Membangun Spirit “Folk Dalam Folk Music Festival 2017
Jul23

Membangun Spirit “Folk Dalam Folk Music Festival 2017

Reporter: Nerpati Palagan Tanggal 15 Juli kemarin, Folk Music Festival yang diadakan di Kusuma Agrowisata, Batu, Malang, berlangsung sangat meriah. Dalam gelaran FMF tahun ini ada beberapa hal tambahan yang menarik dalam rundown acara tersebut. Acara dibuka dengan “makan sayang” yaitu sarapan pagi bersama para pengisi acara. Seolah pihak penyelenggara sangat mengerti betul bagaimana membangun ruang intim untuk saling berdialog antara musisi dengan para pengagum karya mereka, untuk saling mengapresiasi secara langsung. Dalam Folk Music Festival 2017 ini, musisi yang tampil antara lain Stars and Rabbit, Payung Teduh, Monita Tahalea, Bin Idris, Ari Reda, Iksan Skuter, Silampukau, Danilla, Pagi Tadi, Jason Ranti, Sandrayati Fay, Irine Sugiarto, Manjakani dan Float. Hal yang cukup mengejutkan dalam acara ini adalah perubahan salah satu band dalam line up yang telah diumumkan sebelumnya yaitu dibatalkannya penampilan dari White Shoes and The Couples Company, dan digantikan oleh Float sebagai suprising act yang diposting seminggu sebelum acara berlangsung. Perubahan tersebut ternyata tidak mengurangi antusias dan kemeriahan acara yang berlansung, suasana yang dingin dan penampilan para musisi malam itu membuat para penikmat musik folk enggan beranjak dari tempat mereka duduk hingga penampilan band terakhir, Stars and Rabbit sebagai band penutup membakar semangat penonton dengan lagu “Man upon hill” yang dijadikan sebagai lagu penutup, bahkan terjadi request serentak oleh penonton untuk menambahkan 1 lagu lagi dan dipilihlah lagu “Universe” sebagai encore. Empunya acara,  Alek Kowalski menutup keriaan dengan tulisan yang dibuatnya berjudul “Surat Untuk Sahabat” yang memberi pesan tentang perjuangan, semangat, dan harapan, untuk terus mengembangkan Folk Music Festival dan “membangun memori mengenai musik bagus dan seni yang bertanggung jawab”....

Read More
Mengalun Sendu Bersama Puti Chitara di Goodnight Tour 2017 Yogyakarta
May22

Mengalun Sendu Bersama Puti Chitara di Goodnight Tour 2017 Yogyakarta

Jumat, 19 Mei 2017 menjadi hari yang sangat spesial bagi Puti Chitara. Tepatnya di IFI-LIP Yogyakarta, Puti Chitara menggelar intimate concert yang bertajuk “Goodnight Tour 2017”, dimana konser ini masuk dalam rangkaian promo album keduanya yang bertajuk ‘Goodnight’. Tidak tampil seorang diri, Puti Chitara tampil dalam format full band diiringi oleh Dika Chasmala, Billy Aryo, Dzulfikri Malawi, Bona Ambarita dan Yudhistira Mirza. Selain itu pianis pendatang baru asal Yogyakarta, Hana Fairuz turut membuka pertunjukan disambung oleh Gardika Gigih.  Selain itu ada juga ruang galeri persembahan Go Ahead Challenge yang berisikan karya-karya dari para seniman dan para penggemar mengenai album ‘Goodnight’ Puti Chitara. Secara total ada sekitar 200 karya yang masuk melalui proses open submission. Pertunjukan dimulai sekitar pukul 20.00 WIB oleh pianis pendatang baru, Hana Fairuz. Meskipun ini kali perdana Hana tampil di depan publik dalam project solonya, tidak membuat gadis berusia 19 tahun ini nampak canggung. Membawakan 2 lagu ciptaan sendiri dan beberapa lagu gubahan berbahasa Perancis, Hana tampak fasih memainkan piano meskipun kadang vokalnya masih belum stabil. Gardika Gigih, komposer muda yang juga akan merilis album perdananya dalam waktu dekat berganti mengokupasi panggung. Kali ini Gigih tidak banyak membawakan materi yang ada di albumnya, lagu “I’ll Take You Home” dipilih untuk dibawakan karena sudah dirilis menjadi single dan sisa penampilannya membawakan musik-musik improvisasi  dan penampilan Gigih kali ini tidak menggunakan setlist. Puti Chitara menyapa dengan hangat para penonton yang memadati IFI-LIP pada malam hari itu, dengan mengenakan gaun semi transparan berwarna coklat dan sepatu sneakers berwana putih didampingi para musisi yang mengenakan kemeja berwarna putih, Puti membuka penampilannya dengan lagu ‘Sweet Nightmare’. Dalam konser perdananya di Jogja ini selain membawakan seluruh materi dari album keduanya ‘Goodnight’, Puti Chitara secara khusus membawakan dua materi dari album perdananya ‘Sarsaparilla Dream’ yaitu ‘Illusion’ dan ‘Sarsaparilla Dream’.  Ada bentuk kolaborasi yang cukup spesial pada lagu “Goodnight”, karena Puti Chitara berkolaborasi bersama Gardika Gigih. Gigih nampak sukses membuat komposisi musik untuk lagu ini sehingga kesan magis dari lagu tersebut lebih terasa, terlebih lagu tersebut ditulis Puti Chitara saat mengandung 2 bulan namun kemudian sang janin harus meninggalkan dunia terlebih dahulu. Dengan menyajikan sebuah konser piano dengan 3 performer berlatar belakang genre musik yang berbeda, konser Goodnight Tour 2017 Yogyakarta ini nampaknya layak dimasukkan dalam arsip pertunjukan tematis di tahun 2017....

Read More
Suara Disko Vol 7: Pesta Dendang Lantai Dansa Era 80an
May21

Suara Disko Vol 7: Pesta Dendang Lantai Dansa Era 80an

Kontributor: Muhamad Hanif Kurniawan Kompilasi dari Emosi dan memorabilia, didukung cerita pongah dari generasi tua pernah muda bahwasanya mereka adalah generasi emas, penuh warna, sedang banal banalnya dan tidak akan pernah sama lagi mungkin telah mengendap, Menjadi trigger untuk setidaknya memunculkan rasa iri bagi jiwa jiwa milenial yang hidup di era kini. Jikalau kata orang budaya berjalan berputar-putar, maju ke depan secara spiral. Katanya tidak ada budaya yang mati, hanya kita saja yang dihinggapi merasa bosan. Hingga mungkin suatu saat ada yang membangunkannya dan biasanya diikuti dengan Emosi yang lebih dan membuncah ruah. Hal tersebut dapat terjadi pada Jumat malam 19 mei 2017 pada salah satu sudut kecil kota Yogyakarta. Berhajat di Canting restoran, Suara Disko vol 7 sukses mengajak para kawula muda jogjakarta untuk dapat merasakan dan sekedar sedikit mencicipi bagaimana cerita pongah lampau itu kembali dinikmati. Adalah sekelompok anak muda gila Jakarta yang sukses menciptakan semacam mesin waktu berbalut aroma disko selekta, kolektif dengan pentolan duo kolektor piringan hitam yaitu Merdi dan Aat sebagai Disc Jockey yang menyajikan genre groove-funk-disko. Atmosfir intim hura hura langsung mengental di dalam ruangan yang tidak begitu besar serasa sangat pas menciptakan keintiman dan semburat wajah ayu berseri seri muncul dari siapa saja yang larut di dalamnya. Tembang hits 80an yang sejak lama menjadi sekedar artefak mengendap pada bagian otak yang terlalu dalam ditarik muncul ke permukaan dan dibiarkan mengular liar sekaligus mengajak berdendang santai pada saat bersamaan. Akan terasa sangat kasihan bagi mereka yang jiwa rayanya masih waras dan hanya mematung serta tidak merelakan tubuh untuk berdansa dan sing along bersama menyambut cinta di udara. Nomor nomor ampuh dekade yang lampau terus diputar mulai dari almarhum Chrisye yang berelemen keceriaan seperti galih ratna, hip hip hura, juwita,sampai lagu andal anak sekolah. Beberapa nomor Guruh Soekarnoputra yang melegenda, hingga tembang dari negeri seberang seperti Sinaran milik Sheila Majid dan Ratu Dansa milik Carefree tanpa ampun menyandera dalam warna silam dan enggan untuk kembali. Belum lagi saat maestro Faris RM yang tampil dan mengambil alih perhatian. Tembang imortal seperti Barcelona, Selangkah ke Seberang, hingga Sakura dilantunkan tanpa jarak dari khalayak kerumunan. Ia seperti sosok yang enggan terlihat uzur dan masih pantas menjadi patron, lebih lebih menjadi god father bagi kalangan generasi menolak tua. Pun hanya tampil dengan durasi yang tidak lama, Ia sukses mengambil perhatian dan mereduplikasi kembali, menjadi pengingat bahwa era tersebut adalah salah satu tonggak penting dalam khazanah musik Indonesia. Bagi pribadinya mungkin  Fariz berhasil pamer dengan gemilang bahwa era lampau memang cemerlang. Akan salah rasanya  jika kembali dari skena tersebut tak lantas menjadi obrolan hangat antara anak dengan orang tua. Sepuntung rokok di kanan dan sebotol beer di kiri niscaya adalah kompilasi ciamik menikmati lantunan yang...

Read More
ART	MARKET	JAKARTA	7: Bazaar	Seni	dan	Art	Merchandise	yang Menyentuh Hati
May03

ART MARKET JAKARTA 7: Bazaar Seni dan Art Merchandise yang Menyentuh Hati

Acara bazaar karya seni dan art merchandise, Art Market Jakarta yang ketujuh oleh Catalyst Arts, berlangsung meriah pada 28-30 April yang lalu di Kuningan City. Pasar alternatif bagi seniman, ilustrator, dan brand kreatif lokal ini ternyata menyisakan pengalamanpengalaman tak terduga baik bagi para kolaborator yang terlibat, maupun pengunjungnya. Resatio misalnya, kurator dari Pagggges, sebuah platform yang membuat zine dan art book untuk dipublikasikan secara mandiri, mengaku terkesan dengan antusiasme pengunjung. “Ga nyangka antusias pengunjung mengenai zine dan art book cukup bagus. Bahkan ada yang bilang kalau dia jadi terinspirasi untuk bikin zine juga. Berarti salah satu misi pagggges untuk menginspirasi orang lain berhasil,” tuturnya selepas acara berlangsung. Selain terkesan dengan antusias dari pengunjung terhadap Pagggges, Resatio juga merasa senang sekali karena punya kesempatan untuk bertemu dan mengobrol dengan pekerja visual dan pengunjungnya. Dari cerita-cerita, berbagi pengalaman, ia mengaku juga meraup cukup banyak omzet dari penjualan di booth-nya. Untuk salah satu brand kreatif lokal yang ada di Art Market Jakarta 7, bits & bobs juga mengaku senang dengan antusiasme pengunjung yang semakin beragam. “Momen yang sangat memorable dari art market ini untuk saya adalah antusias pembeli. Di art market kali ini produk bits & bobs makin beragam dibanding 2 art market sebelumnya dan juga kali ini ada beberapa promo yang menarik. Bisa dibilang omzet kali ini melebihi ekspektasi dan teman saya juga bilang ada satu momen dia lihat semua yang keluar dari art market bawa tas belanjaan bits & bobs. Jadi terima kasih Art Market Jakarta, satu hal yang saya lihat kalian berhasil menarik kumpulan orang yang bisa menghargai seni & desain dan mempunyai minat untuk mengkoleksinya,” papar Angela, founder dari bits&bobs. Salah satu dari ribuan pengunjung Art Market Jakarta 7 yang terlihat antusias dengan karya dari ilustrator Galih Sakti Wismoyo di Art Market Jakarta 7, Rosi Sofiya mengaku punya pengalaman yang seru selama mengelilingi booth bazaar. “Semua karya seni yang dijual di Art Market pengen saya beli. Tapi lain saat saya pertama kali mengunjungi booth Galih Sakti. Jenis jualannya tak banyak. Namun semuanya menarik. Motif-motif dalam shawl yang detail, kaya warna, dan sarat makna. Saya membeli 1 selendang bermotif Totem Toraja dan ngobrol langsung dengan pembuatnya memberikan kesan lain. Makna di balik karya-karyanya sangat personal dan emosional. Saya percaya, jika seseorang membuat sesuatu pakai hati, energi itu akan sampai ke pembeli. Dan saya menemukannya di acara ini,” ungkapnya setelah mengelilingi booth bazaar. Selain bazaar, juga ada kompetisi foto berhadiah di Giant Wall yang didukung oleh Jotun Indonesia dimana Giant Wall tersebut dilukis oleh tiga visual artists, yakni Addy Debil dari Bandung, Orkibal dari Kuala Lumpur, dan Arya Mulawarma dari Jakarta. Workshop di A Zone yang terdiri dari Zine Making...

Read More
Bali Creative Week 2017 Sukses Digelar
Apr30

Bali Creative Week 2017 Sukses Digelar

Tahun ini ajang kreatif Bali Creative Week kembali digelar di pulau Dewata. Acara ini telah digelar pada 27 hingga 30 April 2017 bertempat di Level 21 Mall di Denpasar. Bali Creative Week 2017 tahun ini diikuti oleh puluhan desainer muda dan brand lokal yang kreatif dari berbagai kota di Indonesia seperti Exme Gallery, Nail Art House, Tyramona, Anak Bengkel, DYS, O2 Nails, Trone, Suvit, ABG Shop, Dkey, Wakoka Handmade, Locapoca, Nails Department, Mvra.id, Chandra Kirana Boutique, Everlasting Batik, Dibase, Revlon, Cheveux, Flykids, Bellitobaby, Oniisan, Flavia Eyewear dan masih banyak lagi. Dalam Fashion Show Bali Creative Week 2017 turut ditampilkan koleksi dari Exxme Gallery, Tyramona, Everlasting Batik yang akan digelar pada hari Sabtu tanggal 29 April 2017 Pkl. 18.00 WITA dan dibuka untuk umum. Selain eksibisi juga dimeriahkan oleh penampilan-penampilan seru dari komunitas-komunitas kreatif seperti komunitas “Ketimbang Ngemis Bali, Rebelines Bali, Bali Stage Photography, Parkour Bali, Beauty. Selain itu di event Bali Creative Week 2017 juga menampilkan  band-band Indie Bali yang berbakat seperti Lemurian, Mineli, Midday in Madness, Confuse, Audio Cover, Passion of Life, Monkey King Bar, Like a Plane, Seven Ceblock, Makan di Warung, Sunkiss, Ordinary, dan Black Revolver. Dikarenakan bebas tiket masuk, event ini cukup menarik banyak perhatian masyarakat, terlihat dengan jumlah kunjungan selama 4 hari telah mencapai kurang lebih 20 ribu...

Read More
Terang Benderang Ragam Seni di Tebing Batu Breksi dalam SoundsAtions x Barasuara
Apr22

Terang Benderang Ragam Seni di Tebing Batu Breksi dalam SoundsAtions x Barasuara

Yogyakarta telah dikenal sebagai kota istimewa yang kaya akan seni. Seakan tak pernah padam, geliat seni di Jogja terus berkembang dan dapat dinikmati di berbagai sudut kota. Jumat malam, giliran sisi timur kota yang berpendar dengan berbagai ragam seni karya seniman Yogyakarta. Dalam acara yang bertajuk SoundsAtions Habis Gelap Terbitlah Terang (HGTT), kawasan Taman Tebing Breksi berhasil disulap menjadi sebuah galeri terbuka tempat memajang ribuan karya seni yang dapat dinikmati bersama dengan sajian musik berkelas dari Barasuara, Shaggy Dog, Jogja Hip Hop Foundation, dan Risky Summerbee & Honeythief. “Melalui ajang SoundsAtions HGTT ini, kami ingin mengajak teman-teman komunitas seni di Yogyakarta untuk terus berkarya. Jadi, untuk yang belum mulai berkarya kami harap acara ini dapat menginspirasi untuk jadi lebih berani, atau bagi yang sedang mengalami kebuntuan dalam berkarya, semoga acara ini dapat membantu mereka untuk menemukan „terang‟,” jelas Dita Wiendra Adriati dari Gong Production selaku penyelenggara SoundsAtions HGTT. Di salah satu sisi tebing batu, Farid Stevy bersama dengan puluhan seniman lainnya terlihat sedang serius membangun sebuah karya berukuran besar. Instalasi tersebut menjadi semacam monumen atas telah terkumpulnya 10,000 artwork dari wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. “Banyak orang mengenal Yogyakarta sebagai kota seni dan budaya, tapi mungkin mereka belum tahu bahwa setiap tahunnya tidak terhitung berapa hasil karya yang dihasilkan di kota ini. Kali ini, SoundsAtions HGTT berhasil mengumpulkan 10.000 karya seni, dan sekiranya instalasi seni ini mampu membawa pesan bahwa sebagai penggiat seni, kita tidak perlu takut untuk bersuara dan membuat karya kami berpendar lebih luas,” jelas Farid Stevy. Penampilan Barasuara yang menutup rangkaian acara SoundsAtions HGTT juga makin mengobarkan semangat para penunggang badai yang hadir. Deretan lagu dari album ‘Taifun’ yang dibawakan dengan aransemen berbeda juga diselipi dengan beberapa lagu baru dari Barasuara, salah satunya berjudul “Tentukan Arah” dan “Samara”. “Rasanya sepanjang malam ini seakan menjadi malam penuh inspirasi. Selain ajakan untuk berkarya dari komunitas serta pelaku seni di Jogja, SoundsAtions HGTT ini juga terus menggaungkan lagu-lagu sarat makna dari berbagai penampilnya. Barasuara sendiri tak pernah ragu untuk mengangkat isu apapun ke dalam sebuah lagu, termasuk lagu-lagu baru yang kami bawakan malam ini,” kata Iga Massardi, lead vocalist dan gitaris Barasuara. Sejak pukul empat sore, kawasan Taman Tebing Breksi mulai dipenuhi oleh para penggiat dan penikmat seni dari Yogyakarta dan sekitarnya. Mereka datang mengenakan batik sebagai syarat untuk memasuki SoundsAtions HGTT. Risky Summerbee & Drummer Guyub YK menyambut penonton yang sudah hadir lebih awal dengan musik khas mereka. “SoundsAtions HGTT ini merupakan bentuk semangat go ahead dari berbagai komunitas kreatif Yogyakarta. Perjuangan mereka untuk terus belajar dan berkarya adalah sebuah hal yang patut diapresiasi. Maka, sudah sepantasnya saat ini kita semua merayakan nyala terang ragam seni Yogyakarta,” tutup...

Read More