Kemeriahan Konser Akhir Tahun JOOX Festival Hura Ceria 2017
Dec11

Kemeriahan Konser Akhir Tahun JOOX Festival Hura Ceria 2017

Meskipun Kota Bandung sempat diguyur hujan deras sejak siang, rupanya animo kaum muda dan pecinta musik tidak ikut surut sesudah hujan reda. Sesuai jadwal, tepat pukul 16.00, panggung “JOOX Live Festival Hura Ceria”, yang diadakan pada Sabtu, 9 Desember 2017 di Lapangan PPI Pussenif Bandung mulai diramaikan oleh penampilan mengesankan dari band-band independen lokal, mulai dari Collapse, Stars and Rabbit, Rendy Pandugo, Sarasvati, The SIGIT dan dipungkasi penampilan bergelora dari Seringai. Disambut dengan antusias oleh para penikmat musik, acara ini dipadati oleh 4792 pengunjung. Trisiska Putri Hapsari, Head of Marketing and PR Department JOOX Indonesia mengungkapkan apresiasinya atas dukungan pecinta musik yang hadir di Bandung. “Kami sangat menghargai dan berterima kasih kepada kalangan muda dan para pecinta musik independen yang turut hadir memeriahkan JOOX Live Festival Hura Ceria 2017 di Bandung. Kehadiran mereka adalah bentuk dukungan kepada para musisi independen pada khususnya dan industri  music Indonesia pada umumnya,” ungkap Trisiska Putri. Bagi para musisi yang tampil, panggung JOOX Live Festival Hura Ceria 2017 merupakan salah satu ajang untuk mengobati kerinduan para pecinta musik di Bandung akan aksi panggung mereka. Hal ini diutarakan Sarasvati bahwa penampilannya di atas panggung JOOX Live kali ini adalah sebagai pembuktian bahwa mereka masih terus berkarya. “Sudah lama kami tidak tampil, keikutsertaan kami di konser akhir tahun JOOX sebagai salah satu pembuktian kalau kami sedang menyiapkan sesuatu yang baru di tahun 2018,”papar Risa Saraswati. Bagi Seringai yang tampil dengan penuh energi, kehadiran di atas panggung JOOX Live Festival Hura Ceria untuk menghibur para penikmat musik cadas di Bandung merupakan momen akhir tahun yang menyenangkan. “Acara ini perlu diapresiasi karena melibatkan banyak aktivitas seru bagi para pengunjung dancrowd yang hadir juga seru,” tutur Arian, sang vokalis. Sementara Rendy Pandugo merasa sangat tersanjung bisa berada dalam satu panggung bersama para musisi independen terbaik di Indonesia. “Sangat menyenangkan bisa menghibur teman-teman di Bandung bersama para musisi indie kenamaan tanah air. Semoga acara seperti ini bisa selalu didukung JOOX Indonesia,” ungkap solois asal Kota Medan yang juga tampil maksimal ini. Konser yang dimulai pada pukul 16.00 WIB tersebut dibuka dengan penampilan menarik dari Collapse, salah satu band local bergenre indie rock, lalu dilanjutkan dengan alunan musik folk yang manis khas Stars & Rabbit. Lalu dilanjutkan dengan aksi panggung Rendy Pandugo yang mengajak para pengunjung untuk bernyanyi bersama dengan lagu-lagu andalannya dari album ‘The Journey’. Sementara Sarasvati hadir membawakan 9 lagu dengan memukau, di antaranya adalah ‘Bilur’ dan ‘Perjalanan (Kereta Malam)’, sebuah lagu lawas yang dinyanyikan kembali dengan mengesankan oleh Sarasvati. Tentu saja, babak pamuncak dari konser malam itu adalah penampilan dua band yang juga berasal dari kota kembang ini, yaitu The SIGIT dan Seringai. Para pengunjung yang sudah memadati Lapangan PPI Pussenif Bandung turut bernyanyi ketika penampilan enerjik, interaktif dan hangat dari The SIGIT. Kemeriahan konser kemudian...

Read More
Yura Yunita Memukau di Konser Tunggal  “Special Concert Yura Yunita”
Dec05

Yura Yunita Memukau di Konser Tunggal “Special Concert Yura Yunita”

Sejak kemunculannya di tahun 2014 lalu, penyanyi kelahiran Bandung, 9 Juni 1991 ini terus menarik perhatian banyak pihak terutama penikmat musik Indonesia. Karya musiknya terus mengudara turut membawa sosok Yura Yunita sebagai Penyanyi Wanita Pop Terbaik dan Pencipta Lagu Pop Terbaik dalam ajang penghargaan musik paling bergengsi di indonesia, AMI Awards 2017 pada pertengahan November 2017 kemarin. Rabu, 29 November 2017 malam kemarin bertempat di Empirica, kawasan SCBD Jakarta Selatan, menjadi pelengkap dari momen kebahagiaan seorang Yura Yunita. Sebuah konser tunggal bertajuk “Special Concert Yura Yunita” sukses ia rayakan bersama penggemarnya, Hip Hip Yura yang selama ini menjadi pendukung utamanya dalam berkarya. Dalam kesempatan tersebut, Yura mengajak pendengarnya untuk kembali menyimak album perdananya yang merangkum sejumlah hit single seperti Kataji, Balada Sirkus, Get Along With You, Jester Suit, Itu Kamu hingga Berawal Dari Tatap yang dibawakan bersama ibunda tercinta. Hampir semua track yang ia bawakan dihadirkan dengan aransemen ulang demi memberikan penggemarnya pengalaman tersendiri dalam menikmati aksi panggung seorang Yura Yunita. Pertunjukan ini semakin lengkap dengan kejutan-kejutan lainnya. Grup musik RAN membuat riuh ratusan penonton di depan panggung dimana single terbaru mereka Melawan Dunia yang berkolaborasi bersama Yura Yunita dibawakan bersama untuk pertama kalinya. Momen tersebut dipersembahkan untuk Adam Fabumi dengan sticker yang menempel di wajah Yura dan personel RAN. Ditambah dengan latar video yang menampilkan sosok Adam Fabumi, atmosfer yang begitu dalam hadir dan sontak membuat koor panjang yang menggema di dalam Empirica. Lagu Cinta dan Rahasia juga tidak lupa dibawakan, Yura kembali mengejutkan penonton dengan menghadirkan Reza Rahadian untuk berduet bersama dalam lagu tersebut. Yura yang memainkan alat musik, bergerak lincah bersama penari di bawah tata cahaya yang begitu baik serta tata suara spektakuler turut menjadikan konser tunggal perdana Yura Yunita ini tidak hanya sukses memberikan kejutan. Atmosfer intim juga sukses terbangun di dalamnya dengan tidak adanya jarak atau pembatas antara mereka membuat Yura maupun penggemarnya berinteraksi terus menerus sejak awal hingga konser berakhir. “Konser ini sengaja aku buat untuk berbagi kebahagiaan bersama orang-orang terdekat Yura. Keluarga, musisi, sahabat, teman-teman media dan semua yang datang ke konser ini. Terima Kasih banyak, sudah selalu apresiasi karya-karya Yura, ini salah satu semangat aku untuk terus berkarya,” tutur Yura penuh...

Read More
Konser “7 Bidadari” Tandai Kesuksesan Kiprah Bermusik Naif Selama 22 Tahun
Oct24

Konser “7 Bidadari” Tandai Kesuksesan Kiprah Bermusik Naif Selama 22 Tahun

22 tahun bukanlah waktu yang sebentar dalam berkarya di blantika Musik Indonesia seperti yang dibuktikan oleh kuartet retro–pop Naif pada Minggu (22/10) malam bertempat di Teater Garuda – TMII, Jakarta dengan melangsungkan perayaan ulang tahunnya yang ke-22 sekaligus pentas perilisan album terbaru mereka “7 Bidadari”. Pertunjukkan dimulai sekitar pukul 20.00 waktu setempat dibuka dengan sajian operet Jaka Tarub yang mencoba mencuri salah satu selendang dari 7 bidadari yang sedang mandi di air terjun namun nasib berkata lain ternyata yang dicuri adalah selendang milik Si Buta dari Goa Hantu. Meskipun alur cerita dan pembawaan tokoh dalam operet tersebut terasa hambar untuk sebuah awalan konser musik, namun para Kawanaif (sebutan bagi penggemar Naif) tetap bersemangat ketika sang MC senior Koes Hendratmo naik ke atas panggung untuk memberikan prolog  dan memanggil satu-persatu personil untuk segera memulai pertunjukannya. Tanpa berbasa-basi David Bayu (vokal, gitar), Emil Hussein (bass), Fajar Endra Taruna alias Jarwo (gitar), Franki Indrasmoro alias Pepeng (drums) memulai setnya lewat “7 Bidadari” diikuti beberapa nomor selanjutnya “Alangkah Indahnya Indonesia“, “Selama Ada Cinta”, “Diriku dan Dirimu”, “Indah”, dan “Berubah”. Sambil menyapa penonton yang hadir di tiap seat-nya “Halo Selamat Malam semuanya, terima kasih sudah hadir disini untung bersenang-senang bareng,” David memperkenalkan deretan lagu-lagu yang memang pertama kali dibawakan di atas panggung pada malam itu sebelum akhirnya set dilanjutkan dengan nomor “Kenali Dirimu”, “Sedjak”, “Apa yang Membuat Dirimu Untuk Terus Disini”, dan “Sayang Disayang” sebagai penutup set pertama mereka. Sebanyak 10 materi dalam album terbaru berhasil dibawakan dengan baik oleh Naif dibantu beberapa musisi sejawatnya Krisna Prameswara (keyboard), Amrus ramadhan (steel guitar), Mochamad Saatsyah (seruling pipa), Syarief Hidayat (kendang), juga tim strings serta brass section yang membuat tata suara semakin megah. Sebelum memulai set berikutnya, duo MC Vincent Rompies dan Desta bersama Gilang Gombloh juga Adjis Doaibu sengaja dihadirkan keatas panggung untuk mencairkan suasana penonton dengan berbagai guyonan khas mereka dilanjut sesi tanya jawab dan tiup lilin selebrasi ulang tahun ke-22. Tepat pukul 21.30 WIB David, Emil, Pepeng, dan Jarwo kembali melanjutkan set panjangnya dengan “Air dan Api”, “Senang Bersamamu”, “Planet Cinta”, “Karena Kamu Cuma Satu”, “Janji Setia”, dan “Televisi” yang seketika membuat koor massal dari penonton tak hentinya terdengar dari seluruh penjuru Teater Garuda malam itu. Berlanjut kembali  rangkaian hits “Itulah Cinta”, “Dimana aku disini”, “Benci untuk mencinta”, “Hidup ini indah”, “Jikalau”, “Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia yang Ada di Seluruh Dunia”, “Aku Rela”, “Towal Towel”, “Posesif”, hingga berakhir pada nomor di album perdana mereka “Piknik 72”, dan “Mobil balap” yang didaulat sebagai pamungkas Selama kurang lebih 2,5 jam Naif membuktikan bahwa kiprahnya selama 22 tahun di dunia musik sudah tak dapat diragukan lagi sehingga pada akhir pentas malam itu penonton pun...

Read More
Menikmati Indahnya Dunia di Bestival Bali 2017
Oct08

Menikmati Indahnya Dunia di Bestival Bali 2017

Kontributor: Fredy Wally/Foto: Bestival Cukup jarang kita bisa lihat sebuah festival yang diciptakan indah dan menawan seperti yang diusung oleh Bestival. Lahir lewat mimpi besar para foundernya sejak 10 tahun lalu di Inggris Raya seperti Rob da Bank dan isterinya Josie da Bank juga rekannya John serta Ziggy membuat Bestival bukan sekadar festival musik independen tapi juga salah satu festival di dunia yang sukses menyebarkan cinta untuk setiap pengunjungnya. Akhir bulan lalu, tepatnya pada 30 September 2017 hingga 1 Oktober 2017, gelaran festival musik modern yang sudah meraih beberapa penghargaan bergengsi ini mampir ke Bali alias Pulau Dewata. Yes! Tentunya ini sudah ditunggu banget kan sama para pecinta musik tanah air yang mendambakan sebuah festival dengan konsep yang berbeda. Seperti halnya sebuah petualangan, Bestival Bali, demikian festival ini punya title resmi, memang unik. Bisa dilihat dari venue-nya yang indah, di antara tebing tebing kapur kawasan kultural Garuda Wisnu Kencana (GWK) Bali. Sepanjang dua hari itu para pengunjung maupun penikmat festival dibuai oleh indahnya lokasi termasuk para performers yang sukses mengajak untuk dancing all night long. Deretan performers seperti ALT-J, Pendulum (DJ SET), Purity Ring, The Cuban Brothers, Kilter, Ras Muhamad, Lady Flic, Phat Phil Cooper, Marc Roberts,   Kaiser Waldon, Aldrin, Damian Saint, Dea, Stu Mac, Globetrotter Social Club Pres. , Diskoria & Darker Than Wax, Indra Riggz, Project — IIIDJ’S – Matty Wainwright, Marapu, Dan Wilshire One Love, Chief Rakka & Indo Strictly Blazin, Dave Dorrell, Aray Daulay & The Island Souls ft, Richard D’Gilis, Brother Joe and The Peaceful Warriors, hingga Juik Cobra sukses membius para penonton yang datang pada gelaran hari pertama. Bestival Bali sendiri terbagi dalam tiga panggung yang tersebar di beberapa titik GWK, mulai dari Main Stage yang ada di tengah-tengah Lotus Ponds, lalu ada Island Sound Stage yang chill hingga Reggae Roots Stage yang sukses membuat penonton dan pengunjung untuk bergoyang reggae sepanjang malam. Menariknya, selain penampil yang keren-keren, festival ini juga menyajikan beberapa booth asyik untuk para penonton, mulai dari bar yang didesain kece hingga beberapa stand merchandise yang pantang untuk dilewatkan. Termasuk di dalamnya lounge di bawah taburan bintang serta beberapa beanie yang seru. Pengunjung yang datang pun bertransaksi cashless karena di gelang yang mereka pakai sebagai tanda masuk merupakan ‘dompet’ yang bisa diisi ulang untuk setiap transaksi di arena. Cukup top up bila merasa kurang saldonya atau refund bila masih ada sisa di akhir acara. Sungguh sebuah festival yang Indah, di tengah taman yang juga ditata Indah. Everyday chill and feel comfort. Seperti yang dikatakan oleh George Clinton Parliament dari atas panggung. “Let’s chill together Bestival...

Read More
Membahas “Transfiguring Residual Spaces” di Pre-Event AFAIR UI 2018
Sep25

Membahas “Transfiguring Residual Spaces” di Pre-Event AFAIR UI 2018

Pre-Event Architecture Fair Universitas Indonesia (AFAIR UI) 2018 telah sukses dilaksanakan pada hari Sabtu, 9 September 2017 lalu, di ruang Auditorium K-301, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Mengambil tema “Transfiguring Residual Spaces”, Pre-Event AFAIR UI merupakan salah satu bagian dari rangkaian acara Open House yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Arsitektur dan Departemen Arsitektur UI sendiri dalam rangka menunjukkan kompetensi mahasiswa dalam membuat rancangan arsitektural yang responsif terhadap isu. Karya-karya mahasiswa Arsitektur UI selama masa perkuliahan kemudian akan disajikan dalam konsep arsitektural yang komunikatif kepada akademisi, profesional dan masyarakat. Acara puncak (Main Event) dari AFAIR UI 2018 akan dilaksanakan pada bulan Januari tahun mendatang, bertempat di UI Art and Culture Center, Kampus UI Depok, Jawa Barat. Acara Pre-Event ini terdiri atas talkshow dan sharing session, yang kemudian dilanjutkan dengan Technical Meeting dari sayembara “Lost and Found”. Sesi Talkshow dan sharing session diisi oleh Sarah Ginting (Founder of SAGI Architects), Wahyu Dwi Arifianto (Creative Art Director of Sembilan Matahari), dan Joko Adianto (UI Academician), serta Nadya Azalia sebagai moderator, sedangkan Technical Meeting diselenggarakan oleh panitia. Tidak disangkal lagi, sesi Talkshow merupakan agenda yang paling dinanti hari ini karena diskusi ini membahas tema utama sayembara. Dengan latar belakang para pembicara yang bervariasi, mulai dari akademisi, arsitek, dan juga seniman, diskusi ini menjadi sumber pengetahuan baru bagi para peserta. Joko Adianto, misalnya, beliau berbagi cerita tentang proyek yang diprakarsai olehnya dan beberapa mahasiswa internasional dimana beliau menyimpulkan bahwa kita perlu bersikap kritis terhadap keseharian yang kita amati karena pengetahuan non-verbal dari masyarakat adalah alat yang sebenarnya berguna untuk membantu kita dalam memahami kebutuhan sebenarnya dan karakteristik konteks lokal. Sedangkan Wahyu Dwi, sebagai seniman kreatif menyarankan bahwa pendekatan artistik dalam melakukan intervensi terhadap ruang residu dapat menjadi pilihan tepat untuk mengoptimalkan peran “Architecture as a Catalyst”, tema utama AFAIR UI 2018. Di sisi lain, Sarah Ginting berpendapat bahwa ruang, dengan identitas disekitarnya, akan selalu diposisikan pada bagaimana setiap orang menggunakannya, yang akan menghasilkan kemungkinan yang tak terbatas untuk menciptakan masyarakat dan masa depan yang lebih baik. Selain Talkshow, Pre-Event AFAIR UI 2018 juga menampilkan booth dari media partner serta mitra acara Arsitektur UI lainnya, yaitu Ekskursi Arsitektur UI 2018, dimana satu tim besar mahasiswa Arsitektur UI berkeliling Indonesia untuk mempelajari arsitektur venakular lokal di daerah yang didatangi. Pre-Event ditutup dengan sesi technical meeting sehingga tim-tim sayembara mendapatkan lebih banyak informasi tentang persyaratan teknis kompetisi, yang kini masih dibuka dan akan ditutup pada 20 Oktober...

Read More
Soundrenaline 2017 Sedot 83.151 Penikmat Musik
Sep25

Soundrenaline 2017 Sedot 83.151 Penikmat Musik

Soundrenaline, festival musik taraf internasional yang memulai debutnya di tahun 2002, telah berakhir di tanggal 10 September 2017 yang lalu. Di gelaran episode ke-15, Soundrenaline kembali mengukuhkan komitmennya menjadi festival musik terbesar yang sukses menarik minat lebih dari 80 ribu penikmat musik dewasa untuk memadati kawasan Garuda Wisnu Kencana selama dua hari berturut-turut. Lebih dari 70 musisi Indonesia, 4 musisi internasional serta puluhan penggiat seni visual turut memeriahkan ajang bertemakan #UnitedWeLoud dan makin membuktikan Soundrenaline 2017 sebagai pesta perayaan keragaman ekspresi dan karya berbalutkan semangat persatuan dan kolaborasi. Di tengah gempuran musik berkualitas dari musisi Tanah Air, Dashboard Confessional turut memeriahkan gelaran Soundrenaline 2017. Band asal negeri Paman Sam ini membawakan 17 lagu dari 6 album yang telah dirilis sepanjang karier. Suasana magis dari musik emo yang dihadirkan Dashboard Confessional di A Stage kental terasa sepanjang penampilan. Sebelumnya, JET; band rock asal Australia JET, Mew; band alternative rock asal Denmark, serta Cults; band indie pop dari Amerika Serikat juga turut mengebrak panggung Soundrenaline 2017. “Kami sangat senang bisa tampil kembali di panggung Soundrenaline. Sejak tahun 2004, hingga sekarang Soundrenaline sudah menjadi festival musik yang erat kaitannya dengan perjalanan karier kami. Tahun ini, Soundrenaline 2017 menjadi istimewa karena sekaligus merayakan 10 tahun  “Beraksi”, salah satu single terpenting bagi Kotak karena merupakan anthem bagi KerabatKotak,” ungkap Tantri, vokalis dari Kotak Band. “Sejalannya waktu, Soundrenaline dikenal sebagai pesta tahunan yang mengajak para musisi, penikmat musik, komunitas kreatif, dan penggiat seni kreatif untuk tampil berekspresi dan berkarya di satu venue fenomenal. Dengan dukungan dari Sampoerna A, tahun ini kami menggaungkan pesan persatuan dengan menghadirkan keragaman ekspresi dan karya dalam jumlah yang lebih massive dan lebih ‘berisik’ dari sebelumnya,” ungkap Novrial Rustam selaku Managing Director Kilau Indonesia....

Read More