Epilog, Hingar Bingar dan Korek Api dari Becuz

Camera 360

Camera 360epilog-wujud-cinta-becuz-pada-seattle-s-f04a67

Perkenalan saya dengan Becuz bermula dari bincang-bincang kecil bersama salah satu personelnya, Hangga Rachman di pertengahan 2013. Waktu itu tidak sengaja kami berbagi meja di sudut Legipait yang riuh sesak. Saya sempat mencuri dengar obrolannya bersama teman tentang artwork hingga packaging unik, rupanya ada misi yang tersirat: mereka berniat rilis album. Ajaibnya, Mas Hangga berbaik hati mengijinkan saya mendengar salah satu track dari album pertamanya nanti. Musiknya bising, macho tapi sarat tragedi. Nama bandnya Becuz, saya pernah baca sedikit tentang mereka di arsip digital Legipait  dan sejak malam itu saya menanti full version rilisan mereka. Tak sabar.

Saya dan Becuz bertemu lagi pada pertengahan November 2013 di studio musik Osithok. Mereka didaulat sebagai bintang tamu program “Hingar Bingar” yang dieksekusi oleh Kanaltigapuluh online radio. Ketika band lain sibuk gigs sana-sini, menciptakan dua tiga lagu, heboh merchandise, kemudian raib begitu saja ditelan entah, Becuz justru telaten mendokumentasikan proses kreatif mereka dalam sebuah tajuk: Epilog. Becuz ternyata ‘serius’ dan benar-benar merilis album. Malam itu, secara resmi mereka membebas-dengarkan sembilan track yang ada di album Epilog. Kemudian tampil live dengan energi maksimal yang disiarkan langsung oleh Kanaltigapuluh.

Seperti namanya, booklet Epilog disajikan dari belakang yang mengingatkan saya pada Al-Qur’an, komik Jepang dan Madilog karya Tan Malaka yang mulanya membingungkan namun cenderung adiktif. Box set tak hanya berisi kepingan CD dan booklet, namun juga dua stiker dan sekotak korek api kayu. Apa-apaan ini? Kesan pertama saya, Epilog dikhususkan untuk para perokok konvensional yang menemukan sensasi puas ketika menyaksikan percikan api yang tercipta dari sebuah gesekan fosfor. Hingga tiba-tiba kamar kos saya mati lampu dan voila! Korek api kayu dari Becuz berguna memberi penerangan. Saya mengaitkannya dengan tagline klasik dari RA. Kartini ‘habis gelap terbitlah terang’. Seolah Becuz ingin memberi penanda atas kebangkitan mereka dari mati suri yang cukup lama, tujuh tahun. Seperti yang tertulis pada kemasan korek: Suatu saat aku akan mengerti arti gelap yang sesungguhnya.

Oke lupakan korek api dan mari melangkah menuju Epilog yang dibuka dengan ‘Ambigu’. Meski musik dan liriknya cenderung berat dan resah, namun ada unsur kekanakan yang bersumber dari suara mainan senjata laser anak kecil di lagu ini. Jenius! Senada dengan artwork tematik Rio Krisma yang mewakili keseluruhan album Epilog.
Track kedua yang berjudul ‘Sudut Diam’ diselimuti aura kemurungan dengan intro yang cukup panjang. Kemudian ‘Epilog Senja’ menyusul dengan ritme rock yang kental dan vokal Andin yang meronta. ‘Masif’ dan ‘Difusi’ hadir di track selanjutnya, bercerita tentang sepi dan waktu. Kemudian ‘Reliku’ menghardik dengan lirik tajam kepada mereka yang adiksi benda mati, menghamba kefanaan.

Saya tertipu mentah-mentah oleh intro ‘Titik Terluar’ yang mulanya kasar dan semaunya, karena nyatanya lagu ini cukup aman di telinga dan cocok menjadi teman minum teh di penghujung sore. Well said, meskipun artworknya tetap didominasi kemuraman yang satir, khas Rio Krisma.

Lalu Himne#1 hadir tanpa lirik, hanya erangan Andin yang bersahutan dengan gitar, bass dan ketukan drum bertempo cepat di klimaks lagu. Kemudian ‘Sounds Experience’ yang liar dan sangat grunge hadir sebagai penutup, direkam tahun 2006 dan saya menduga ini merupakan jejak pertama mereka di skena musik Malang.

Jangan harap menemukan senyum sumringah dan pose ajaib Andina Putri (vokal dan puisi), Hangga Rachman (gitar), Rusli Hatta (gitar), Ajie Ramadhianto (bass) dan Henry Setiawan (drum) di album yang hanya dicetak 100 buah ini. Sekali lagi mereka berhasil merebut atensi, mengemas seni musik yang cukup apik tanpa tendensi popularitas dan narsisme khas anak band pada umumnya.(Tn)

 

 

(Visited 137 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment