Gitaris Bangkutaman Rilis Album Solo “Bread and Butter”
Jan11

Gitaris Bangkutaman Rilis Album Solo “Bread and Butter”

Jauh dari apa yang ia lakukan di Bangkutaman, Irwin justru lebih banyak bernyanyi daripada bermain gitar di album solonya ini. “Tidak semua imajinasi saya bisa difasilitasi oleh Bangkutaman dan Bangkutaman sudah punya warna sendiri yang harus dijagain,” jelas Irwin tentang kenapa ia bersolo karier. Kenapa judul albumnya “Bread and Butter”? Bread and Butter di sini adalah idiom atau semacam ungkapan dalam Bahasa Inggris yang berarti menyediakan sumber penghidupan. Untuk Irwin, album ini bagai semacam doa untuk membawanya ke kehidupan yang lebih baik. “Dengan memberi judul album ini Bread and Butter, itu kaya mengirim “sinyal” kepada sang pencipta untuk diwujudkan dalam konspirasi alam semesta,” jelasnya. “Buat saya, album ini sarat unsur spiritual. Untuk bisa sampe sini, saya harus kembali ke tahun 2011 ketika saya mulai bertemu orang-orang penting dalam hidup saya. Butuh selama itu memang buat saya,” jelas Irwin. Artwork album yang dibuat Monica Hapsari pun dengan jelas menggambarkan apa yang ada di kepala seorang Irwin Ardy. Sebuah wajah yang intens dan fokus melihat apa yang di depan mata (masa sekarang), diwarnai dengan beragam spektrum warna pelangi atau warna ketujuh chakra yang ada pada manusia. Dengan kata lain, warna-warna itu untuk mengundang keseimbangan, kesehatan, dan kedamaian. Ada 11 (sebelas) lagu dalam album Bread and Butter ini yang menurutnya bisa dinikmati siapa saja. “Saya di album ini lebih pada seorang singer-songwriter daripada gitaris. Saya nulis lirik dan menyanyikannya dengan gaya saya. Sesekali saya masukin lick gitar ala saya karena ya saya memang belajar musik itu berbarengan dengan belajar gitar. Saya taunya ya gitar hahaha,” sambung Irwin. Yang menarik adalah campur tangan Danny Kirnadi di album ini. “Saya ketemu Mas Danny itu dibantu oleh seorang teman lama. Teman saya itu pengen banget bantu saya untuk sukses bermusik lalu saya dikenalkan oleh teman gerejanya yang suka memimpin koor, mengomposisi lagu-lagu gereja, bahkan ngerekam lagu-lagu grup koor gereja itu untuk direkam di CD dan dikonserkan. Nah, orang itu adalah Mas Danny. Nama grupnya Agape,” jelas Irwin. Danny Kirnadi sendiri sebenarnya ada dalam satu band bersama Once Mekel, Tyo Nugros, dan Erwin Prasetya yang juga alumni band Dewa 19. “Mereka semua teman sekolah dan deket banget. Cuma kalo ditanya histori pendidikan, Mas Danny ini bela-belain bayarin kuliahnya sendiri di Australia dan ambil jurusan Composing and Arranging. Abis itu karena nggak punya duit buat pulang ke Indonesia waktu itu, dia disekolahin sama dosennya di Studio 301 untuk program sound engineering. Jadi pas dia pulang Indonesia, terbayar semua tuh kerja keras beliau hahaha. Portfolionya segambreng sampe bingung mau dari mana,” Irwin menjelaskan tentang Danny Kirnadi. Album Breand and Butter yang resmi dilepas pada 25 Desember 2017 di bawah naungan Rileks Records ini diharapkan dapat membawa Irwin Ardy...

Read More
Cerita Aldin Mengenai Album Perdananya Bersama Mocca
Jan10

Cerita Aldin Mengenai Album Perdananya Bersama Mocca

Halo! Aku Aldin Aimar Massad. Orang-orang di rumah sering memanggilku ‘Al’. Tepat di hari yang istimewa ini aku ingin mengumumkan kalau album pertamaku menyanyikan lagu-lagu dari Mocca sudah bisa teman-teman dengar. Judulnya “Happy – Aldin feat Mocca”. Lagu-lagu yang ditulis Tante Dede (Arina Ephipania), Om Riko (Riko Prayitno), Om Toma (Ahmad Pratama) dan Ayah (Indra Massad) aku nyanyikan kembali di Aru Studio, Infinite Lab juga Fat Studio. Oh iya, teman-teman. Album ini bercerita tentang perasaan bahagiaku. Jadi teringat momen pertama kali aku bernyanyi di depan umum itu tahun 2014 di Mocca Secret Show 5, Lawang Wangi. Disitu aku membawakan ‘Bundle Of Joy’ bersama Tante Dede. Benar-benar bikin deg-degan. Walaupun di Konser Home Mocca (2015) aku tampil lagi dan masih malu-malu, tapi aku cukup berani  kan? Darisitu Al sering denger berita kalau banyak yang suka. Akhirnya, ‘Happy’ menjadi lagu pertamaku di tahun 2016. Berselang satu tahun, tanggal 15 Desember 2017 kemarin Aldin baru saja merilis lagu kedua berjudul  ‘Bundle Of Joy’. Album “Happy – Aldin Feat Mocca” ini mengurangi banyak tenaga Aldin. Terkadang sepulang sekolah Al langsung pergi ke studio rekaman ditemani Ayah dan Bubun. Rasanya album ini 50% membuat aku senang dan 70% nya lagi capek banget, tapi Al bangga sekali karena bisa bekerjasama dengan band Ayah, Mocca. Aduh! Al lupa bilang, Ghazi sama Razaka juga pernah menemaniku di studio rekaman. Adik-adikku ini selalu bikin suasana studio jadi seru. Suara mereka juga ada loh di lagu ‘Do What You Wanna Do’. Tanpa petunjuk juga nasihat dari Ayah, Om Toma, Om Riko dan Tante Dede sepertinya Aldin enggak bisa melakukan ini semua. Ada Om Toma yang selalu ada dalam proses rekaman karena mengambil alih menjadi engineer operator. Kalau Tante Dede, mengarahkan Aldin di vokal beberapa lagu. Nah, kalau Ayah waktu itu membantu Aldin di lagu ‘Buddy Zeus’ soalnya disitu aku merasa sedikit kesulitan karena harus lebih expresive lagi, terus pake ada suara satu dan suara dua untuk backing vocal nya. Aldin kan jadi pusing. Tapi, kata Ayah di lagu ini Aldin paling bagus lho nyanyinya. Sekitaran bulan Juni 2016 album ini sudah selesai proses rekaman. Akhirnya, aku bisa main YouTube lagi. Kadang aku suka dengerin Pinkfong. Pinkfong ini membantu aku untuk belajar menyanyi. Nanti habis baca ini cari aja deh ya! Aku rekomendasiin banget. Sebelum pamit Aldin mau menyampaikan pesan dari Tante Dede, Om Riko, Om Toma dan Ayah. Mereka bilang “Semoga album ini bisa disukai banyak orang, menjadi sarana alternatif orang tua untuk lagu-lagu anak di Indonesia dan meneruskan jejak Mocca lewat regenerasi ini”. Sampai disini dulu, yah teman-teman. Aldin juga ingin berterimakasih kepada Om Ryoichi dan Om Safar karena sudah membantu dalam desain dan artwork favorite Aldin di...

Read More
Heals Resmi Tampil di Laneway Festival 2018
Jan09

Heals Resmi Tampil di Laneway Festival 2018

Unit alternative rock / shoegaze asal Bandung, Heals, resmi akan mewakili Indonesia pada St Jerome’s Laneway Festival 2018 di Singapura. Kabar ini telah tersiar di media sosial masing-masing pihak sejak hari Kamis (5/12) lalu. Ini adalah kali kedua bagi Heals bertandang ke Singapura, setelah sebelumnya tampil di Festival Rocking the Region, Esplanade, Januari 2017 lalu. Sejak waktu itu, band yang beranggotakan Alyuadi Febryansyah (Vocal, Guitar), Reza Arinal (Back Vocal, Guitar), Muhammad Ramdhan (Guitar), Octavia Variana (Back Vocal, Bass) dan Adi Reza (Drum) telah merilis album penuh perdananya bertajuk ‘Spectrum’ pada bulan April lalu di bawah naungan FFWD Records. “Bagi kami, Laneway adalah salah satu festival terbesar di Asia Tenggara dan Australia. Kami bahkan rela melepas dan membatalkan beberapa agenda kami untuk ini.” ungkap Alyuadi. Berada di antara nama-nama seperti Wolf Alice, Slowdive Father John Misty, Amy Shark, hingga Mac DeMarco serta menjadi penampil ketiga asal Indonesia (sebelumnya Stars & Rabbit dan Bottlesmoker) merupakan titik penting bagi perjalanan musik Heals. Di sisi lain, Laneway Festival pun mengungkapkan kegembiraannya untuk mengundang beragam penampil, dari pendatang baru hingga nama besar. “From break-out bands to established entertainers, Laneway Singapore 2018 has them all. Foraging is our speciality and every year, we suss out the artistes to watch, so you don’t have to. We’ve been doing this for eight years (yes, already!) and we hope we get better each time.” tutur pihak Laneway Festival dalam siaran pers-nya. Laneway Festival 2018 akan diselenggarakan di The Meadow Gardens By the Bay, Singapura, pada tanggal 27 Januari. Informasi lebih lanjut dapat mengunjungi situs...

Read More
Cotswolds Rilis Album Penuh ‘Tadius’
Jan09

Cotswolds Rilis Album Penuh ‘Tadius’

Kwartet post-punk asal kota Surabaya, Cotswolds baru saja merilis album penuh berjudul “Tadius” pada 31 Desember 2017 kemarin. Mereka adalah Ted Windrata (Gitar & Vokal), Dwiki Putra (Gitar), Wing Wisesa (Bass), dan Faras Fauzi (Drum). Sebelumnya mereka mengawali karir dalam skena indie Indonesia pada tahun 2012 lalu, selang satu tahun setelahnya mereka mengeluarkan EP pertama, dua tahun kemudian disusul sebuah split EP dengan band indie pop dari Jakarta , Bedchamber. “Tadius diambil dari bahasa slang dengan arti “a jerk or a very stuck up person. Overall album ini menggambarkan seseorang yg depressed, stuck, dan penuh dengan rasa anxiety. Sebuah crisis yg sering dialami seseorang di era sekarang ini dimana hal itu diperparah oleh tekanan dari lingkungan sekitarnya” terang  Ted Windrata. Terlepas dari arti sebuah judul, “Tadius” adalah luapan ekspresi akan kegelisahan yang justru dialami kebanyakan anak muda saat mereka mulai menjinjak umur matangnya. Disaat sebagian dari para pemuda ini menghadapi banyak masalah kehidupan yang pelik, membuat mereka tenggelam dalam dilema, mengalami depresi, tertekan, muak dan pada puncaknya menghampiri keputusasaan. “Kegelisahan disini mungkin seperti yg dirasa pemuda pemudi ketika memasuki fase quarter life crisis. Dan kita jg mengakui sedang berada dalam fase itu. Beruntunglah berangkat dari adanya kegelisahan kegelisahan itu bisa menstimulus kami untuk bermusik dan menuliskan apa yg sedang kita rasakan” jelas Dwiki Putra.  Secara sound album ini cukup terinspirasi oleh katalog lama dari Postcard Records, beberapa dipengaruhi oleh repetisi ketukan krautrock 70an.  Dua lagu lama direkam ulang dan dimuat dalam putaran, masing-masing diambil dari yang terbaik sebagai entitas di materi EP dan Split sebelumnya dan Album ini dirilis dalam format CD pro dan Digital melalui label independen asal Solo, Hema Records. “Semua lagu di album Tadius ini merepresentasikan kami, dan dalam penggarapan di album ini tidak buru-buru dibanding EP kemarin. Lebih banyak explore musik juga di pada album ini” terang Wing Wisesa. “Gue pribadi cukup seneng ketika Bagus sang empunya label melabeli Tadius ini dengan embel embel Kraut Rock. Perlu diketahui sebelum proses take drum berlangsung gue sempet ketagihan track Hallogallo milik Neu!” jelas Farras Fauzi. Sebelumnya mereka sudah merilis sebuah single berjudul “Spectrum of Our Time” untuk diperdengarkan melalui akun Soundcloud Hema Records ( https://soundcloud.com/hemarecords/cotswolds-spectrum-of-our-time ). Adapun kalau berminat CD dan bundle Album Tadius bisa order di hemarecords.com . Untuk pengerjaan artwork dipercayakan kepada seniman asal Jakarta, Onel ( @onelonel ) . Rencananya mereka akan membuat sebuah showcase perihal launching party album Tadius pada bulan April mendatang di Surabaya....

Read More
“Cakrawala”, Lagu Terbaru Mian Tiara dan Chaka Priambudi
Jan02

“Cakrawala”, Lagu Terbaru Mian Tiara dan Chaka Priambudi

Mian Tiara, penulis lirik dan penyanyi yang mengisi soundtrack film Ada Apa Dengan Cinta 2 bersama Chaka Priambudi, komposer – aranger muda pendiri Lantun Orchestra merilis single terbaru. Pada awal April 2017, Mian Tiara dan Chaka Priambudi merilis single debut yang berjudul “Cakrawala”. Mereka telah mengenal satu sama lain cukup lama, Chaka Priambudi kerap terlibat pada proyek solo Mian Tiara. Mereka berdua juga sering dilibatkan pada beberapa proyek bersama musisi senior mendiang alm. Riza Arshad. Keduanya telah lama ingin berkolaborasi, menulis komposisi komposisi baru bersama. “raw, honest, and simple”, tiga kata tersebut dapat menggambarkan visi dalam musik mereka. Keinginan keduanya membuat karya bersama disambut oleh produser Sarah Isya, ketiganya  memulai proyek ini pada akhir 2016 dan seluruh materi untuk album telah selesai direkam pada awal 2017. Lirik Cakrawala yang ditulis oleh Mian Tiara menggambarkan konsep waktu yang berjalan terus menerus pada suatu ruang yang dibatasi oleh cakrawala. Ia ingin menyampaikan tentang merasakan apa yang terjadi disekitar saat ini dan bagaimana kita merespon momen tersebut seiring dengan berjalannya waktu. Sebagai penulis lirik Mian Tiara sudah dikenal memiliki keunikan tersendiri dalam merangkai bahasa menjadi sebuah lirik yang sarat makna. Musik dan aransemen “Cakrawala” ditulis dan digawangi oleh Chaka Priambudi dengan melibatkan teman-teman musisi yaitu : Aditya Bayu pada gitar, Edward Manurung pada drum, sedangkan pada bass dan piano diisi sendiri oleh Chaka Priambudi. Dalam single Cakrawala, Ia menampikan musik yang seolah berjalan mengikuti intensitas vokal Mian Tiara dalam tiap bagian liriknya. Berbagai latar belakang musik yang dimiliki Mian Tiara dan Chaka Priambudi tampil dan diekspresikan menjadi satu pada musik yang membalut lirik Cakrawala. Keduanya tidak memiliki harapan khusus  ketika memulai proyek ini. Lirik dan musik yang tercipta mengalir begitu adanya, proses kreatif mereka adalah memanfaatkan momentum yang terjadi saat itu. Mereka mencoba merespon apa apa yang terjadi selama mereka berproses di studio saat itu dan mengekspresikanya menjadi sebuah musik yang tulus dan...

Read More
Monita Tahalea Rilis Single “Breathe” Bertepatan dengan Hari Ibu
Jan02

Monita Tahalea Rilis Single “Breathe” Bertepatan dengan Hari Ibu

Bertepatan dengan Hari Ibu, Monita Tahalea meluncurkan single “Breathe” yang merupakan single terakhir di album Dandelion dalam format video lirik dengan konsep animasi grafis. Single ini adalah lagu ke 9 dalam track album Dandelion yang diluncurkan bulan Desember 2015 lalu, sebelum “Breathe” Monita Tahalea pernah merilis video klip “Memulai Kembali” dan “Hai Teman” yang semuanya bisa di saksikan di official youtube channel Monita Tahalea. Lagu “Breathe” ditulis oleh Gerald Situmorang dan Monita Tahalea, sedangkan penggarapan video lirik dikerjakan oleh Luluq Baraqbah & WITJK sebagai animator grafis dan Shadtoto Prasetio sebagai...

Read More