“Sudah Terlambat”: Sebuah Dimensi yang Lebih Indah dari Realita dari Westjamnation
Feb19

“Sudah Terlambat”: Sebuah Dimensi yang Lebih Indah dari Realita dari Westjamnation

Akhir pekan telah usai. Senin seringkali menjadi momok yang menakutkan bagi pekerja. Lain ceritanya Senin, 12 Februari 2018 lalu. Hari yang tidak biasa perhelatan sebuah acara malah terpilih menjadi hari rilisnya video klip dari Westjamnation. Paviliun 28, di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan didatangi puluhan muda-mudi yang ingin merayakan peluncuran video klip berjudul “Sudah Terlambat”. “Sudah Terlambat” adalah sebuah ekspresi akan perasaan yang tidak sempat tersampaikan. Komposisi yang tercipta dari petikan gitar sederhana dari Rifki Afsari dan suara vokal yang khas dari Jati Andito membuat lagu ini menjadi pilihan untuk dipersembahkan kepada publik dalam bentuk video klip. Malam itu penonton yang datang dihibur oleh penampil pembuka MJ & The Carousel. Dengan petikan gitar akustik, denting piano, dan lirik bernafaskan kehidupan remaja, duo akustik yang masih belia ini berhasil mencuri perhatian penonton. Penampil pembuka berikutnya adalah penyanyi dan penulis lirik, Gabriel Mayo. Dengan gitar dan cajon di kakinya, ia bernyanyi menghibur dengan lagu-lagu yang diambil dari albumnya berjudul Hari Ini dan single terbaru berjudul Think Twice. Usai penampilan Gabriel Mayo, penonton digiring masuk ke screening room untuk pertama kalinya menyaksikan video klip “Sudah Terlambat”. Kapasitas ruangan yang terbatas membuat sebagian penonton tidak dapat masuk ke ruang khusus pemutaran film tersebut. Sebelum pemutaran video klip, pembawa acara mengajak berbincang-bincang personil Westjamnation, penari dan model Hasna Mufidah, dan visual artist yang biasa disapa Atenk “Psychobiji”. Video klip yang menggunakan teknik double exposure ini disutradarai oleh gitaris Westjamnation sendiri, Rifki Afsari. “Teknik ini menggabungkan dua gambar atau lebih dengan memanipulasi mode eksposur dua gambar tersebut dan digabung menjadi satu komposisi. Melalui teknik double exposure, kami menyatukan lagu, gerak bahasa isyarat, tarian, dan visual art dalam sebuah medium audiovisual” ujar Rifki Afsari. Produksi karya audiovisual ini tidak lepas dari bantuan perempuan yang biasa dipanggil “Mufi” yang berprofesi sebagai desainer interior, penari, aktif di Gerkatin Kepemudaan dan Teater Musikal Inklusif, dan seorang tuli yang sehari-harinya menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Sementara itu, Atenk dengan memanfaatkan overhead projector (OHP) berhasil menciptakan keindahan warna-warni psikedelia . Video klip hasil kolaborasi ini membuat penonton berdecak kagum. Setiap ponsel siaga dalam moda merekam untuk diunggah ke media sosial. “Semoga dengan rilisnya video klip Sudah Terlambat, semakin banyak masyarakat yang mengapresiasi karya-karya kami,” ungkap Jati Andito, vokalis sekaligus gitaris dari Westjamnation. Penonton diajak kembali ke venue utama. Acara yang bertajuk #LebihIndahDariRealita: Pesta Rilis Video Musik “Sudah Terlambat” ini dilanjutkan dengan live perfomance dari Westjamnation yang membawakan nomor-nomor dari self-titled album dan dua lagu terbaru yang belum sempat direkam, yaitu “Stay” dan “Girl on the Rainbow”. Khusus di lagu “Sudah Terlambat”, Westjamnation mengajak kembali Mufi ke atas panggung untuk menginterpretasikan lagu ini dan langsung dipancarkan sinar berwarna-warni dari OHP oleh Atenk....

Read More
Arsitektur sebagai Katalis Kehidupan Urban dalam Pameran AFAIR Universitas Indonesia 2018
Feb04

Arsitektur sebagai Katalis Kehidupan Urban dalam Pameran AFAIR Universitas Indonesia 2018

Setelah satu tahun hiatus, mahasiswa arsitektur dan arsitektur interior, berkolaborasi dengan Departemen Arsitektur Universitas Indonesia, kembali menyelenggarakan acara tahunan prestisius, AFAIR (Architecture Fair) UI 2018. Tahun ini, Gedung UI Art Center yang baru saja diresmikan terpilih menjadi lokasi acara tersebut. Mengusung tema “Architecture as Catalyst”, AFAIR ketujuh kalinya ini bertujuan untuk mengekspos arsitektur yang dapat berperan sebagai stimulan; sebuah penggerak suatu perubahan positif yang memberikan dampak langsung maupun tidak langsung, baik dalam segi sosial maupun ekonomi, dalam skala individu,​ ​komunitas,​ ​maupun​ ​kota. Mengikuti jejak pre-event yang telah sukses dilaksanakan pada September lalu di Fakultas Teknik UI, main event ini akan memamerkan karya terbaik dari mahasiswa yang bervariasi dari karya studio desain sampai dengan respon isu-isu aktual dengan pendekatan berbasis urban. Melalui AFAIR 2018, Departemen Arsitektur UI ingin mengekspos kesempatan menyenangkan dari seorang arsitek untuk menggunakan keahlian mereka dan memahami konteks sekitar dalam menghasilkan solusi rancangan yang berdampak, dimana pada saat yang sama mengeksplor dan memberikan kesan tersendiri bagi ruang-ruang ini, terutama ruang-ruang​ ​residual​ ​dan​ ​yang​ ​terlupakan. Selain display, mock-​up, instalasi, dan berbagai ragam visualisasi, AFAIR juga akan menunjukkan konten dalam sebuah rangkaian pameran yang mengusung tema utama tersebut. Tidak hanya mengadakan pameran, AFAIR 2018 juga menyelenggarakan kompetisi desain bertema “Lost and Found” yang diikuti oleh peserta dari seluruh dunia. Lima finalis terbaik kemudian akan mempresentasikan idenya pada main event. Acara ini juga akan mengadakan workshop arsitektural untuk siswa/i SMA-sederajat dan beberapa talkshow dengan pembicara terkemuka, diantaranya Gunawan Tjahjono, Budi Pradono, dan Boy...

Read More
Liam Gallagher Sukses Hibur Penggemar di Jakarta
Jan16

Liam Gallagher Sukses Hibur Penggemar di Jakarta

Berselang 1,5 jam setelah  venue Ecovention Ancol dibuka, akhirnya anak bengal dari mantan band britpop Oasis, Liam Gallagher tampil membuka konser sekitar pukul 21.00 WIB pada hari  Minggu (14/1) yang lalu. Liam pun langsung membuka konser dengan salah satu hits single milik Oasis, “Rock N Roll Star”. Tidak banyak bicara, Liam langsung menyambung lagu pertama dengan lagu “Morning Glory” yang juga merupakan salah satu hits dari Oasis. “Thank you very much. Jakarta, what’s going on?” ujar Liam menyapa penonton di Ecovention Ancol, Jakarta Utara disambut dengan teriakan histeris para penggemarnya. Dalam konser ini Liam juga membawakan lagu-lagu miliknya sendiri yang diambil dari album solo terbarunya ‘As You Were’. Meskipun sangat kecil kemungkinan akan adanya konser reuni bersama Oasis, namun penampilan Liam di Jakarta ini sedikit banyak dapat mengobati kerinduan para penggemarnya terhadap raksasa britpop dari Britania Raya...

Read More
Kemeriahan Konser Akhir Tahun JOOX Festival Hura Ceria 2017
Dec11

Kemeriahan Konser Akhir Tahun JOOX Festival Hura Ceria 2017

Meskipun Kota Bandung sempat diguyur hujan deras sejak siang, rupanya animo kaum muda dan pecinta musik tidak ikut surut sesudah hujan reda. Sesuai jadwal, tepat pukul 16.00, panggung “JOOX Live Festival Hura Ceria”, yang diadakan pada Sabtu, 9 Desember 2017 di Lapangan PPI Pussenif Bandung mulai diramaikan oleh penampilan mengesankan dari band-band independen lokal, mulai dari Collapse, Stars and Rabbit, Rendy Pandugo, Sarasvati, The SIGIT dan dipungkasi penampilan bergelora dari Seringai. Disambut dengan antusias oleh para penikmat musik, acara ini dipadati oleh 4792 pengunjung. Trisiska Putri Hapsari, Head of Marketing and PR Department JOOX Indonesia mengungkapkan apresiasinya atas dukungan pecinta musik yang hadir di Bandung. “Kami sangat menghargai dan berterima kasih kepada kalangan muda dan para pecinta musik independen yang turut hadir memeriahkan JOOX Live Festival Hura Ceria 2017 di Bandung. Kehadiran mereka adalah bentuk dukungan kepada para musisi independen pada khususnya dan industri  music Indonesia pada umumnya,” ungkap Trisiska Putri. Bagi para musisi yang tampil, panggung JOOX Live Festival Hura Ceria 2017 merupakan salah satu ajang untuk mengobati kerinduan para pecinta musik di Bandung akan aksi panggung mereka. Hal ini diutarakan Sarasvati bahwa penampilannya di atas panggung JOOX Live kali ini adalah sebagai pembuktian bahwa mereka masih terus berkarya. “Sudah lama kami tidak tampil, keikutsertaan kami di konser akhir tahun JOOX sebagai salah satu pembuktian kalau kami sedang menyiapkan sesuatu yang baru di tahun 2018,”papar Risa Saraswati. Bagi Seringai yang tampil dengan penuh energi, kehadiran di atas panggung JOOX Live Festival Hura Ceria untuk menghibur para penikmat musik cadas di Bandung merupakan momen akhir tahun yang menyenangkan. “Acara ini perlu diapresiasi karena melibatkan banyak aktivitas seru bagi para pengunjung dancrowd yang hadir juga seru,” tutur Arian, sang vokalis. Sementara Rendy Pandugo merasa sangat tersanjung bisa berada dalam satu panggung bersama para musisi independen terbaik di Indonesia. “Sangat menyenangkan bisa menghibur teman-teman di Bandung bersama para musisi indie kenamaan tanah air. Semoga acara seperti ini bisa selalu didukung JOOX Indonesia,” ungkap solois asal Kota Medan yang juga tampil maksimal ini. Konser yang dimulai pada pukul 16.00 WIB tersebut dibuka dengan penampilan menarik dari Collapse, salah satu band local bergenre indie rock, lalu dilanjutkan dengan alunan musik folk yang manis khas Stars & Rabbit. Lalu dilanjutkan dengan aksi panggung Rendy Pandugo yang mengajak para pengunjung untuk bernyanyi bersama dengan lagu-lagu andalannya dari album ‘The Journey’. Sementara Sarasvati hadir membawakan 9 lagu dengan memukau, di antaranya adalah ‘Bilur’ dan ‘Perjalanan (Kereta Malam)’, sebuah lagu lawas yang dinyanyikan kembali dengan mengesankan oleh Sarasvati. Tentu saja, babak pamuncak dari konser malam itu adalah penampilan dua band yang juga berasal dari kota kembang ini, yaitu The SIGIT dan Seringai. Para pengunjung yang sudah memadati Lapangan PPI Pussenif Bandung turut bernyanyi ketika penampilan enerjik, interaktif dan hangat dari The SIGIT. Kemeriahan konser kemudian...

Read More
Yura Yunita Memukau di Konser Tunggal  “Special Concert Yura Yunita”
Dec05

Yura Yunita Memukau di Konser Tunggal “Special Concert Yura Yunita”

Sejak kemunculannya di tahun 2014 lalu, penyanyi kelahiran Bandung, 9 Juni 1991 ini terus menarik perhatian banyak pihak terutama penikmat musik Indonesia. Karya musiknya terus mengudara turut membawa sosok Yura Yunita sebagai Penyanyi Wanita Pop Terbaik dan Pencipta Lagu Pop Terbaik dalam ajang penghargaan musik paling bergengsi di indonesia, AMI Awards 2017 pada pertengahan November 2017 kemarin. Rabu, 29 November 2017 malam kemarin bertempat di Empirica, kawasan SCBD Jakarta Selatan, menjadi pelengkap dari momen kebahagiaan seorang Yura Yunita. Sebuah konser tunggal bertajuk “Special Concert Yura Yunita” sukses ia rayakan bersama penggemarnya, Hip Hip Yura yang selama ini menjadi pendukung utamanya dalam berkarya. Dalam kesempatan tersebut, Yura mengajak pendengarnya untuk kembali menyimak album perdananya yang merangkum sejumlah hit single seperti Kataji, Balada Sirkus, Get Along With You, Jester Suit, Itu Kamu hingga Berawal Dari Tatap yang dibawakan bersama ibunda tercinta. Hampir semua track yang ia bawakan dihadirkan dengan aransemen ulang demi memberikan penggemarnya pengalaman tersendiri dalam menikmati aksi panggung seorang Yura Yunita. Pertunjukan ini semakin lengkap dengan kejutan-kejutan lainnya. Grup musik RAN membuat riuh ratusan penonton di depan panggung dimana single terbaru mereka Melawan Dunia yang berkolaborasi bersama Yura Yunita dibawakan bersama untuk pertama kalinya. Momen tersebut dipersembahkan untuk Adam Fabumi dengan sticker yang menempel di wajah Yura dan personel RAN. Ditambah dengan latar video yang menampilkan sosok Adam Fabumi, atmosfer yang begitu dalam hadir dan sontak membuat koor panjang yang menggema di dalam Empirica. Lagu Cinta dan Rahasia juga tidak lupa dibawakan, Yura kembali mengejutkan penonton dengan menghadirkan Reza Rahadian untuk berduet bersama dalam lagu tersebut. Yura yang memainkan alat musik, bergerak lincah bersama penari di bawah tata cahaya yang begitu baik serta tata suara spektakuler turut menjadikan konser tunggal perdana Yura Yunita ini tidak hanya sukses memberikan kejutan. Atmosfer intim juga sukses terbangun di dalamnya dengan tidak adanya jarak atau pembatas antara mereka membuat Yura maupun penggemarnya berinteraksi terus menerus sejak awal hingga konser berakhir. “Konser ini sengaja aku buat untuk berbagi kebahagiaan bersama orang-orang terdekat Yura. Keluarga, musisi, sahabat, teman-teman media dan semua yang datang ke konser ini. Terima Kasih banyak, sudah selalu apresiasi karya-karya Yura, ini salah satu semangat aku untuk terus berkarya,” tutur Yura penuh...

Read More
Konser “7 Bidadari” Tandai Kesuksesan Kiprah Bermusik Naif Selama 22 Tahun
Oct24

Konser “7 Bidadari” Tandai Kesuksesan Kiprah Bermusik Naif Selama 22 Tahun

22 tahun bukanlah waktu yang sebentar dalam berkarya di blantika Musik Indonesia seperti yang dibuktikan oleh kuartet retro–pop Naif pada Minggu (22/10) malam bertempat di Teater Garuda – TMII, Jakarta dengan melangsungkan perayaan ulang tahunnya yang ke-22 sekaligus pentas perilisan album terbaru mereka “7 Bidadari”. Pertunjukkan dimulai sekitar pukul 20.00 waktu setempat dibuka dengan sajian operet Jaka Tarub yang mencoba mencuri salah satu selendang dari 7 bidadari yang sedang mandi di air terjun namun nasib berkata lain ternyata yang dicuri adalah selendang milik Si Buta dari Goa Hantu. Meskipun alur cerita dan pembawaan tokoh dalam operet tersebut terasa hambar untuk sebuah awalan konser musik, namun para Kawanaif (sebutan bagi penggemar Naif) tetap bersemangat ketika sang MC senior Koes Hendratmo naik ke atas panggung untuk memberikan prolog  dan memanggil satu-persatu personil untuk segera memulai pertunjukannya. Tanpa berbasa-basi David Bayu (vokal, gitar), Emil Hussein (bass), Fajar Endra Taruna alias Jarwo (gitar), Franki Indrasmoro alias Pepeng (drums) memulai setnya lewat “7 Bidadari” diikuti beberapa nomor selanjutnya “Alangkah Indahnya Indonesia“, “Selama Ada Cinta”, “Diriku dan Dirimu”, “Indah”, dan “Berubah”. Sambil menyapa penonton yang hadir di tiap seat-nya “Halo Selamat Malam semuanya, terima kasih sudah hadir disini untung bersenang-senang bareng,” David memperkenalkan deretan lagu-lagu yang memang pertama kali dibawakan di atas panggung pada malam itu sebelum akhirnya set dilanjutkan dengan nomor “Kenali Dirimu”, “Sedjak”, “Apa yang Membuat Dirimu Untuk Terus Disini”, dan “Sayang Disayang” sebagai penutup set pertama mereka. Sebanyak 10 materi dalam album terbaru berhasil dibawakan dengan baik oleh Naif dibantu beberapa musisi sejawatnya Krisna Prameswara (keyboard), Amrus ramadhan (steel guitar), Mochamad Saatsyah (seruling pipa), Syarief Hidayat (kendang), juga tim strings serta brass section yang membuat tata suara semakin megah. Sebelum memulai set berikutnya, duo MC Vincent Rompies dan Desta bersama Gilang Gombloh juga Adjis Doaibu sengaja dihadirkan keatas panggung untuk mencairkan suasana penonton dengan berbagai guyonan khas mereka dilanjut sesi tanya jawab dan tiup lilin selebrasi ulang tahun ke-22. Tepat pukul 21.30 WIB David, Emil, Pepeng, dan Jarwo kembali melanjutkan set panjangnya dengan “Air dan Api”, “Senang Bersamamu”, “Planet Cinta”, “Karena Kamu Cuma Satu”, “Janji Setia”, dan “Televisi” yang seketika membuat koor massal dari penonton tak hentinya terdengar dari seluruh penjuru Teater Garuda malam itu. Berlanjut kembali  rangkaian hits “Itulah Cinta”, “Dimana aku disini”, “Benci untuk mencinta”, “Hidup ini indah”, “Jikalau”, “Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia yang Ada di Seluruh Dunia”, “Aku Rela”, “Towal Towel”, “Posesif”, hingga berakhir pada nomor di album perdana mereka “Piknik 72”, dan “Mobil balap” yang didaulat sebagai pamungkas Selama kurang lebih 2,5 jam Naif membuktikan bahwa kiprahnya selama 22 tahun di dunia musik sudah tak dapat diragukan lagi sehingga pada akhir pentas malam itu penonton pun...

Read More