Festival Film Dokumenter 2017 ‘Post-Truth’ Resmi Digelar

Mengusung Post-Truth sebagai tema utama festival melalui program Perspektif. Gelaran Festival Film Dokumenter (FFD) 2017 resmi digelar pada Sabtu, 9 Desember 2017 di Societet, Taman Budaya Yogyakarta. Rangkaian acara yang akan digelar pada 9 – 15 Desember 2017 mendatang ini mencoba untuk menawarkan pertanyaan akan kebenaran melalui film-film dokumenter yang disajikan pada program pemutarannya. Dibuka oleh film The Village’s Bid For UFO (Takuro Kotaka, 2017) dengan narasi atas apa yang terjadi di Suzu, sebuah desa kecil di Jepang, di mana banyak UFO (Unindentified Flying Object) tak terhitung jumlahnya melintasi langit dan mayoritas penduduk yang percaya bahwa UFO dan manusia bisa hidup berdampingan dengan harmonis.

Post-Truth diangkat sebagai tema festival untuk merespon kebenaran di masa ini, ketika kebenaran bukan lagi tentang apa yang terjadi di lapangan, melainkan segala yang sesuai dengan persepsi masing-masing personal.
Tahun ini, FFD digelar di tiga tempat: Taman Budaya Yogyakarta, IFI-LIP Yogyakarta, dan Langgeng Art Foundation dan dibagi ke dalam empat agenda utama, yakni: Kompetisi, Pemutaran Utama, Parsial, dan Lokakarya Film Kritik.
Pada program Kompetisi, FFD menerima 43 film kategori Dokumenter Panjang Internasional, 85 film kategori Dokumenter Pendek, dan 24 film kategori Dokumenter Pelajar. Juri yang terlibat dalam kompetisi Dokumenter Panjang tahun ini antara lain: Ronny Agustinus (Pendiri Ruangrupa, pengelola Marjin Kiri), Anna Har (Produser dan Direktur Freedom Film Festival), serta Sandeep Ray (Sutradara film “Royal Bengal Rahasya” asal India). Dari Dokumenter Pendek melibatkan tiga orang juri, yaitu: Antariksa (Pendiri KUNCI Cultural Studies), Thomas Barker (Asisten Professor Film dan Televisi University of Nottingham Malaysian Campus), dan Vivian Idris (Aktris dan Produser). Sedangkan, Dokumenter Pelajar dengan juri: Irfan R. Darajat (Peneliti LARAS), Jason Iskandar (Sutradara film “Seserahan”), dan Steve Pillar Setiabudi (Sutradara film dokumenter “Tarung”).
Agenda pemutaran dibagi ke dalam lima program dengan total 78 film dari 17 negara, yaitu: Perspektif, Spektrum, Dear Memory, program spesial: 5 Pulau / 5 Desa, dan Parsial. Perspektif merupakan program utama non-kompetisi yang mengacu pada tema festival.

Spektrum hadir sebagai suguhan FFD atas keragaman film-film dokumenter di dunia yang pada tahun ini mengambil Retrospektif dari karya Mark Rappaport. Sebuah usaha FFD untuk membangun keterlibatan penonton dalam proses menelaah, dan merenungkan baik wacana, kesadaran menerima impresi serta narasi yang dari film Rappaport yang berisi potong-potongan film populer.

Dear Memory mencoba melihat bagaimana memori direpresentasikan lewat penceritaan visual, teks, dan audio dalam film dokumenter. Program ini dibagi ke dalam dua perspektif yang berbeda, yakni: Dear Memory: Kebersituasian, dan Dear Memory: Kepingan Masa Lampau.

Doc Music, melalui tajuk Discover: Dokumenter Musik dan Komunitas mencoba menjadikan film dokumenter sebagai medium untuk kembali membicarakan musik melalui film-film pilihan seperti: Ruang Rupa Radio of Rock Tour Serial 2 (Henry Foundation, 2017), Metal in Egypt (Luca Tommasini & Ralph Kronauer, 2017), atau A Distant Echo (George Clark, 2016) yang tidak membatasi pembacaan atas musik yang tidak terbatas pada bentuknya sebagai sebuah pertunjukan.

Di program spesial Pemutaran Perdana dan Diskusi Proyek 5 Pulau / 5 Desa hasil kerjasama antara FFD dengan Goethe-Institut Indonesia. FFD akan menggelar pemutaran perdana dan diskusi karya pembuat film Indonesia yang dikirim ke lima desa di Jerman selama kurang lebih tiga minggu dari bagian terakhir proyek ini, bertajuk 5 Desa.
Dalam agenda parsial, FFD menghadirkan lima program berbeda: Docu Francais, Le Mois du Film Documentaire, Focus Japan, Asian Docs, dan Fragmen Keseharian.

Docu Français dan Le Mois du Film Documentaire merupakan dua program kerjasama antara FFD dan IFI (Institut Français d’Indonésie). Docu Francais tahun ini secara spesifik memilih tema cinema-verite. Dalam Docu Français, FFD akan menyajikan film-film cinema-verite Prancis saat ini. Le Mois du Film Documentaire sendiri mendiskusikan bagaimana anak-anak muda mendobrak dan menyiasati kelindan batas sosial-budaya yang ada di dalam ruang sekolah.

Focus Japan sebagai program kerjasama dengan The Japan Foundation Asia Center, adalah usaha FFD dalam melihat Jepang sebagai negara dengan sejarah budaya sinema yang panjang dan mapan. Bersama dengan Japan Foundation, kami tertarik untuk menyaksikan dengan lebih dekat sudut pandang dan cara menanam persepsi yang khas dalam film-film dokumenternya.

Asian Doc merupakan program kolaborasi dua festival; Festival Film Dokumenter (FFD) & Jogja NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Sebuah program untuk mengalami Asia melalui berbagai film dokumenter pilihan.
Program terbaru dari agenda parsial adalah Fragmen Keseharian, buah kolaborasi dengan National Film Board (NFB) of Canada dan Canada Embassy. Melalui program ini, kami mencoba memperkenalkan penonton dengan problema dan fenomena khas Kanada melalui karya-karya dokumenter. Film-film yang diputar, antara lain; Nowhere Land (2015), Dialogue(s) (2016), dan Stone Makers (2016).

Tahun ini, FFD memilih lokakarya kritik film sebagai agenda Edukasi. Setelah 15 tahun menyajikan sekaligus menyaksikan ribuan karya dokumenter, tahun ini FFD bermaksud menggerakkan penonton untuk merespon film dokumenter. Program hasil kerjasama FFD dengan Cinema Poetica ini diharap dapat meramaikan ranah kritik film serta mengembangkan iklim dokumenter yang sehat. Lokakarya akan diadakan secara intensif selama 5 hari; 10-14 Desember 2017 di Langgeng Art Foundation.

Lewat berbagai tema dan agenda yang dipilih, FFD percaya jika dokumenter memiliki posisi signifikan dalam yang mencerdaskan masyarakat dan memberi sudut pandang alternatif yang jarang disentuh media arus utama. Sebagai sebuah medium, film dokumenter dapat dimanfaatkan sebagai media aspirasi yang mandiri, menghadirkan pesan-pesan reflektif, serta dapat melewati batas-batas ruang dan waktu.

(Visited 11 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment