sendiri apakah peminat ukulele cukup tinggi? Ogik: Semakin tahun semakin meningkat. Skena ukulele di Indonesia semakin lama semakin banyak karena adanya beberapa komunitas seperti Ukeba di Bandung, Ukesub di Surabaya, dan Jakarta Ukulele. Kenapa alat musik yang dikerjakan spesifik ke ukulele saja? Fadil: Selain karena spesialisasi kami disitu, kami berusaha memaksimalkan penggunaan kayu. Mengingat ukulele memiliki body yang lebih kecil, maka kayu yang dibutuhkan lebih sedikit. Tidak jarang kami menggunakan kayu sisa pembuatan gitar. Pengembangan seperti apa yang akan dilakukan Pelem Ukulele kedepannya? Ogik: Kami akan membuat beberapa alat musik baru seperti guitar junior dan ukulele bass. Tapi yang sedang kami kerjakan adalah mencari metode dalam meninkatkan produksi agar harga dapat ditekan namun...

Read More
Interview Plainsunset: Bicara Perubahan di Album Baru dan Skena Singapura
Aug19

Interview Plainsunset: Bicara Perubahan di Album Baru dan Skena Singapura

Dibentuk tahun 1996, Plainsunset berkembang dari komunitas punk rock. Mereka merilis debut Runaway pada tahun 1997. Plainsunset kemudian hadir dengan Love Songs For The Emotionally Wounded empat tahun kemudian. Sejak saat itu, nama mereka semakin besar dan berpengaruh. Meski sempat memutuskan bubar pada tahun 2004, tren datang silih berganti dan band-band baru bermunculan, namun Plainsunset adalah senjakala yang tidak pernah mau tenggelam. Tahun ini kuartet yang diusung Norsham Husaini, Nizam Sukri, Helmi Abd Rahman dan Jon Chan tersebut memasuki fase baru dalam berkarya lewat album anyar Both Boxer and Benjamin. Untuk itu, KANALTIGAPULUH tartarik membicarakan album baru yang  judulnya sendiri terinspirasi George Orwell itu. Sekalian juga, kami menanyakan Jon Chan dan Sham sejarah band dan skena lokal Singapura. What we should expect from your upcoming record Both Boxer & Benjamin?   Sham: Lots of guitars … like lots of them. And tambourine. And claps. And xylophone. And distortion. And delays. And singalongs. Please have a listen and give the record some support. Hope you will like it. Jon: I agree that for us it’s a little different, more textured. Also, we’re playing with a different dynamic of what we usually do. It’s just us trying things out. Could you share the meaning behind the album title Both Boxer & Benjamin?  Jon: The title is based on the theme and the characters from George Orwell’s “Animal Farm”. It’s not so much to do with his portrayal of communism, but more to do with the personalities. It’s about how all of us have both the idealist (Boxer the Horse) and the pragmatic cynic (Benjamin the Donkey). A large part of the themes are to do with social politics and dynamics. How did you write ‘Six/Four’? Jon: The song is based on a few things, ostensibly about the notion of how we move on from things. Often everything from how me move from one relationship into another, into a new job, into new places, countries, everything. In each we are always hoping that “this is it. it will be better this time.” Do you still remember how you ended up playing emo/indie-rock and punk music?   Sham: We just started the band cause we heard Green Day’s Kerplunk. As band members change and we listen to lots of other stuff beside punk rock, the band just evolve to what it is now. How do you feel when people start referring you as the most influential punk/indie rockers in Singapore? Jon: I actually still don’t know how to react to that. I think it feels slightly uncomfortable for me when I get stares on the street or something. Sham: I don’t think we are the most influential...

Read More
Saturday Night Karaoke: Jangan Anggap Gak Ada Band Pop-punk Keren Di Sini
Aug11

Saturday Night Karaoke: Jangan Anggap Gak Ada Band Pop-punk Keren Di Sini

Saturday Night Karaoke mengulik pop-punk dengan sangat pas. Mereka setia bermain-main dengan kecepatan daripada kerumitan, album Slurp! mereka berdurasi kurang dari 15 menit.  Dengan esensi yang serba terbatas seperti itu, mereka berusaha semaksimal mungkin tampil ngepop. Inilah tradisi pop-punk klasik yang kita kenal. Di luar itu, mereka berhasil mengembangkan gayanya sendiri. Penampilan mereka yang anak rumahan berhasil mengombinasikan depresi dan ekspresi geeky secara energik. Slurp! penuh dengan lagu-lagu tentang romantic angst yang diselimuti kenelangsaan identitas sebagai anak pop-punk yang sering diperlakukan under-estimate. “I’ll never get the girl if I still write stupid punk songs,” tulis Saturday Night Karaoke dalam track ’90’s Revival 101′. Tahun lalu Slurp! dirilis oleh satu label Jepang, SP Records dan dipasarkan oleh notable distributor Waterslide Records. Sementara di Indonesia, versi lokal album itu sudah hilang dari peredaran dalam waktu singkat ketika dirilis Rizkan Records. Oleh karenanya,  penasaran juga dengan trio Prabuerg (vocal/gitar), Brian (bass) dan Athif Aiman (drum)  di balik Saturday Night Karaoke saat ini. Simak interview kasual via LINE KANALTIGAPULUH dengan band yang pertama kali merilis demo CD-R sejak tahun 2008 ini tentang Slurp! dan hal-hal yang menyelimuti benak Saturday Night Karaoke. Biar mirip intro Slurp!, Saturday Night Karaoke itu? Brian  : Band keren. Prabuerg : Barasuara. Athif Aiman : Burgerkill. Prabuerg : Berak kabeh. Descendents, blink-182, The Ergs!? Prabuerg: Anjir lah, ini mah serius. Descendents. Brian : Saya Blink. Athif Aiman : Burgerkill. fuck popang!! Brian : #emonightjkt. Prabuerg : Kufur nikmat kalian semua. Tepat satu tahun Slurp! dirilis S-P records di Jepang. Apakah Slurp! debut album SNK? Coba runutkan discography kalian. Prabuerg : Silahkan Brian dan Atip. Brian:  Jadi SNK itu memiliki banyak rilisan sebelum slurp. Namun Slurp merupakan rilisan ”album” pertama. Coba Prab punten runutkan diskografi SNK, saya ndak afal hehe. Athif Aiman : Serius aing gak apal Prab. Kan aing fakk popang. Prabuerg: Slurp emang beneran album pertama pak. Soalnya dulu rilisnya EP terus. 2008 – Demo CDR 2010 – Duh! EP 2011 – Blah! EP 2011 – Kind Of Like Smitten EP (Ergs! cover EP) 2012 – Discography 2012 – Ohai! (#Bingo0202 special CDR) 2015 – Slurp! 2016 – Gawking Geek Music (split with Aggi) 2016 – Never Learn (digital single) 2016 – 行かない!(Maxi 3″ single) Seberapa penting album Slurp!? Brian : Penting sekali. buat saya itu jadi album pertama selama saya ‘ngeband’. Jadi semacam ”we’re going somewhere” juga buat saya di SNK. Prabuerg : IMO, jadi milestone SNK sih, ngarep banget bisa dirilis dan di distribusiin internasional. Jadi ya terharu banget. Athif Aiman : Penting karena saya bisa belajar ngulik pattern drum Dadang. Prabuerg : Berak haha tapi ya urang aja sampe mewek pas pertama kali unpacking paket pertama Slurp, terharu euy. Dadang drummer (SNK) sebelumnya. Athif drummer baru SNK, fresh diculik dari unit marawis berkedok indie rock, Uncanny. Brian :...

Read More
Ade Putri: BEERGEMBIRA Sebagai Media Community
Jun07

Ade Putri: BEERGEMBIRA Sebagai Media Community

Beberapa tahun terakhir kebelakang ini cukup ramai menjadi perbincangan dimana pemerintah mulai menerapkan undang-undang yang membatasi peredaran minol (minuman beralkohol) secara bebas, termasuk bir. Di luar kebijakan pemerintah tersebut, ternyata ada sekelompok orang-orang kreatif yang membuat media community  bernama Beergembira, dimana mereka mengajak masyarakat untuk tahu lebih banyak mengenai bir, meskipun di Indonesia saat ini masih banyak stigma negatif  mengenai peminum dan minuman beralkohol. Dalam suatu kesempatan, Ade Putri yang menjadi salah satu founder dari Beergembira dan juga road manager dari band cadas Seringai ini turut berbagi cerita mengenai Beergembira kepada kami. Simak obrolan kami bersama Ade berikut ini. Siapa saja sih orang-orang dibalik Beergembira? Orang-orang yang terlibat di Beergembira adalah saya sendiri sebagai “Mommy Beer”, Adita Bramantyo “Mama Beer”, Indra7 “Beer Daddy” dan Rudolf Dethu “Beer Dawg”. Dari setiap orangnya memiliki tanggung jawab masing-masing. Most likely, Indra7 menulis. Gue sesekali menulis, tapi lebih banyak bertanggungjawab di urusan publikasi ke media dan workshop, Adita mengurus business development-nya. Sedangkan Dethu (beliau tinggal di Jakarta, walaupun masih sering bolak balik ke Bali dan Australia) sebagai propagandist. Kalian lebih suka disebut sebagai apa? Komunitas, blog, portal online atau bagaimana? Media community. Karena awalnya, Beergembira sebenarnya kami buat sebagai media. Tapi ternyata akhirnya, secara organik, Beergembira telah berkembang menjadi komunitas. Untuk tahu lebih jauh, kamu bisa kunjungi website kami di beergembira.com. Bisa diceritakan awal mula terbentuknya Beergembira? Pertemanan saya dan Adita sudah lama, dan salah satu kegiatan rekreasional yang sering kami lakukan bersama adalah minum bir. Makan siang bareng, atau hang out sepulang dari kantor, atau liburan bareng, pasti selalu ada bir. Lantas pada suatu saat, saya dan Indra7, yang juga sudah saling kenal sejak lama, bertemu di sebuah acara workshop beer tapping yang diselenggarakan oleh sebuah merek bir. Dari workshop itulah, saya baru tahu kalau busa pada bir itu sebenarnya penting. Wah, menarik nih, pikir saya. Ternyata selama ini saya cuma menikmati bir tanpa tahu fakta-fakta dan cerita tentang bir itu sendiri. Akhirnya, dalam sebuah obrolan iseng, saya dan Adita memutuskan untuk membuat Beergembira ini. Harus ada yang berbagi fakta tentang bir sekaligus mengedukasi. Kami mengajak Indra7 dan Rudolf Dethu juga – sesama penikmat bir yang juga memiliki visi dan misi yang sama dengan kami. Kenapa memilih nama ‘Beergembira’? Gimmick aja sih. Karena di kata Beergembira terdapat dua kata yang artinya sebenarnya satu: beer atau bir. Dan konsepnya memang berbagi #FaktaBir dengan santai, fun. Hence the name; Beergembira. Tujuan dibentuknya Beergembira itu sebenarnya apa sih? Membuat media di mana orang dapat mencari tahu bebagai hal tentang  bir, juga berbagi cerita. Anggaplah Google-nya bir di Indonesia. Di Indonesia sebenarnya belum ada portal yang spesifik membahas soal bir, apa itu menjadi alasan terbesar kalian membentuk Beergembira ini? Salah...

Read More
Interview: Hand Lettering & Graphic Design Artist Novia Achmadi
Apr30

Interview: Hand Lettering & Graphic Design Artist Novia Achmadi

Saat ini sudah mulai banyak bermunculan penggiat hand lettering di Indonesia yang secara tidak langsung menjadi alternatif baru disaat terjadi kebosaan mengenai dunia seni rupa dan disain grafis di negara kita ini, meskipun hand lettering sendiri sebenarnya adalah salah satu elemen yang penting dalam dunia disain. Ada seorang wanita yang sangat tertarik dengan dunia tipografi, sebut saja dara berusia 25 tahun ini adalah Novia Satyawati Achmadi. Lulusan DKV Binus, Jakarta ini selain bekerja sebagai disaner grafis di salah satu perusahaan, juga masih menyempatkan diri untuk mengerjakan proyek hand lettering bersama Kallos, dengan sentuhan feminin yang menjadi salah satu ciri khas dari karyanya. Halo Novia, apa kabar? Untuk lebih akrabnya kamu biasa dipanggil siapa sih? Novi. Haha Cuma berkurang satu huruf. Apa yang membuat kamu tertarik dalam dunia desain grafis? Memang dari kecil gue suka gambar dan tertarik sama dunia seni. Gue ngerasa bisa berkembang di dunia desain grafis. Basicly, I love making pretty things. Saat ini kamu bekerja sebagai desainer grafis salah satu ahensi di Jakarta, menurutmu seorang desainer grafis lebih baik bekerja sendiri (freelance) atau bekerja di dalam suatu perusahaan? Dalam konteks berkarya tentunya. Dua-duanya. Saat gue lulus kuliah gue mau langsung kerja. Banyak yang berpikir kalau “kerja untuk orang lain” itu kayak jadi “babu”. Nggak sepenuhnya salah tetapi kalau ada kesempatan belajar dari orang lain ya ambil aja. Colong ilmu orang and you getting paid doing it. Sedangkan freelance menurut gue dimana kita bisa berekspresi sesuka kita. Anggap saja balas dendamnya di freelance haha. Sebagai desainer grafis tentu kamu lebih banyak menggunakan piranti digital dalam bekerja. Buat kamu nih, lebih nyaman bekerja secara manual atau digital? Lagi-lagi dua-duanya. Tergantung apa yang dikerjain sih. Digital sangat ngebantu proses. Sedangkan manual juga punya daya tarik dan tantangannya sendiri. Mengenai desain grafis, gaya desain seperti apa yang kamu sukai? Atau kamu memiliki ciri khas khusus dalam setiap karya kamu? Gue suka yang simple and straight to the point. Gue juga suka pop of colors. Kamu juga mengerjakan proyek lain yang berupa hand lettering bersama Kallos, kenapa kamu menyukai dan memilih metode yang satu ini dalam berkarya di proyek tersebut? When I first started back in 2012, hand lettering was a dying art, padahal typography itu krusial dalam graphic design. Dan kebanyakan orang itu gak suka baca. People love seeing illustration or movie, but not much about reading. Menurut gue itu challenge tersendiri untuk bikin orang tertarik dengan kata-kata. Untuk hand lettering sendiri, apa medium paling susah yang pernah kamu kerjakan? Helm pertama. Karena itu pertama kali gue pake cat enamel haha susah banget sampe nangis. Apa enggak susah membagi waktu dan ide untuk bekerja di ahensi dan juga Kallos? Susah,...

Read More
Interview Pena Hitam: Berteman, Berkarya, Berbagi dan Bersenang-senang
Feb21

Interview Pena Hitam: Berteman, Berkarya, Berbagi dan Bersenang-senang

Kolektif seni rupa yang terbentuk pada tahun 2011 di kota Malang ini hingga saat ini sudah berkembang sangat pesat di Indonesia, terlihat dengan sudah terbentuknya beberapa fanbase di kota-kota yang lain. Ingin tau lebih jauh tentang semangat anak-anak muda kreatif di balik kolektif Pena Hitam ini? Simak interview kami berikut ini.     Selain sibuk dengan Pena Hitam, keseharian kalian disibukkan dengan kegiatan apa aja sih?   Didi: Kalo aku kuli mas, sebelumnya aku tinggal di Jakarta sebagai kuli desain.   Rio: Penjual Kopi dan Pekerja Seni aja sih.   Alit: Aku mahasiswa dan pekerja seni juga.     Bisa diceritakan kenapa memilih nama Pena Hitam komunitas ini? Dan latar belakang dibentuknya komunitas ini apa?   Didi: Semua berawal saat saya kerja di Jakarta, terus ada teman kita namanya Feby alias Bebek, itu mengenalkan saya ke Rio, dan akhirnya kepikiran ngumpulin teman-teman yang sama-sama suka nggambar, ya berkumpul lah intinya. Yang ngasi ruang adalah waktu itu di Legipait, itu pameran pertama kali tahun 2011. Rio: 2011 awal. Didi: Terlepas dari itu, Aku ya masih merantau di Jakarta, akhirnya bikin group di Facebook, yang anggotanya cuma  empat orang yang pameran di Legipait itu tadi, yaitu Rio, Saya, Mukhlis dan Viktor. Sampai sekarang saya cek di Facebook groupnya ada sekitar 1600an anggota. Terus Instagramnya terakhir saya cek followersnya sudah mencapai 31.000.   Terus tentang nama, itu awalnya namanya Pena Setan eh Tangan Setan ,lalu ternyata ada yang memakai dan memang tidak seserius itu. Akhirnya dipilih nama Pena, karena kita semua menggunakan medium pena dalam menggambar, dan kenapa dipilih warna hitam? pikiranku waktu itu ya memang selain warna yang lebih sering digunakan dalam menggambar adalah hitam (diatas kertas putih), dan juga warna hitam adalah hasil campuran semua warna dasar dalam takaran yang sama, makanya jadi lah nama Pena Hitam yang kami pilih.  Visi misi ketika awal terbentuk dan setelah berjalan itu bagaimana?   Didi: Visi awalnya yang pertama sebagai wadah, sebenarnya nggak banyak berubah kok awal sampai sekarang. Wadah untuk bermain, belajar, ketemu teman teman baru yang satu interest. Misi nya pertama itu ya belajar menggambar awalnya tapi ketika berjalan ada pertanyaan ketika kita udah mulai bisa menggambar terus mau ngapain? Sampai hari ini visi misinya, adalah bagaimana caranya untuk membangun ekonomi alternatif minimal di ya di internal di tiap chapter Pena Hitam bisa mandiri secara individu maupun secara kolektif.   Didi: sejauh ini sih udah mulai terbangun hubungan antar chapter, sekarang sudah terbentuk 13 chapter, mungkin ada dua yang baru jadi 15, tapi yang aktif 13 chapter. Itu udah kebangun komunikasinya, lewat group, newsletter, dan secara personal untuk misinya. Pencapaiannya adalah sekarang kita sudah sering bikin event-event baik secara lokal dan...

Read More