_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"kanaltigapuluh.info","urls":{"Home":"http://kanaltigapuluh.info","Category":"http://kanaltigapuluh.info/category/nowplaying/","Archive":"http://kanaltigapuluh.info/2017/04/","Post":"http://kanaltigapuluh.info/puma-keluarkan-koleksi-terbarunya-dalam-seri-classics/","Page":"http://kanaltigapuluh.info/redaksi/","Attachment":"http://kanaltigapuluh.info/puma-keluarkan-koleksi-terbarunya-dalam-seri-classics/http-bae-hypebeast-comfiles201703sesame-street-puma-suede-2017-collaboration-1/","Nav_menu_item":"http://kanaltigapuluh.info/culture-art/","Wpcf7_contact_form":"http://kanaltigapuluh.info/?post_type=wpcf7_contact_form&p=1161"}}_ap_ufee
Terang Benderang Ragam Seni di Tebing Batu Breksi dalam SoundsAtions x Barasuara
Apr22

Terang Benderang Ragam Seni di Tebing Batu Breksi dalam SoundsAtions x Barasuara

Yogyakarta telah dikenal sebagai kota istimewa yang kaya akan seni. Seakan tak pernah padam, geliat seni di Jogja terus berkembang dan dapat dinikmati di berbagai sudut kota. Jumat malam, giliran sisi timur kota yang berpendar dengan berbagai ragam seni karya seniman Yogyakarta. Dalam acara yang bertajuk SoundsAtions Habis Gelap Terbitlah Terang (HGTT), kawasan Taman Tebing Breksi berhasil disulap menjadi sebuah galeri terbuka tempat memajang ribuan karya seni yang dapat dinikmati bersama dengan sajian musik berkelas dari Barasuara, Shaggy Dog, Jogja Hip Hop Foundation, dan Risky Summerbee & Honeythief. “Melalui ajang SoundsAtions HGTT ini, kami ingin mengajak teman-teman komunitas seni di Yogyakarta untuk terus berkarya. Jadi, untuk yang belum mulai berkarya kami harap acara ini dapat menginspirasi untuk jadi lebih berani, atau bagi yang sedang mengalami kebuntuan dalam berkarya, semoga acara ini dapat membantu mereka untuk menemukan „terang‟,” jelas Dita Wiendra Adriati dari Gong Production selaku penyelenggara SoundsAtions HGTT. Di salah satu sisi tebing batu, Farid Stevy bersama dengan puluhan seniman lainnya terlihat sedang serius membangun sebuah karya berukuran besar. Instalasi tersebut menjadi semacam monumen atas telah terkumpulnya 10,000 artwork dari wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. “Banyak orang mengenal Yogyakarta sebagai kota seni dan budaya, tapi mungkin mereka belum tahu bahwa setiap tahunnya tidak terhitung berapa hasil karya yang dihasilkan di kota ini. Kali ini, SoundsAtions HGTT berhasil mengumpulkan 10.000 karya seni, dan sekiranya instalasi seni ini mampu membawa pesan bahwa sebagai penggiat seni, kita tidak perlu takut untuk bersuara dan membuat karya kami berpendar lebih luas,” jelas Farid Stevy. Penampilan Barasuara yang menutup rangkaian acara SoundsAtions HGTT juga makin mengobarkan semangat para penunggang badai yang hadir. Deretan lagu dari album ‘Taifun’ yang dibawakan dengan aransemen berbeda juga diselipi dengan beberapa lagu baru dari Barasuara, salah satunya berjudul “Tentukan Arah” dan “Samara”. “Rasanya sepanjang malam ini seakan menjadi malam penuh inspirasi. Selain ajakan untuk berkarya dari komunitas serta pelaku seni di Jogja, SoundsAtions HGTT ini juga terus menggaungkan lagu-lagu sarat makna dari berbagai penampilnya. Barasuara sendiri tak pernah ragu untuk mengangkat isu apapun ke dalam sebuah lagu, termasuk lagu-lagu baru yang kami bawakan malam ini,” kata Iga Massardi, lead vocalist dan gitaris Barasuara. Sejak pukul empat sore, kawasan Taman Tebing Breksi mulai dipenuhi oleh para penggiat dan penikmat seni dari Yogyakarta dan sekitarnya. Mereka datang mengenakan batik sebagai syarat untuk memasuki SoundsAtions HGTT. Risky Summerbee & Drummer Guyub YK menyambut penonton yang sudah hadir lebih awal dengan musik khas mereka. “SoundsAtions HGTT ini merupakan bentuk semangat go ahead dari berbagai komunitas kreatif Yogyakarta. Perjuangan mereka untuk terus belajar dan berkarya adalah sebuah hal yang patut diapresiasi. Maka, sudah sepantasnya saat ini kita semua merayakan nyala terang ragam seni Yogyakarta,” tutup...

Read More
Semarak Aksi di SoundsAtions X Barasuara Bandung
Apr16

Semarak Aksi di SoundsAtions X Barasuara Bandung

Jumat, 14 April 2017, bertempat di lapangan PPI, PUSSENIF Bandung, Go Ahead People menggelar sebuah acara bertajuk SOUNDSATIONS X BARASUARA. Gelaran yang mengusung semangat pergerakan anak muda ini dimulai pada pukul 4 sore, dengan suguhan beberapa komunitas, seperti salah satunya dari komunitas Grafiti, yang di sore itu melakukan performance art yang cukup mencuri perhatian pengunjung. Pengunjung seolah menerka-nerka hasil akhir gambar dari komunitas Grafiti tersebut, yang seolah berbanding lurus dengan tema yang diusung Go Ahead People lewat hastag #nantijugalopaham. Di main stage nya sendiri, Afternoon Say telah bersiap memainkan musik mereka yang berisik namun berisi. Typical musik ambience, dengan sautan efek delay dan distorsi dari dua gitar, yang ditimpali drum yang agresif serta kejutan pemain seruling ditengah aransemen lagu-lagu yang mereka bawakan. Setelah sekitar lima lagu, Afternoon Say menyudahi penampilannya, dan diteruskan penampilan dari Zealspeaks. Sebuah unit musik kreatif yang mengusung, atau membawa kembali era keemasan invasi britpop di scene lokal, khususnya Bandung. Namun baru sekira dua lagu mereka bawakan, hujan mengguyur area pertunjukan. Ini membuat penonton berhamburan mencari tempat berteduh. Zealspeaks sendiri masih meneruskan penampilannya ditengah guyuran hujan sore itu. Seakan hujan yang turun sore itu adalah bagian dari aransemen musik Zealspeaks itu sendiri. Sebuah pembuktian tentang ungkapan “show must go on” dari mereka. Lalu setelah penampilan Zealspeaks tadi, acara break sebentar untuk menghormati umat muslim melaksanakan ibadah shalat maghrib. Ketika hujan sudah benar-benar reda, acara diteruskan kembali sekitar pukul delapan, dan langsung dipanaskan dengan penampilan dari Kelompok Penerbang Roket, atau biasa disingkat KPR. Para penonton memadati area depan panggung untuk ber-sing along ria dengan KPR. Musik yang diusung KPR cukup provokatif memanaskan tensi penonton malam itu. Maka pemandangan penonton yang ber-head banging dan stage diving pun menjadi bagian dari keriaan yang dikomandoi oleh KPR. Setelah dipanaskan oleh Kelompok Penerbang Roket, giliran kelompok musik Paberik Bamboe yang mencairkan suasana malam itu, dengan perpaduan musik tradisi dan sentuhan musik kontemporer yang diolah pas, dengan pembawaan para personilnya yang jenaka. Lalu ada Float dan setelahnya Parahyena x Parabayawak, yang lewat lagu-lagunya mampu membius penonton dengan nada-nada melodi yang syahdu, dengan lantunan lirik yang cukup memberi kesan yang dalam. Unsur akustik yang asik dari Float maupun Parahyena menjadi daya magis tersendiri, yang oleh karenanya para penonton menjadi hanyut dengan bernyanyi bersama. Satu catatan yang sayang jika tidak dituliskan adalah, ketika Parahyena memainkan lagu mereka yang berjudul Di Bawah Sinar Rembulan, dan semesta mendukung dengan menghadirkan bentuk bulan yang utuh dimalam itu. Tak sedikit pula beberapa muda-mudi yang berpasangan dimalam itu saling berpegangan tangan dibawah sinar rembulan. Dan Parahyena menjadi yang paling bertanggung jawab atas suasana syahdu nan intim. Sekitar pukul setengah 11 malam, yang ditunggu-tunggu para penunggang badai (sebutan untuk penggemar...

Read More
Geliat Musik Folk Cirebon dalam Suburbia – The First Folk Music Festival in Cirebon
Apr10

Geliat Musik Folk Cirebon dalam Suburbia – The First Folk Music Festival in Cirebon

Tidak mau tertinggal dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia, Cirebon saat ini dalam industri hiburan dan kreatifnya sudah mulai bergeliat. Hal ini ditunjukkan dengan digelarnya“Suburbia – The First Folk Music Festival in Cirebon”. Acara ini diadakan di Umah Kebon  pada hari Minggu, 9 April 2017. Dengan mengusung konsep pesta di taman belakang rumah, para pengunjung berhasil dibuai oleh beragam suguhan etnik yang khas mulai dari penampilan musisi Klopediakustik dari Kuningan,Hanyaterra dari Jatiwangi, dan Danilla dari Jakarta. Selain itu pameran foto dari komunitas Klise Unswagati yang mengangkat pesan – pesan humanis yang di display sepanjang area masuk ke panggung. “Digelarnya Suburbia ini untuk memberikan penyegaran serta menumbuhkan pergerakan generasi penggiat dan penikmat seni kreatif agar dapat mengekspresikan karya mereka dengan cara masing–masing. Berkat dukungan Sampoerna A, Cirebon dapat menyuarakan kreativitas musisinya yang cukup eksperimental dan jelas berbeda seperti Hanyattera dan Klopediakustik” ujar Irfan, perwakilan dari Ruang Alternatif, penyelenggara Suburbia. Acara dibuka sekitar pukul 8 malam dengan menampilkan Klopediaakustik sebagai pembuka. Perhatian saya sukses dicuri oleh penampilan dari Hanyaterra pada malam hari itu. Menyajikan musik eksperimental dengan menggunakan instrumen tanah liat, kelompok musik asal Jatiwangi tersebut sukses membawa budaya lokalnya dalam representasi sebuah pertunjukan musik di gelaran ini. Seperti yang kita tahu, Jatiwangi adalah salah satu daerah produsen genteng tanah liat dan tembikar di Indonesia. Danilla cukup sukses membius para penonton yang memadati Omah Kebon pada malam hari itu dengan buaian lagu-lagu sendu nya selama kurang lebih satu jam lamanya. Ditemui seusai penampilannya di atas panggung, Danilla mengaku sangat puas dengan antusiasme Cirebon di kunjungan perdananya ini dan juga makanan khasnya. “Datang ke Cirebon demi menampilkan musik saya merupakan sebuah kepuasan tersendiri apalagi dapat melihat musisi lokal lain yang bisa memberi inspirasi bahwa musik folk tidak pernah mati sampai kapan pun. Kepercayaan akan idealisme dalam bermusik tentu akan menciptakan sentuhan rasa tersendiri bagi pendengar, inilah yang selama ini saya pegang. Asalkan kita, para musisi dapat mengekspresikan karya dengan berani dan yakin,” ujar pelantun ‘Buaian’tersebut. “ Acara ini sengaja kami kemas untuk dapat menciptakan atmosfer musik folk yang kental dengan keintiman yang tercipta antara musisi dan fansnya. Kami harap pergerakan kreativitas Cirebon tidak hanya berhenti di sini dan dapat menyentuh kalangan yang lebih luas lagi kedepannya,” tutup...

Read More
Danadyaksa Nusantara: Generasi Muda Sebagai Penjaga Budaya Bangsa
Apr04

Danadyaksa Nusantara: Generasi Muda Sebagai Penjaga Budaya Bangsa

Maraknya musik serta dance modern dikalangan anak muda Indonesia bukanlah menjadi suatu fenomena luar biasa dimata kita semua pada saat ini. Generasi millennial saat ini lebih senang mendengarkan musik-musik modern yang berasal dari luar negeri mulai dari genre pop, rock, indie dan lain sebagainya. Mereka juga gemar dalam mempelajari dance –  dance modern yang berasal dari negeri ginseng, Korea Selatan. Lalu, bagaimana dengan musik serta tari tradisional yang berasal dari nenek moyang kita? Apakah mereka masih mempelajari aset kekayaan budaya Indonesia ini? Dalam menjawab tantangan persaingan budaya ini, BEM FEB UI mengadakan sebuah acara yang bertujuan menjaga eksistensi seni musik yang berupa paduan suara dan tari tradisional serta mengajak generasi muda untuk terus melestarikan serta mempelajari budayanya. Acara tersebut bernama National Folklore Festival yang merupakan suatu kompetisi paduan suara dan tari tradisional yang diikuti oleh seluruh generasi muda di Indonesia. National Folklore Festival atau NFF telah diadakan sejak tahun 2006 oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia. NFF diselenggarakan untuk meningkatkan kesadaran generasi muda khususnya mahasiswa FEB UI akan pentingnya budaya Indonesia. Acara NFF terdiri dari kompetisi paduan suara dan tari tradisional yang diikuti oleh siswa tingkat SMA, mahasiswa dan masyarakat umum yang tergabung dalam sanggar. Pada tahun ini, National Folklore Festival telah memasuki tahun ke sebelas. The 11th National Folklore Festival saat ini membawakan tema Danadyaksa Nusantara setelah sebelumnya sukses membawakan tema Sanskardhani. Danadyaksa Nusantara berasal dari Bahasa sanskerta yang memiliki arti penjaga kekayaan nusantara. Penjaga kekayaan nusantara ini ditujukan kepada generasi muda Indonesia yang sudah sepatutnya menjaga kekayaan nusantara, salah satunya ialah seni tradisional. “The 11th NFF mengajarkan gue banyak hal, mulai dari cara memimpin, punya keluarga baru, kebersamaan dan lainnya. Disini gue tidak hanya menyaksikan penampilan paduan suara dan tari tradisional dari seluruh Indonesia, tapi gue juga bisa berkenalan dengan mereka, pelaku – pelaku seni tanah air. Gue berharap dalam NFF kali ini mereka tidak hanya sekedar berkompetisi, melainkan juga mendapatkan value yang membuat mereka ingin terus melestarikan budaya,” Ujar Cahyo Kumara, Project Officer The 11th National Folklore Festival. “Gue juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan NFF kali ini”, tambahnya. The 11th National Folklore Festival berhasil dalam membawakan acara pada tahun ini. Acara yang bertemakan Danadyaksa Nusantara ini juga mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dari antusiasme para peserta yang semakin tinggi serta kepuasan juri atas konten acara yang dibawakan tahun ini. “Banyak kualitas peserta yang menurun, namun acaranya sendiri stabil bahkan lebih bagus dari tahun lalu karena tidak ada selingan MC ditengah lomba sehingga peserta dan juri lebih focus,” Ujar Djoko Suko Sadono, salah satu juri tari tradisional The 11th National Folklore Festival. Tim Fabovassa Youth...

Read More
Pesta Rilis Album WORO & The Night Owls
Mar24

Pesta Rilis Album WORO & The Night Owls

Mini Showcase WORO & The Night Owls – Innervision EP sukses digelar pada, Minggu (19/03) di Paviliun 28. Acara ini merupakan launching party dari mini album Innervision yang pada 20 Februari lalu, resmi dirilis oleh Nanaba Records. Tak hanya membawakan materi dari mini album perdana, solo music project yang ‘dimotori’ oleh WORO (vocals, guitar, keyboards, synthesizer) bersama backup band-nya, Ditya (bass) dan Haris (drums) tersebut juga membawakan beberapa lagu cover. Di sesi pertama, WORO & The Night Owls tampil menyuguhkan lagu yang telah di aransemen ulang dari musisi maupun band yang menjadi inspirasi bermusiknya yaitu, Zero 7 & Sia ‘Destiny’, Garden City Movement ‘Move On’, Emily Zuzik ‘It Don’t Matter To Jesus’,  8mm ‘Nobody Does It Better’, Tropics ‘Home and Consonance’ dan Lapsley ‘Falling Short’. Sebelum menyambung ke sesi kedua, MC Akbarry sempat berbincang santai dengan WORO dan juga musisi pendukungnya, Ditya dan Haris. Pada segmen inilah segala seluk beluk tentang WORO baik secara personal maupun seputar solo music project-nya dikupas habis. Mulai dari pribadi WORO yang dulunya pemalu dan tidak percaya diri dengan bakat musiknya, sampai akhirnya ia mantap memutuskan resign dari pekerjaan di media demi merintis karier musik yang merupakan passion terbesarnya. WORO & The Night Owls pun memulai sesi kedua, dengan lagu original penggugah semangat bertempo sedang, seperti Silver Lining, Wanderlust dan City of Light. Lagu-lagu ini menceritakan tentang keberanian untuk keluar dari comfort zone demi meraih mimpi, tidak menyiakan kesempatan yang datang dalam hidup serta pentingnya memiliki mindset yang positif dalam menyikapi segala tantangan kehidupan. Kemudian, penonton dibuat kembali merasakan ‘transisi’ melalui gubahan lagu ‘mengawang’, Black and White dan You, Me and Her yang terasa dark juga gloomy. Kedua lagu ini mengisahkan tema yang sangat relatable, mengenai introspeksi diri dan segala intrik yang terjadi dalam kehidupan. Malam pun ditutup dengan ‘manis’ lewat persembahan dua lagu medley, The Starry Night (instrumental) dan Innervision yang sontak disambut koor penonton yang menyanyikan bait  demi bait single pertama dari Innervision EP tersebut. “ Come on run faster, keep trying harder, you will grow stronger… Just wait and see….” Secara keseluruhan, lagu yang dibawakan oleh WORO & The Night Owls pada malam itu, memiliki ‘benang merah’ yang sama yaitu bernuansa atmospheric. Penonton pun dibuat terbius oleh vokal soulful menghanyutkan, sound gitar spacey yang kental dengan efek delay, reverb dan tremolo, berpadu dengan beat bas dan drum yang dinamis. Selain itu, aransemen keyboards, synthesizer, dan strings yang apik turut membangun mood ‘mengawang’ sekaligus megah di tiap lagunya. Membuat jiwa dan raga penonton seakan melambung tinggi ke angkasa. Apalagi suasana juga cukup menunjang dengan adanya hiasan lampu-lampu temaram yang mengelilingi...

Read More
Barasuara Ramaikan Pennyland Festival Hari Pertama
Mar14

Barasuara Ramaikan Pennyland Festival Hari Pertama

Reporter: Alfan Rahadi Karolina+ yang terkenal dengan rangkaian event mereka di Rumah Opa kini bekerja sama dengan GoAheadPeople Malang menyelenggarakan Pennyland. Sebuah festival musik pertama kali yang diadakan oleh EO Malang yang menampilkan musisi Jawa Timur dan Nasional dengan headliner Barasuara dan Elephant Kind. Pennyland berlangsung dari 3 sampai 4 Maret. Dengan tagline “Relive The Space through Your Ears”, Pennyland menyulap tempat legendaris yaitu Bioskop Kelud yang tidak beroperasional menjadi sebuah playground yang secara mengejutkan meriah. Dengan kolaborasi dari komunitas seni Morokanggo dan science and art collective Projek  Sederhana untuk menorehkan mural secara penuh di tempat yang pernah berjaya di tahun 80an dan 90an itu. Dimeriahkan pula dengan workshop yang diadakan GoAheadPeople Malang, Morokanggo, Lett Craft livingroom, Projek Sederhana yang juga mengadakan workshop tye die, Linoland yang mengundang pengunjung untuk membuat merchandise Pennyland secara DIY, tenant – tenant food and beverages seperti kalampoki quayhouse, Kappa, Eat!, UnicCrab, Submeat, Juarez Ice Cream dan Gedhang Ganteng. Ada juga booth yang memenuhi kebutuhan fashion pengunjung seperti Camara Leather Supply, Melwood Watch, Looby-Loo Soeurs, Nad and Sky dan Sui Generis Straps Co. Penampilan pertama adalah band indie dari surabaya Hi Mom!Band yang dibentuk pada tahun 2007 ini tampil tepat setelah Maghrib. Membawakan lagu – lagu andalan baik dari EP Gerimis Saat Kemarau maupun Initiate the Initiatives dan tak lupa The Youth is The real Time Bomb. Dari lagu Menuju Rumah, Titik Balik yang Sempurna, A Siren a Denial, dan Penghuni Telinga. Penonton agak berjarak dari panggung, pemandangan yang sering ditemui ketika sebuah crowd sedang berkenalan dengan band yang baru dilihatnya. Hi Mom! memang dekat dengan malang, sudah berkali – kali mereka bermain di malang sejak tahun 2007 sampai2013an, tapi baru ini mereka kembali tampil di Malang di depan ribuan penonton Pennyland yang mayoritas dewasa muda dan tidak hanya berasal dari Malang saja. Namun Hi Mom! sukses mengajak mereka singalong di lagu Menuju Rumah dan Titik Balik Yang Sempurna. Mereka juga sempat mengajak wefie penonton. Sebuah penampilan spesial juga diberikan Hi Mom! dengan mengundang  Bambang Iswanto, vokalis The Morning After menemani Hi Mom! menyanyikan Menuju Rumah yang juga disambut antusias oleh para penonton. Berlanjut ke penampil selanjutnya yaitu The Morning After. Penonton mendadak maju ke depan. Wonderful Wonderfalls langsung menjadi pembuka. Hard to wait dan Everyday Starts At Midnight meluncur selanjutnya. Floating dan Stay For A While. Kira – kira hampir semua lagu yang ada di album Another Day Like Today dibawakan. 3 lagu baru juga dipreview di Pennyland termasuk yang berjudul Lorong sebagai last song. Usai The Morning After, Barasuara mulai naik panggung, dan disambut dengan meriah oleh penonton. Seperti petasan berantai, lagu – lagu dari album “Taifun”, seperti “Api & Lentera”, “Nyala...

Read More