Gig Review: HI Peace Concert 2013

HI Peace Concert, sebuah konser tahunan yang diadakan dalam rangka memperingati International World Peace Day yang jatuh pada tanggal 13 setiap bulan September kali ini diadakan di Purna Budaya UGM. Event yang juga bagian dari perayaan ulang tahun fakultas Hubungan Internasional UGM ini mengusung nama yang sudah sangat dikenal di scene-nya masing-masing. Performer yang tampil di acara ini, mereka adalah Boarding Room, Aurette and the Polska Seeking Carnival, Sri Plecit, dan tidak ketinggalan Mocca dan Barry Likumahuwa Project sebagai headliner. Saat memasuki Purna Budaya UGM sebagai venue, kita sudah disuguhi sebuah pameran kecil foto dan hasil karya yang semuanya mengusung tema sama, perdamaian.

Antrian sudah cukup panjang dan tampak sudah seperempat dari kapasitas total venue terisi sebelum acara dimulai. Acara yang seharusnya dimulai pukul 19.00 waktu setempat harus molor dan akhirnya dimulai pukul 19.30. Acara ini dibuka oleh pemutaran video yang kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan tari. Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan dari Boarding Room. Sebelum mereka memulai show, sebuah video yang berisi tentang arti kedamaian bagi mereka diputar di background. Boarding Room memulai penampilan dengan penampilan yang cukup bersih. Beberapa kali Boarding Room mencoba untuk berinteraksi dengan penonton, meski sebagian besar penonton memilih untuk tetap duduk di tempatnya. Boarding Room memainkan total empat lagu yang semuanya dimainkan secara maksimal. Pembukaan yang baik dari Boarding Room, sayang sebagian penonton memilih duduk sepanjang penampilan Boarding Room.

Seperti Boarding Room, penampilan dari Aurette and the Polska Seeking Carnival juga didahului oleh pemutaran sebuah video terkait opini mereka tentang perdamaian. Tampak penonton sangat antusias dan menunggu penampilan dari AATPSC. Sebelum AATPSC memulai penampilan mereka, penonton sudah sangat gaduh dan histeris ketika nama AATPSC dibacakan oleh hosts. Penampilan AATPSC tetap maksimal, beberapa kendala teknis dalam sound tampak tidak mengganggu mereka. Sesuai dengan nama mereka Carnival, seakan kita sedang berada di tengah karnaval yang ramai akan orang, bedanya saat di karnaval orang sibuk berbicara dengan orang lain, di penampilan AATPSC ini orang-orang tersebut bukan sibuk ngobrol tetapi menyibukkan diri mengikuti irama dan lirik dari AATPSC. AATPSC sukses mengubah lautan manusia di venue untuk melakukan koor masal dan hands clapping sesuai dengan ketukan lagu.

Sri Plecit, band yang beberapa bulan yang lalu baru saja merilis album mereka menjadi performer selanjutnya. Sri Plecit langsung membuka penampilan mereka dengan enerjik, suatu kata yang mungkin memang paling pas merujuk pada penampilan mereka. Total 7 lagu dibawakan oleh Sri Plecit dan setiap lagu yang mereka bawakan sukses membuat penonton tanpa sadar menggoyangkan badan mereka. Sempat terdengar salah satu celetukan dari seorang penonton yang tampaknya baru pertama kali menonton Sri Plecit, “Wah mereka bagus ya, kita mesti cari CD-nya ini.”. Sebuah kata-kata yang mendasar melihat penampilan dari Sri Plecit yang tampil dengan maksimal. Terdapat satu kutipan yang menarik saat Sri Plecit mangajak kita untuk selalu menghormati bapak ibu guru kita. Penampilan Sri Plecit ditutup oleh cheers yang riuh dari crowd, sebuah apresiasi yang memang sudah sepantasnya mereka dapatkan.

Penonton terdengar sangat tidak sabar saat mereka tahu Mocca akan naik panggung. Bahkan sebelum Mocca mempersiapkan penampilan mereka, sudah mulai terdengar chants Mocca di seluruh penjuru venue. Mocca akhirnya membuka penampilan mereka yang disambut oleh cheers dari penonton, penonton terdengar semakin gila ketika Arina menaiki stage. Penonton seperti tahu apa yang harus mereka lakukan saat Arina naik panggung, terlihat beratus-ratus smartphone dan kamera sudah menyorot, bersiap menangkap setiap momen yang terjadi di panggung. Arina membalas sorotan kamera tersebut dengan tersenyum sambil melambaikan tangannya. Suara saxophone pada lagu pertama sedikit mengganggu karena volume instrument yang terlalu keras, namun hal tersebut langsung diatasi dan terdengar jauh lebih baik di lagu kedua mereka. Mocca membawakan empat belas lagu, mereka membawakan lagu-lagu populer mereka yang hampir semuanya diikuti oleh sing along masal dari barisan penonton. Arina sempat mengatakan, “Musik itu luar biasa ya, bisa menyatukan perbedaan.” yang kemudian diamini oleh penonton. Pada penampilan mereka kali ini, Mocca juga sempat membagi-bagikan souvenir mereka. Sesaat setelah Mocca memainkan lagu terakhir mereka, penonton secara bersamaan berteriak “We want more! We want more!” yang kemudian dibalas oleh penghormatan dari Mocca.

Waktu menunjukkan pukul 11.40 saat Mocca baru saja menyelesaikan penampilan mereka. Sesuai rundown, Barry Likumahuwa Project adalah headliner terakhir yang akan perform. BLP memulai penampilan mereka dengan luar biasa, panggung seakan menjadi tempat bagi setiap personil BLP untuk show off skill mereka, yang memang luar biasa. BLP membawakan total delapan buah lagu pada penampilan mereka kali ini. Lagu-lagu yang mereka bawakan sukses membuat penonton asyik dengan diri mereka masing-masing mengikuti setiap irama lagu. BLP juga sempat featuring dengan salah satu teman mereka, Ivan Handojo pada penampilan mereka kali ini. Overall penampilan BLP sangat mengesankan, Barry Likumahuwa sempat berpesan agar kita tidak dipecah belah oleh suku, agama, maupun pulau. Barry Likumahuwa mempertontonkan skill permainan bass-nya pada akhir penampilan mereka yang diteruskan oleh melodi dengan bassline lagu “Indonesia Pusaka” yang diikuti oleh koor oleh penonton. Meskipun hampir setengah dari penonton memilih untuk pulang setelah penampilan dari Mocca, hal itu tidak mengurangi penampilan fantastis dari BLP, yang memang tampil memukau dalam menutup konser perdamaian ini.

Sekitar 1500 orang memenuhi gedung Purna Budaya UGM. Sebuah konser yang mengesankan bagi penonton yang sudah membayar untuk bisa melihat show ini. Meski demikian, sangat disayangkan perbedaan stage level antara bagian depan dan belakang tidak diantisipasi oleh pihak panitia. Hal ini membuat pandangan dari penonton, khususnya penonton yang berada di bagaian belakang tidak mendapatkan sudut pandang yang nyaman dalam menikmati konser karena tertutup oleh penonton di bagian depan. Hal lain yang menjadi perhatian adalah manajemen waktu yang dirasa kurang tertata, hal ini menyebabkan konser yang seharusnya sudah selesai pada pukul 23.00 waktu setempat harus molor dan selesai pada pukul 00.40. Meski demikian, konser ini berhasil memuaskan para penonton yang datang untuk mencari hiburan karena penampilan para headliner yang memang tampil mengesankan.(MKY)

Photos by: Randy Surya

(Visited 42 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment