Deugalih & Folks – Anak Sungai

deugalih-750x400

Dua tahun terakhir nampaknya menjadi masa emas untuk band folk-akustik di skena musik independen Indonesia, sudah tidak terhitung lagi berapa banyak band baru yang membawakan jenis musik ini, salah satunya adalah band asal kota Bandung, Deugalih & Folks.

Band ini KANALTIGAPULUH temukan secara tidak sengaja, saat pada awal tahun 2015 kemarin kami mendapat undangan khusus untuk menghadiri sebuah festival musik di salah satu pegunungan yang ada di Pangalengan, Bandung. Setelah melihat penampilan mereka diatas panggung, redaksi memutuskan untuk membeli album terbaru mereka ‘Anak Sungai’, dimana album ini belum lama ini di launching di IFI, Bandung pada bulan Maret 2015 yang lalu.

Album ini dikemas secara simpel dengan balutan artwork cover yang digarap oleh Resatio dan dirilis oleh label Demajors. Album yang membawakan musik folk yang ceria ini sebenarnya tidak seceria musik yang mereka bawakan, meskipun dari 10 track yang ada didalamnya lebih banyak bertemakan mengenai alam dan anak-anak. Di dalam booklet yang dilampirkan di album ‘Anak Sungai’ ini dapat kita baca bahwa album ini dibuat untuk merespon Sungai Citarum di Bandung yang merupakan sungai terkotor dan terpolusi di dunia.

Anak Sungai      

Petikan gitar nylon yang jelas terdengar di awal lagu akan membawamu menuju perjalanan si Anak Sungai. Lirik yang dipersembahkan untuk seseorang bernama Yadi ini terinspirasi dari cerita The Adventures of Huckelberry Finn karya Mark Twain.

Di Bawah Bendera

Lagu ini menceritakan mengenai sungai terkotor di dunia, namun tetap dibawakan dengan pembawaan yang ceria dengan kombinasi suara banjo, mandolin dan tin whistle.

Bunga Lumpur

Lagu yang paling beda di antara lagu yang lain. Lagu ini lebih menaikkan unsur gypsyfolk yang terdengar classy dan singable. Tidak salah Deugalih & Folks menyimpan Bunga Lumpur sebagai single pertama. Lagu ini memang enerjik.

Minggu Pagi

Salah satu lagu yang akan mengajakmu untuk sedikit bersenandung dan bergumam. Jika kamu bukan orang yang pemalu, mungkin kamu akan bernyanyi dan memutar ulang lagu ini. Sangat cocok didengarkan sesuai dengan judul lagunya: saat minggu pagi.

Buat Gadis Rasid

Untuk lagu ini sedikit lebih bagus saat Deugalih & Folks membawakan dalam versi live, dimana lagu ini sebenarnya adalah musikalisasi puisi dari Chairil Anwar.

Ilalang

Lagu ini sangat menenangkan karena lebih di dominasi oleh instrumen musik daripada lirik, dan menceritakan tentang sawah dan bocah-bocah pedesaan di Indramayu, Jawa Barat.

Heyya Kid

Rasus “Ono” Budhoyono, sang peniup tin whistle adalah penulis lagu ini, dimana ke sembilan lagu yang ada di album ini ditulis oleh Galih. Lagu ini dibuat untuk anak bungsu Rasus.

When No One Sing This Song

Lagu ini menceritakan tentang kegelisahan Galih akan perang di Timur Tengah, tema seperti ini banyak diangkat oleh musisi folk era 70-80an seperti Bob Dylan.

Earth

Lagu pertama Galih yang dibuat tahun 1998. Lagu yang bercerita tentang diskriminasi etnis Tionghoa di Indramayu ini akan membawamu ke titik klimaks dari perjalanan ‘Anak Sungai‘. 

Becoming White

Lagu yang anti klimaks ini  bercerita tentang bagaimana semua orang ingin menjadi putih sebagai simbol kecantikan, dimana kecantikan itu sebenarnya tidak diukur berdasarkan penampilan fisik tetapi  dari aura-aura lain yang terpancar dari dalam diri.

Dengan memberikan rating bintang empat, redaksi KANALTIGAPULUH cukup merekomendasikan album ini untuk masuk ke daftar koleksi rilisan kamu di tahun 2015 ini. Banyak isu sosial yang dibawakan oleh Deugalih & Folks di album ini, dengan pembawaan musik yang berbeda-beda juga antara satu lagu dengan yang lainnya. (KA)

 

Author: Komang Adhyatma

Share This Post On

1 Comment

  1. izin copas agan 😀

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *