Festival Seni Kontemporer ARTE 2013 Jakarta: Merayakan Seni Kontemporer Melalui Praktik Seni Media Baru

Akhir bulan Maret 2013 ditutup dengan long weekend , beberapa masyarakat yang tinggal di Jakarta tentunya telah merencanakan untuk perjalanan ke luar kota mengisi liburan akhir pekan di akhir bulan. Namun bagi yang tidak sempat, mengunjungi event kesenian yang ditawarkan di sekitar Jakarta menjadi pilihan masyarakat urban dengan sejenak menjinakkan rutinitasnya untuk mendapatkan suatu inspirasi. Salah satunya menghadiri  ARTE 2013 yang berlangsung selama 3 hari dari tanggal 29-31 Maret 2013 di Main Lobby & Plenary Hall JCC. ARTE 2013 merupakan sebuah festival seni kontemporer yang memamerkan beberapa karya seniman Indonesia yang berkarya dengan memanfaatkan media dan teknologi informasi, atau lebih sering disebut new media art.

Dalam tulisan pengantar yang ditulis Ade Darmawan selaku kurator, bahwa new media art menjadi salah satu wacana penting dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia, kehadirannya memperkaya praktik berkesenian di Indonesia dengan estetika baru. Perkembangan teknologi  yang berbasis pada pada teknologi computer, manipulasi digital, Internet, dan audio-visual telah memberikan suatu terobosan medium berkarya bagi para senimannya. Presentasi karya-karya berbasis teknologi dan digital dalam pameran ini, merupakan sebuah pernyataan ataupun gagasan artistic seniman dalam melihat atau mengkritisi budaya teknologi dan digital pada masyarakat kontemporer Indonesia.

Tak kalah dengan pameran seni rupa nya, ARTE 2013 juga menghadirkan beberapa musisi yang memiliki karakter kuat dalam menciptakan karya musiknya pada hari kedua event ini.  Seperti, Pure Saturday, Float, Payung Teduh, The Trees and The Wild, White Shoes and The Couple Company, Zeke Khasali & The Wrong Planeteers, Sigmun, Jirapah, Dried Cassava, dan Cleo. Pada setiap pertunjukkannya juga ditampilkan visual digital art sebagai background dari setiap musisi yang tampil di atas panggung yang cukup luas.

Dalam ARTE 2013, musisi tersebut masuk dalam kategori performance art dengan jadwal penampilan terbagi atas 2 hari—30 dan 31 Maret 2013. Pada deretan awal tampil sebuah band yang berasal dari Bandung, Sigmun. Nama band ini diambil dari seorang tokoh penggagas psikoanalisa keturunan Austria-Yahudi, Sigmund Freud. Kemudian, untuk pengunjung yang datang pada hari Sabtu itu, akan terasa lengkap menikmati sore hari di akhir pekan bersama pasangannya, karena dimanjakan lantunan klangenan khas dari Payung Teduh. Setelah bernsendu-sendu, Float tampil dengan musik khasnya bernuansa folk. Pada malam harinya, penampilan band yang sukses di pertengahan 90-an melalui single “Kosong”, Pure Saturday. Entah saya baru tahu atau sudah lama, penampilan Satryo sang vokalis, agak berbeda dengan menumbuhkan bewok lebat ala petani bangsa viking dan berhasil menjadi motor interaksi di atas panggung dengan penonton. Pada hits-hits tertentu seperti, Desire, Elora, Satryo sengaja tidak memulai bernyanyi membiarkan penonton untuk ikut berpartisipasi bernyanyi bersama dalam pertunjukkan mereka. Malam itu, Pure Saturday berhasil membangun interaksi aktif.

Keesokan harinya, deretan musisi yang tampil diawali dengan The Trees And The Wild, Dried Cassava, Zeke Khasali &The Wrong Planeteers, dan ditutup dengan penampilan White Shoes and The Couple Company. Pada hari kedua ini, salah satu pertunjukan yang menarik bagi saya adalah The Trees And The Wild. Penampilan mereka di awal langsung membius para pengunjung melalui pembangunan emosi dari komposisi lagu-lagu bernuansa postrock namun memiliki progresi yang meloncat-loncat. Memang pada awal kemunculan group ini saat masih bersama Iga Masardi, mereka memainkan genre pop dengan format akustik. Namun seiring berkembang, mereka memadukannya dengan nada-nada yang dihasilkan dari perangkat audio elektrik, bahkan beberapa lagunya juga terdapat unsur etnic sunda. Penonton semakin eargasm dan merinding ketika mereka memainkan “Espose” yang sekaligus sebagai encore pertunjukkan mereka. (HVZ)

(Visited 100 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment