Dental Project 2015: Malamnya Pop Jazz

IMG_3079

Foto: Agung Wilis Yudha Baskoro

Dental Project tahun ini digelar di Gedung Grha Sabha Permana Universitas Gadjah Mada. Tepatnya pada 10 April 2015. Antusiasme orang-orang terhadap acara ini pun rasanya cukup tinggi. Tampak dari panjangnya antrian penukaran tiket meskipun acara masih akan dimulai setengah jam kemudian. Bahkan sampai ada orang yang mencalokan tiket tersebut di luar ruangan penukaran tiket.

Orang-orang yang hadir malam itu terdiri dari berbagai golongan usia. Tua dan muda semuanya melebur menjadi satu. Ada yang masih kuliah, sekolah, bahkan beberapa sudah agak berumur atau bahkan baru saja pulang kerja yang dapat terlihat dari setelan pakaiannya.

Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak kuliahan yang datang bersama kekasihnya berduaan saja mengingat line-up penampil malam itu memiliki lagu-lagu yang syahdu dan manis. Pemandangan orang pacaran pun menjadi sesuatu yang umum untuk disaksikan di venue  malam itu. Sementara itu, tidak sedikit penonton yang datang bergerombol dengan teman-teman sepermainannya yang seolah tampak seperti groupies dari penampil yang akan beraksi malam itu.

Memang acara mulai sedikit terlambat, kurang lebih sekitar 30 menit. Beruntung hal itu dapat dimaafkan oleh penampilan memukau dari kelompok Paduan Suara Mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Tidak ingin melupakan budaya daerah, panitia juga menyuguhkan penampilan tari Saman dari Saman Incisa, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada.

Alit-alit Jabang Bayi bersama tandemnya yang didapuk menjadi pembawa acara malam itu berhasil membuat penonton yang hadir tertawa terbahak-bahak lewat banyolannya sehingga penonton juga tidak menjadi bosan. Ia tak lupa memanggil ketua panitia untuk memberikan kesan pesan terhadap acara ini. Ketua panitia pun menyampaikan bahwa Dental project tahun ini membawa mengangkat isu tentang Stomatitis atau sariawan karena hal itu sering kurang diperhatikan oleh masyarakat dan sering dianggap sepele yang sebetulnya kadang-kadang hal itu juga bisa dianggap berbahaya bagi kesehatan. Kalau tidak beruntung dapat berujung pada penyakit seperti kanker. Melalui acara ini, panitia ingin mengajak penonton untuk menjadi lebih perhatian terhadap perkara sariawan agar setidaknya dapat melakukan pencegahan supaya tidak memperoleh hal-hal yang tidak diinginkan.

Setelah pesan singkat dari Gaby selaku ketua panitia, acara dilanjutkan lagi dengan penampilan dari band-band seperti yang ada line-up. Penampil selanjutnya adalah Page Five yang membawakan dua buah lagu bergaya jazz tetapi juga sedikit pop sehingga masih mudah diterima penonton yang tidak akrab dengan jazz. Berikutnya masih ada Tik Tok! yang agak bernuansa folk, trio itu memanjakan telinga penonton dengan suara lembut nan merdu dari ketiganya yang saling berpadu. Kemudian, giliran Batiga yang selanjutnya memperdaya penonton dengan lagu-lagu galau andalan beberbahasa Indonesia, tetapi juga tak lupa untuk membawakan lagu buatan mereka sendiri.

Lanjut, Raisa yang sudah ditunggu-tunggu muncul ke hadapan penonton. Sekali ia menyapa langsung bersambut baik dengan teriakan girang dari penonton yang melihat artis idolanya itu. Suasana yang tercipta begitu hangat malam itu karena penonton selalu ikut Raisa menyanyi, sampai-sampai ia tersanjung dan menyatakan bahwa penonton di Jogja adalah penonton impian. Tidak jauh berbeda dengan RAN yang sungguh atraktif dan interaktif lewat kembang api yang menyembur di beberapa lagunya serta aksinya untuk mengajak seorang penonton naik ke panggung. Kebetulan penonton itu adalah seorang gadis yang jelas saja membuat gadis-gadis lain, karena sontak penonton lainnya berteriak histeris ketika gadis itu dipeluk oleh personil RAN.

Nuansa pop-jazz malam itu sungguh kental. Bila ditarik garis merah, hampir setiap penampil ternyata mempunyai unsur pop-jazz di musiknya lewat lagu-lagu yang easy-listening dan catchy sehingga mudah untuk dinyanyikan bersama-sama pula. Bisa jadi malam itu adalah malamnya pop-jazz karena didominasi oleh penampil yang lagu-lagunya memiliki nada yang jazzy namun tidak terlalu berat dan rumit permainannya. Penonton yang tidak akrab dengan musik jazz pun bisa ikut melebur dalam pertunjukan lewat gerakan badan yang jarang-jarang mengikuti irama musik dari sang penampil.(Nn)

(Visited 82 times, 1 visits today)

Author: Komang Adhyatma

Share This Post On

Submit a Comment