Geliat Musik Folk Cirebon dalam Suburbia – The First Folk Music Festival in Cirebon
Apr10

Geliat Musik Folk Cirebon dalam Suburbia – The First Folk Music Festival in Cirebon

Tidak mau tertinggal dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia, Cirebon saat ini dalam industri hiburan dan kreatifnya sudah mulai bergeliat. Hal ini ditunjukkan dengan digelarnya“Suburbia – The First Folk Music Festival in Cirebon”. Acara ini diadakan di Umah Kebon  pada hari Minggu, 9 April 2017. Dengan mengusung konsep pesta di taman belakang rumah, para pengunjung berhasil dibuai oleh beragam suguhan etnik yang khas mulai dari penampilan musisi Klopediakustik dari Kuningan,Hanyaterra dari Jatiwangi, dan Danilla dari Jakarta. Selain itu pameran foto dari komunitas Klise Unswagati yang mengangkat pesan – pesan humanis yang di display sepanjang area masuk ke panggung. “Digelarnya Suburbia ini untuk memberikan penyegaran serta menumbuhkan pergerakan generasi penggiat dan penikmat seni kreatif agar dapat mengekspresikan karya mereka dengan cara masing–masing. Berkat dukungan Sampoerna A, Cirebon dapat menyuarakan kreativitas musisinya yang cukup eksperimental dan jelas berbeda seperti Hanyattera dan Klopediakustik” ujar Irfan, perwakilan dari Ruang Alternatif, penyelenggara Suburbia. Acara dibuka sekitar pukul 8 malam dengan menampilkan Klopediaakustik sebagai pembuka. Perhatian saya sukses dicuri oleh penampilan dari Hanyaterra pada malam hari itu. Menyajikan musik eksperimental dengan menggunakan instrumen tanah liat, kelompok musik asal Jatiwangi tersebut sukses membawa budaya lokalnya dalam representasi sebuah pertunjukan musik di gelaran ini. Seperti yang kita tahu, Jatiwangi adalah salah satu daerah produsen genteng tanah liat dan tembikar di Indonesia. Danilla cukup sukses membius para penonton yang memadati Omah Kebon pada malam hari itu dengan buaian lagu-lagu sendu nya selama kurang lebih satu jam lamanya. Ditemui seusai penampilannya di atas panggung, Danilla mengaku sangat puas dengan antusiasme Cirebon di kunjungan perdananya ini dan juga makanan khasnya. “Datang ke Cirebon demi menampilkan musik saya merupakan sebuah kepuasan tersendiri apalagi dapat melihat musisi lokal lain yang bisa memberi inspirasi bahwa musik folk tidak pernah mati sampai kapan pun. Kepercayaan akan idealisme dalam bermusik tentu akan menciptakan sentuhan rasa tersendiri bagi pendengar, inilah yang selama ini saya pegang. Asalkan kita, para musisi dapat mengekspresikan karya dengan berani dan yakin,” ujar pelantun ‘Buaian’tersebut. “ Acara ini sengaja kami kemas untuk dapat menciptakan atmosfer musik folk yang kental dengan keintiman yang tercipta antara musisi dan fansnya. Kami harap pergerakan kreativitas Cirebon tidak hanya berhenti di sini dan dapat menyentuh kalangan yang lebih luas lagi kedepannya,” tutup...

Read More
Danadyaksa Nusantara: Generasi Muda Sebagai Penjaga Budaya Bangsa
Apr04

Danadyaksa Nusantara: Generasi Muda Sebagai Penjaga Budaya Bangsa

Maraknya musik serta dance modern dikalangan anak muda Indonesia bukanlah menjadi suatu fenomena luar biasa dimata kita semua pada saat ini. Generasi millennial saat ini lebih senang mendengarkan musik-musik modern yang berasal dari luar negeri mulai dari genre pop, rock, indie dan lain sebagainya. Mereka juga gemar dalam mempelajari dance –  dance modern yang berasal dari negeri ginseng, Korea Selatan. Lalu, bagaimana dengan musik serta tari tradisional yang berasal dari nenek moyang kita? Apakah mereka masih mempelajari aset kekayaan budaya Indonesia ini? Dalam menjawab tantangan persaingan budaya ini, BEM FEB UI mengadakan sebuah acara yang bertujuan menjaga eksistensi seni musik yang berupa paduan suara dan tari tradisional serta mengajak generasi muda untuk terus melestarikan serta mempelajari budayanya. Acara tersebut bernama National Folklore Festival yang merupakan suatu kompetisi paduan suara dan tari tradisional yang diikuti oleh seluruh generasi muda di Indonesia. National Folklore Festival atau NFF telah diadakan sejak tahun 2006 oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia. NFF diselenggarakan untuk meningkatkan kesadaran generasi muda khususnya mahasiswa FEB UI akan pentingnya budaya Indonesia. Acara NFF terdiri dari kompetisi paduan suara dan tari tradisional yang diikuti oleh siswa tingkat SMA, mahasiswa dan masyarakat umum yang tergabung dalam sanggar. Pada tahun ini, National Folklore Festival telah memasuki tahun ke sebelas. The 11th National Folklore Festival saat ini membawakan tema Danadyaksa Nusantara setelah sebelumnya sukses membawakan tema Sanskardhani. Danadyaksa Nusantara berasal dari Bahasa sanskerta yang memiliki arti penjaga kekayaan nusantara. Penjaga kekayaan nusantara ini ditujukan kepada generasi muda Indonesia yang sudah sepatutnya menjaga kekayaan nusantara, salah satunya ialah seni tradisional. “The 11th NFF mengajarkan gue banyak hal, mulai dari cara memimpin, punya keluarga baru, kebersamaan dan lainnya. Disini gue tidak hanya menyaksikan penampilan paduan suara dan tari tradisional dari seluruh Indonesia, tapi gue juga bisa berkenalan dengan mereka, pelaku – pelaku seni tanah air. Gue berharap dalam NFF kali ini mereka tidak hanya sekedar berkompetisi, melainkan juga mendapatkan value yang membuat mereka ingin terus melestarikan budaya,” Ujar Cahyo Kumara, Project Officer The 11th National Folklore Festival. “Gue juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan NFF kali ini”, tambahnya. The 11th National Folklore Festival berhasil dalam membawakan acara pada tahun ini. Acara yang bertemakan Danadyaksa Nusantara ini juga mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dari antusiasme para peserta yang semakin tinggi serta kepuasan juri atas konten acara yang dibawakan tahun ini. “Banyak kualitas peserta yang menurun, namun acaranya sendiri stabil bahkan lebih bagus dari tahun lalu karena tidak ada selingan MC ditengah lomba sehingga peserta dan juri lebih focus,” Ujar Djoko Suko Sadono, salah satu juri tari tradisional The 11th National Folklore Festival. Tim Fabovassa Youth...

Read More
Pesta Rilis Album WORO & The Night Owls
Mar24

Pesta Rilis Album WORO & The Night Owls

Mini Showcase WORO & The Night Owls – Innervision EP sukses digelar pada, Minggu (19/03) di Paviliun 28. Acara ini merupakan launching party dari mini album Innervision yang pada 20 Februari lalu, resmi dirilis oleh Nanaba Records. Tak hanya membawakan materi dari mini album perdana, solo music project yang ‘dimotori’ oleh WORO (vocals, guitar, keyboards, synthesizer) bersama backup band-nya, Ditya (bass) dan Haris (drums) tersebut juga membawakan beberapa lagu cover. Di sesi pertama, WORO & The Night Owls tampil menyuguhkan lagu yang telah di aransemen ulang dari musisi maupun band yang menjadi inspirasi bermusiknya yaitu, Zero 7 & Sia ‘Destiny’, Garden City Movement ‘Move On’, Emily Zuzik ‘It Don’t Matter To Jesus’,  8mm ‘Nobody Does It Better’, Tropics ‘Home and Consonance’ dan Lapsley ‘Falling Short’. Sebelum menyambung ke sesi kedua, MC Akbarry sempat berbincang santai dengan WORO dan juga musisi pendukungnya, Ditya dan Haris. Pada segmen inilah segala seluk beluk tentang WORO baik secara personal maupun seputar solo music project-nya dikupas habis. Mulai dari pribadi WORO yang dulunya pemalu dan tidak percaya diri dengan bakat musiknya, sampai akhirnya ia mantap memutuskan resign dari pekerjaan di media demi merintis karier musik yang merupakan passion terbesarnya. WORO & The Night Owls pun memulai sesi kedua, dengan lagu original penggugah semangat bertempo sedang, seperti Silver Lining, Wanderlust dan City of Light. Lagu-lagu ini menceritakan tentang keberanian untuk keluar dari comfort zone demi meraih mimpi, tidak menyiakan kesempatan yang datang dalam hidup serta pentingnya memiliki mindset yang positif dalam menyikapi segala tantangan kehidupan. Kemudian, penonton dibuat kembali merasakan ‘transisi’ melalui gubahan lagu ‘mengawang’, Black and White dan You, Me and Her yang terasa dark juga gloomy. Kedua lagu ini mengisahkan tema yang sangat relatable, mengenai introspeksi diri dan segala intrik yang terjadi dalam kehidupan. Malam pun ditutup dengan ‘manis’ lewat persembahan dua lagu medley, The Starry Night (instrumental) dan Innervision yang sontak disambut koor penonton yang menyanyikan bait  demi bait single pertama dari Innervision EP tersebut. “ Come on run faster, keep trying harder, you will grow stronger… Just wait and see….” Secara keseluruhan, lagu yang dibawakan oleh WORO & The Night Owls pada malam itu, memiliki ‘benang merah’ yang sama yaitu bernuansa atmospheric. Penonton pun dibuat terbius oleh vokal soulful menghanyutkan, sound gitar spacey yang kental dengan efek delay, reverb dan tremolo, berpadu dengan beat bas dan drum yang dinamis. Selain itu, aransemen keyboards, synthesizer, dan strings yang apik turut membangun mood ‘mengawang’ sekaligus megah di tiap lagunya. Membuat jiwa dan raga penonton seakan melambung tinggi ke angkasa. Apalagi suasana juga cukup menunjang dengan adanya hiasan lampu-lampu temaram yang mengelilingi...

Read More
Barasuara Ramaikan Pennyland Festival Hari Pertama
Mar14

Barasuara Ramaikan Pennyland Festival Hari Pertama

Reporter: Alfan Rahadi Karolina+ yang terkenal dengan rangkaian event mereka di Rumah Opa kini bekerja sama dengan GoAheadPeople Malang menyelenggarakan Pennyland. Sebuah festival musik pertama kali yang diadakan oleh EO Malang yang menampilkan musisi Jawa Timur dan Nasional dengan headliner Barasuara dan Elephant Kind. Pennyland berlangsung dari 3 sampai 4 Maret. Dengan tagline “Relive The Space through Your Ears”, Pennyland menyulap tempat legendaris yaitu Bioskop Kelud yang tidak beroperasional menjadi sebuah playground yang secara mengejutkan meriah. Dengan kolaborasi dari komunitas seni Morokanggo dan science and art collective Projek  Sederhana untuk menorehkan mural secara penuh di tempat yang pernah berjaya di tahun 80an dan 90an itu. Dimeriahkan pula dengan workshop yang diadakan GoAheadPeople Malang, Morokanggo, Lett Craft livingroom, Projek Sederhana yang juga mengadakan workshop tye die, Linoland yang mengundang pengunjung untuk membuat merchandise Pennyland secara DIY, tenant – tenant food and beverages seperti kalampoki quayhouse, Kappa, Eat!, UnicCrab, Submeat, Juarez Ice Cream dan Gedhang Ganteng. Ada juga booth yang memenuhi kebutuhan fashion pengunjung seperti Camara Leather Supply, Melwood Watch, Looby-Loo Soeurs, Nad and Sky dan Sui Generis Straps Co. Penampilan pertama adalah band indie dari surabaya Hi Mom!Band yang dibentuk pada tahun 2007 ini tampil tepat setelah Maghrib. Membawakan lagu – lagu andalan baik dari EP Gerimis Saat Kemarau maupun Initiate the Initiatives dan tak lupa The Youth is The real Time Bomb. Dari lagu Menuju Rumah, Titik Balik yang Sempurna, A Siren a Denial, dan Penghuni Telinga. Penonton agak berjarak dari panggung, pemandangan yang sering ditemui ketika sebuah crowd sedang berkenalan dengan band yang baru dilihatnya. Hi Mom! memang dekat dengan malang, sudah berkali – kali mereka bermain di malang sejak tahun 2007 sampai2013an, tapi baru ini mereka kembali tampil di Malang di depan ribuan penonton Pennyland yang mayoritas dewasa muda dan tidak hanya berasal dari Malang saja. Namun Hi Mom! sukses mengajak mereka singalong di lagu Menuju Rumah dan Titik Balik Yang Sempurna. Mereka juga sempat mengajak wefie penonton. Sebuah penampilan spesial juga diberikan Hi Mom! dengan mengundang  Bambang Iswanto, vokalis The Morning After menemani Hi Mom! menyanyikan Menuju Rumah yang juga disambut antusias oleh para penonton. Berlanjut ke penampil selanjutnya yaitu The Morning After. Penonton mendadak maju ke depan. Wonderful Wonderfalls langsung menjadi pembuka. Hard to wait dan Everyday Starts At Midnight meluncur selanjutnya. Floating dan Stay For A While. Kira – kira hampir semua lagu yang ada di album Another Day Like Today dibawakan. 3 lagu baru juga dipreview di Pennyland termasuk yang berjudul Lorong sebagai last song. Usai The Morning After, Barasuara mulai naik panggung, dan disambut dengan meriah oleh penonton. Seperti petasan berantai, lagu – lagu dari album “Taifun”, seperti “Api & Lentera”, “Nyala...

Read More
MERINDU Tandai Rilis Video Musik “Nyanyian Rindu” Holiday Anna
Mar12

MERINDU Tandai Rilis Video Musik “Nyanyian Rindu” Holiday Anna

Kontributor: Nofianto Wicaksono Unit retro pop asal Yogyakarta usai saja menggelar suatu gelaran bertajuk Merindu dengan berkolaborasi bersama  Kampung Halaman pada 26 Februari 2017 yang lalu. Acara tersebut berjalan sukses dan berhasil menarik antusiasme dari ratusan pengunjung yang memadati area Kampung Halaman Yogyakarta, bahkan ruangan acara pun tidak cukup untuk menampung penuh sesak animo penonton yang hadir. Momen peluncuran dan pemutaran perdana video clip Holiday Anna tersebut diawali dengan sebuah pameran oleh sepuluh kolaborator muda yang telah merespon dan mereprentasikan lagu “Nyanyian Rindu” melalui karya-karya dalam media lain (rupa, fotografi, dan sastra) dengan sangat apik sehingga mendapatkan apresiasi sangat baik dari pengunjung acara. Pada sesi pemutaran video musik semakin terasa sangat akrab dan hangat ketika Holiday Anna berbagi cerita mengenai proses produksi video. Penampilan tunggal Holiday Anna sebagai penutup acara sekaligus menjadi sesi yang paling ditunggu oleh para audience, delapan repertoar andalan Holiday Anna membuat sore hari yang cerah itu menjadi semakin flamboyan.  ...

Read More
Band Tuan Rumah Mengokupasi Panggung Pennyland Music Fest Hari Kedua
Mar10

Band Tuan Rumah Mengokupasi Panggung Pennyland Music Fest Hari Kedua

Reporter: Hanifa Miryami Pennyland,  festival musik dua harian yang diselenggarakan di Bioskop Kelud, Malang, memasuki hari kedua pada tanggal 4 Maret 2017 yang lalu. Pintu dibuka mulai jam 12 siang dengan tenant pameran dan jajanan yang telah siap menyambut para pengunjung. Acara utama yaitu penampilan dari band-band di panggung Soundsation dimulai pada pukul 13.00 dengan MUCH yang menjadi pembuka line up hari tersebut. Membawakan single teranyar mereka yang berjudul “Uneven” serta lagu-lagu pada EP mereka “Closest Things I Can Relate To” (2015) seperti “Carried Away” dan “Season Changed, Everybody’s Leaving”, Aulia Anggia CS berhasil mencuri perhatian para pengunjung dan para penikmat musik yang telah menanti penampilan mereka. Young Savages mengambil alih panggung diurutan selanjutnya. Walaupun Malang saat itu diguyur hujan yang cukup deras, barisan penonton tetap bertahan untuk menyaksikan band Indie Rock yang diusung oleh vokalis nan flamboyan, Adin Pramudita, ini. “Highway High” dibawakan dengan enerjik oleh Adin dan kawan-kawan. Lagu tersebut menjadi juru kunci untuk album baru mereka yang direncanakan rilis dalam waktu dekat. Selain itu “2000s Kid” dan lagu andalan saat debut mereka dulu yaitu “Night Fall” turut diperdengarkan. Ada Humi Dumi dari Surabaya yang juga siap menemani kesenduan pula kesegaran sehabis hujan di Kota Malang. Unit yang memproklamirkan Innocence Indie Pop Music sebagai genre mereka ini membawakan list yang reguler mereka bawakan seperti “Sleep”. Acara dilanjutkan dengan ‘Layar Tancep’ yang menayangkan film lawas hasil tembakan proyektor.  Fun activities ini bertujuan menghidupkan dan mengingatkan kembali fungsi utama Bioskop Kelud yang sempat hits di era 80an. Film “Depan Bisa, Belakang Bisa” dari Warkop DKI dipilih untuk menambah keseruan malam itu, sensasi menonton film di ruang terbuka berhasil menangkap perhatian kaum muda Malang yang hadir saat itu. Sejam penuh dilewatkan dengan nostalgia menonton film melalui proyektor lawas, stage utama siap melanjutkan line up band malam itu. Ratusan pengunjung memadati area tonton dan telah menanti aksi dari Beeswax, band 90s Emo yang tengah mempersiapkan album baru mereka yang ketiga. Nomor kuncian seperti “Start The Line, Break It All”, “Stuck” dan “Bleed” berhasil menciptakan koor penonton di tengah gerimis tipis malam itu. “Autumn” yang diumumkan akan ada di track album baru mereka,  dibawakan untuk pertama kalinya di Pennyland Festival. “Fix” dari album pertama Beeswax, menjadi penutup suguhan Bagas Yudhiswa cs. Sambadha dari Coldiac dengan visual panggung serba kuning khas mereka, menyapa para penonton yang tidak beranjak sehabis Beeswax sebelumnya. Membawakan lagu-lagu dari album perdana mereka “Heartbreaker” seperti “That Was You”, “Upside Down” dan “Heartbreaker” itu sendiri.  Seperti tulisan pada jaket jeans yang dikenakan sang vokalis pada malam itu, Coldiac memperkenalkan unreleased track yang berjudul “Wreck This Journal” kepada khalayak. Ada pula penampilan spesial dari Steffani BPM membawakan track yang juga dinyanyikannya...

Read More