_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"kanaltigapuluh.info","urls":{"Home":"http://kanaltigapuluh.info","Category":"http://kanaltigapuluh.info/category/nowplaying/","Archive":"http://kanaltigapuluh.info/2017/05/","Post":"http://kanaltigapuluh.info/neck-deep-umumkan-album-ketiga-the-peace-and-the-panic/","Page":"http://kanaltigapuluh.info/redaksi/","Attachment":"http://kanaltigapuluh.info/neck-deep-umumkan-album-ketiga-the-peace-and-the-panic/neck-deep/","Nav_menu_item":"http://kanaltigapuluh.info/culture-art/","Wpcf7_contact_form":"http://kanaltigapuluh.info/?post_type=wpcf7_contact_form&p=1161"}}_ap_ufee
Much: Closest Things I Can Relate To‏
Aug23

Much: Closest Things I Can Relate To‏

Much lewat debut album pendek Closest Things I Can Relate To seakan tidak ingin luput dari perayaan 90’s alt rock-esque dengan infus utama mengucur dari selang twinkle daddies/emo. Judul Much sendiri kurang lebih sebuah babak lanjutan solo project Dandy Gilang yang dirilis pada 2014 lewat Yes No Wave berjudul Know Where You’re Heading. Bedanya, Much lebih soal drama relationship dan juga memiliki riak-riak tidak terduga atas kemunculan vocal Aulia Anggia. Jika dirangkum, 6 track dalam EP ini akan bernada seperti ini kira-kira; bebunyian melodi reverb berlari kecil dengan layer fuzzy khas Dandy Gilang menyelinap mesra di sela vocal lempeng Aulia yang meyakinkan, menyanyikan tema cinta dan awkward social moments dengan insight lirik sepertinya dari The Smiths, ditujukan bagi kalian yang selalu terjaga di malam hari bergelisah sesak kala falling in love tapi feeling like a shit. Yup, ini cukup menarik! Menariknya lagi, sebagian lirik di album pendek ini tweetable dan judul-instragramable. Misalnya Love’s not a game to play. When You’re winning you’re not leaving. When You lose you throw everything away. Itu dia, bahasan soal perasaan yang besar kemungkinan relatable dengan banyak orang, adalah nilai tawar Much. Artwork album ini ciamik dan punya identitas khas, cuma kemasannya saja yang terlalu hemat. Selain itu, kebersamaan mendengarkan Much bisa makin sempurna bila memiliki kualitas rekam ok dan mastering yang mumpuni. Walaupun begitu, apa yang ada kini sudah punya tempat tersendiri di pecinta karya yang agak raw. So far, bagi pendengar Lemuria, Adventures, Tigers Jaw, Alvvays serta American Football tanpa ragu akan langsung terhibur dengan kehadiran hangat sederhana Much. Di skena, Much tentu perlu masuk  ke dalam deretan nama di antara Barefood, Talking Coasty, Seaside dkk,  yakni sebuah mozaik indie-rock lokal dari kota Malang. Track List Life’s Too Demanding And You’re So Depending Cringeworthy Season Changed, Everybody’s Leaving Singled Out Carried Away Song To Put Me To...

Read More
Deugalih & Folks – Anak Sungai
May12

Deugalih & Folks – Anak Sungai

Dua tahun terakhir nampaknya menjadi masa emas untuk band folk-akustik di skena musik independen Indonesia, sudah tidak terhitung lagi berapa banyak band baru yang membawakan jenis musik ini, salah satunya adalah band asal kota Bandung, Deugalih & Folks. Band ini KANALTIGAPULUH temukan secara tidak sengaja, saat pada awal tahun 2015 kemarin kami mendapat undangan khusus untuk menghadiri sebuah festival musik di salah satu pegunungan yang ada di Pangalengan, Bandung. Setelah melihat penampilan mereka diatas panggung, redaksi memutuskan untuk membeli album terbaru mereka ‘Anak Sungai’, dimana album ini belum lama ini di launching di IFI, Bandung pada bulan Maret 2015 yang lalu. Album ini dikemas secara simpel dengan balutan artwork cover yang digarap oleh Resatio dan dirilis oleh label Demajors. Album yang membawakan musik folk yang ceria ini sebenarnya tidak seceria musik yang mereka bawakan, meskipun dari 10 track yang ada didalamnya lebih banyak bertemakan mengenai alam dan anak-anak. Di dalam booklet yang dilampirkan di album ‘Anak Sungai’ ini dapat kita baca bahwa album ini dibuat untuk merespon Sungai Citarum di Bandung yang merupakan sungai terkotor dan terpolusi di dunia. Anak Sungai       Petikan gitar nylon yang jelas terdengar di awal lagu akan membawamu menuju perjalanan si Anak Sungai. Lirik yang dipersembahkan untuk seseorang bernama Yadi ini terinspirasi dari cerita The Adventures of Huckelberry Finn karya Mark Twain. Di Bawah Bendera Lagu ini menceritakan mengenai sungai terkotor di dunia, namun tetap dibawakan dengan pembawaan yang ceria dengan kombinasi suara banjo, mandolin dan tin whistle. Bunga Lumpur Lagu yang paling beda di antara lagu yang lain. Lagu ini lebih menaikkan unsur gypsyfolk yang terdengar classy dan singable. Tidak salah Deugalih & Folks menyimpan Bunga Lumpur sebagai single pertama. Lagu ini memang enerjik. Minggu Pagi Salah satu lagu yang akan mengajakmu untuk sedikit bersenandung dan bergumam. Jika kamu bukan orang yang pemalu, mungkin kamu akan bernyanyi dan memutar ulang lagu ini. Sangat cocok didengarkan sesuai dengan judul lagunya: saat minggu pagi. Buat Gadis Rasid Untuk lagu ini sedikit lebih bagus saat Deugalih & Folks membawakan dalam versi live, dimana lagu ini sebenarnya adalah musikalisasi puisi dari Chairil Anwar. Ilalang Lagu ini sangat menenangkan karena lebih di dominasi oleh instrumen musik daripada lirik, dan menceritakan tentang sawah dan bocah-bocah pedesaan di Indramayu, Jawa Barat. Heyya Kid Rasus “Ono” Budhoyono, sang peniup tin whistle adalah penulis lagu ini, dimana ke sembilan lagu yang ada di album ini ditulis oleh Galih. Lagu ini dibuat untuk anak bungsu Rasus. When No One Sing This Song Lagu ini menceritakan tentang kegelisahan Galih akan perang di Timur Tengah, tema seperti ini banyak diangkat oleh musisi folk era 70-80an seperti Bob Dylan. Earth Lagu pertama Galih yang dibuat tahun 1998....

Read More
Mengemas Sebuah Kehidupan Dalam “HITS KITSCH”
Oct04

Mengemas Sebuah Kehidupan Dalam “HITS KITSCH”

Awalnya, Farid Stevy Asta (vokal) dan Roby Setiawan (gitar) dikenal sebagai bagian kuartet rock jebolan sebuah kampus seni di Yogyakarta bernama Jenny bersama dengan Arjuna Bangsawan dan Anis Setiaji. Itu mereka yang dulu, sudah jelas jauh berbeda dengan yang sekarang. Mari kini kita berpindah langkah ke wajah mereka yang baru bernama FSTVLST bersama dengan Humam Mufid Arifin (Bass) dan Danish Wisnu Nugraha (Drum) juga Rio Faradino (Keys). Terlepas dari bagaimana mereka –sebagai Jenny– di masanya terdahulu, FSTVLST membawa sebuah kehidupan baru untuk ditelusuri dan dinikmati. Pada pertengahan September yang lalu, mereka resmi merilis album bertitel HITS KITSCH yang awalnya entah darimana saya pikir mereka mendapatkan idenya. Apakah ketika sedang melakukan take vocal, lalu lidah sang vokalis, Farid Stevy Asta ‘terpleset’ salah melantunkan lirik lalu menjadi sebuah sejarah bagaimana HITS KITSCH menjadi nama album ini. Ternyata bukan karena kejadian konyol itu –yang dimana itu juga tidak benar-benar terjadi– melainkan diambil dari penggalan lirik lagu Ayun Buai Zaman. Salah satu nomor yang juga selalu menjadi lagu paling serempak ketika dinyanyikan live bersama teman-teman -FESTIVALIST- (sebutan untuk para penggemar FSTVLST). HITS KITSCH tersusun atas 10 track lagu yang membuat saya harus teliti menelaah setiap lirik-liriknya perlahan supaya saya tidak salah paham dengan cerita kehidupan seperti apa yang ingin disampaikan oleh the almost rock barely art band ini. Di awal CD memutar, terdengar suara sirine dan teriakan juga tempo yang cepat teratur dengan apik untuk membuka gerbang bagi sekerumun orang-orang yang dengan sigap siap berdendang bersama di lagu Orang-Orang di Kerumunan. Selanjutnya setelah lompatan-lompatan enerjik di awal, track Menantang Rasi Bintang merupakan sebuah pendinginan yang sejuk dengan alunan gitar akustik. Serangkaian kata yang tersusun didalamnya menuntun saya untuk mengoreksi diri sendiri. Sudah seberapa bersyukurnya kita selama ini atas anugerah dan berkah yang diberikan oleh Tuhan? Sebuah cerminan tentang sebuah kebahagiaan sederhana yang sejatinya dapat kita nikmati dalam berbagai wujud, bahkan dalam wujud kesedihan sekalipun. Simak juga Hujan Mata Pisau, Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak Dan Ditinggalkan, Satu Terbela Selalu  juga Bulan, Setan atau Malaikat yang memainkan emosi dengan hentakan drum yang cepat nan keras serta perpindahan chord yang naik-turun dengan menggebu. Terdapat dua buah lagu yang punya nuansa berbeda dengan track-track sebelumnya yakni pada Akulah Ibumu, dengan menyisipkan suara seorang sinden dan vokal perempuan. Lain lagi di bagian Hal-Hal Ini Terjadi. Dengan khusyuk kita dapat mendengarkan Farid dengan teliti membaca sajak tentang kekacauan yang kini nyata terjadi di nomor ini. Menyimaknya dengan teliti diiringi siulan-siulan bersahutan bersama suara trombone mengajak kita sejenak menerawang hal-hal ajaib itu, tentang segala yang palsu juga rasa cinta yang telah ditelan kebencian yang menyulut. Dibalik lagu Hari Terakhir Peradaban pun juga kita disuguhkan dilema kehidupan yang sama,...

Read More
Pribumi, Kejujuran Bermusik Dalam Lirik Yang Puitis
Jul04

Pribumi, Kejujuran Bermusik Dalam Lirik Yang Puitis

Mungkin masih banyak yang asing dengan nama Handoyo Puwowijoyo. Sosok yang lebih banyak “dibalik layar” saat Seek Six Sick pentas karena (mungkin) lebih dominannya sosok seorang Bofag sebagai sang vokalis utama ini sebenarnya adalah sosok yang cukup berpengaruh dalam perkembangan band-band eksperimental di Jogja pada awal era 2000-an. Sosok Handoyo sebenarnya tidak cocok menjadi seorang vokalis, penampilannya yang sangat dingin dan biasa saja tentu cukup mengundang gelak tawa untuk yang menonton penampilannya. Namun, ada hal lain yang membuat penonton terdiam: lirik-lirik puitis yang ditulisnya. Pribumi adalah proyek bermusik dari Handoyo Puwowijoyo, Soni Irawan pada gitar dan Aan pada drum. Cukup menarik adalah bisa dibilang ini adalah proyek bermusik dari personel Seek Six Sick, meskipun Handoyo Nampak lebih dominan daripada Soni Irawan yang biasanya mengokupasi performa panggung dengan karakter sound noisenya. Lirik-lirik puitis dari Handoyo sukses membentuk karakter tersendiri dari band ini, dan Soni tidak menjadi ‘dominator’ dari segi musikalitas, tidak seperti di band asalnya. Album ‘Jalang’ ini berisikan 7 buah track, semua lirik ditulis oleh Handoyo dan untuk musik di aransemen oleh Soni Irawan. Sebuah perpaduan yang pas menurut saya untuk membuat suatu karya musik yang mumpuni dengan dominansi lirik yang jujur dengan penampilan seorang vokalis yang sangat dingin dan sederhana. Album ini dapat kamu nikmati dengan  mengunduh secara gratis di situs netlabel YesNoWave.(KA)  ...

Read More
Sentimental Moods –  Destinasi Empat
Jun25

Sentimental Moods – Destinasi Empat

Setelah Sukses merilis EP di tahun 2012 secara terbatas dan membagikan gratis melalui media online kemudian turut berpartisipasi dalam album kompilasi ska di tahun 2013, kini giliran grup musik Ska Instrumental Sentimental Moods kembali ingin mempublikasikan karyanya lewat album perdana mereka Destinasi Empat yang resmi diluncurkan pada hari minggu (22/6) lalu di Payon Resto Kemang  dan bekerjasama dengan label Demajors Independent Music Industry sebagai pihak pendistribusian. Proses pengerjaan album dari grup band yang terbentuk tahun 2009 ini memakan waktu kurang lebih satu tahun dan berisi 10 lagu yang secara garis besarnya berkonsep instrumental. Sebuah rilisan album fisik dari sebuah band ska asal Jakarta yang patut diperhitungkan keberadaannya, dimulai pada nomor pertama pada album ini Selatan Senjadi daulat sebagai lagu perkenalan yang sekaligus menyajikan berbagai pakem yang biasa terdapat dalam musik Jazz. Terdengar jelas pada pertengahan lagu dimana horn section secara bergantian menunjukkan iramanya, terutama ketika pemain terompet mereka menyisipkan sedikit nada Lagu Cis Kacang Buncis yang kembali mengingatkan kita pada serial anak-anak Si Unyil yang populer di awal tahun ‘90-an. Disambung dengan nomor selanjutnya Gradasi Hitam Putihyang berbalut nuansa tango dan sudah lazim terdengar pada soundtrack film karya Quentin tarantino. Dalamlagu ini terdengar narator membacakan kalimat  “Terhadaplah proses gradasi hitam dan putih, perbedaan definisi, terhadaplah dua sisi, baik atau buruk, kanan dan kiri, jalani proses gradasi” yangmerupakan kutipan pesan dari mereka untuk tidak terlalu mempersoalkan segala perbedaan yang berada di sekitar kita. Sunny Sundayyang merupakan nomor ketiga dari album ini menceritakan tentang suasana liburan di hari minggu yang cerah, lengkap dengan suasana pantai dan dihias dengan matang oleh alunan melodi pentatonik khas indonesia. Kemudian dilanjut dengan Local Horror, nomoryangberbalut irama swing danmenceritakan tentang berbagai tokoh hantu urban legend baikdalam maupun luar negerimulai dari Frankenstein, Dracula, hingga Gendruwo dan Kuntilanak pun disebutkan dalam narasi yang dibacakan oleh Wiro layaknya seorang Storyteller. Destinasi Empat, lagu yang diangkat menjadi judul album perdana grup ini juga dikemas dan dikombinasikan dengan baik melalui penambahan instrumen biola pada awal lagu. Soundtrack untuk para kaum pekerja Ibukota yang kesehariannya biasa menggunakan jasa angkutan kereta api terdapat pada lagu Choo Choo, suara sirine dan roda roda kereta berhasil di representasikan dengan baik, tempo lagu yang cepat juga sangat mencerminkan tentang kaum pekerja urban yang dituntut harus bisa bergerak cepat. Di nomor ke-7 yang merupakan bentuk penghormatan kepada sosok yang di cintai dan di hormati dibawakan dengan irama yang teduh dalam lagu Sasuro, sebuahkata yang berasal dari bahasa Pali   yang berarti Ayah. Sebuah Anthem persahabatan juga dinyanyikan dengan lantang dalam Won’t Fade Away, serta Sisi Kiri Jalan dan (Set Your) Headfree sebagai nomor penutup lepas peluh selepas rutinitas sehari hari. Di nilai secara keseluruhan materi, album dari grup yang...

Read More
Semangat Baru CRIMSONDIARY Lewat Senja
May28

Semangat Baru CRIMSONDIARY Lewat Senja

Sejak diluncurkan pada 10 Mei 2014 album ini terus melejit dengan sejuta reaksi kimia didalamnya. Launching album perdana dari CRIMSONDIARY sendiri dilaksanakan di public-house bernama Houtenhand. Sebuah public-house dipinggiran jalan itu turut menjadi pelaku bagi perkembangan skena musik lokal di kota Malang tak terkecuali CRIMSONDIARY. Tiga minggu yang lalu pesta itu riuh mengantarkan Senja. Buah yang ditunggu-tunggu bagi penikmat musik Shoegaze, khususnya bagi fans CRIMSONDIARY. Pesta dibuka dengan opening-act dari Intenna yang mengantarkan beberapa judul lagu baru. Sedangkan CRIMSONDIARY sendiri tampil sekitar pukul setengah sepuluh malam. Bermodalkan 15 lagu, penonton kian berjingkrak, bernyanyi dalam keriuahan yang membahana. 7 lagu diantaranya merupakan lagu dari album baru. Seperti halnya ‘Maybe’ yang lebih dahulu mengantarkan CRIMSONDIARY pada popularitas, kemudian, saya jatuh hati dengan ‘Pagi Baru’ yang merupakan trek pertama di Senja. Di lagu ini Anda akan melayang bersama angin yang membawa Anda pada mimpi tertinggi di ujung pagi yang baru. Dengan tempo yang lebih menghentak, serta riff gitar yang lebih kasar, Anda akan terbuai pada semangat di pagi yang hembuskan semangat baru. Dilanjutkan dengan trek kedua di album ini, ‘You and Me’ masih menghentakan emosi yang meledak, namun dengan ritme yang masih berbenturan. Hardikan gitar yang dipadu-padankan dengan hentakan drum yang selalu berbenturan. Benturan yang menyehatkan bagi Anda yang suka beraktifitas di pagi hari. Coba dengarkan! Trek ketiga yang berjudul ‘Lara’ diawali intro yang mengingatkan saya pada nomor dari My Bloody Valentine, yang sarat akan distorsi fuzz. Mendengar intro awal lagu ini, saya kira lagu ini akan seperti lagu Shoegaze british kebanyakan. Namun, setelah mendengar keseluruhan, ternyata masih ada sedikit suguhan ala ala post-rock didalamnya. Di trek keempat, CRIMSONDIARY sama sekali tidak merubah ‘Maybe’ kedalam bentuk apapun kecuali ‘Maybe’ yang telah saya sukai sebelumnya. Dengan mixing yang lebih bersih dari sebelumnya, ‘Maybe’ masih berbicara tentang misteri dalam kehidupan. Di trek kelima dengan judul, ‘Berpijak’ masih memainkan distorsi Shoegaze yang riuh dengan semburan riff gitar yang kasar disana-sini. Gebukan drum dilagu ini masih akan menyulut Anda kedalam semangat yang meluber di pagi hari. Intro gitar ditengah lagu ini pun semakin membuat Anda berpijak pada keriuhan yang penuh. Trek keenam yang berjudul ‘Angkuh’ yang penuh amarah, semakin beringas dengan gaung suara dan ritme yang panjang diawal lagu. Dengan tempo yang melambat, lagi-lagi distorsi yang khas shoegaze hadir ditengah disela sela melodi gitar yang panjang. Di lagu terakhir, ‘Senja’ yang merupakan judul dari album anyar milik CRIMSONDIARY ini, masih bercerita tentang semangat yang masih membara sedari pagi tadi. Di lagu ini Bem Walessa si vokalis, seolah ingin bercerita dengan gaya yang sedikit pilu. Dengan menambahakan narasi bule di intro awal, lagu ini semacam story telling tentang bagian hari bernama Senja. Dibagian reff baru terdengar riff...

Read More