_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"kanaltigapuluh.info","urls":{"Home":"http://kanaltigapuluh.info","Category":"http://kanaltigapuluh.info/category/nowplaying/","Archive":"http://kanaltigapuluh.info/2017/05/","Post":"http://kanaltigapuluh.info/liam-gallagher-akan-sambangi-indonesia/","Page":"http://kanaltigapuluh.info/redaksi/","Attachment":"http://kanaltigapuluh.info/liam-gallagher-akan-sambangi-indonesia/ehr_men_060417liam/","Nav_menu_item":"http://kanaltigapuluh.info/culture-art/","Wpcf7_contact_form":"http://kanaltigapuluh.info/?post_type=wpcf7_contact_form&p=1161"}}_ap_ufee
Mondo Gascaro – Rajakelana
Jan15

Mondo Gascaro – Rajakelana

Menjadi dikenal sebagai seorang komposer dan orang yang bertanggung jawab dalam divisi aransemen dari band SORE, seorang Ramondo Gascaro nampaknya membuat sebuah keputusan besar dengan meninggalkan band yang sempat membesarkan namanya. Dalam project solonya Mondo Gascaro nampaknya tetap membawa identitas dirinya dimana musik yang diaransemen olehnya tetap memiliki ciri khas tersendiri: Indonesiana, pemilihan lirik yang sederhana namun sarat makna, dan sedikit “berat” didengar bagi sebagian orang. Lima tahun untuk mengerjakan 11 track lagu di album perdana Mondo Gascaro ‘Rajakelana’ tentu bukanlah waktu yang cepat. Sebagai sosok yang idealis, kreatif dan perfeksionis tentu wajar jika Mondo perlu waktu cukup panjang untuk mengerjakan materi albumnya. Proses kreatif dari pengerjaan album ini sedikit tidak biasa, karena Mondo melakukan perjalanan ke beberapa tempat di pulau Jawa dengan tajuk #tropicaltrip, dimana dirinya menjadikan berbagai pengalaman dalam perjalanan sebagai ini inspirasi penulisan lirik dan membuat aransemen dengan mendatangi beberapa tempat yang kebanyakan adalah pesisir pantai di pulau Jawa. Sempat mengikuti proses kreatif dan rekaman string section dari album ‘Rajakelana’ di Yogyakarta selama 3 hari, membuat saya sadar bahwa Mondo memang jenius, sangat detail dalam membuat komposisi musik, dan tidak canggung untuk melibatkan banyak pihak (orang baru) dalam proses kreatif dan produksi albumnya. Yang membuat album ini menjadi spesial adalah adanya konsep kolaborasi yang cukup kental. Sebut saja nama Aprilia Apsari, Lafa Pratomo, Danilla Riyadi, Bonita, Jay Afrisando, hingga sekumpulan mahasiswa kampus ISI Yogyakarta yang mengisi string section di beberapa track album ini. Dalam boxset albumnya, banyak ditemukan benda-benda sebagai hadiah personal dari seorang Mondo Gascaro. Sebagai contoh: biji kopi, kacamata kayu merupakan simbol dari  hal yang tidak bisa lepas dari sosok lelaki keturunan Jepang ini. Secara garis besar, album ‘Rajakelana’ ini menawarkan balutan irama pop jazz era Indonesia 60-an (yang kemudian disebut Indonesiana) bagi para pendengarnya. Sebuah aransemen yang cukup tidak biasa di masa sekarang ini, dan hal ini membuat album perdana dari Mondo Gascaro layak untuk kamu koleksi, kamu dengarkan karena bisa dibilang ini adalah salah satu album musik lokal yang menjadi penanda kebangkitan musik Indonesia di era milenial...

Read More
Mengalun Malam Bersama Album Kedua Puti Chitara ‘Goodnight’
Dec06

Mengalun Malam Bersama Album Kedua Puti Chitara ‘Goodnight’

Penulis: Arif Kusuma Mengenal Puti Chitara, bagi sebagian orang mungkin banyak dimulai dari perjalanannya di unit rock Barasuara. Bersama dengan teman semasa SMA nya Asterika “Ichil”, Puti didaulat mendampingi Iga Massardi untuk menyalakan Barasuara mengawal album ‘Taifun’ yang rilis setahun silam. Puti yang pernah mengenyam pendidikan dan hampir dipinang salah satu label di negeri Sakura telah memiliki talenta bermusik sedari dini dari lingkungan keluarga. Ia tumbuh dengan pengaruh The Carpenters, Badfinger hingga Utada Hikaru dan Yoko Kanno. Tahun 2014 menjadi debut album pertama Puti dengan titel ‘Sarsaparilla Dream’ dibawah naungan label Demajors Independent Music Industry. 10 lagu berbahasa Inggris tersebut menjadi manifesto masa mudanya yang kental pencarian, pencapaian hingga getir manis-pahit layaknya minuman Sarsaparilla. Lewat album ini, Puti perlahan dikenal sebagai solois dan pianis Pop yang mulai diperhitungkan, bersanding dengan Frau (Jogja) atau Christabel Annora (Malang). Tak ingin merasakan aji mumpung star syndrome dan teguran polisi skena atas jeda suatu karya yang terlalu lama, bulan April 2015 Puti melanjutkan perjalanan karyanya melalui single yang berjudul Snow In Summer. Sebuah lagu pernyataan cintanya sekaligus menjadi lubang intip dan jembatan keledai bagi kelanjutan karya di album selanjutnya. Keputusan Puti untuk turut serta mengawal rapatnya nyala Barasuara, tak membuatnya kehilangan proses kreatif dalam bermusik. Bulan Mei lalu, Puti merilis single kedua berjudul Stratosphere secara digital. Lagu yang kelak menjadi track pertama di album keduanya semakin memperjelas bahwa arah musiknya sudah mulai meninggalkan musik “nano-nano” nya seperti di album perdana. Bertepatan dengan peringatan netlabel sedunia pada bulan Juli, ia juga terlibat dalam kompilasi bebas unduh Ripstore.Asia tribute to ERK dengan cover lagu berjudul Cipta Bisa Dipasarkan. Kali ini Puti sukses mendekonstruksi irama aslinya menjadi sesuai arah musiknya yang gloomy dan balutan ciri khas suaranya yang lugas. Jika pencapaian berkarya Puti tak sekedar menambal jeda waktu atau eksistensi belaka, maka pencapaian album kedua berjudul Goodnight yang resmi rilis secara digital pada 30 November lalu menjadi penegas bahwa ia sangat hati-hati dalam membidani karya dengan tak buru-buru melahirkan secara prematur. 2 tahun bukan waktu yang lama bagi pianis dan penulis lagu yang sedang asyik menjalani perannya menjadi vokalis bersama sebuah unit yang sedang naik daun. Sesuai dengan judulnya, album yang berisi 8 track ini masih konsisten dengan lirik bahasa Inggris namun inkonsisten dengan tema manis-pahit ala minuman sarsaparilla seperti sebelumnya. Sengaja, Puti mengajak pendengarnya untuk menerawang semburat gelap malam dengan ribuan makna yang tersirat. Sejenak meminjam kalimat milik tokoh semiotika Roland Barthes dalam esainya The Death of Author, bahwasanya Jika karya sastra telah dilempar ke publik, maka pengarangnya akan mati. Lagu-lagu tersebut menjadi dirinya sendiri sebagai organisme yang harus bertarung dengan teks-teks lain, dan bukan lagi milik pengarangnya. Secara general album ini seperti menunjukkan sisi...

Read More
YAWP! Still (Pop) Punx Still Sucks
Oct18

YAWP! Still (Pop) Punx Still Sucks

Geekmonger Records memutuskan merilis sebuah kompilasi YAWP!. Ada 5 band dari 4 kota berbeda yang ikut ambil bagian di kompilasi ini, misalnya The Morons (Bandung), The Spikeweed (Jakarta), The Sneakers (Bali), Saturday Night Karaoke (Bandung) dan Fatrace (Bekasi). Hari ini pop-punk sudah memiliki fraksi sendiri-sendiri. Namun kelima band ini disatukan oleh influens pop-punk tradisional yang paralel dengan gerakan power-pop, garage rock 70s hingga puncaknya down-stroked power chord 90s. Kita dapat mendengarkan tune Screeching Weasel dengan sentuhan hook bubblegum a la Beach Boys di track Saturday Night Karaoke, band yang diusung trio alienated nerds. The Sneakers sangat akut sebagai pemuja Ramones. The Spikeweed, The Morons, Fatrace tidak ketinggalan impresif dengen referensi masing-masing. Tidak cukup kata mendeskripsikan anthem yang menyenangkan ini. Style begitu sangat jarang terekspos atau aksesibel di skena lokal karena pop-punk lebih sibuk tampil modern, hormonal dan tampan. YAWP! secara alamiah berhasil keluar dari ekspektasi atas cap, label, stereotipikal tentang pop-punk seperti itu. Saya bertaruh menempatkan kompilasi ini sebagai anthem yang percaya atau tidak, mungkin inilah saat tepat mengakui kembali still (pop) punx still sucks. Tidak lupa, berharap semangat itupun merekatkan kembali “this fractured scene”. GM-003 YAWP! A Geekmonger Compilation by Geekmonger...

Read More
Asteriska: Distance
Dec10

Asteriska: Distance

Album perdana dari Asteriska ini cukup menarik untuk disimak, karena memiliki karakter yang berbeda-beda di setiap lagunya. Album yang berisikan 8 buah track ini sama sekali tidak menggunakan lirik berbahasa Indonesia, 7 track nya menggunakan bahasa Inggris dan satu track menggunakan bahasa Perancis. Jika sebelumnya kalian terbiasa mendengarkan cover song dari Asteriska di YouTube atau lagu-lagunya yang ada di Soundcloud, tentu karakter musikalitas dan vokal dari Asteriska di album ‘Distance’ ini sangatlah berbeda. Asteriska juga membawakan karakter vokal yang sangat berbeda dibanding saat dirinya bernyanyi bersama Barasuara. Lirik dari album ‘Distance’ ini lebih banyak bercerita mengenai hubungan personal manusia, namun dibawakan dengan tidak “chessy”. Album ini sangat cocok didengarkan saat sedang sendirian di kamar atau mobil sambil mengenang masa lalu dan pasangan masing-masing, karena suasana menyejukkan dan musik yang minimalis sukses ditawarkan oleh Asteriska di album perdananya...

Read More
Kelompok Penerbang Roket ‘HAAI’: Perpaduan Rock Klasik dan Modern
Oct12

Kelompok Penerbang Roket ‘HAAI’: Perpaduan Rock Klasik dan Modern

Tentu menjadi sedikit tidak wajar ketika sebuah band merilis album baru hanya berselang 2 bulan dengan perilisan album perdananya. Namun band rock asal Jakarta, Kelompok Penerbang Roket berani untuk melakukannya. Kelompok Penerbang Roket belum lama ini telah merilis sebuah cover album yang membawakan lagu-lagu hits milik band rock kawakan Indonesia era 70-an, Panbers. Album yang bertajuh ‘HAAI’ ini dirilis oleh Sinjitos Records setelah Kelompok Penerbang Roket memenangkan kontes musik yang digelar oleh Jack Daniel’s. Track pembuka dari album ini adalah Djakarta City Sounds, menunjukkan identitas anak-anak muda asal Ibukota ini dengan energinya yang meluap-luap. Viki Vikranta mendadak berganti fungsi menjadi vokalis pada lagu Rock and the Sea, dimana Viki sebenarnya adalah seorang drummer. Dibanding lagu aslinya, track ini tidak menyertakan instrument sitar didalamnya. Ada sedikit korelasi pada lagu Bimbang dan Ragu, dimana band ini pernah mengumumkan akan bubar tapi terbantahkan dengan dirilisnya album perdana Kelompok Penerbang Roket ‘Teriakan Bocah’. Lagu pamungkas dari album ini, HAAI tetap menggunakan suara vokal Benny Pandjaitan dari rekaman asli Panbers. Bertunjuan untuk menghormati Benny, perpaduan ini malah menghasilkan sebuah karya yang gemilang. Di produseri oleh Joseph Saryuf dan meskipun Rey Marshall (gitaris) sedang mendekam di panti rehabilitasi narkoba saat proses rekaman album ‘HAAI’ dilakukan, gitaris additional Dhany Agus Sohanza dapat menampilkan performa terbaiknya, dimana Kelompok Penerbang Roket berhasil membawakan lagu-lagu dari Panbers dengan versi mereka sendiri. The Adobe Flash Player is required for video playback.Get the latest Flash Player or Watch this video on...

Read More
Silampukau: Dosa, Kota & Kenangan Surabaya
Sep23

Silampukau: Dosa, Kota & Kenangan Surabaya

Review oleh: Aripp Kusuma Silampukau, nama grup musik yang unik ini ternyata berasal dari bahasa melayu kuno berarti burung kepodang. Tampil dalam  acara gigs komunal, jauh-jauh datang dari Surabaya dan naik panggung di deretan awal saat gelaran Indonesian Netaudio Festival #2 di Bandung beberapa waktu yang lalu, namun seperti membawa magnet tersendiri ketika membawakan beberapa lagunya yang tematik khas kota asalnya Surabaya. Selang beberapa bulan, layaknya bola salju, band ini semakin besar dibicarakan dalam beberapa kesempatan dan media alternatif. Awal tahun ini dibulan April tepatnya, mereka menelurkan album penuh setelah sebelumnya sempat membuahkan  mini album berjudul “Sementara Ini” di tahun 2009 silam. Album yang dikerjakan secara home recording  di Surabaya dan Malang ini membutuhkan waktu hampir 6 tahun untuk dapat menemukan materi-materi baru sebagi bahan  menyajikan album penuh. Penuh dengan suasana kota (Surabaya), penuh kenangan dan penuh “ pengakuan dosa”.  Proses panjang yang dilalui oleh masing-masing personelnya membuahkan hasil di album yang dirilis dalam versi CD dan itunes. 10 lagu yang kaya makna dan nada siap tersaji menjadi ciri tersendiri bagi musisi Surabaya asli ini. Dalam tulisan di official website mereka: www.silampukau.com, menyatakan bahwa  album penuh pertama bagi setiap musisi adalah sebuah pertaruhan. Bagai sekeping koin, ia bisa bermakna ganda: menjadi batu tapak untuk melangkah ke panggung berikutnya atau justru menjadi batu nisan yang hanya berfungsi sebagai penambat ingatan. Seperti itu pula arti album Dosa, Kota, & Kenangan bagi Silampukau. Balada Harian Seperti mengisahkan rutinitas harian yang tidak bisa terhindar saat beberapa keinginan dan cita belum juga tercapai. Tik-tok simbol waktu mengiringi hari yang panjang menjadi pengharapan bagi sebagian orang untuk terus bersemi dan berseri. Dan waktu yang beredar tidak hanya sekedar hitungan yang melingkar. Kota tumbuh kian asing, kian tak peduli, menjelaskan perjalanan kehidupan yang terus berubah tak mempedulikan siapa dan darimana kita. Maka dari itu, tujuan dan harapan harus menjadi satu angan yang terus dicitakan dalam setiap balada harian. Si Pelanggan Denting piano yang berada di intro menegaskan bahwa lagu ini menjadi semacam lirik bercerita. Bahwa Dolly pernah menyala, bersembunyi di setiap sudut jalang jiwa pria Surabaya. Tempat mentari sengaja ditunda! Dimana cinta tak musti merana dan banyak biaya. Dolly! Pernah tenar karena menjadi tempat terbesar se Asia Tenggara, namun Dolly! Juga pernah gempar saat penutupan yang dilakukan oleh sang walikota. Sebuah kenangan dalam bentuk nyanyian. Puan kelana Penggunaan diksi kata lama dalam judul ini menjadi semacam cover yang membuat penasaran akan isi lagunya. Beberapa kata membuat sedikit berfikir, kisah apa yang sedang dilagukan. Puan kelana pergi kemana… langit sungguh jingga itu sore… kita tak pernah suka air mata..berangkatlah sendiri ke Juanda. Tiap kali langit meremang jingga, aku kan merindukanmu.. Bahwa jarak sebenarnya bukanlah halangan, karena perpisahan dan pertemuan tercipta karena rasa. Paris ataupun Surabaya..entah...

Read More