Marcomarche Gelar Pertunjukan Intim di Yogyakarta
Aug19

Marcomarche Gelar Pertunjukan Intim di Yogyakarta

Setelah sekian lama duo band ini bersembunyi di dapur rekaman, kini duo pop akustik asal Jakarta, MarcoMarche ini siap untuk tampil membawa karya-karya terbaru mereka. Per tanggal 14 Agustus 2017 yang lalu, duo band yang digawangi Duta Pamungkas dan Chintana Ayukinanti ini telah meriliskan secara digital single baru mereka berjudul “Puisi Pagi” yang juga merupakan bagian dari album kedua MarcoMarche yang akan diriliskan awal tahun 2018 yang akan datang. Single “Puisi Pagi” yang merupakan single pertama dari album kedua yang akan bertajuk “Down The Valley” ini membawa suasana kesegaran pagi dan harapan dalam menjalani kehidupan ini. Mendengarkan lagu ini, kita akan merasakan energi positif dan semangat yang ditularkan dari duo band yang bergenre folk-pop ini. MarcoMarche kali ini mencoba mengeksplorasi musikalitas mereka dengan menambahkan beberapa ornamen dalam mengkomposisi lagu Puisi Pagi ini dengan menambahkan piano, ukulele, dan drum yang diracik secara tepat dan unik. Selain itu kekuatan lirik dari lagu, juga bagan yang tidak lazim menjadi kekhasan dan keunikan dari single mereka, seperti karya-karya MarcoMarche sebelum-sebelumnya. MarcoMarche adalah sebuah band indie dengan format duo akustik yang mengusung genre folk-pop. Duo ini berdiri pada tahun 2012 dengan personil Duta Pamungkas dan Asterina Anggraini dan memulai menulis dan merekam karya-karya lagu orisinil mereka di tahun 2013. Pada awal tahun 2014 mereka secara resmi meriliskan album pertama mereka berjudul “Warm House” dinaungi record label Demajors dengan single “Senja dan Mentari”. Album mereka berhasil menembus market luar Indonesia dengan dirilisnya album fisik mereka di Jepang dibawah naungan Inpartmaint Inc. Ciri khas duo ini adalah kedua personilnya sama-sama bernyanyi dan bermain gitar akustik, dengan musik dan lagu yang bernuansa folk, pop, country dan sedikit eksperimental. Kekhasan inilah yang menjadi “kekayaan nuansa” dari MarcoMarche yang tetap terdengar sederhana, ringan namun berbobot dan mendalam. Pada pertengahan 2016, Asterina tidak dapat lagi meneruskan duo MarcoMarche ini dan digantikan oleh Chintana Ayukinanti. Pergantian personil ini memberikan warna baru bagi MarcoMarche dengan karakter vokal dan musikalitas yang khas dari Chintana. Duo ini kembali berkarya menciptakan lagu-lagu baru dan merekam karya-karya orisinil mereka yang dijadwalkan akan menelurkan album yang kedua bertajuk “Down The Valley” yang akan diriliskan awal tahun 2018 yang akan datang. Kali ini Duta dan Chintana secara lebih luas dan lebih mendalam mengeksplorasi musikalitas dan ekspresi seni mereka yang tercermin dalam lirik-lirik lagu dan musik artistik yang dalam beberapa lagu terkesan absurd, nyeleneh namun mengandung pesan yang mendalam yang mencerminkan suatu keberanian sekaligus kedewasaan dalam bermusik dan berkarya. Hal ini terlihat misalnya dari lagu “Puisi Pagi”, “Down The Valley” dan “Alien Without Glasses” yang mencerminkan keunikan, keberanian serta kejujuran duo ini dalam bermusik dan berkarya. Dalam rangka mempromosikan single terbarunya, Marcomarche akan menggelar pertunjukan intim di Yogyakarta, tepatnya...

Read More
Bertepatan dengan HUT RI, Kalashnikov Rilis Video Musik “Rats”
Aug17

Bertepatan dengan HUT RI, Kalashnikov Rilis Video Musik “Rats”

Bertepatan dengan HUT RI ke 72 hari ini (17/08/2017), Kalashnikov, band punk rock asal Bekasi resmi merilis videoklip anyar berjudul ‘Rats’ channel Youtube band. Digarap secara independen, klip ini diproduseri oleh Yazid Zabidin, dan Agiel Yoridia sebagai director, dan editing oleh Dzikran M. F. Berdurasi 3 menit kurang, klip ini menampilkan suasana kota di beberapa lokasi mulai dari Tanah Abang, Cawang, Kalimalang, dan Bekasi serta indoor shoot di Xabi Studio Lebak Bulus. Videoklip ‘Rats’ juga digarap dalam waktu singkat, yakni 2 hari mulai dari proses pengambilan gambar sampai editing. Lagu Rats sendiri ditlis oleh Agiel (drum) sebagai social comentary tentang kemuakan terhadap korupsi yang kian mengakar di Indonesia. Direkam pada Mei 2017, lagu ini juga berhasil masuk ke album Ripstore Live Compilation dan dirilis secara bebas unduh pada perayaan Netlabel Day 14 Juli 2017 di bawah naungan Ripstore.Asia. “Menyimak beberapa kasus besar di Indonesia seperti mangkraknya Hambalang, serta politisi licin Setyo Novanto di media dan teror terhadap Novel Basdewan, koruptor bagi kami adalah tikus yang harus diperangi sebelum teror ini semakin meluas dan mengkhawatirkan,” ungkap Ayyas, bassist Kalashnikov. “Pesan kami jelas bahwa di HUT RI ke 72 ini, Indonesia belum merdeka dari korupsi,” tegasnya menambahkan. Tentang Kalashnikov: Perwakilan Punk Rock era Baru Kalashnikov adalah band punk rock pendatang baru asal Bekasi yang terbentuk pada September 2014. Beranggotakan Bibiw (vokal), Ayyas (bass, vokal), Agil (drum), Irun (gitar, vokal), Kalashnikov disebut-sebut sebagai bagian dari perwakilan generasi baru punk rock digawangi para pemuda millenial kota Patriot di usia yang masih kisaran 20 tahun dan mengakarkan musiknya pada arus punk era 90-an seperti Rancid, NOFX, Bad Religion. Nama Kalashnikov sendiri dipetik dari nama tokoh pencipta senjata AK-47 yaitu Avtomat Kalashnikov yg banyak digunakan dalam khasanah film, musik serta video game serta mudah dioperasikan di medan tempur. Popularitasnya menjadi simbol-simbol perjuangan kaum anti-kemapanan. Mereka menggunakan nama ini sebagai analogi bahwa musik adalah senjata paling ampuh untuk menyampaikan sesuatu. Sebagai band pendatang baru, Kalashnikov kini aktif tampil ke berbagai panggung di Bekasi, Jakarta maupun Bandung. Kuartet ini juga mencuri perhatian sejak berkolaborasi dengan Doramons band punk rock legendaris di skena musik independen Jakarta Timur dalam acara yang dihelat oleh Castel Distric bulan Maret lalu. Kalashnikov kini juga tengah dipinang oleh Skeptic, sebuah brand clothing berbasis di Bekasi dalam penggarapan music production dan merchandise. The Adobe Flash Player is required for video playback.Get the latest Flash Player or Watch this video on...

Read More
Delacroix Ungkapkan Kegelisahan Tentang Alam Melalui Musik
Aug16

Delacroix Ungkapkan Kegelisahan Tentang Alam Melalui Musik

Menyusul maraknya kerusakan alam yang terjadi di Indonesia, Delacroix meluncurkan video musik berjudul “Tangis Ibu Bumi” pada Agustus 2017. Delacroix adalah project musik musisi asal Kalimantan Barat, Alexander Haryanto yang kini berbasis di Yogyakarta.  “Lagu ini terinspirasi dari perjuangan masyarakat-masyarakat yang sampai saat ini masih memperjuangkan tanah dan alamnya,” kata Alexander.  Menurut dia, lagu ini sekaligus menyampaikan mengenai kondisi hutan di Indonesia yang sampai saat ini masih terus dibabat.  “Seperti di awal-awal video ini saya juga menampilkan beberapa data mengenai situasi hutan saat ini,” ungkap pria asal Sintang.  Menurut laporan Forest Watch Indonesia (FWI), tiap menitnya, Indonesia kehilangan hutan seluas tiga kali lapangan bola. Sementara menurut Global Forest Watch, sejak 2001 hingga 2004, Indonesia kehilangan sekitar 18,91 hektar hutan.  Sedangkan menurut data Kementerian Kehutanan menyebutkan dari sekitar 130 juta hektar hutan yang tersisa di Indonesia, 42 juta hektar di antaranya sudah habis ditebang.  Selain data-data, video klip yang disutradarai oleh Arief Darmawan ini juga menampilkan footage-footage tentang kerusakan alam.  “Video ini memang tidak dikomersialkan dan hanya bertujuan untuk menampilkan visual yang sesuai dengan lirik-lirik lagu ini,” kata dia.  Dalam lagu ini, Delacroix juga memasukkan sebuah puisi karya penyair asal Yogyakarta Rudi Yesus.  “Puisi ini juga menceritakan kegelisahan yang sama dan menurut saya sangat pas jika dikombinasikan menjadi satu karya,” ungkapnya.  Lagu “Tangis Ibu Bumi” adalah single pertama dari Mini Album berjudul “Nyanyian Sang Enggang” yang rencananya akan dirilis akhir bulan Agustus 2017 ini. The Adobe Flash Player is required for video playback.Get the latest Flash Player or Watch this video on...

Read More
PassionARTe #2 Kembali Hadir di Bulan Agustus
Aug12

PassionARTe #2 Kembali Hadir di Bulan Agustus

PassionARTe #2 kembali hadir di bulan Agustus 2017 dengan tema United We Loud. Tidak hanya pameran tentunya, acara ini juga akan memberikan pengalaman bagi seniman muda Yogyakarta untuk ikut serta membuat karya melalui community activity yang ada, serta di bimbing oleh pengampu yang lebih berpengalaman dibidangnya, dan acara ini juga merupakan wadah bagi komunitas-komunitas Yogyakarta berkumpul dan membuat project bersama. Konten acara PassionARTe #2 juga tidak lepas dari pameran seni, mulai dari visual art, fotografi, dan fashion serta dimeriahkan dengan pertunjukkan musik. Keunikan masing-masing subculture akan semakin tertonjolkan di adik Passionarte #1 ini. Acara akan diadakan selama satu hari saja pada tanggal 15 Agustus 2017 dan dimulai pukul 4, bertempat di Kawa Eat, Coffee, & Space. Sebelum semua kegiatan berlangsung akan diadakan community activity bagi para komunitas mau pun para pengunjung yang hadir. Mereka yang berminat mengikuti community activity akan mengikuti kelas mengecat botol bekas ‘Create Your Own Bottle’bersama Wenski. Selain itu akan dihebohkan dengan live mural oleh Farid Stevy. OOTD Contest juga akan menjadi salah satu bentuk engagement di PassionARTe #2 yang nantinya diabadikan melalui hasil cetak foto polaroid. Hasil foto boleh dibawa pulang pengunjung dengan terlebih dahulu men-submit hasil foto tersebut ke web goaheadpeople.id. Pameran visual art kali ini akan diikuti oleh 5 orang seniman muda Yogyakarta. Para seniman muda yang terlibat akan merespon ruang di area venue Kawa dengan media instalasi dua dimensi buatan mereka sendiri. Kelima orang tersebut adalah Teduns, Doni Singo, Harry Joe, Gunk Budi, dan Arjuna Kresna. Untuk pameran fotografi akan ada keterlibatan dari Komunitas Bangun Pagi Yogyakarta yang akan memajang karya foto mereka dengan menggunakan kain sebagai media cetak. Pameran terakhir adalah fashion exhibition yang mengamanahkan para pengunjung untuk berpakaian senyentrik mungkin. Semangat yang ingin diusung adalah gaul bareng tidak harus satu selera dalam berpakaian. Dan jangan takut kehabisan tenaga lalu ingin cepat pulang karena para pengunjung dapat menikmati berbagai macam makanan dan minuman di PassionEAT secara cuma-cuma selama acara berlangsung. Kemudian pertunjukkan musik akan dimeriahkan oleh Jason Ranti, Mondo Gascaro, dan Bottlesmoker. Para band lokal seperti Last Elise, Korekayu, dan Sungai juga turut memeriahkan perhelatan musik di PassionARTe #2. Lalu yang terakhir tapi tak kalah pentingnya, sebagai bentuk dukungan terhadap brand serta entitas bisnis independen Yogyakarta, PassionARTe #2 turut mengajak beragam tenant untuk menghadirkan Market Place. PassionEAT: – Kawa Eat, Coffee & Space (Mofoka Pizza & SUA Coffee) Market Place: 10 US (@10us.id) Altrushion (@altrushion) We Sell Badwork (@wesellbadwork) Barang Oke Indonesia (@barangokeindonesia) Rifexd Clothing Co...

Read More
Sejenak Lebih Dekat dengan Sosok Mondo Gascaro di Yogyakarta
Aug12

Sejenak Lebih Dekat dengan Sosok Mondo Gascaro di Yogyakarta

Sosok Mondo Gascaro sebenarnya cukup krusial dalam perkembangan Industri musik Indonesia saat ini. Bersama Ade Paloh, Mondo Gascaro adalah sosok yang paling berpengaruh dalam perkembangan karier dari band SORE, terutama di album ‘Centralismo’ dan ‘Port Of Lima’. Diluar perjalanan kariernya bersama SORE, setelah menjalani solo karier lelaki berdarah keturunan Jepang ini juga menjadi sosok yang bertanggung jawab dalam kesuksesan band Payung Teduh di album pertamanya, ‘Dunia Batas’ (2012). Ramuan istimewa dari Mondo dalam mengaransemen musik dari Payung Teduh terbukti manjur membuat Payung Teduh dikenal secara luas seperti sekarang ini. Tidak hanya itu, Mondo juga sempat memproduseri Ayushita di lagu “Sehabis Hujan” (2013) dan solois asal Malaysia, Noh Salleh di lagu “Angin Kencang” (2015). Diluar karier sebagai produser, Mondo juga bertanggung jawab mengerjakan beberapa soundtrack dan scoring film layar lebar Indonesia, sebut saja film Berbagi Suami (2006), Quickie Express (2007), The Forbidden Door (2008) dan Hello Goodbye (2012). Pembawaan musik yang khas dari Mondo Gascaro membuat dirinya mudah diingat oleh banyak orang, karena aransemen musiknya yang cukup unik dengan tema “Indonesiana”, penggabungan musik pop modern dengan sentuhan jazz klasik ala era Indonesia 60-an. Tak ayal setelah merilis album penuh perdananya yang bertajuk ‘Rajakelana’, Mondo Gascaro didapuk sebagai musisi dengan album musik lokal terbaik di Indonesia pada tahun 2016 oleh Majalah Rolling Stone dan juga Metro TV. Selain itu Mondo juga mendapat nominasi di ajang bergengsi Indonesian Choice Awards 2017 yang digelar oleh NET. TV. Pada hari Senin, 14 Agustus 2017 mendatang Mondo Gascaro akan meluangkan waktunya dengan membagi cerita mengenai perjalanan karier bermusiknya secara personal dan dalam suasana sore hari yang intim di TAN Lunch & Bar, Jl. Rajawali Raya 26, Condong Catur, Yogyakarta mulai pukul 16.00 WIB – 18.00...

Read More
Music Chamber #14 Hadirkan Grace Sahertian
Aug11

Music Chamber #14 Hadirkan Grace Sahertian

Program Music Chamber adalah program rutin berkonsep mini showcase yang diselenggarakan oleh Lawangwangi Creative Space sejak tahun 2014 bekerjasama dengan para seniman musik dari kota Bandung. Pada kesempatan kali ini Music Chamber #14 akan bekerjasama dengan Grace Sahertian. Music Chamber #14 Dayung! Bersama Grace Sahertian akan dilaksanakan pada hari Jumat 18 Agustus 2017 bertempat di Lawangwangi Creative Space, Dago Giri 99, pukul 19:00 WIB yang terbuka untuk umum dan gratis. Lawangwangi Creative Space memiliki kapasitas 200-250 pengunjung. Dalam mini showcasenya kali ini, Grace akan membawakan lagu-lagu dari album HELA dan akan berkolaborasi dengan teman-teman musisi asal Bandung lainnya, yaitu: Arum & Meicy (Tetangga Pak Gesang), Dimas Wijaksana (Mr. Sonjaya), Dhira Bongs, Jon Kastella, dan Yuddhaswara. Grace Sahertian adalah musisi asal Bandung dengan pengalaman bermusik selama kurang lebih 11 tahun, dengan mengusung genre soul-pop-jazz-gospel-world music. Dalam perjalanan bermusiknya, Grace telah banyak berkolaborasi dengan musisi kenamaan seperti, Iwan Fals, Benny & Barry Likumahuwa, Tulus, The Milo, DJ Andezzz, dsb. Grace juga rutin tampil di event International Java Jazz Festival. Grace pada tahun 2016 telah mengeluarkan album perdananya bertajuk: HELA. Filosofi Album Hela berasal dari nama keluarganya, Sahertian, yang memiliki arti “dayung terus melawan musuh”. Harapan dan semangat positif untuk terus mengejar mimpi disajikan oleh Grace ke dalam 8 track yang menggunakan 3 bahasa, yaitu: Indonesia, Inggris dan bahasa Yamdena dari Maluku Tenggara Barat yang usianya sudah mencapai 200 tahun dan hampir punah. Mini showcase Grace Sahertian ini adalah bagian dari rangkaian promosi album HELA, mengajak penonton menikmati lagu-lagu dari album perdana Grace, dengan konsep pertunjukan yang hangat dan mempunyai warna berbeda dengan kolaborasi cross-genre yang akan dihadirkan bersama dengan teman-teman musisi...

Read More