Efek Rumah Kaca dan Creative Commons Kita

ClY2eyNUoAAdN-H

Ada banyak cara bagi Anda untuk menemukan ERK, menyelami lirik dan nada, mengoleksi musiknya lalu jatuh cinta kepadanya.

Ia bisa saja menghampiri Anda dengan cara tak terduga. Entah rekomendasi kawan lama yang tahunan tak jumpa, disetel sayup-sayup saat sore-sore ngobrol politik di kantor teman, atau petikan reffrainnya yang diposting mantan.

Tak menutup kemungkinan juga Anda baru ‘menemukannya’ setelah membaca catatan ini, bergabung bersama banyak persinggungan lain yang telah menemukannya lebih dulu: pecinta musik, kolektor, ibu rumah tangga, abg labil, musisi sejawat, aktivis NGO, sampai pemuda gabut seperti saya.

Bogor tahun 2008 adalah momen gabut dan jatuh cinta pertama saya pada ERK, setelah tuntas deadline redaksi melawan deru AC, hujan seharian dan kantuk tak tertahan; menelusuri kanal-kanal blog mencari bahan bacaan adalah usaha terbaik satu-satunya.

Yang saya ingat, saya baru saja selesai mengunduh berkas PDF dari sebuah blog. PDF itu kumpulan artikel yang aslinya difotokopi lalu disebar gerilya ke berbagai gigs di Jakarta. Tak hanya diberikan link unduh softcopynya cuma-cuma, ia bahkan disertakan cara untuk mencetaknya di kertas HVS sambil disarankan untuk disebarkan ulang ke teman lainnya.

Judul berkas PDF itu ‘Di Udara’ namanya, kumpulan artikel yang dibuat khusus untuk mengulas satu band pujaan trio pop minimalis asal Jakarta yang baru punya satu album: Efek Rumah Kaca.

Nama Di Udara sendiri diambil dari salah satu lagu ERK tentang Munir Said Thalib yang meninggal dalam perjalanan pesawat jurusan ke Amsterdam, 7 September 2004 pada umur 39 tahun. Dua bulan setelah kematiannya, penyidik menemukan jejak-jejak senyawa arsenikum di tubuh Munir. SBY sempat membuat tim investigasi independen, namun hasil penyelidikannya tidak pernah diterbitkan ke publik sampai hari ini. Indonesia tidak tahu persisnya apa yang terjadi dengan Munir di udara saat itu. Yang jelas kematiannya memicu gelombang baru kesadaran pemuda di Indonesia tentang kondisi sosial politik negaranya. Sebagian lagi melawan dengan tagar #menolaklupa untuk banyak kasus pembunuhan serupa dan penghilangan paksa yang ditutup-tutupi rezim.

Kembali ke ERK, dulu saya pikir hebat betul ada band lokal seperti ini, baru merilis debut album sudah dibuatkan kumpulan artikel khusus oleh penggemar yang merangkap awak redaksi. Di sanalah saya menemukan tulisan-tulisan segar Zelva, Deva dan Nando, sosok virtual yang dulu hanya saya kenal sebatas di multiply dan Yahoo Messenger.

Menjalankan fanzine karena kecintaan, tiga fans garis depan ini mungkin tak menduga ERK bakal menjadi sebesar sekarang, baik nama dan karyanya. Meski hanya terbit beberapa edisi saja, Di Udara jelas memicu ERK menjadi sassus dan omongan dimana-mana tentangnya, terlebih bagi saya dan lingkaran pertemanan saya di Bogor yang notabene jauh dari riuhnya skena Jakarta, begitu juga mungkin di kota dan provinsi lain.

Di kesempatan lain pada tahun yang sama, ERK juga menghampiri saya dengan cara unik. Tepatnya lewat track paling bontot di album soundtrack horor fiksi ‘Maujud’ racikan Adit Bujbunen Al Buse. Lagu Di Udara milik ERK, dipermak habis-habisan dan diberi identitas lain: Somno Disturbia – Eulogi Arsenikum. Lewat tangan dinginnya, Adit (yang juga rekan sejawat Zelva dan kemudian membentuk Rebelzine) menggabungkan elektronika, post-rock dan noise dengan footage insert berbagai rekaman pemberitaan TV/ Radio nasional dan internasional tentang Munir.

Album itu kemudian dirilis bebas unduh pada akhir 2008 oleh Yes No Wave (netlabel kawakan asal Jogja yang tertib menggunakan lisensi Creative Commons) dan mengantarkan saya pada pemahaman baru tentang ERK, budaya bebas di ranah musik, dan kultur Internet yang tak lagi repot dengan urusan copyright. Bagi generasi ini, karya tidak hadir murni karena kehebatan seseorang individu atau seniman, tapi sebagai turunan dari gagasan karya lain yang berjalin kelindan dalam suatu proses kreativitas tanpa akhir.

Cholil Mahmud, frontman ERK dalam satu wawancara juga sempat menyatakan betapa dirinya berhutang banyak pada Internet; jagad maya ini adalah ruang belajar dengan sumber yang tak ada habisnya: e-book, mp3 file, dan video yang kelak memberi pengaruh besar ketika ia menciptakan lagu. Hal itu juga yang membuat ERK sampai hari konsisten menjadikan website resminya sebagai repositori musik yang bisa diakses dan diunduh gratis oleh siapapun.

Mungkin bagi Cholil, apa yang sudah ia dan ERK dapat dari publik internet, kini mereka kembalikan lagi ke publik dalam wujud karya.

Maka alih-alih mempopulerkan kebiasan bajak-membajak, dukungan ERK tehadap kultur music sharing di Indonesia adalah upaya berbagi musik sebagai pengetahuan terbuka, dan karenanya perlu diapresiasi.#tribute2ERK adalah salah satu cara kita bersama untuk meresponnya balik lewat proses kreativitas kolektif bagi karya-karya ERK di hidup tengah publik. Semoga ia juga menjadi nafas baru baginya kemarin, besok dan lusa. (Pry S., founder Ripstore.Asia)

Pengantar Redaksi: Naskah ini merupakan bagian dari sindikasi #tribute2ERK inisiasi Ripstore.Asia dan Creative Commons Indonesia bersama Kanal Tigapuluh, Disorder Zine, Surnalisme, Ronascent, Jakartabeat dan Revius

 

(Visited 124 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment