Dinda Advena, Young Indonesian Photographer

10598601_352159928292270_1425204625_n

Sejak kapan kamu mulai menggeluti dunia fotografi?

Sekitar tahun 2006-2007.

Apa yang membuat kamu memilih untuk menekuni fotografi, apakah kamu ada latar belakang pendidikan formal di bidang tersebut?

Sebenarnya saya lulusan desain grafis, jadi belajar fotografi otodidak saja. Awalnya suka, lalu jadi hobi, kemudian sekarang jadi pekerjaan. Namun tetap masih sering motret atas dasar kepuasan pribadi. Buat saya itu penting, karena kalau tidak, nanti akan kehilangan gairahnya.

Diluar memotret, keseharian kamu disibukkan dengan apa?

Saya suka sekali traveling, sembari jalan-jalan saya juga suka foto landscape. Selain rajin posting di instagram sembari jualan, hasil fotonya saya print di kertas atau pun di kain lalu dibikin jadi barang-barang craft untuk dijual. Kadang pula hasil foto itu dibeli untuk keperluan desain kaos band atau sampul album/vinyl band. Aktifitas di luar fotografi, saya masih sering membantu dan organize acara musik (band), atau kegiatan DIY lainnya sama temen-temen. Kalau keseharian di rumah paling masak, download film thriller/slasher terus nonton sampai subuh.

Selain berupa foto, karya-karya apa yang sering kamu hasilkan?

Seperti yang baru aja saya singgung di atas, barang-barang craft yang saya hasilkan bisa berupa kartu pos, notebook, tote bag, atau pouch. Masih ada ide-ide lainnya, cuma kebetulan belum sempat produksi lagi. Beberapa bulan lalu baru saja menyelsaikan program residensi “Youth of Today” selama kurang lebih dua bulan di tempat kolektif seniman MES56 di Jogja, kemudian pameran di tempat yang sama bulan Juli lalu. Tapi kemarin mencoba bikin karya sedikit keluar jalur dari fotografi, jadi saya membuat proyek seni instalasi dengan perpaduan foto yang bergerak (video) dengan eksplorasi suara, ruangan, dan suasana.

Diluar proyek-proyek foto personal, kamu juga sering mendokumentasikan suatu pertunjukan musik, dalam ranah HC/Punk khususnya. Apa yang membuat kamu tertarik untuk mendokumentasikan pertunjukan musik di scene tersebut?

Awalnya saya mengenal, tertarik, dan jatuh cinta.. lalu kemudian menceburkan diri di komunitas hardcore punk, karena saya merasa disitulah tempat saya untuk menghabiskan waktu, senang-senang, dan berbagi. Ditambah dengan hobi fotografi, awalnya iseng memotret panggung, suasana, dan teman-teman untuk sekedar jadi dokumentasi pribadi saja. Ternyata banyak teman yang suka dengan hasil foto saya, jadinya ya keterusan deh… Saya juga berpikir dokumentasi foto itu penting, apalagi di komunitas minor tersebut yang dulu jarang sekali ada dokumentasinya. Ini juga salah satu cara saya untuk ‘menyumbang’ di komunitas tersebut, supaya tetap hidup.

Bisa diceritain gak gimana tuh kamu kok bisa mendokumentasikan proses recording session Tika & The Dissidents?

Kebetulan saya dan Tika cukup dekat, pas lagi ngobrol tiba-tiba saja dia meminta saya untuk mendokumentasikan proses rekaman tersebut. Tanpa pikir panjang, langsung saya iya-kan, eh malah ikutan juga seru-seruan jadi backing vocal di salah satu lagunya. Haha.

Semisal kamu mendapat tawaran untuk membuat buku fotografi tentang dokumentasi foto suatu band, band apa yang ingin kamu angkat di dalam buku kamu? Bisa dijelasin juga alasannya?   

Sebenarnya sempat ada rencana untuk membuat buku dokumentasi foto dan cerita-cerita dibalik kegiatan touring band. Waktu itu ada rencana ingin mengangkat band Milisi Kecoa dari Bandung, karena pada saat itu mereka sangat aktif tur dalam kota – luar kota – dan luar negeri, kebetulan juga saya sering ikut tur dengan mereka. Banyak yang bisa diceritakan selama perjalanan itu, karena bukan melulu tentang ngeband saja. Selain itu saya juga punya rencana untuk bikin buku fotografi pribadi tentang punk dan lansekap di Indonesia, tapi selain ngumpulin niat, juga masih dalam proses ngumpulin dana. Mungkin ada yang tertarik untuk bantu menerbitkan?

Proyek pameran dalam waktu dekat?

Ada beberapa rencana, tapi masih tentatif. Nanti saja kalau sudah pasti baru diumbar, hehe.

Sangat jarang ada fotografer perempuan yang mendokumentasikan pertunjukan panggung dan scene seperti kamu, ada pesan-pesan gak buat anak muda kreatif di Indonesia?

Wah apa ya, bingung hehe. Teruslah berjiwa muda dan gali ide seliar mungkin, semangat jangan sampai padam. Trus jangan lupa olah raga dan kurangi makan gorengan. Eh, serius lho!

Kalimat terakhir, ada pesan untuk menutup interview ini?

Terima kasih banyak ya! Kalau ada yang penasaran sama hasil karya saya, atau mau ngobrol-ngobrol, monggo mampir di www.dindaadvena.blogspot.com dan akun instagram @dailyrats. Terima kasih 🙂

(Visited 385 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment