_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"kanaltigapuluh.info","urls":{"Home":"http://kanaltigapuluh.info","Category":"http://kanaltigapuluh.info/category/nowplaying/","Archive":"http://kanaltigapuluh.info/2017/04/","Post":"http://kanaltigapuluh.info/bali-creative-week-2017-sukses-digelar/","Page":"http://kanaltigapuluh.info/redaksi/","Attachment":"http://kanaltigapuluh.info/bali-creative-week-2017-sukses-digelar/img-20170430-wa0027/","Nav_menu_item":"http://kanaltigapuluh.info/culture-art/","Wpcf7_contact_form":"http://kanaltigapuluh.info/?post_type=wpcf7_contact_form&p=1161"}}_ap_ufee

Geliat Musik Folk Cirebon dalam Suburbia – The First Folk Music Festival in Cirebon

Tidak mau tertinggal dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia, Cirebon saat ini dalam industri hiburan dan kreatifnya sudah mulai bergeliat. Hal ini ditunjukkan dengan digelarnya“Suburbia – The First Folk Music Festival in Cirebon”. Acara ini diadakan di Umah Kebon  pada hari Minggu, 9 April 2017.

Dengan mengusung konsep pesta di taman belakang rumah, para pengunjung berhasil dibuai oleh beragam suguhan etnik yang khas mulai dari penampilan musisi Klopediakustik dari Kuningan,Hanyaterra dari Jatiwangi, dan Danilla dari Jakarta. Selain itu pameran foto dari komunitas Klise Unswagati yang mengangkat pesan – pesan humanis yang di display sepanjang area masuk ke panggung.

“Digelarnya Suburbia ini untuk memberikan penyegaran serta menumbuhkan pergerakan generasi penggiat dan penikmat seni kreatif agar dapat mengekspresikan karya mereka dengan cara masing–masing. Berkat dukungan Sampoerna A, Cirebon dapat menyuarakan kreativitas musisinya yang cukup eksperimental dan jelas berbeda seperti Hanyattera dan Klopediakustik” ujar Irfan, perwakilan dari Ruang Alternatif, penyelenggara Suburbia.

Acara dibuka sekitar pukul 8 malam dengan menampilkan Klopediaakustik sebagai pembuka. Perhatian saya sukses dicuri oleh penampilan dari Hanyaterra pada malam hari itu. Menyajikan musik eksperimental dengan menggunakan instrumen tanah liat, kelompok musik asal Jatiwangi tersebut sukses membawa budaya lokalnya dalam representasi sebuah pertunjukan musik di gelaran ini. Seperti yang kita tahu, Jatiwangi adalah salah satu daerah produsen genteng tanah liat dan tembikar di Indonesia. Danilla cukup sukses membius para penonton yang memadati Omah Kebon pada malam hari itu dengan buaian lagu-lagu sendu nya selama kurang lebih satu jam lamanya.

Ditemui seusai penampilannya di atas panggung, Danilla mengaku sangat puas dengan antusiasme Cirebon di kunjungan perdananya ini dan juga makanan khasnya. “Datang ke Cirebon demi menampilkan musik saya merupakan sebuah kepuasan tersendiri apalagi dapat melihat musisi lokal lain yang bisa memberi inspirasi bahwa musik folk tidak pernah mati sampai kapan pun. Kepercayaan akan idealisme dalam bermusik tentu akan menciptakan sentuhan rasa tersendiri bagi pendengar, inilah yang selama ini saya pegang. Asalkan kita, para musisi dapat mengekspresikan karya dengan berani dan yakin,” ujar pelantun ‘Buaian’tersebut.

“ Acara ini sengaja kami kemas untuk dapat menciptakan atmosfer musik folk yang kental dengan keintiman yang tercipta antara musisi dan fansnya. Kami harap pergerakan kreativitas Cirebon tidak hanya berhenti di sini dan dapat menyentuh kalangan yang lebih luas lagi kedepannya,” tutup Irfan.

Author: Komang Adhyatma

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *