EDITORIAL: Musik Indonesia Di Tahun 2014

Tahun 2014 akan ditinggalkan dalam hitungan jari. Memasuki tahun berikutnya yang diharapkan sudah tidak ada lagi kalimat “folbek ea kakak”, atau hal semacam “hai follow akun @ayosemangat ya, banyak twit motivasi disana”. Urusan media sosial setidaknya cukup Otong Koil saja yang menulis dengan “capa ne cantek”-nya sebagai penegasan ketika ada perempuan yang layak di “capa ne cantek”-kan oleh Otong sebagai sebuah hiburan visual lewat avatar twitter. Semoga saja. Amin.

2014 akan diingat dengan tahunnya politik. Setidaknya bagi orang Indonesia yang beberapa bulan belakangan di tahun 2014 ini menjadi kubu-kubu yang berseberangan dalam hal memilih sang pemimpin negara. On the right side, left side, dan berbagi hal yang kemudian dimunculkan ke permukaan, termasuk tentang musik, baik itu yang pro maupun yang kontra dengan wacana pemilu presiden tresebut. Namun anggaplah jika politik itu selalu dipenuhi intrik yang licik dan harus segera di skip, untuk kemudian beralih pada bahasan tentang musik di sepanjang tahun 2014 ini. Seperti tentang album musik sampai fenomena lagu “Sakitnya Tuh Disini”.(AWP)

ALBUM MUSIK

rcsupply

Berbicara tentang album musik, ditahun 2014 ini agaknya telah menjadi milik penyanyi Tulus lewat albumnya “Gajah”. Dengan penjualan album yang laris manis, seringnya diputar di radio, media streaming, sampai di Mp3 player murah di banyak telinga anak muda sampai orang tua, dari anak “indie” sampai anak “inbox”. Semua bersenandung lagu yang sama, ketika banyak diantara mereka menyanyikan lirik lagu “Sepatu” atau “Jangan Cinta Aku Apa Adanya” milik Tulus. Singkatnya, Tulus menjadi fenomena tersendiri di tahun 2014 ini. Pembawaannya yang santai dengan musik dan lirik yang baik menjadikannya mudah muncul ke permukaan (rules : yang akan naik itu adalah yang lagunya bagus banget, atau yang lagunya jelek banget). Untuk hal ini saya sulit untuk menolak Tulus dengan lagu-lagunya yang bagus.

Selain fenomena album “Gajah” milik Tulus, tahun 2014 juga menjadi tahunnya rilis ulang album fisik ke dalam bentuk piringan hitam/vinyl. Dari mulai Mocca, Burgerkill, Seringai, sampai The Upstairs turut meramaikan fenomena rilis ulang album lama mereka ke dalam bentuk vinyl ini. Pernah jadi bahan pembicaraan beberapa tahun silam dengan karyanya dalam bentuk album, para musisi tadi merasa perlu merilis ulang albumnya sebagai bentuk artefak sejarah, jika pernah ada album musik yang menjadi tolak ukur musik metal di Indonesia lewat album “Beyond Coma and Despair” milik Burgerkill, terlahirnya tarian kejang-kejang lewat album “Matraman”-nya The Upstairs, atau ketika Bob Tutupoli bersenandung swing lewat album “Friends” dari Mocca. Generasi sekarang mesti tahu, atau setidaknya bagi generasi yang ada pada era album itu menjadi sedikit bernostalgia lewat album yang dirilis ulang itu. Apalagi kemudian menjadi dimanjakan dengan kualitas suara yang lebih baik dalam format vinyl.

NETLABEL

Netlabels_cc-Logo_thumb

Indonesian Netlabel Union menggelar gelarannya yang kedua bertajuk “INDONESIAN NETAUDIO FESTIVAL#2 di Bandung pada November 2014 kemarin. Menjadi menarik ketika kemudian wacana ini berlanjut pada pembahasan tentang perlu tidaknya, untung ruginya jika merilis musik lewat jalur netlabel ini. Dalam culture file sharing yang sebenarnya sudah dimulai sejak era mixtape jaman kaset tape dulu, berbagi musik adalah satu hal yang menyenangkan dalam hal berbagi pengetahuan tentang musik. Memasuki era yang lebih mudah dalam dunia dalam digital, budaya file sharing ini masih bertahan, kali ini dengan nama netlabel. Polemik kemudian muncul ketika berbagai ragam musik yang dibagi lewat netlabel ini atas nama perilisan album (mini labum, album kompilasi), yang biasanya akan diteruskan dengan pembicaraan tentang keuntungan berupa royalti lagu dalam sebuah album.

Netlabel tidak memberikan royalti itu, selain keuntungan yang bisa didapat adalah nama yang muncul ke permukaan dan mulai dikenal bnayak orang. Dari mulai Frau sampai Semak Belukar menjadi contoh kongkrit dari keuntungan bagaimana sebuah netlabel berjasa melahirkan “Starlit Carousel” sampai “Drohaka”, yang jika dijual dalam bentuk konvensional berupa album fisik pun sulit untuk kita menentukan harga album sebagus itu.

Wacana tetang netlabel ini kemudian menjadi “memanas” ketika salah seorang pembicara mengatakan jika netlabel adalah sebuah kesalahan atau dengan bahasa yang lebih kasarnya menjadi sebuah “oxymoron”, dengan orientasi musik yang menjual. Spirit berbagi musik menjadi disalah artikan dengan mindset money oriented. Sampai pada akhirnya menjadi polemik ketika si musisi ada di satu kalimat untuk apa mereka bermusik? Untuk jualan atau berbagi karya? Menjadi realistis atau menjadi naif?

ICEMA

efb98c0c05d9edb3afbfba7aeb3ba1aa_400x400

Ajang penghargaan Indonesia Cutting Edge Music Award kembali digelar di tahun 2014 ini. Digelaran yang ketiganya ini  (2010, 2012, 2014) ICEMA 2014 agak mengecewakan karena batal diselenggarakan. Pengumuman pemenang hanya diberi tahu lewat twitter dan websitenya saja. Bahkan seorang teman dengan nada becandanya berkata “itu buat pemenang apa pialanya dikirim lewat email ya? Trus di download gitu”. Sebuah candaan yang lucu buat saya, tapi tentunya tidak buat panitia penyelenggaranya.

Ada sebagai sebagai antitesis ajang penghargaan musik semisal AMI (Anugerah Musik Indonesia), yang kadung tercitrakan prestisius dengan gelaran-gelarannya yang selalu terbilang “wah”, namun selalu miskin isinya. Bagaimana tidak? Dengan calon pemenang yang mudah ditebak, progres musik yang itu-itu saja, yang terasa dikerjakan dengan setengah hati. Contoh kecilnya seperti ketika AMI tidak bisa membedakan genre Punk dan Funk, dengan memasukan Tor yang notabene-nya memainkan musik funk kedalam kategori Punk. Kecil memang, tapi untuk ajang prestisius sebesar AMI itu menjadi nila setitik (rusak susu sebelahnya?) yang menunjukan kesiapan yang setengah-setengah.

Kembali ke ICEMA. Sebagai sebuah pergerakan (katakanlah seperti itu) atas nama perubahan, ICEMA diharapkan bisa memberikan sesuatu yang baru, berisi dan punya nilai lebih. Apalagi dengan menambahkan kata “Cutting Edge” didalamnya. Ekspektasi berlebihan mungkin akan ditujukan untuk ajang penghargaan ini. Dan ketika ICEMA pada akhirnya sedikit kewalahan dengan batal terselenggaranya kemarin, mungkin kita pada akhirnya menyadari jika penghargaan paling tinggi bagi seorang musisi adalah tidak dalam bentuk piala, namun dengan apresiasi dari karya yang mereka buat. Bisa dengan membeli albumnya atau menonton konsernya. Tanyakan saja pada David Hersya sang frotman dari Semak Belukar bagaimana komentarnya ketika grupnya dianugerahi album terbaik oleh ICEMA.

SAKITNYA TUH DISINI

cita-citata

Masuk ke belantika musik lokal masih saja seperti itu-itu saja. Sepertinya anjuran untuk “dont make stupid people famous” itu tidak digubris oleh banyak media yang doyan bener ngeblow up hal yang tidak penting. Semisal lagu-lagu dan gimmick yang ditampilkan Syahrini contohnya. Lagu-lagu asal jadi yang dinilai menghibur niscaya akan dengan mudah muncul ke permukaan dan menjadi perbincangan dimana-mana. Pada akhirnya kita yang tidak menyukainya pun menjadi terdoktrin dengan tanpa sadar menyanyikannya. Seperti lagu “Sakitnya Tuh Disini” milik Cita Citata, yang di 2014 ini menjadi fenomena tersendiri ditengah anak baru hipster yang pamer #nowplaying hampir tiap menitnya di path dan twitter.

Tema tentang kegalauan cinta ala remaja sepertinya memang tidak pernah gagal untuk menciptakan pasarnya sendiri. Termasuk tentang lagu ini. Lagu yang secara lirik bercerita tentang dikhianati pasangan ini, tidak diindahkan sang penata musik dengan membiarkan musiknya bertolak belakang dengan isi lirik. Asal enak dibuat goyang dengan menangkap lirik asal jadi dan gimmick yang mengikuti lirik (seperti ketika pada lirik “sakitnya tuh disini” dengan meletakan tangan di dada). Satu resep sakti untuk dapat dengan mudah muncul ke permukaan. Lalu kelanjutan ceritanya seperti apa akan mudah ditebak, “easy come easy go”.

2014 adalah tahun dimana piala dunia sepak bola tidak lebih menarik dari debat pasangan calon presiden, dimana musik tidak lebih menarik dari intrik politik, dimana politik tidak lebih menarik dari gimmick sakitnya tuh disini tadi. Tahun 2014 adalah tahun yang mematahkan jika ramalan suku maya tentang kiamat di tahun 2012 adalah bohong belaka. Telah hidup dua tahun setelahnya, mendapati kenyataan masih bisa bernafas, mendengarkan musik, sedikit menulis resensi musik dan bermain musik sudah cukup. Kalau kata Friedrich Nietzsche sih “hidup tanpa musik adalah sebuah kesalahan”, yang diamini dengan pernyataan “hidup dengan senyum Chelsea Islan adalah sebuah kebenaran”.

 

 

 

(Visited 281 times, 1 visits today)
Share This Post On

Submit a Comment