Down for Life Merilis 7” Vinyl Hari Ini!

4 tahun yang lalu down for life merilis album Himne Perang Akhir Pekan dalam format cd oleh Sepsis Records/demajors. Album kedua yang menjadi tonggak perjalanan bermusik unit metalcore asal Solo tersebut dirilis untuk menambah hingar bingar ranah musik keras maupun industri musik Indonesia secara luas. Dengan berbagai tanggapan positif seperti masuk dalam nominasi AMI Awards tahun 2014, 10 Album Indonesia Terbaik versi Majalah Tempo, 20 Album Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia dan lainnya, album tersebut merupakan sebuah capaian dan sekaligus juga sebuah tantangan untuk down for life, yang sekarang digawangi Stephanus Adjie (vokal), Ahmad ‘Jojo’ Ashar (bas), Rio Baskara (gitar), Isa Mahendrajati (gitar), dan Muhammad ‘Abdul’ Latief (dram), untuk menghasilkan karya berikutnya.

Demajors menyambut gelaran Records Store Day 2017 dengan merilis beberapa album dan mini album dalam format piringan hitam dari beberapa artis Indonesia, salah satunya down for life. Mini album yang bertitel Menantang Langit ini berisi 2 lagu yang belum pernah dirilis baik secara fisik maupun digital. Kedua materi lagu ini sebenarnya sudah digarap pada April 2014 di Studio Kua Etnika Padepokan Seni Bagong Kussudiardja Yogyakarta, untuk proyek bersama Digibeat. Tapi belum terealisasikan sampai kemudian demajors tertarik untuk merilisnya dalam format piringan hitam. Diproduseri oleh Eko Pakting, yang sebelumnya juga bertindak sebagai produser di Himne Akhir Pekan dan dioperatori oleh Andreas Oki Gembus, “donat” ini juga melibatkan beberapa musisi tamu. Lagu “Liturgi Penyesatan”, yang merupakan salah satu single di album Himne Perang Akhir Pekan, diaransemen ulang dalam versi akustik oleh down for life bersama Bagus Tri Wahyu Utomo, seorang musisi dan komposer dari Solo. Versi asli yang penuh distorsi digubah menjadi lebih melodius dengan memadukan suara gitar akustik. Isian string section dan paduan suara tidak membuat lagu ini melemah dari segi atmosfer dan nuansanya namun justru menjadi semakin gelap nan mencekam sesuai dengan liriknya. Dalam lagu ini pula, down for life untuk pertama kalinya merekam dan merilis lagu dalam versi akustik. Rio dan Isa, meninggalkan raungan distorsi gitar mereka dan mengharmonisasi gitar akustik dengan paduan gesekan biola oleh Bagus Tri Wahyu Utomo dan sayatan cello oleh Julius Giri Haryanto. Demikian juga Adjie ditantang untuk menyanyikan liriknya secara berbeda dibantu paduan suara oleh Tommy dan teman-teman dari Komunitas Jazz Yogyakarta. Kombinasi yang sangat menarik dan mengejutkan dalam ranah musik keras di Indonesia. Satu lagu lagi adalah “Kerangka Langit” milik band rock legendaris dari Solo, Kaisar. Ini adalah bentuk penghormatan down for life untuk Kaisar dan kancah musik keras di Solo serta seluruh Indonesia. Lagu rock yang terkenal pada era akhir 80-an ini diaransemen menjadi lebih kasar dan ugal-ugalan oleh down for life dengan menghadirkan vokalis tamu, Rezzanov dari GRIBS, tanpa menghilangkan aura megah dari lagu aslinya. Kedua lagu tersebut dipilih karena temanya masih sangat relevan dengan kehidupan saat ini. Sementara sampul album juga dikonsep sesuai tema kedua lagu tersebut. Ide oleh Adjie, kemudian diilustrasikan oleh Akmal Abdurrahman, dan eksekusi foto sampul oleh Tebby Wibowo.

Mini album down for life Menantang Langit dirilis hari ini dalam format 7” vinyl. Sebuah album dimana down for life melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya, yaitu bermain akustik dan mengaransemen ulang lagu band lain. Album ini akan dirilis dalam 2 edisi yaitu edisi bundling terbatas hanya 50 pcs, seharga Rp. 250.000,-. Berisi piringan hitam, t-shirt edisi khusus dari Merchcons dan korek gas dari Tokai, dan edisi biasa yang juga dibuat terbatas hanya 150 pcs.

 

(Visited 27 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment