Deftones Sukses Memanaskan The Venue Eldorado,Bandung

Eldorado-0300

Band alternative metal asal California, Deftones  kembali mengunjungi tanah air pada Jumat malam (30/5). The Venue Eldorado, Bandung terpilih menjadi tempat perhelatan konser mereka yang kedua di Indonesia setelah sebelumnya pada tahun 2011 diadakan di Senayan, Jakarta. Tidak hanya Deftones sendiri, Burgerkill dan Killed By Butterfly dipilih menjadi pembuka konser kali ini.

Open gate dijadwalkan pada pukul 17.00. Di sekitar area venue venue masih tampak belum terlalu ramai. Tampak beberapa stand sponsor baru selesai dipersiapkan. Masih didominasi oleh panitia sibuk dan beberapa media yang hadir. Dari luar terdengar Deftones sedang melakukan check sound.

Memasuki barikade menuju venue, terlihat deftoneshead bermunculan dengan bahagia, menampakkan wajah haus akan bebunyian idola mereka. Sebagian dari mereka ada yang berfoto – foto, gossip,  sembari menunggu pintu masuk venue dibuka. Sebagian mereka memenuhi booth merchadise official dari Deftones bertemakan Koi No Yokan Tour. Memang, konser kali ini termasuk rangkaian tur Deftones setelah rilis album terbaru Deftones “Koi No Yokan” rilis November lalu.

Pintu dibuka dan para penonton disambut oleh kegaharan Killed By Butterfly, band metalcore dari Jakarta. Kuartet bentukan tahun 2003 ini tampil cukup bagus dengan kualitas performance apik diimbangi dengan sound yang mumpuni. Lagu berjudul “When Religion Ruins Our World” cukup mengena di telinga.  Sayangnya mereka hanya membawakan 3 lagu sehingga terkesan tanggung.

Para begundal merapat karena ada band kebanggaan Bandung yakni Burgerkill. Belum lama ini mereka dianugerahi sebagai salah satu nominasi Metal Hammer Golden Gods Awards. Tidak usah berkomentar terlalu banyak tentang penampilan mereka, sebagian orang akan berpendapat kurang lebih sama: gahar dan dinamis. Kurang lebih 4-5 lagu dibawakan diantaranya Darah Hitam Kebencian dan “Shadow of Sorrow”.

Seperti konser band luar negeri pada umumnya, banyak crew lalu lalang setelah penampilan band pembuka. Crew terlihat sangat sibuk. sesekali penonton heboh sendiri ketika ada crew sedang testing mic dan gitar, seolah mereka adalah Deftones.

Terlihat dari dekat beberapa senjata mengagumkan seperti drumset Abe Cunningham, seperangkat alat elektronik milik Frank Delgado, dua kabinet bass Sergio Vega, gitar senar 8 milik Stephen Carpenter dan microphone dengan ‘ekstra lakban’ milik Chino Moreno. Bagi gear addict set panggung cukup membuat mata menjadi lapar untuk memiliki semua perangkat Deftones.

Kurang lebih 45 menit kemudian, satu persatu personil Deftones naik ke atas panggung dan disambut hangat oleh para penggemarnya. Chino menaiki level di depan panggung sehingga tampak megah dengan sorotan lightning cerah. Stephen memanaskan gitar kemudian memulai lagu pertama “Diamond Eyes” yang diambil dari album ke-6 dengan judul yang sama. Masih dari album tersebut, “Rocket Skates” melanjutkan awal set mereka dengan sempurna.

Tidak hanya album terkini, Deftones turut menggeber setlist dengan tembang dari album Around The Fur. Laguseperti “Be Quiet And Drive (Far Away)” dan “My Own Summer (Shove It)” dimainkan dengan indah. Keindahan tersebut tidak disia – siakan oleh para deftoneshead yang melakukan singalong dan meloncat – loncat, bahkan sejak set dimulai.

Saat akan mencapai tengah set, tiba – tiba sound mengalami sedikit masalah, bass dari Sergio mati di tengah lagu. Bagusnya, ia masih tampak enjoy menari sambil memberi vokal latar dengan wajah sumringah yang menjadi cirikhas-nya. Kemudian set berhenti sesaat, Stephen dan Frank bergegas menutupi kekosongan panggung dengan komposisi athmospheric.

Stage mengalami masalah dua kali, namun untuk kedua kalinya Deftones berhasil memanjakan penonton walau backline panggung tampak tidak santai dengan adanya pergerakan dari crew mereka yang mondar – mandir. Setelah beres dengan hal tersebut “Digital Bath” membuat singalong kembali, terutama pada bagian refrain, “I feel likemooorreeee!!!”.

Chino seringkali bergoyang dan membentuk gerakan dengan gesture uniknya, dan harus diakui bahwa ia sungguh seksi bagi sebagian kaum hawa. Sesekali menanyakan kabar,”Are you still awake?”. Stephen masih menawan dengan Frank dibelakangnya yang selalu tampil kalem. Sementara Abe selalu enerjik menggebuk drum sepanjang set. Sergio masih enerjik dengan wajahnya.

Perlu diketahui bahwa di Bandung, di bawah flyover pasopati terdapat mural wajah Chi Cheng, bassist orisinal Deftones. Belum lama ini ia meninggal dunia karena koma setelah kecelakaan lalu lintas yang dialaminya kurang lebih 3 tahun yang lalu. “That’s the fucking greatest thing that I’ve ever saw in my life, thank you, Bandung”, ujar Chino dalam sela – sela set.

Kurang lebih 15 lagu dibawakan dan Deftones satu – persatu meninggalkan panggung. Ini waktunya menanti encore sang idola. Dan benar, mereka menggeber 4 lagu lagi, salah satunya single mereka yang paling dikenal “Engine no.9”. Semua berlompatan sepanjang encore.

Sungguh konser itu merupakan konser yang baik. Masalah sound dirasa no big deal . Lautan manusia dengan kaos Deftones, baju hitam, maupun berbagai varian ‘chino moreno model kw’ yang memenuhi The Venue terpuaskan oleh penampilan 19 lagu idolanya. Euforia dan atmosfir konser mengena waktu itu.

Untuk band pembuka, terlihat bermain sedikit buru – buru. Rumor mengatakan bahwa hal ini disebabkan jadwal checksound Deftones  yang molor. Mereka seolah tidak terlalu ambil pusing masalah seperti bocornya setlist dan hal – hal lain. But hey, they’re the men, mungkin saja mereka ingin lebih menikmati kota Bandung.

Meskipun seperti itu, Deftones menaruh respect terhadap kedua band pembuka. Tampak Abe Cunningham dengan crew sesekali lewat di belakang panggung melihat penampilan Killed By Butterfly sambil menggoyangkan kepala. Bahkan Sergio Vega sempat di dalam kerumunan penonton saat Burgerkill memanaskan panggung.

Sekarang waktunya untuk ‘feel like more’ untuk menjalani hari – hari seperti biasa setelah puas dengan Chino cs. Viva la Deftones.

Setlist:

  1. Diamond Eyes
  2. Rocket Skates
  3. Be Quiet And Drive (Far Away)
  4. My Own Summer (Shove It)
  5. Lhabia
  6. Knife Party
  7. Rosemary
  8. Poltergeist
  9. Tempest
  10. Swerve City
  11. Feiticeira
  12. Digital Bath
  13. Elite
  14. Change (In The House Of Flies
  15. Bloody Cape
  16. Bored
  17. Root
  18. Engine No.9
  19. Swords

Text by: Wafiq Giotama 

Photos by: Nuri Arunbiarti

(Visited 156 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment